Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD215. Pintu dibuka


__ADS_3

Mengadu, adalah jalan ninjaku. 


Setelah benar-benar memastikan bahwa aku dikunci di luar kamar, aku langsung mencari pawangnya. Aku belum menjadi pawangnya, ia masih sulit dikendalikan. 


"Mamah….," panggilku dengan melangkah menghampiri mamah Dinda. 


Ohh, ternyata ada kakaknya. Iya itu, ayah mertuanya bang Ghifar. 


"Hm? Apa, Dek?" Mamah pun berjalan ke arahku. 


Kami bertemu di tengah-tengah jalan, kemudian aku menarik mamah Dinda untuk masuk ke halaman rumah. Mamah mengerutkan keningnya, dengan terus memandang wajahku. 


"Ada apa, Dek?"


Aku menarik napasku dulu. "Mah, aku dikunci di luar kamar. Aku tak dapat pintu," aduku langsung. 


"Loh? Kenapa?" Mamah Dinda melangkah masuk mendahuluiku. 


"Tadi bang Ken ketok-ketok pintu kamar. Karena dia terus ngetuk, jadi aku keluar. Eh, pas mau masuk malah tak bisa. Pas dipanggil bang Ghifar nyahut, dipanggil aku tak nyahut." Biar saja, biar kena marah ibunya. 


"Kenapa kok kek anak kecil?" Mamah sudah berhenti di depan pintu kamar.


Mamah tidak memanggil, tapi langsung menarik gagang pintunya. Tetap terkunci rapat, pintu masih belum bisa dibuka.


"Vin…." Mamah Dinda mendekatkan wajahnya ke pintu.


"Vin, istri kau mau tidur. Kenapa kau begitu? Ria dipulangkan aja kah ke ibunya kah?"


Aih?


Jangan sih, mah. Rasanya aku ingin komplain begitu. 


Tidak ada sahutan, tapi setelahnya pintu langsung terbuka. Wajah lusuhnya, dipadukan dengan rambut untuk acak-acakan. 

__ADS_1


"Yang beretika, sana anterin dulu ke ibunya." Mamah Dinda menarik lengan anaknya keluar kamar. 


Pandangan mata kami bertabrakan, tapi kemudian ia menunduk memandang pawangnya lagi. Aku masih setia memperhatikannya, aku ingin tahu bagaimana responnya. 


"Jangan, Mah." Rengekan ala-ala anak kecil yang benang layangannya akan dibuang terdengar. 


"Ajak masuk, tidurin! Ngapain kau begitu?! Tak lucu acara ngambek kau! Kalau Mamah orangnya, udah Mamah tinggal kau pulang ke kampung halaman," tegas mamah Dinda kemudian. 


Gavin dia saja, lehernya malah semakin turun tertunduk. Coba padaku ia begitu, sayangnya aku tak bisa membuatnya seperti itu. 


"Tarik tangannya, ajak masuk. Kalau tak selesai masalahnya, panggil Mamah lagi. Jangan sampai papah kau tau, bakal nyesel dia udah ngizinin kau nikah cepat begini. Masih kek bocah, yang ingat kau udah bisa buat bocah dan punya bocah." Mamah Dinda menunjuk tanganku. 


Gavin benar-benar langsung menarik tanganku agar aku masuk ke dalam kamar. 


"Baru kunci pintunya." Mamah Dinda memukul pelan pintu kamar, kemudian beliau pergi ke luar kamar lagi. 


Benar-benar ditutup dan dikunci. Lalu, ia langsung berjalan ke arah ranjang lagi dan berguling di sana. 


Ia sudah mengenakan celana, tidak dengan kaosnya. Aku mengusap-usap tangannya, karena ia hanya diam saja. Ia yang bersalah, ia yang ngambek. 


"Kenapa?" Kesabaranku sudah lepas dari wadahnya. 


Benar-benar sudah habis. 


Eh, ia malah tetap diam. Napasnya yang teratur saja, yang menandakan ia masih hidup. Tapi ia tidak ingin meladeniku, padahal aku sudah bertanya baik-baik. 


Aku merebahkan tubuhku, posisinya benar-benar ada di tengah. Yang penting bisa rebahan dulu, aku lelah dengan drama kingnya. 


Hampir saja mataku terlelap dan pikiranku pulas dalam rasa nyaman. Givan naik ke atasku, kemudian ia bergerak cepat untuk mengikat tanganku di atas kepala. 


"Hei! Hei! Apa ini?!" Sabuknya tadi yang digunakan untuk mengikat. 


