
"Mau ngapain?" Aku memandangnya sejak kami sampai di kamar hotel.
"Nyebat, BESTie." Gavin menghembuskan asap rokoknya ke langit-langit ruangan.
"Polusi!" Aku mengibaskan tangan di depan wajahku.
"Bentar ya? Aku ada kerjaan sebentar. Kau rebahan aja dulu." Ia tersenyum manis, dengan duduk di sofa sudut ruangan dan ponsel di tangannya.
Ia mengendalikan perusahaan orang tuanya yang di Brasil. Ia memiliki otak yang cenderung seperti bang Givan, ia serba bisa dan yang dilakukan oleh tangannya selalu berhasil.
"Oke." Aku malah bergerak untuk ke kamar mandi sejenak.
Setelahnya, aku kembali ke kamar dan rebahan di ranjang. Gavin masih merokok, ia fokus pada ponselnya tanpa melirikku. Tak apa, dia pebisnis, aku harus ingat itu.
"Masa subur kapan?" Tiba-tiba selimutku dinikmati oleh orang lain.
Kala aku menoleh ke belakang, rupanya ia sudah tidak mengenakan kemejanya. Cepat sekali gerakannya, katanya ia tengah bekerja. Pelukannya terasa hangat, karena suhu tubuhnya yang langsung menempel denganku tanpa terhalang oleh pakaiannya.
"Katanya kerja?" Aku meliriknya ke belakang.
"Cek email sama cek mobile banking, banyak yang masuk ternyata." Terpaan napasnya yang beraroma tembakau terasa menyengat sekali.
Ia perokok aktif.
"Memang banyak yang tak datang?" Aku merasa tangannya tengah bergerak untuk membuka sesuatu pada dirinya.
"Hufttt…." Sebuah celana ia tarik dari dalam selimut.
"Alhamdulillah, lega. Tak sesak lagi." Ia menekan lenganku, membuatku tak lagi memunggunginya.
"Jangan cepat-cepat tuh." Aku deg-degan karena ia langsung mengungkungku.
"Yang slow? Oke sip." Ia mencium pipiku dengan mode slow motion.
Bukan begini juga! Kan aku jadi tertawa.
"Ngelawak aja!" Aku memeluknya dan menyesapi baunya.
"Biar rileks. Nanti tinggal di mamah dulu ya seminggu? Setelah itu aku mau bawa ke Lampung, sambil nunggu rumah jadi. Mau dibuat anti gempa, jadi prosesnya lama. Kalau kena gempa itu, nanti ikut bergerak, kek elastisitas gitu bangunannya." Ia menyangga kepalanya dengan satu tangannya.
"Oh iya, iya. Aku ikut aja deh." Pasti rencananya terencana dalam bimbingan bang Givan.
"Sekarang, kau punya skill apa? Ajeng dulu…." Ia memutar bola matanya.
Aku langsung meraup wajahnya. Kesal sekali rasanya, kala ia menarik nama itu.
"Ehm, main dorong-dorong aja. Sok, aku pasrah." Gavin malah merentangkan tangannya dengan wajahnya yang menghadap langit-langit kamar.
"Ish! Aku tak bisa kalau belum diapa-apakan." Belum ada n**** sama sekali menurutku.
"Oh ya?" Ia langsung memelukku lagi.
Beringas sekali, pantas saja Cali seperti anak kangguru.
"Iyes!" Aku menarik hidungnya.
__ADS_1
"Bismillah Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa." Ia meniupkan angin kencang di wajahku.
"Memang begitu kah caranya?" Aku berkedip bodoh setelah mendapat angin tornado dari mulutnya itu.
"Ini hipnotis. Kamu…. Apakan aku, jadinya begini. Rasanya seperti, kamu hipnotis aku." Ia malah bersenandung heboh dengan ekspresi mendalam.
Ia lucu, random sekali. Ia selalu bisa membuatku tertawa lepas karena tingkahnya. Setelah tawa kami mereda, serangan langsung mendarat di telingaku.
Yang tadinya tidak ada minat apapun, yang tadinya datar saja. Aku seperti terbang dari level satu ke level seratus. Serangannya tidak bisa ditebak, karena setelah telinga ia langsung lari ke area segitiga.
Sempat-sempatnya ia berkedip manja, sebelum akhirnya menenggelamkan wajahnya di sana. Tentu saja aku mengangkat ping**lku dengan sukarela, saat celana kulotku diusahakan untuk dilepaskan olehnya.
Aku merasakan permainannya tidak berkelana bejat seperti bang Ken. Ia hanya bermain di biji saja, sampai aku menggelinjang ia langsung mensejajarkan wajah kami lagi.
"Wajahnya sudah memerah, Gaes." Ia tertawa geli di depan wajahku.
