Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD126. Kecewa dan marah


__ADS_3

Aku merangkul kakakku dan bersandar pada bahu kirinya. Ia terus terisak dengan menghapus air matanya, mbak Canda begitu payah dengan air matanya yang terus mengalir.


Aku tahu, ia adalah orang yang cengeng. Tapi aku tidak menyangka, ia tetap bisa menangis di tengah keramaian seperti ini.


“Mbak, maaf.“ Aku mengusap-usap lengannya.


“Maaf untuk apa?“ Mbak Canda menoleh sekilas.


Ternyata, suaminya ada di ambang pintu keluar. Mungkin, bang Givan mencari keberadaan mbak Canda. Ia pasti khawatir, karena istrinya tidak berada di dekatnya. Apalagi, mbak Canda tidak menguasai bahasa Inggris.


“Mbak marah sama aku.“ Aku memeluk perutnya.


Ibu dari banyak anak, perutnya sedatar ini. Aku jadi iri padanya, karena tanpa uang dan usaha, fisikku tak mungkin kembali seperti sedia kala lagi.


“Mbak kecewa, Ria! Kenapa harus begini?! Itu anak siapa? Kau murahan betul sih! Kau dijauhkan sama bang Ken, di sini kau malah terpedaya laki-laki. Jadi untuk apa dipisahkan dari bang Ken, kalau kau tetap rusak begini? Sekarang udah jadi anak, besok kau bersalin. Kau mau apa? Kita mau marah kek gimana? Semuanya udah percuma, Ria. Selain, kita lanjutkan jalan hidup setelah ini.“ Mbak Canda menangis dengan menutupi wajahnya.


“Maaf, Mbak. Aku tau, aku tak mungkin bisa ngobatin rasa kecewa Mbak sama aku. Tapi aku mohon, maafin aku.“ Aku tidak tahu harus memperbaiki keadaan ini bagaimana.


“Mbak maafin, tenang aja.“ Mbak Canda menghapus sisa air matanya, kemudian fokus memandang lurus ke depan kembali.


“Aku tak mau Mbak berubah.“ Aku ingin dirinya tetap perduli padaku.


“Mbak tak mungkin, tapi tak tau abang ipar kau. Kalau misalkan dia buat jarak di antara Mbak sama kau pun, Mbak cuma bisa nurut.“


Aku tegang kembali. Karena tadi saja, ia sudah mengatakan ucapan yang tidak enak. Aku khawatir ia tidak peduli padaku, aku khawatir ia malah membenciku.


“Bujuklah dia, Mbak.“ Aku tak mau bang Givan berubah padaku.


“Setelah ini.“ Mbak Canda sudah lebih tenang, hanya saja napasnya masih tersengal-sengal.


Acara pun selesai, aku mendapat pesan dari Alfonso agar datang ke sebuah resto yang tak jauh dari tempat kuliah ini. Aku pun berjalan beriringan dengan mbak Canda, ia lebih pendek dariku, terlihat ia seperti adikku.

__ADS_1


Saat aku hendak menyebrang jalan, aku melihat mobil milik bang Ken terparkir di bahu jalan. Aku tak mau bang Ken ketahuan ada di sini oleh mbak Canda dan bang Givan.


Tapi apa coba?


Ia malah keluar dari dalam mobilnya dan mengenakan kacamatanya. Tapi sekejap kemudian, bang Ken kembali setelah memperhatikan aku dan mbak Canda yang ingin menyebrang.


Ia takut ketahuan mbak Canda, jika dirinya berada di sini. Ia melihat keberadaan mbak Canda dan ia menyadari, jika keluarga kami berada di sini.


“Ayo, Ria. Itu mas Givan di depan.“ Mbak Canda menunjuk tepat di seberang jalan.


Bang Givan sudah menunggu di sana, padahal tadinya tidak ada. Bang Givan pasti khawatir pada istrinya, bang Givan pasti berpikir istrinya sulit menyebrang seperti anak kecil.


“Ayo, Mbak.“ Aku mulai menyebrang, kala lampu penyebrangan sudah padam. Lampu menyala merah, ketika dilarang untuk menyeberang.


Bang Givan langsung merangkul istrinya, ketika kami sampai di hadapannya. Ia tidak malu mencium kepala istrinya, di tengah keramaian umum seperti ini. Tiba-tiba langkahnya terhenti, kemudian ia menoleh ke arahku dan merangkulku juga.


