Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD152. Anak angkat dan anak asuh


__ADS_3

"Tapi, Tan. Dengan dia kasar kan, artinya dia terbiasa dengan ucapan kasar, bentakan dan segala macam tentang itu." Aku mengemukakan pendapatku. 


"Dia tak sekuat itu, Ria. Badannya bergetar dibentak abinya aja tuh, gemetaran dia kalau dapat tekanan secara tiba-tiba. Dia galak, mencoba untuk membentengi dirinya. Sok aja dipukul, tak akan berani dia balas. Dia terlihat kuat dan berani, karena berwibawa dan berbadan besar aja." 


Benar juga sih, ia tidak pernah membalas pukulan dan serangan anak-anak mamah Dinda yang pernah murka dengannya. Tapi, ia beralasan bahwa tidak tega membalasnya. 


"Tapi coba Tante bayangkan kalau Tante jadi kak Riska, dia diikat dan lupa untuk lepas. Coba gimana takutnya kak Riska masa itu?" Sifat pelupa bang Ken menakutkan. 


"Maka dari itu Riska tak mau nikah lagi."


Tuh? Jawabannya saja seperti itu. 


"Dia trauma, bang Ken ngerusak psikis Riska. Pernah berpikir tak, kalau psikis bang Ken memang bermasalah?" Aku mencoba mengupas tentang seorang Ken bersama tantenya sendiri.


"Kita pernah bawa dia berobat, dia benar tak punya masalah. Kau bisa bawa dia periksa, kalau memang tak percaya sama ucapan Tante. Kau tak akan percaya, bahwa ada orang kek dia. Dugaan kau dan pemikiran burukku, bisa jadi karena salah paham dan kurangnya komunikasi aja. Apalagi, dengan sifat pelupanya itu. Mungkin tua nanti dia bakal kena pikun, karena dari kecil suka teledor. Nidurin perempuan di luar pernikahan aja, pernah beberapa kali ketahuan orang tuanya. Segala apapun, dia tidak bisa ngerjain begitu rapi. Misalkan selingkuh pun, dia pasti langsung mencurigakan karena dia teledor."


Masuk di akal juga. Malah bahaya orang disiplin seperti bang Givan, permainannya rapi sekali, bisnis pun tertata dengan laporan yang sistematis. Jika selingkuh pun, sepertinya ia tidak pernah ketahuan. 


Ya tapi salah juga jika orang yang sulit mengatur emosi, ditambah dengan sifat teledor itu. Apalagi ia dokter, untungnya titel itu digunakan sebagai bisnis, bukan benar-benar bekerja di ruang operasi full seperti abi Haris. Jika benar begitu, aku yakin dalam operasinya ia pernah merasakan kegagalan. 


"Tante serius jiwanya sehat?" Aku masih kurang yakin. 


"Serius. Dia cuma ada masalah dengan pola pikirnya aja, karena dia seolah hidup dengan dirinya sendiri. Karena orang tuanya yang pecah seperti itu, ditambah dengan ibu sambung yang memang tak dekat dengannya."

__ADS_1


Orang yang hidup dengan pola pikir yang salah, ternyata menyeramkan juga. Aku tidak boleh membiarkan Kirei tumbuh seperti ayahnya, Kirei harus memiliki pemikiran yang sehat dan normal. 


"Kalian harus ada obrolan, kalian…"


Tok, tok, tok… 


Perkataan tantenya bang Ken ini terpangkas, karena teralihkan dengan ketukan pintu berulang itu. Aku segera bergerak untuk membuka, melihat siapa yang mengetuk pintu kamarku ini. 


"Sini dulu, Dek." Itu papah Adi. 


Aku menoleh ke arah Kirei, tantenya bang Ken pun memperhatikanku. "Biar Tante yang jaga," tuturnya kemudian. 


"Nitip ya, Salwa?" ucap papah Adi dengan melongok ke arah dalam kamar. 


"Iya, Bang." Tante Salwa itu tersenyum ramah. 


"Ke kamar Ken, Ria." Papah Adi melangkah lebih dulu. 


Aku mengangguk, mengikuti langkah kaki beliau dalam diam. Obrolan terdengar, ketika aku sudah berada di ruang tamu. Aku ragu untuk masuk ke dalam kamar, aku sengaja membiarkan papah Adi masuk lebih dulu. 


Pemandangan seperti berada di kamar rumah sakit, kantong infus tergantung dan tidak hanya satu. Kantong infus itu ada dua, satunya bening dan satunya berwarna putih dengan ukuran kantong yang lebih besar. Selang infus itu terhubung ke punggung tangan bang Ken, dengan alat seperti pipa kecil berwarna biru yang sepertinya digunakan untuk mengontrol dua kantong infus tersebut. 


