
"Lagi tak?" Ia memelukku dengan napas ngos-ngosan.
Ia benar-benar selesai sepuluh menit kemudian. Tidak ada sisa tenaga, aku lunglai padahal hanya sedikit bekerja.
"Aku capek betul, Bang." Hidungku sudah nyaman dengan aroma tubuhnya.
"Jadi? Mau order makanan kah? Aku mau sate kambing muda, kau mau sate ayam atau sate kambing juga?"
Aku berusaha membuka mataku sedikit, terlihat cahaya layar ponsel menerpa wajahnya. Ayang Apin tengah bermain ponsel, ia tidak langsung tidur.
"Terserah Abang aja." Aku memejamkan mataku kembali, dengan tetap memeluk dadanya.
Entah ia beraktivitas apa, karena dirinya digantikan dengan sebuah guling. Aku kini memeluk guling, dengan mata yang begitu nyaman dan tubuh lelah.
Suara pintu terbuka dan tertutup kembali, suara air dan suara televisi ramai terdengar. Ia tidak menemaniku tidur, ia memiliki aktivitas sendiri.
Sampai akhirnya, tepukan ringan aku dapatkan di punggungku.
"Ribut, bangun. Ini satenya datang, sate kambing semua dia kodi. Ayo satuan, ada lontongnya juga lima nih."
Ya ampun, ia benar-benar berburu makanan.
"Ngantuk banget aku, Bang." Aku mencoba membuka mataku.
"Malah tepar. Amunisi ini loh, biar tak merasa dipakai aja, dikasih makan juga loh." Aroma bumbu sate tercium di hidungku.
Ya ampun anak muda, beginikah staminanya? Setelah bertempur bukannya beristirahat, malah berburu makanan.
Gelak tawanya terdengar. Aku berusaha membuka mataku lagi, untuk memastikan bahwa ia tidak berkomunikasi dengan perempuan lain. Tetapi, ternyata ia tertawa dengan televisi malam yang menyediakan talk show tengah malam dengan pembahasan dewasa.
Ia duduk di tepi ranjang, dengan sate di tangannya. Pandangannya fokus ke televisi, dengan sesekali ia menarik sate dari bambu tajam itu.
Paginya, aku dikejutkan dengan fakta ia sulit dibangunkan. Mana sudah siang dan sudah habis jam sewanya lagi. Ketika aku mengadukan, ia malah memintaku untuk memperpanjang sewa kamar hotel.
Padahal aku sudah cantik siap OTW, tapi ia sulit sekali dibangunkan. Ditanya memang jawab, tapi beberapa detik kemudian ia sudah pulas lagi.
"Jam sebelas nanti bangunkan lagi." Ia menarik selimut lagi.
"Aku bosan, ini masih jam sembilan." Aku melirik jam tanganku yang sudah terpasang cantik di tanganku.
"Ya udah sana touring hotel aja." Ia menguap lebar dan mendengkur kembali.
Sarapan, makan sendiri. Touring pun sendiri juga. Bagaimana cara membangunkannya agar jitu? Masa nanti setiap hari ia begini?
__ADS_1
Kantung mataku besar, bukan karena aku begadang. Begadang hanya dua persen lah, sisanya menangis dan berteriak sampai suaraku serak. Sekali, tapi sampai membuat mati.
Banyak mata yang memandang ke wajahku, aku kurang suka ditatap sampai sebegitunya oleh orang-orang. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk kembali ke kamar dan mengganggu ayahnya Cali saja.
Aku menciumi wajahnya berkali-kali, sampai ia terganggu dan menggeliat. Matanya saat terbuka merah sekali, pasti ia mabuk sate kambing itu semalam.
"Ganggu aja, mau nangis aja aku tuh." Gavin menahan wajahku.
"Bangun dong, tak ada temen ini." Aku menariki bulu dagunya yang tumbuh panjang beberapa helai itu.
"Asal gituan. Nanti aku bangun, bersih-bersih biar tak bau tungau. Terus kita tancap lagi, gimana?"
Bersyarat pulak.
"Tapi jangan kek semalam tuh ya? Yang mode biasa aja." Aku tidak mau banjir air mata lagi.
"Mode biasa aku kek gitu kali, memang gimana mode luar biasanya?" Ia menyibakkan selimutnya.
Akhirnya, ia mau bangun juga.
"Yang jangan kek tadi, yang ringan aja tuh." Karena aku ingin tetap terlihat fresh ketika sampai rumah.
