
"Ini, Papah." Ia menunjukkan panggilan yang sedang berlangsung tersebut.
"Bisa aja itu Ajeng yang telpon pakai nomor papah, kek siang tadi pakai nomor bang Givan." Aku tidak mengerti, kenapa mbak Canda menggunakan nomor telepon suaminya.
Apa ia berpikir, agar aku tidak mencurigai panggilan telepon yang masuk ke log panggilan suamiku. Aku jadi banyak berpikir negatif, gara-gara Ajeng ada di sana.
"Hallo, Pah." Gavin menyentuh ikon lain di ponselnya.
"Ya, Vin. Nanti ke sana pak Waluyonya, Papah biasa buang di dia. Papah jarang ikutin harga, karena ribet ngurus kopi di sini juga." Suara papah Adi terdengar jelas.
Oh, tadi Gavin menyentuh ikon speaker?
"Percaya?" Ia memandangku dan menghela napas panjang.
Aku mengangguk lemah dan hendak kembali ke dapur. Kirei terlelap kembali, tidur siangnya tiga kali dengan waktu yang sebentar. Hanya di tidur setelah mandi pagi, ia terlelap cukup lama.
Masalah Ajeng, tidak bisa dibiarkan terus. Harus cepat terselesaikan, kemudian Ajeng kembali ke tempat asalnya tanpa mengganggu rumah tanggaku lagi. Selain aku cemburu, aku takut suamiku berpaling dariku. Saat awal pernikahan kami saja, ia sering menarik nama Ajeng.
"Yang." Ia memelukku dari belakang, aku tengah menyelesaikan pekerjaan di depan kompor.
"Iya." Aku mencoba menoleh ke belakang.
Namun, malah tersendul dengan bibirnya.
"Papah minta kita pulang, suruh diselesaikan biar Ajeng pulang."
Ada maunya, pantes mesra. Tapi aku pun memang ingin menyarankan ini, agar Ajeng tidak mengganggu rumah tangga kami. Aku tidak masalah jika ia datang menengok Cali, tapi aku tidak mengerti kenapa ia malah butuh berbicara langsung dengan suamiku. Ajeng masih ada hubungannya dengan Cali, tidak dengan suamiku.
"Serius kah masalahnya?" Aku mematikan kompor.
Aku melepaskan pelukannya, kemudian berjalan mencari mangkok untuk memindahkan hasil masakanku.
"Dia panik terus kata papah, papah pun tak tau apa masalahnya." Ia bersandar pada dinding, dengan bersedekap tangan memperhatikan aktivitasku.
"Oh, yaudah. Pesan tiket aja." Aku menunjukkan semangkuk hasil masakanku padanya.
"Oke sip." Ia menunjukkan dua ibu jarinya.
__ADS_1
"Keknya enak nih, ambil nasi deh, Bu." Ia mengambil alih hasil masakanku.
Sungguh, aku melongo saja melihatnya memakan tomat itu bulat-bulat seperti tengah memakan anggur yang amat manis. Matanya sampai terpejam, kemudian ia geleng-geleng kepala.
"Mantap, Bu. Cobain." Ia menyuapkan ke mulutku.
"Dipotong lah, Yang. Besar-besar sekali." Masalahnya, aku takut tomat itu masam ketika pecah di mulut.
"Ah, nye**** senjata warisan aja masuk semua sampai ke p*****lnya." Ia memaksaku untuk melahap suapannya.
"Tapi ini enak nih, Bang?" Aku ragu sekali untuk melahap sebutir tomat setengah layu itu.
"Enak, cobain. Jangan di****, tapi dikunyah. Bumbunya, rasa tomatnya, mantap kali."
Akhirnya, aku kepincut. Tentang rasanya, tidak begitu buruk seperti belimbing wuluh dan tauco. Olahan belimbing wuluh yang sering aku makan adalah sayur asem dengan cita rasa asam dari belimbing wuluh, pengganti dari asem jawa. Hanya satu atau dua butir yang dipakai, tidak terasa membunuh seperti tumis belimbing wuluh. Sayur asem belimbing wuluh, sering dimasak oleh mamah Dinda. Katanya pun, di Cirebon hal itu sudah lumrah.
"Enak tumis kangkung sih." Aku menyelesaikan kunyahanku.
Aku tidak berniat mencicipinya lagi.
Ia tertawa geli, kemudian membubuhkan tumis tersebut di atas nasi hangat. Aku pergi ke dapur, untuk mengambilkannya air putih.
"Gimana cara buatnya? Doyan kah?" Aku memasak sesuai request darinya.