Bang Ken memalingkan wajahnya ke arah tembok, mungkin ia pun tidak menyadari keberadaanku di sini. Ada mamah Dinda yang duduk di sebuah kursi, yang berada di sisi kiri ranjang tersebut. Ada abi Haris juga yang duduk di tepi ranjang sebelah kiri, beliau berada dekat dengan posisi mamah Dinda. 

__ADS_1


"Kau dengar Mamah ngomong, Ken?" Mamah Dinda menatap lurus ke arah bang Ken yang memalingkan wajahnya darinya. 


"Heem, denger." Suaranya bergetar, kemudian ia mengusap pipinya. 


Ia tengah menangis? Benarkah bang Ken menangis? Wajahnya pun terlihat merah, dengan nafas yang terdengar seperti orang ingusan. 


"Awas, Bang." Mamah Dinda duduk di tepian ranjang yang sama dengan abi Haris. 


"Hmm…" Abi Haris duduk di kursi yang diduduki mamah Dinda tadi. Mereka bertukar tempat. 


"Sini Mamah peluk, anak sulung Mamah itu bijak dan pandai dari kecil." Mamah Dinda condong seperti akan menindihi tubuh bang Ken, tapi ternyata beliau hanya memeluknya saja. 


Apa aku tidak salah dengar? Tangis bang Ken malah pecah di pelukan mamah Dinda. Ia langsung sesenggukan, seperti habis mengamuk saat di Banjarmasin dulu. Tangis laki-laki dewasa yang lepas terdengar, tentu terdengar nyaring karena suaranya ngebas. 


"Capek, Mah." Ia mengadu pada ibu angkatnya itu. 


"Capek memang, kenapa tak pernah pakai tangan Mamah biar tak capek?" Mamah Dinda melepaskan pelukannya, kemudian ia membingkai wajah bang Ken dan mengusapnya. 


Mungkin di sini bang Ken melihatku, ia melirikku sekilas dan benar-benar berhenti menangis. Ia rupanya ingin terlihat kuat di mataku. 


"Kau lebih tua dari Givan ternyata, kapan kau terakhir main futsal bareng dia?" Mamah Dinda menegakkan punggungnya lagi. Posisiku terhalang dengan keberadaan mamah Dinda di sana, aku pun tak bisa melihat wajah bang Ken. 


"Waktu Givan belum nikah, Mah." Ia menjawab pertanyaan sepele dari ibu angkatnya tersebut. 

__ADS_1


"Mainlah futsal sesekali, biar kalian akrab lagi. Mamah tau sifat anak kandung Mamah yang satu itu, ia merasa tua karena adik-adiknya banyak. Mamah pun tau sifat kau, karena kau balita, Mamah ikut bantu urus. Ngerti sedikit, saring yang baik dan patuhi yang menurut kau baik. Givan tak merendahkan kau, dia hanya pengen kah akrabin dia lagi dan kau terus terang mau kau apa. Kau buat rumit kehidupan kau sendiri, Ken. Jangankan Givan, Mamah pun tak suka dengan tindakan kau. Tak ada yang memaksa kau, tapi pilihan udah kau ambil. Mamah tak pernah tak dukung kau, tapi kau harus sadar diri juga. Kau memang anak angkat Mamah, tapi Ria anak asuh Mamah meski tak dari kecil. Dia datang seolah mengambil alih posisi Giska remaja, tak pernah Mamah anggap dia anak dari pengasuh cucu Mamah masa itu. Capeknya mulut ini, kakunya hati ini nyuruh dia ngaji, sholat, belajar, ikut les segala macam. Banyaknya protes dia, inilah itulah, kek Giska di masa remajanya dan lagi Mamah pun memang pengen punya anak perempuan yang lebih dari yang dikasih Yang Kuasa juga. Jadi kau harus tau, anak siapa yang kau lukain. Kau harus tau, cucu siapa yang kau sia-siakan. Kau boleh tak percaya itu anak kau, tapi tak kau sarankan juga untuk bantu Ria hilangkan kandungannya. Tak banyak informasi yang Ria bagi, tapi kau harus ingat kalau Mamah tempatnya Givan dan Canda mengadu. Dia pun tak tau banyak dari mulut Ria, karena Givan udah malas dan udah nebak tentang kebenarannya. Tapi ada orang baik di sana, yang selalu dengarkan keluh kesah Ria dan mau menceritakan ulang ke Givan. Mamah tak akan pernah nyaranin kalian untuk berpisah, terserah kau, pontang-panting tubuh kalian sendiri udah dewasa. Tapi, Kirei tetap cucu Mamah dan Mamah tak mau Kirei terseret masalah kalian. Apalagi, kau punya pikiran lebih kejam dari Fir'aun. Fir'aun bunuh bayi, tapi dia biarkan anak itu dilahirkan lebih dahulu. Sedangkan kau, bahkan sejak dalam kandungan kau berniat hilangkan keberadaannya di dalam rahim Ria." Bicaranya terdengar santai, tapi begitu memberi tekanan dan seperti ancaman. 


...****************...


__ADS_2