Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD101. Kejutan


__ADS_3

Aku harus mau bersusah payah menuju tempat yang bang Ken janjikan. Aku sampai diantar Alfonso di pertengahan jalan saja, karena searah dengan perguruan tingginya. Setelah itu, aku diarahkan Alfonso untuk naik bus saja. Karena menurutnya, jika naik taksi maka ongkosnya lumayan katanya. Ia mengajariku benar-benar untuk merakyat, padahal bang Ken pun mampu menggantikan ongkos taksiku. Namun, memang sulit sih mencari taksi di area ini.


Bang Ken mengatakan, bahwa ia punya kejutan untukku. Aku pun tidak menyangka, jika alamat dari bang Ken membawaku ke sebuah apartemen mewah.


Aku langsung bertanya pada security yang berjaga, tentang alamat jelas yang bang Ken tuliskan dalam pesan. Security pun begitu ramah, ia bahkan menawarkan diri untuk mengantarku ke tempat yang aku tuju.


Hingga sampailah aku di kamar apartemen nomor seratus tujuh belas ini. Aku memencet bel beberapa kali, setelah security pamit undur diri.


Gagah rupawannya laki-lakiku ini, ia bahkan membukakan pintu untukku dengan senyum lebarnya. “Selamat datang di hunian baru.“ Ia menunjukkan selembar kertas padaku.


Sertifikat kepemilikan kamar apartemen. Aku kira, itu surat untuk keperluan peresmian pernikahan kami. Ya, aku pikir itu surat dari KUA di sana.


Aku membalas senyumnya, kemudian melangkah masuk dengan diajak olehnya. Pintu ini tertutup otomatis, bau furniture baru dan barang-barang baru pun menguar kuat.


“Atas nama Adek, tinggal tanda tangan aja di sini.“ Ia menunjuk sudut bawah paling kanan dari kertas yang ia pegang.


“Makasih, Bang.“ Aku memandangnya dengan senyum manisku.


“Sama-sama, Sayang.“ Ia mengusap pelipisku sekali.


“Nih, tanda tangan dulu. Terus silahkan room tour. Ini kejutannya untuk Adek. Maaf ya, Abang tak bisa romantis? Abang bukan tipe laki-laki romantis.“ Ia terkekeh sumbang.


“Tak apa, Bang.“ Aku membubuhkan tanda tangan di kertas tersebut.


Jika romantis itu, menurutku aku akan dijemput di jalan. Lalu, mataku ditutup saat berjalan ke kamar apartemen. Tapi begini pun tak apa, tak semua perempuan diberi hadiah seperti ini.


“Abang belum belanja, Sayang. Nanti kita belanja untuk isi kulkas ya? Oh ya, coba Adek alasan sama pengurus rumah kalau Adek nginap di Hana. Besok Adek udah tak kursus lagi kan? Udah selesai kan?“ Ia merangkulku, saat aku mulai menyusuri kamar apartemen ini.


Mirip seperti milik Hana, hanya saja ini memiliki tiga kamar tidur dan isi furniturenya terlihat mewah. Bang Ken pasti mengeluarkan kocek besar untuk kamar apartemen ini dan isinya juga.

__ADS_1


“Adek suka tak?“ Kami mengakhiri room tour ini di dapur.


“Suka kok.“ Aku merasa, bahwa aku tidak begitu senang. Karena yang aku harapkan itu, ya surat keterangan untuk menikah resmi di sini. Ia kan sudah menjanjikan untuk mengurusnya ketika pulang.


Satu Minggu ia di sana, rupanya ia melupakan tujuannya untuk membuat hal itu. Atau mungkin, ia sengaja melupakannya.


“Gimana kerjaan Abang?“ Aku bertanya seperti ini, untuk mengetahui kegiatannya selama di sana. Jika ternyata urusan laporannya di Malaysia masih belum rampung, mesin pengolahan kopi untuk di Banjarmasin pun belum dimiliki semua, berati ia melakukan hal lain di sana, bukan seperti yang ia katakan dan kirimkan kegiatannya di awal kepulangannya itu.


Ya benar sekali, hanya di awal saja bang Ken begitu membuatku yakin bahwa ia sibuk di sana. Di tambah bang Danu yang imut se


rta dengannya, membuat keadaan seolah ia benar-benar repot di sana.