"Itu hukuman! Kenapa pergi?!" Tatapannya tajam tanpa senyum. 

__ADS_1


"Kirei bisa bangun, kalau dengar ketukan pintu terus." Alasanku benar menurutku. "Lagian kenapa terus narik nama Ajeng? Gagal move on? Nyesek ceraikan Ajeng? Beda orang, beda caranya. Kalau aku tak bisa nurutin, bilangnya Ajeng mampu atau bisa. Gimana kalau aku bilang, bang Ken tak keterlaluan begini soak s**s tak kek kau. Kesal kan dibandingkan?! Atau, tak juga?! Aku tak bisa begitu, Vin! Kau jadinya nama Ajeng, sebagai senjata untuk manas-manasi aku, biar aku lebih bisa berbuat dari yang dia kasih. Tapi sekarang, aku udah hafal. Mau kau ratukan Ajeng, puji-puji dia setiap hari, tak masalah. Tapi jangan komplain tentang perlakuan aku ke kau, karena pastinya tak setulus kemarin lagi. Sesak dibandingkan begitu, Vin. Kalau memang kau berat melepas, aturan tak perlu kau buat dia pergi. Kek papah Adi, yang selalu bisa buat mamah betah di sisinya, meski dia tahu dia yang harus banyak mengalah menekan egonya." Aku selalu seperti ini, mengutarakan apa yang aku permasalahkan sejak dulu. Tetapi, memang setiap laki-laki beda sikap untuk meladeni ungkapanku ini. 


"Kenapa tak mau berusaha untuk jadi lebih baik dari dia? Gitu pikir aku." Ia duduk kembali di atas paha atasku. 


"Sesak digituin, Vin! Kau aja gimana, masa aku lebih mementingkan bang Ken ketimbang kau?" Ia mengerti tidak rasanya jadi aku? Anaknya mamah Dinda ini terkesan begitu egois, ambeknya pun besar sekali. 


Eh, ia langsung memelukku saja. Tarikan napasnya dalam, dengan aku yang tidak bisa mengusap-usap punggungnya. 


"Aku tuh mau kau bisa lebih baik dari Ajeng dalam segala hal. Ngurusin aku, ngelayanin aku, kepatuhannya dan segala yang ada di pikirannya untuk aku. Aku pengen kau bisa lebih unggul." Ia melepaskan sabuknya di pergelangan tanganku. 


Lalu, ia duduk tegak kembali di bagian dada atasku. Ia tidak benar-benar duduk di sana, tumit kakinya digunakan sebagai penyangga berat tubuhnya. 


"Tapi caranya tak begitu, Vin! Kau seolah belum bisa lupain dia dan merasa aku hadir sebagai pengganti nama Ajeng di hidup kau. Setiap perempuan itu punya cara yang berbeda-beda. Kau mau sama aku, ya harusnya kau nerima dengan sifat dan kebiasaan aku. Coba aja tanyakan ke papah, sama tak cara urusnya mamah Dinda dan ibunya Icut? Pasti beda kan?" Aku menggengam punggung tangannya. 


"Aku tak suka kau selalu protes masa aku beri kau nafkah batin." Ia tertunduk memperhatikan tangan kami. 


"Nah, lebih baik gitu. Kau ngomong langsung ke aku, kalau aku kurangnya begini. Biar aku perbaiki, bukan kau bandingkan aku apalagi manas-manasi aku. Kau pun perlu tau, kalau aku kaget dengan h***** kau yang terus menggebu-gebu begini. Aku tak pernah begituan setiap hari, bahkan sampai terulang di hari yang sama, jadi aku kaget. Itu jawabannya." 


Akhirnya, ia berguling ke sampingku. 


"Jadi, mau kau gimana? Aku punya istri, kalau tak aku curahkan h***** aku ke istri sendiri, mau ke siapa? Ke orang? Kan tak mungkin." Tangannya membawa wajahku untuk menoleh ke arahnya. 


"Memang betul kah sampai menggebu-gebu begitu? Aku kewalahan." Lutut ini benar-benar lemas seperti tak bertulang. 


"Iya. Kan aku tak minta kau banyak gerak, aku sekarang suka kalau kau di bawah. Begitu pun keberatan kah?"


Aku memilih berbaring menyamping dan memeluknya. "Masalahnya, aku dibakar b*****ku sendiri. Aku belum pernah di seperti itukan. Yang buat lemas, karena diperdaya dan dilarang keluar ini."


"Tuh gimana? Aku tak bisa berubah." Ia menghela napasnya. "Nanti aku cari saran."


Aih? Mencari saran? Serius ini anak? 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2