Penyesalanku bertambah bulat dan runyam. Kasih sayangnya sedalam ini padaku, meski aku sudah berbuat salah karena tidak menurutinya. Tapi aku malah mengecewakannya, aku tidak menghiraukan dan menurut padanya. Kini resikonya aku tanggung sendiri.


“Aku udah pesankan makan untuk kau, Canda. Kau harus makan banyak.“ Suara bang Givan bergetar, saat berbicara dengan istrinya.


“Iya, Mas.“ Mbak Canda menoleh ke arah suaminya, ia sampai mendongak untuk memperhatikan wajah suaminya yang tidak sejajar dengannya.


“Kau juga, Dek,” tambahnya kemudian, dengan pandangan lurus ke depan.


Ia masih peduli padaku.


“Makasih, Bang.“ Aku langsung memeluknya begitu erat.


Tangisku pecah dalam pelukannya. Aku sampai sesenggukan, dengan suara tangis yang tak bisa aku kontrol. Aku yakin, aku menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang di sini.


Hanya satu tangan bang Givan, yang berada di punggungku dan mengusap-usap punggungku. Tangan berukuran lebih kecil, ikut serta mengusap-usap punggungku. Aku tahu, itu adalah tangan kakakku.

__ADS_1


Mungkin bang Givan masih memeluk istrinya juga, ia tidak melepaskan istrinya saat aku memeluknya seerat ini. Aku ingin menangis seperti ini sejak dulu, aku lelah sok tanggung dengan semua yang menimpaku.


Biarpun ada peran ibunya Alfonso, tapi tangisku tidak lepas dan lega seperti pada keluargaku sendiri. Aku membiarkan baju kakak iparku basah, karena air mataku dan air hidungku. Bang Givan tidak memintaku untuk melepaskannya, ia terus saja mengusap-usap punggungku tiada henti.


Hingga kondisiku sedikit tenang, aku melepaskan pelukanku pada tubuhnya sendiri. Wajah bang Givan terlihat merah padam, dengan mata yang merah dan berair. Ia membuang wajahnya, ketika aku memandangnya.


“Mas, di sini ada air mineral botol yang masuk kulkas tak ya? Enak kali ya minum yang ringan-ringan dingin.“


Absurdnya kumat.


“Ada, Biyung.“ Bang Givan mendekati wajah istrinya dan mencium dahi istrinya. Tak lupa, bang Givan pun membersihkan sisa air mata di wajah istrinya dan mengambil kotoran mata istrinya.


Aku ingin rumah tangga yang seperti itu. Tapi kenapa, saat menjalani rumah tangga sendiri tidak sesuai ekspektasi dan harapanku? Atau, harapanku terlalu tinggi? Apa aku harus bersyukur, meski harapanku tercapai hanya setinggi pohon? Seperti yang kak Tiwi katakan.


Mbak Canda menggandeng tangan suaminya, kemudian ia kembali ke samping kanan suaminya dengan mengayun-ayunkan tangan mereka yang bertautan. Bang Givan menggandengku juga, hanya saja aku tertinggal di belakangnya dan tidak menyetarakan langkahnya sama seperti dirinya.


“Ada nasi, Yayah mau makan nasi. Lapar dari pagi, tak ketemu nasi. Tapi memang agak lain nasi di sini, entah buat kenyang tak.“


Meski ia orang kaya, tapi ia tetap orang Indonesia yang belum makan namanya jika belum makan nasi. Sebelum aku masuk ke dalam resto, aku menoleh kembali ke arah mobil bang Ken berada. Ia tidak berada di luar, hanya saja kaca mobilnya terbuka setengah.


Apa maunya?


Sepertinya, ia tadi ingin menghampiriku. Hanya saja, keberadaan mbak Canda membuatnya urung untuk mendekatiku. Rupanya, saat ini ia tengah memperhatikanku dari jauh. Ia pun pasti kenal dengan perawakan bang Givan meski dari jauh.


Satu pertanyaanku, kenapa ia tidak mendekat? Kenapa ia tidak datang padaku? Kenapa ia tidak berniat mengatakan apapun pada bang Givan? Maksudnya, hanya sekedar menjelaskan begitu.


“Makan, Dek. Ayo, setelah ini kita ke rumah sakit. Kau harus stay satu hari di rumah sakit sebelum sesar. Katanya jadwal kau besok pagi, jadi sore ini kau harus udah masuk ke rumah sakit.“ Bang Givan mendekatkan piring berisi nasi ke hadapanku.


Apa aku benar akan disesar? Aku ingin anakku melahirkan normal, agar bang Ken mengerti bahwa ini adalah anaknya yang ia inginkan kelahirannya melewati jalan lahirku.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2