Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD154. Tiga bulan


__ADS_3

"Gimana, Ken?" Abi Haris berjalan mendekat mengecek kantong infus. 


"Mamah kenapa jadi penghalang aku dan Ria?" Bang Ken menggulirkan pandangannya menatap mamah Dinda. 


Mamah Dinda menghela nafas panjang. "Tak jadi penghalang, cuma Mamah tau Kirei bakal jadi korban dari tindakan kalian. Mamah larang Ria datangi kau, karena keadaan kau yang tak memungkinkan untuk didekati. Di samping kau masih suaminya Ria, kau pun calon suami Hala. Mamah tak mau ada scene Ria ribut sama Hala, karena rebutin kau. Tak harus rebutin laki-laki, laki-laki itu makhluk hidup yang tak bisa dipaksakan atau direbut. Kalau memang dia pengen stay sama orang lama, segila apapun orang baru menarik perhatiannya pun tak akan pernah bisa buat laki-laki itu stay sama yang baru, karena dia udah jatuhkan pilihan ke orang lama. Tak pernah Mamah kehendaki Ria buat kekacauan, hanya untuk minta kejelasan kau. Kau orang tua Kirei, kalau kau memang merasa, cukuplah kau kasih tanggung jawab ke Kirei, tak perlu Ria nuntut tanggung jawab kau ke Kirei. Ria wanita mandiri, dia pun harus mampu kasih tanggung jawabnya ke Kirei, tanpa kau. Karena Kirei tak cuma anak kau, tapi anak Ria juga. Bukan soal materi aja, tapi kasih sayang dan perhatian." Mamah Dinda menegakkan dagunya. 


"Mah, aku pernah kasih itu ke Kirei. Tapi Ria nolak." Bang Ken menunjukku dengan tangannya yang diinfus. 


Mamah Dinda mendelik padaku. "Ya udah, sekarang lewat tangan Mamah. Kau kasih ke Mamah untuk Kirei, kemarin Mamah yang nyukupin. Bukan Mamah tak ikhlas, tapi kau harus tau bahwa akhirnya orang tua lagi yang repot. Itu ulah kau, ulah kau juga, akhirnya orang-orang terdekat kalian yang dapat repotnya aja." 


Aku terkena ucapan beliau juga. 


"Kau jangan sombong, jangan berpikir mau kabur dengan bawa Kirei. Kau bisa apa, tanpa orang terdekat kau? Kerja dengan bawa anak? Laundry door to door? Memang bukan kerjaan rendahan, tapi kau tak terbiasa kerja dengan hasil kecil. Apa cukup? Untuk kau dan anak kau juga? Diapers, susu formula? Ratusan itu, Ria!" 


Aku hanya bisa tertunduk, aku sadar aku banyak merepotkan. Tapi aku tak pernah berpikir kabur dengan membawa Kirei. Untuk apa aku melakukan hal itu? Aku sadar, aku merepotkan orang terdekatku. Namun, jika aku kabur tentu aku tidak bisa membalas kebaikan mereka. Aku akan bangkit dengan bantuan mereka semua, tapi hasil dari kebangkitanku pun akan dinikmati mereka juga. Jika aku kabur dengan anak, malah mempersulit hidup dan juga tidak bisa membalas jasa mereka semua. Katakanlah, ini soal materi. Tapi, siapa orang yang tak suka dimanjakan dengan materi? Mungkin mereka sedikit senang, jika suatu saat nanti aku bisa memberikan timbal balik, meski hanya dengan materi. 


"Aku tak pernah berpikir kabur, Mah," jawabku dengan menatap lantai kamar ini. 


"Barangkali mau kek Canda, terus dipungut laki-laki lain. Rumit lagi nanti kita," ujar papah Adi kemudian. 


Aku memang kakak beradik dengan mbak Canda, tapi pemikiran kami tidak sama. Lagi pun pasti kondisinya berbeda saat mbak Canda pergi dengan kondisiku saat ini. Karena jelas keluarga ini, adalah keluarga mertua mbak Canda. Pasti sulit untuknya untuk bertahan, karena ia merasa menjadi orang lain di sini. 

__ADS_1


"Aku bakal ganti biaya Ria dan Kirei kemarin, Mah. Tapi izinkan aku bawa pulang mereka ke rumah umi."


Hah? Enak sekali ia berbicara. Dasar, kentir! 


