Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD178. Figur ayah


__ADS_3

"Aku ngomong fakta, tak usah emosi-emosian. Lagian, apa sih yang mau dipertahankan dari kita? Abang udah ada orang lain yang selalu respek untuk diri Abang. Kita udah renggang betul, udah sulit disatukan. Ya oke, aku juga ngerasa bersalah. Tapi aku jadi berani nentang Abang pun ada alasannya, bukan tiba-tiba aku jadi begini. Harusnya Abang sadar diri, harusnya Abang melek dengan kesalahan sendiri. Jangan selalu bilang, Ria begini, Ria begitu. Aku begini begitu tuh ada sebabnya, ada lantarannya. Tak tiba-tiba langsung begini, Bang." Berbicara sedikit saja, aku sampai ngos-ngosan. Begini rasanya unek-unek terkelupas ternyata, sedikit plong melegakan hati. 


"Abang dekati aku masa aku hamil, kesannya kek teror aku dan aku takut. Abang ngajakin kembali dengan anak di Alfonso segala macam ini itu, suruh aku begini begitu pas lahiran. Tertekan aku kalau Abang datang. Segala ribut kita belum sah cerai, kita belum benar-benar pisah. Dari aku bulan pertama ngandung, sampai bulan keempat, itu udah tiga bulanan dan Abang malah bawa mantan istri jalan-jalan. Di bulan kesembilan kehamilan aku, datangi lagi buat aku takut untuk keluar sendirian. Fungsinya untuk apa begitu tuh, Bang? Biar apa Abang begitu tuh?" Ia harus tahu ketakutanku akan dirinya. 


"Tak perlu ada yang diperbaiki, kita selesai aja. Mamah Dinda ada sedikit saran, mungkin bisa nyangkut di hati Abang." Sebenarnya, ini lebih tepat kalimat penenang saja. "Kita pisah aja dulu, kalau memang mau kembali pastinya ada jalan," ungkapku kemudian. 


Ia baru menoleh ke arahku, wajahnya begitu merah dan tegang. "Saat kau lepas, Ria. Kau akan benar-benar buang aku, aku tau hal itu."


Jadi, ia tidak mau melepasku karena aku terkesan membuangnya begitu? 


"Ya udah, gimana caranya biar aku aja yang terbuang?" Mungkin hal itu akan membuatnya merasa tidak terbuang. 


"Kau ngomong apa sih, Ria?!" Alisnya menyatu dengan tatapan tajam.


"Abang yang sebenarnya pengen apa dari aku? Jangan terlalu maruk, perempuan kau siap sedia untuk mendampingi Abang. Aku udah tak siap lagi, bahkan aku takut untuk kembali. Kau sulit dikendalikan, kau menyeramkan, kau kasar dan kau tak pengertian. Sekali lagi aku ngomong nih, aku jadi kek gini karena Abang. Bagaimana sikap Abang ke aku, ya itulah yang aku kembalikan ke Abang." Aku menunjuk diriku sendiri dan dirinya secara bergantian. 


"Ngomongin perjuangan? Apa sih perjuangan Abang? Cuma nguber-nguber aku aja kan? Janji mau begini ke keluarga, mau urus ini, mau urus itu. Gayanya pakai alasan nunda kehamilan karena pernikahan belum resmi, orang nyatanya Abang tak berniat resmikan. Aku paham, aku cuma mainan." Aku menelan ludahku dan membuang wajahku ke arah lain. 


Jika terlalu lama menatapnya, aku sudah memiliki feeling bahwa aku akan menangis. Aku secengeng mbakku sekarang. 


"Stop, Ria!" Ia membentakku. 


Kirei melepaskan ASIku, ia menyibak apron dan memandang sekelilingnya. Ia ingin dalam posisi duduk, kemudian ia menoleh ke arah bang Ken dengan tersenyum ramah. 


Kirei, mungkin senyummu akan layu jika tahu ayah kau tak pernah mengharapkan kau. Kau terlalu murah senyum untuk ayah kau, sedangkan dia pernah bersumpah untuk membuat kau kesulitan kala membutuhkannya. 


Lehernya bergoyang, ia sering belum tegak tapi memaksakan untuk menyeimbangkan diri. Mau bagaimana lagi, ia memang ingin dalam posisi ini. 

__ADS_1


Aku memeluknya dengan satu tangan, kemudian tanganku masuk ke dalam apron untuk membenahi pakaianku. Setelah itu, aku menaruh apron itu di pantai, di dekat kursi teras yang selalu menjadi tempat perdebatan kami. 