Setelah itu, ia tiba-tiba bangkit dan bergerak untuk turun dari ranjang. Kok ia seperti itu? Apa-apaan ini? Aku sudah setengah terbuka, ia malah pergi.
"Mau ke mana?" Aku menahan lengannya.
"Hm? Kenapa memang?" Ia menoleh dengan tersenyum samar.
Matanya sudah sayu sekali.
"Mau ke mana tuh?" Rasanya aku ingin menangis saja, karena sudah tinggi tapi ditinggalkan.
"Lupa cuci tangan. Lupa cuci bawah dulu" Ia terkekeh kecil.
Hah? Ia sudah berCD saja, tapi malah lupa.
"Abang serius?" Aku masih menahan tangannya.
Jahat sekali.
"Bang…," seruku dengan rengekan.
"Hm, bentar." Ia mendengar rengekanku rupanya.
Ya ampun, sudah tegangan tinggi malah ditinggal ke kamar mandi.
"Bang Apin, Ayang Apin," panggilku kembali.
"Iya, saba hai." Bahasa daerahnya keluar.
"Iya hai, cepat hai." Aku mengikuti nada bicaranya.
Entah kenapa, banyak hai sebagai kata penghubung dalam kalimat berbahasa daerah.
"Pue lom? Hm? Hm? Hm?" Ia muncul dan langsung membanting tubuhnya ke ranjang.
Dasar, tuyul besar!
"Koyak loh ranjang hotel." Aku menggeser posisiku.
"Ranjang ini tidak selemah kau kali." Ia langsung menghimpit leherku dalam siku dalamnya.
__ADS_1
Agak lain.
"Jangan pergi-pergi lah." Aku memeluk tangannya yang mengunci leherku.
Cup.
Pelipisku mendapatkan serangan pertama yang tak terelakkan.
"Ayo dong, jajal nih aku, udah setahun tak dipakai." Ia terlen**** dengan melepaskan CD miliknya.
Shock aku, mak.
Kepalanya lebih besar seperti pukulan alat musik kenong. Guratan bekas sunat terlihat jelas, dengan otot yang menonjol memperlihatkan kegagahannya.
Perasaan, bang Ken dan Keith yang gagah pun tak seperti itu juga. Ya biasa saja, otot bagian itunya tidak seperti milik Gavin yang begitu menonjol.
"Ini kenapa?" Aku menunjuk miliknya.
"Varises," jawabnya dengan membawa tanganku untuk menggenggam miliknya.
"Memang itu bisa varises? Varises biasanya di bagian bawah betis." Aku terheran-heran di sini.
"Keturunan! Genetik, dari sananya!" Ia menunjuk bajuku. "Lepas nih, gerah lihatnya."
Aku yang memakai, ia yang gerah. Ada-ada saja manusia ini.
"Tapi tak apa-apa kah?" Aku bangun dan mencoba melepas bajuku.
"Memang gimana? Penyakitan gitu? Atau bisa berubah jadi hulk?" Ia mengusap uratnya sendiri.
"Mungkin benar-benar varises." Penuturanku membuatnya tertawa lepas.
"Kalau ada ASInya kek mangkal betul ini, tapi kalau tak dipump dulu tadi bisa keracunan Gue." Ia mulai toel-toel lagi.
"Keracunan! Kek apa aja?!" Aku mencubit ujung dada miliknya.
Ia tertawa kembali. Lalu ia memandangku, kemudian menarik tengkuk leherku.
"First kiss." Ia mengincar bibirku.
Ia menghanyutkan, sayangnya aku sering shock karena serangannya tak terduga. Ia pun tidak segan kembali ke area bercocok tanam, tapi yang diincarnya hanya bijiku.
Benar-benar beradab, tidak begitu terlihat maruk meski ya memang aku mengharapkan kemarukannya juga. Mungkin kemarin karena aku mengenal beberapa laki-laki maruk semua.
"Mau o***," ucapku saat ia mulai memposisikan dirinya.
"Bisa kah? Aku tak maksa." Ia mengurungkan pergerakan, padahal sudah menempel.
"Bisalah! Gantian, kan tadi Abang terus." Aku mengusap pipinya.
Pemanasannya jangan ditanya, ia keren dengan pergerakannya yang tidak bisa ditebak. Ujung jarinya seperti memiliki sengatan, karena begitu memberikan efek saat ujung jarinya menggores kulitku.
"Oke, silahkan explore." Ia berbaring di sebelahku.
Kapan lagi melihatnya seperti ini? Tergolek tak berdaya dengan kepasrahan saat aku mulai bergerak di atasnya.
__ADS_1
"Hmmmm…." Ternyata ia berisik, sialnya aku suka.
...****************...