"Oke, bentar. Aku cuci-cuci plus sikat gigi dulu." Ia langsung bergerak secepat angin.
Aku melepaskan hijabku dan menaruhnya di tempat yang aman. Ini baju gantiku yang aku bawa, cuma satu-satunya ini karena aku hanya menginap satu malam. Aku pun membawakan pakaiannya juga, beserta pakaian dalamnya juga.
Ia sudah kembali, dengan senyum yang menawan. "Udah sikat gigi, udah cuci ini, udah cuci muka, cuci tangan. Mandinya biar sekalian aja. Ayo kita sarapan daging dulu." Settingan wajahnya dibuat seolah ia benar cabul.
Menggelikan.
Pertarungan terjadi lagi. Dengan perlakuan yang sama, berbeda dengan temponya saja. Aku pun sudah lebih rileks untuk menyeimbangkan diri dari serangannya yang tidak kenal ampun tersebut.
Sampai akhirnya, aku harus pulang dalam keadaan malu karena semua keluarga menanyakan keadaan mataku yang sembab. Pelakunya malah santai saja, ia tanpa malu mendengkur lagi di ruang tamu.
Aku jadi ingat dengan mbak Canda. Aku serupa dengan mbak Canda pun, tapi tidak amat pulas seperti Gavin.
"Kenapa kau? Berantem kau?" Mbak Canda menaruh Kirei di pangkuanku.
Ia rindu ASInya, ia langsung merengek dan menggosokkan wajahnya ke dadaku. Aku pun kangen putriku, putriku yang ramah dan selalu tersenyum.
"Nih, Canda." Mamah Dinda memberikan styrofoam pada mbak Canda.
"Mamah udah?" Menantu agak lain, mertua malah membawakan padanya.
__ADS_1
"Udah. Tak tau kau datang, orderannya udah keburu datang." Mamah Dinda memperhatikan wajahku.
"Iya, Mah." Aku tak tahan menguap.
"Ceker mercon sama tulangan ayam nih, Dek. Pedas sedang aja." Mbak Canda membuka wadah styrofoam tersebut.
"Kau nangis terus kah? Kenapa kau? Gavin kasar?" Mamah Dinda ternyata ingin menanyakan ini, aku sudah deg-degan ia memandangku sejak tadi.
"Tak, Mah. Bawaannya memang begitu kali." Aku tidak mungkin menceritakan detail.
"Oh, yaudah. Makan sana, ambil di meja makan." Mamah Dinda kembali keluar lagi.
"Duh, deg-degan aku." Aku mengusap-usap dadaku.
"Santai aja kali, Mbak malah siang-siang begini." Mbak Canda menikmati makanan itu tanpa nasi.
"Takut ditanya mendetail." Aku mencomot satu ceker dari wadahnya.
Aku harus hati-hati, agar bumbunya tidak jatuh ke wajah Kirei.
"Tinggal cerita, tak akan diketawain kali. Kalau memang anaknya ada salah memperlakukan, pasti nanti ditegur di belakang kau." Mbak Canda menarik tisu untuk wadah tulangnya. "Mau ambil nasi ah. Mamah masak apa ya?" Ia kabur ke dapur.
Menantu yang ketika main pun meminta makan ya hanya mbak Canda. Bagaimana ya stylenya di depan mertua? Aku ingin tidak canggungan seperti dirinya. Aku merasa mendadak canggung, setelah aku menikah dengan putranya.
"Barengan, Dek." Porsi tumpeng datang, dengan satu wadah lauknya dibawa semua.
Perampokan ini namanya.
"Jangan banyak-banyak, Mbak. Orang rumah belum makan." Aku khawatir mereka malah menggerutu, karena lauknya tinggal sedikit entah-entah malah habis.
"Biar, mas Givan nanti tanggung jawab." Ia cuek sekali.
Terkesan tidak tahu diri. Tapi, aku malah mengikutinya menikmati makanan itu.
"Penghabisan, Dek Dinda. Wahhhh…." Papah Adi tertawa lepas dengan berteriak, kala melihatku dan mbak Canda tengah makan sepiring berdua.
"Ayo sini, Pah." Mbak Canda malah mengajak ayah mertuanya.
"Bentar ya? Cuci tangan dulu." Papah Adi berjalan cepat ke arah dapur.
Ini sungguhan? Kita makan berebutan begini dengan ayah mertua, tapi begitu asyik dan membahagiakan.
...****************...
__ADS_1