Bang Ken diam saja, saat Kirei tetap tersenyum dan nampak ingin disapa. Ia senang sekali ketika disapa, gusi depannya akan diperlihatkan jika ia mendapat sapaan. Seramah itu anakku pada siapapun, semoga tidak memiliki sifat bengkok ayahnya yang merasa benar sendiri itu. Aku pun tak mau Kirei menuruni sifat jelekku juga, biarkan ia memiliki sifat sendiri tanpa turunan dari orang tuanya. 


"Kakek datang itu, Dek." Aku mengalihkan perhatian Kirei, dari harapannya menunggu ayahnya menyapanya. 


"Adek Kirei…. Udah mandi, Cantik?" Sapa papah Adi ketika ia naik ke atas teras. 


Tangan dan kakinya bergerak menendang ke segala arah, gusinya terlihat dengan garis bibir yang tertarik ke atas. Tenaganya begitu ekstra, saat disapa orang yang selalu menimangnya itu. 


Kirei bersuara, ia seperti ingin menggapai papah Adi. 


"Nanti ya? Kakek mandi, sholat dulu ya? Nanti main ke kak Cani." Cani adalah cucu favoritnya. 


Katanya gemoy dan lucu. Tapi jika dilihat secara fisik dan sifat, Cani cenderung ibunya juga. Hanya memang, sedikit tercampuri sifat ayahnya. Sedikit menurutku, tidak banyak. Ia tetap cenderung ibunya. 


Ia mirip siapa ya, mudah sekali tersenyum dan tertawa? Aku? Tidak juga. Mbak Canda? Mungkin sih, sedikit. Ibu juga mungkin, sedikit. Jika dari keluarga Riyana, tidak juga. Mereka terlihat judes-judes meski aslinya baik.


Kenapa ini ayahnya Key diam saja? 


Hidungnya naik-naik ke atas, dengan hembusan napas yang dihembuskan keras. Kenapa ia? Marah kah? Atau ada serangga masuk ke hidungnya? 


"Kenapa Adek ini? Buat Ibu ketawa aja." Aku tertawa lepas melihat tingkahnya. 


Anak tiga bulan yang banyak tingkah. 


Seketika, ia bersin. Rupanya, ia merasa hidungnya gatal. Ia lucu sekali, ia mencoba mengatasi hidung gatalnya dengan tingkah seperti itu. 

__ADS_1


"Alhamdulillah…." 


Aku menoleh ke samping kananku. Ada mamah Dinda rupanya, sepertinya ia baru keluar dari dalam rumah. 


Kirei langsung bersemangat ingin menggapai neneknya itu. Bahkan kakinya mencoba berdiri di atas pangkuanku. 


"Nanti ya? Nenek mau nyuruh yayah beli lauk dulu. Sebentar, Dek." Mamah Dinda tidak mengajak Kirei. 


Aku merasa hal itu seperti kesengajaan, agar Kirei menjadi penengah emosi bang Ken. Makanya, Kirei diminta untuk tetap di sini. 


Ia menoleh kembali pada ayahnya itu. Namun, bang Ken sepertinya asyik dengan pikiran dan khayalannya sendiri. 


"Sama Ibu aja, Ayah lagi menghayal." Aku menciumi Kirei, agar perhatiannya teralihkan. 


"Eh, Adek lihatin Ayah? Mau sama Ayah kah?" Tangannya terulur ke arah Kirei. 


Apa ia benar-benar melamun? Ia tidak tahu kah, jika anaknya sejak tadi memperhatikannya? 


Kirei berada di pangkuannya. Entah apa yang Kirei buat, karena tangannya menepuk-nepuk dada ayahnya yang terbalut kemeja berwarna telur asin. 


"Aku tak keberatan kita berpisah, dengan Kirei yang tetap kenal ayahnya dan punya waktu diperhatikan ayahnya." Aku membuka percakapan lagi. 


Ia menoleh sekilas padaku. Lalu, ia memperhatikan Kirei yang seolah tengah mengambil sesuatu dari kemejanya. 


"Kau yakin pengen buat Kirei tak punya figur orang tua lengkap? Kau tak belajar dari diri kau sendiri, yang tak punya figur ayah, sampai akhirnya kau terkesan haus kasih sayang laki-laki?" tutur katanya sungguh luar biasa menampar. 


"Kalau begitu ketakutan Abang, aku bisa nikah secepatnya biar Kirei punya figur orang tua yang lengkap dalam satu rumah." Aku ingin menjejal mulutnya. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2