Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD198. Sombong dibalas dengan kesombongan


__ADS_3

"Tapi asal kau tau aja, Vin. Ria ini yang nyebabin rumah tangganya dengan aku berantakan kemarin." Bang Ken sedang mencoba menyudutkanku dengan kesalahan. 


"Mak aku juga dulu yang khulu mantan suaminya, tapi tak terjadi lagi di pernikahan keduanya."


Mah, anakmu ini loh. Mulutnya mirip-mirip dengan mamah, ada pandai-pandainya. 


Bang Ken tertawa lepas, tapi tawanya terdengar menakutkan. Aku tidak mengerti apa yang Kirei rasa, ia mendongak menatap Gavin dengan ekspresi kaku. 


"Kau bela-belain ya sekarang? Rasain setelah satu bulan hidup bersama ya? Kau tak dengar omongan aku, karena mungkin kau lagi mabuk selang******nya sekarang." Tajam sekali mulut bang Ken. 


"Oh ya? Makasih ya udah ngasih tau, biar aku lebih hati-hati untuk kedepannya." Gavin tersenyum ramah. 


Ia pandai bermain ekspresi rupanya. 


"Sama-sama, semoga anggapan kau sama kek anggapan kau ke mak kau." Bang Ken menepuk bahu Gavin beberapa kali. "Sekarang aku ada perlu dengan Ria, jadi aku harus minta izin kau kah untuk bawa dia?" lanjutnya kemudian. 


"Tak perlu izin, bicara aja di sini." Gavin menunjuk lantai teras halaman belakang ini. 


Ia kekeh juga ternyata. 


"Jadi, kau pengen dengar juga? Tapi kok tau kau bakal jadi ayah sambungnya Kirei, aku jadi mikir lain ya? Padahal, akta kepemilikan udah atas nama Ria." Ia melirikku. 


Apa yang ia bicarakan? 


"Kau cuma perlu ngomong." Gavin tersenyum lebar. 


"Lah, kau pikir aku dari tadi ngedongeng?!" Wajah bang Ken lebih menenangkan dari sebelumnya. 


Tidak ada penyebab, Kirei malah menangis lepas. Ia menangis dengan menarik baju bagian dada Gavin, ia seolah ingin menyembunyikan dirinya ke dalam sana. 


"Apa, Dek? Ayah loh itu." Gavin menangkup tangan Kirei. 


Kirei memandang wajah Gavin kembali. Apa mereka bisa berkomunikasi lewat pandangan mata? Karena setelahnya, Kirei langsung tersenyum lebar kembali. 

__ADS_1


"Tadinya aku mau nyerahin pabrik pengolahan kopi yang di Banjarmasin, untuk Kirei. Tapi kau kan jadi ayahnya, pasti kau terlalu campur tangan lagi sama usaha yang aku kasih. Nanti kau kuasai, takutnya lupa kalau itu hak Kirei," ungkap bang Ken kemudian. 


Gavin masih memandang Kirei. Ia mencolek-colek dagu Kirei, membuat Kirei memperlihatkan gusinya. 


"Iya tak usah, bawa lagi aja. Mak bapak aku kaya, aku kebagian warisan kok. Kau tenang aja, Bang." Gavin menoleh ke arah bang Ken dengan tersenyum lebar. 


Seketika itu, wajah bang Ken langsung berubah merah padam. "Kau!!!" Ia melemparkan berkas yang ia gulung pada Gavin. 


Gavin mengambil berkas tipis dalam gulungan tersenyum. "Ladang aku tiga puluh hektar, pasar pabrik di Brasil atas kelolaan aku. Kau tenang aja, aku pasti hidupi dan sekolahkan anak kau setinggi-tingginya!" Gavin melemparkan berkas tersebut pada bang Ken kembali. 


Bang Ken menggulung lengan kemejanya. Tanpa diduga, ia langsung menarik kerah kemeja Gavin. 


Tangis Kirei lebih nyaring dari sebelumnya. 


Aku reflek mengusahakan tangan bang Ken agar melepaskan kemeja Gavin. 


"Kau apa-apaan, Bang?!" seru bang Ghifar dengan setengah berlari. 


"Jangan salahkan aku, kalau anak kau takut sendiri sama kau. Karena kau sendiri yang mematikan figur kau sebagai ayah kandungnya." Sekali tepisan Gavin pada kerah kemejanya, seketika itu cekalan tangan bang Ken terlepas. 