"Doyan, aku pemakan segala. Tapi kurang suka daging ayam sayur, ayam kampung doyan. Makan juga olahan ayam, tapi kurang berselera gitu makannya. Kalau kornet tahu, biasa potong bawang merah, bawang putih sama cabai. Terus, tahunya dihancurkan dan ditumis bareng bumbu itu. Tapi bumbu itu masuk dulu, bedanya jangan kasih air soalnya malah jadi sayur nantinya." Ia kembali memasukkan nasi dan lauknya ke dalam mulut.
"Keren sekali namanya, tinggal bilang orak-arik tahu aja tuh." Eh, ia malah tertawa lepas.
"Di sana namanya kornet, kadang variasi penyajiannya digulung pakai kulit lumpia, tapi di sana sering pakainya tortilla. Tau kan tortilla? Kulit kebab tuh."
Lahap sekali ia makan. Aku senang melihatnya memakan masakanku.
"Tau! Mentang-mentang hidup lama di Brasil. Tau tak ini, tau tak itu." Aku menirukan suaranya.
Ia tertawa geli, kemudian meraup wajahku.
"Nanti buat yuk, Bu? Ayah bantuin." Panggilan sayangnya tidak pasti.
__ADS_1
Banyak yang kami gunakan, mungkin diborong semua oleh kami.
"Boleh, terus apalagi resep barunya?" Ini bisa jadi referensi menu masakan kalian di rumah.
"Kulit singkong dibuat urab, pernah tak? Aku dulu di pesantren sering dikasih makan itu, Bu." Ia tertawa geli bercampur malu.
"Kan hitam, kek kotor gitu." Aku mengingat rupa singkong.
"Bukan yang itunya, kulit putihnya. Kan kalau ngupas singkong kan kek tebal gitu kan? Nah, kulit yang hitamnya itu dikerik. Nanti kelihatan dah tuh kulit putihnya, terus dikelupas dari daging singkongnya. Bentukan awalnya setelah dikupas itu mirip kikil yang belum dipotong kecil-kecil, tapi lebih tipis dia. Enak rasanya, Bu." Ia menunjukkan ibu jarinya kembali.
Sepertinya, anak-anak mamah Dinda memang vegetarian bawaan lahir. Jika menurut mbak Canda, herbivora katanya.
"Nanti di Aceh coba masak itu deh. Terus ada olahan apalagi?" Aku bertopang dagu menontonnya makan.
"Jengkol, Bu. Telepon Safa, pesan dua kilo gitu."
Akhirnya, kembali ke menu jengkol. Jujur saja, masak jengkol itu malas merebusnya. Menghabiskan gas, karena sampai harus berjam-jam agar jengkolnya empuk. Aku pernah mengolahnya di sini, nyatanya keburu gemetaran karena lapar, tidak sabar menunggu, akhirnya goreng ayam juga akhirnya.
Sore sudah mantap untuk membeli tiket. Malam harinya Gavin meragu lagi karena nyatanya Kirei belum fit. Kirei terbangun tengah malam, bermandikan keringat dan menangis terbatuk-batuk.
"Takut Adek tambah sakit, takut rewel juga di pesawat." Gavin selalu siaga di malam hari ketika Kirei rewel.
"Kok aku malah mikirin ke mana-mana ya?" Aku mengusap tengkuku.
"Ada apa? Apa Kirei ada jatuh kah sebelumnya?" Gavin mendekatiku yang duduk di tepian tempat tidur.
"Bukan jatuh, tapi aku tiba-tiba mikirin tentang ikatan darah antara Kirei dan ayah kandungnya. Kek ada suatu hal gitu, soalnya Kirei kek risau terus." Tiba-tiba aku berpikir demikian. Karena tidak ada demam, tapi Kirei menangis terus. Okelah ketika flunya, tapi sebelumnya pun Kirei pernah sakit dan tidak serewel ini.
"Maaf ya, Bang? Jangan tersinggung. Aku cuma lagi ngomong aja, tak bermaksud lain," tambahku kemudian.
"Tapi bang Ken kenapa? Maksud aku, apa kek di sinetron gitu kah? Ada kecelakaan, terus yang di rumah jatuhin gelas atau piring. Kalau memang ada kecelakaan, dari kemarin pasti udah ada kabar. Kan Kirei sakitnya udah tiga malam dari sekarang." Gavin masih mengayun Kirei, dengan kepala Kirei di bahunya.
Ia melakukan hal itu, katanya agar napas Kirei lega.
Dering ponselku menggangguku. Aku melirik ke jam, sebelum menerima panggilan telepon ini. Tidak wajar sekali, kenapa keluarga menelpon di tengah malam begini. Bayangkan saja, jam satu malam.
"Duh, pikiran tambah kacau. Coba cepat angkat, Bu." Gavin memperhatikan layar ponselku yang menyala.
__ADS_1
...****************...