"Tak perlu ganti, sekarang hanya perlu lanjutkan. Tak perlu bawa pulang, kau cukup berkunjung ke sini. Di sana tak ada orang, tak ada yang bisa tolong Ria kalau kau lepas kontrol di sana. Tak semua orang menganggap amarah kau biasa, karena bentakan dari pasangan aja itu udah menjadi hal yang luar biasa untuk pengalaman orang lain. Apalagi, harus lihat benda-benda menari-nari ke sana ke mari. Entah-entah masih sah tak pernikahan mereka ini, karena kalian udah lama tak bersama dalam komunikasi yang baik." 


Alhamdulillah, aku masih diizinkan berlindung di belakang tubuh mamah Dinda, jika ia mengatakan hal seperti itu. Setidaknya, aku terselamatkan. 


"Tapi gimana kita akan membaik, kalau aku dan Ria tidak tinggal bersama?" Bang Ken mencoba bangkit, kemudian abi Haris segera membantunya. 


"Tak ada yang tak membaik, kalau komunikasi lancar. Suami istri yang LDR pun tetap baik-baik aja, meski tak ketemu tiap hari." Mamah Dinda merapikan selimut yang dipakai bang Ken. Sedangkan abi Haris menata bantal, untuk sandaran bang Ken duduk. 


"Tiga bulan waktu untuk kau, Ken. Jangan terlalu lama, kasian Ria kalau akhirnya kalian ingin tetap berpisah," timpal papah Adi kemudian. 


Aku mengangguk. "Ya, Mah." Intinya aku tidak dipaksa untuk tetap bersama. Semoga imanku kuat, jika harus tiap hari bertemu dengannya. 


"Mamah sama Papah tak adil sama aku." Bang Ken seperti keberatan dengan keputusan ini. 


"Kalau tak adil, tak ada kesempatan tiga bulan untuk perbaiki itu. Menurut Mamah, tiga bulan malah terlalu lama," jelas mamah Dinda kemudian. 


"Belajar dewasa, Ken. Kau harus ngerti maksud baik kita semua." Abi Haris duduk di samping bang Ken yang bersandar pada kepala ranjang. 

__ADS_1


"Heem." Bang Ken membuang wajahnya ke arah lain kembali. 


"Setuju ya?" Papah Adi pun mendekat ke arah kami semua. 


Bang Ken mengangguk samar, kemudian ia mengusap pipinya. Ia menangis kembali? Ia terlihat rapuh sekali. 


"Semua orang pernah merasakan kerumitan rumah tangganya, Ken. Kalau sama-sama masih mau bersama, pasti ada jodoh kalau udah takdirnya. Papah dulu dikasih waktu sebulan, tapi Papah minta waktu sampai tiga bulan, karena naklukin Mamah itu susah. Eh, tiga mingguan Mamah balik sendiri ke Papah. Jodoh dan takdir tak ada yang tau, Ken." Papah Adi duduk di belakang istrinya, tangan kirinya melingkar di peluk istrinya. Terlihat jelas dari sisiku duduk, karena aku berada di sisi kiri mereka. 


Hmm, nenek dan kakek ini membuat istri saja. 


"Tapi tak sampai di situ aja kerumitan kita, Ken. Karena setelah kami bersama, kami tak benar-benar bersama. Ada perjanjian untuk berpisah juga, setelah Mamah melahirkan Ghava dan Ghavi. Tapi di kejadiannya, bukan pisah. Melainkan, kita malah meresmikan pernikahan siri kita. Tak sebentar waktunya, benar-benar nguras emosi dan air mata." Mamah Dinda menambahkan ucapan suaminya. 


"Kau boleh membayangkan sulitnya perpisahan kalian, tapi jangan berputus asa dengan secuil harapan bersama. Karena barangkali, setelah tiga bulan itu malah ada kabar hamil kembali." Aku tidak setuju dengan ucapan abi Haris ini. 


Bang Ken langsung memutar kepalanya dan melirikku. Apa maksudnya? Mau enak-enak denganku? Tak akan, sekarang tak akan pernah aku pasrah lagi padanya. 


"Aku bisa tak minum levonorgestrel di belakang kau, tapi aku pun bisa beli diam-diam dan minum tanpa sepengetahuan kau juga." Secara tidak langsung, ia mengajariku untuk melakukan yang sebelumnya tidak aku pahami. 


"Kau kasih dia levonorgestrel, Ken?" Abi Haris nampak kaget dengan menatap tajam anaknya itu. 


Apa abi Haris baru tahu hal itu? 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2