"Tak apa, Dek." Gavin bangkit dan menimang Kirei. 


"Burung tuh, Dek. Burungnya makan apa tuh? Makan sayur sawi." Bang Ghifar mengalihkan perhatian Kirei. 


Hifzah mendekati ayahnya itu, ia berpegangan pada ujung kemeja bang Ghifar. Mungkin ia takut ayahnya mengajak Kirei, lalu ayahnya melupakan keberadaannya yang tengah berjalan-jalan di area belakang rumah neneknya itu. 


"Coba susuin aja." Gavin memberikan Kirei padaku. 


Untungnya, aku mengenakan pashmina yang cukup panjang. Jadi, aku bisa menutupi Kirei yang akan menyusu padaku. 


Setelah mengomel dan menangis dalam aktivitas menyusu, Kirei akhirnya terlelap juga. Mungkin karena terpaan angin sore, yang membuat sejuk wajahnya yang basah karena air mata. 


"Kertas apa dia kasih tadi, Vin?" tanya bang Ghifar, dengan menggendong anak perempuannya itu. 

__ADS_1


"Katanya sih akta kepemilikan pabrik kopi di Banjarmasin. Orang mau ngasih sih, tinggal ngasih aja ya? Ngapain mikirin siapa ayah sambungnya kelak? Kesannya itu, kek aku ini mau makan hartanya. Orang sombong begitu, meski dibalas sombong lagi. Mungkin dia pikir di usia mudaku, aku masih jadi beban orang tua." Gavin melepaskan kemejanya. 


"Kek bang Lendra, ada ayahnya padahal kan? Tapi main kasih aja usahanya untuk anak-anaknya, padahal jelas usaha bang Givan belum stabil masa itu," timpal bang Ghifar kemudian. 


Benar, ternyata ada contohnya juga. 


"Aku mau mandi dulu." Gavin meninggalkan kami di halaman belakang. 


"Kapan sih bang Ken nikahin Riska?" tanya bang Ghifar kemudian. 


"Lupa aku, tapi minggu-minggu ini deh." Aku membenahi Kirei yang sudah melepaskan ASIku. 


Volume ASIku makin sedikit saja sejak aku bekerja, mungkin jadi bertambah tidak deras karena aku jarang menyusui Kirei. Ya maksudnya, hanya ketika aku berada di rumah saja. Soalnya pernah aku mempump ASIku, kemudian aku menyimpannya di kulkas. Eh, malah dadaku bengkak karena mesin otomatisnya itu. Mungkin karena tidak ada air tapi terus dipump.


"Kirei belum genap empat bulan, adiknya di perut udah dua bulan aja." Bang Ghifar tertawa kecil. 


"Yaitu, ayahnya cari yang free saat mode nifas." Padahal, aku pun sudah tidak bersamanya saat itu. 


Tawa bang Ghifar begitu renyah. Kami akhirnya bubar, karena kak Aca menjemput dan menyuruh bang Ghifar untuk mandi. 


Karena masih ada bang Ken di ruang tamu bersama kak Riska. Aku memilih keluar dari pintu samping saja. Jika memang bang Ken ada perlu penting denganku, aturannya ia memanggilku saat aku terlihat melintas dari halaman samping dan tembus ke halaman depan.


Aku yakin bang Ken tak mungkin tak melihatku, tapi niatnya memang tak ada perlu denganku mungkin. Jadi, ia hanya diam saja kala aku melipir dari halaman samping. 


Bang Ken ingin memberi jaminan pada anaknya saja, pikir-pikir dulu siapa ayahnya. Jika Gavin mengadu pada mamah Dinda dan papah Adi mengenai masalah tadinya, sudah pasti mamah Dinda dan papah Adi akan jadi terus menolak pemberian bang Ken untuk Kirei. 


Aku hanya berharap, semoga besar nanti Kirei tak sedih dan kecewa jika mengetahui fakta tentang bagaimana seorang ayah kandungnya padanya. Jika kasusnya ayahnya seperti bang Givan, mungkin Kirei tak akan percaya jika seluruh dunia mengungkap keburukan ayahnya. Tapi dengan sikap ayahnya yang seperti itu, kemungkinan besar Kirei lebih memandang keburukan ayahnya ketimbang kebaikannya. 


Aku tidak tahu pasti, aku hanya menebak jika aku menjadi seorang Kirei. 


Drttttttttttt….


Duh, siapa lagi sih ini? 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2