“Alhamdulillah, rampung.“ Ia mengangguk mantap.


“Pabrik di Banjarmasin? Laporan rumah sakit di Malaysia?“ Aku memastikannya saja.


“Eummmm….“ Ia nampak berpikir, membuatku ragu seketika.


Aku menepuk pundaknya sekali. “Kalau udah tersusun sama dia semua, aku pikir Abang tak perlu datang ke sana. Pembelian mesin, hal mudah aja kan?“ Aku berpikir ia hanya beralasan.


“Usaha tak semudah bayangan kau, Dek. Apalagi, ini baru untuk Abang. Mentor Abang, cuma mamah Dinda dan papah Adi aja. Mau nanya di Ghifar, Abang ngerasa sungkan.“


Pastilah sungkan, ia mengacaukan tangga bang Ghifar. Bang Ghifar memiliki perusahaan kopi terbesar di kota tersebut, pabrik tersebut pun turun temurun dan sudah sangat tua. Tapi tidak ada cerita mistis, hanya saja katanya cita rasa dari pabrik kopi bang Ghifar itu berbeda. Jika sudah berbicara dengan selera, tentu setiap orang memiliki standarnya sendiri-sendiri.


“Terus, laporan?“ tanyaku kemudian.


“Udah diselesaikan juga kok, Dek.“ Ia menganggukkan kepalanya.


“Laporan kek gimana sih sebenarnya itu?“ Jika hanya untuk membubuhkan tanda tangan, aku bisa membantunya untuk melakukan caranya secara digital.

__ADS_1


“Ya pengecekan langsung juga, Dek. Betul tak nih ada alat yang rusak dan berapa banyak unit untuk pembelian baru, gitu contohnya. Kenapa sih nanya sampai begitu dalam? Adek mau Abang di sini sama Adek terus kah?“ Ia bertopang dagu dengan siku bertumpu pada meja bar. Kami tengah duduk bersama di meja makan yang menyatu dengan meja bar.


“Iya, pengen sama Abang terus. Kalau cuma urusan tanda tangan aja kan, Abang bisa digital.“ Aku mengambil ponselnya yang terletak di depannya.


Jariku langsung menyentuh ikon emailnya. Aku melihat-lihat kotak masuk dan rekap linimasanya. Barangkali, ia ada komunikasi atau janji temu dengan wanita lain. Kan pasti bekasnya tersisa di sini.


“Lebih dari tanda tangan aja kok, Dek. Kalau Adek udah tak pendidikan lagi dan kita tak lagi ngumpet dari Givan sih, kita tinggal di Malaysia aja.“ Ia tidak melarangku memainkan ponselnya.


“Lebih enak kalau tak perlu ngumpet.“ Aku mengesampingkan ponselnya yang aku genggam.


Ia melirikku. Kemudian, ia malah menghidupkan rokok miliknya. “Ya Adek bisa tak bujuk Givannya?“


Loh, kok aku?


“Kok aku, Bang? Kan bang Givan kepengen tau kesungguhan Abang.“ Aku mengambil rokok miliknya yang tergeletak di depannya.


Ia melirik tanganku untuk mengambil rokok miliknya. Kemudian, ia memperhatikanku yang tengah menyalakan rokok.


“Butuh berapa bulan untuk lepas rokok.“ Bang Ken malah mengalihkan pembicaraan.


“Kenapa memang, Bang?“ Aku memijat rokok yang sudah menyala ini.


“Adek terus minum obat ya, sampai lepas rokok.“ Ia mengingatkanku dengan pil putih yang ia berikan.


“Memang itu tuh obat apa, Bang?“ Ia bisa saja lolos dari niat pertanyaanku tentang kenapa ia tidak mengurus data untuk pernikahan kami.


“Ya obat biar aman dari efek buruk rokok.“ Ia seperti berekspresi memikirkan sesuatu.


“Memang ada ya obat begitu, Bang? Kenapa Abang kasihnya setelah atau sebelum berhubungan aja? Bukannya setiap hari, karena aku tiap hari masih merokok.“ Aku menunggunya selesai dengan ekspresi berpikir rumit itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2