
"Kuat tak sih jalan tuh?" Papah Adi menggandeng lenganku.
"Kuat" Aku terkekeh kecil.
"Ngeri sekali, kek mau meledak." Papah Adi sampai bergerak cepat untuk mendekatkan kursi ke teras rumah.
"Tak lah, Pah." Aku duduk di kursi yang papah Adi ambilkan.
"Tahan kan? Dua minggu lagi ya?" Papah Adi mengusap perutku.
Ya Allah, tak ada ayah mertua yang sesayang dan seperhatian ini. Aku berterima kasih pada Yang Kuasa, karena telah memberikan keluarga yang begitu menyayangiku dan anakku.
Alhamdulillah, baby tripletsku sehat dan normal semua. Namun, yang memiliki plasenta sendiri berat badannya berbeda tiga ons. Dia yang usianya paling muda dari dua saudaranya yang satu plasenta bersama. Tapi sejauh pengecekan dari dokter, ia sehat dan kuat.
Untuk jenis gendernya telah diketahui dokter. Namun, Gavin menolak untuk mengetahuinya. Gavin hanya ingin tahu tentang pertumbuhannya, kesehatan dan kesiapannya melihat dunia. Ia ingin jenis gendernya menjadi kejutan.
"Tahan kok, Pah." Aku memberikan senyum menenangkan.
"Papah takut kau nyungsep kalau kau jalan. Papah takut kau gelinding, kalau duduk tak seimbang."
Apa yang papah Adi bayangkan dengan bentukanku?
"Aku mirip bola ya, Pah?" Aku tahu diri dengan fisikku.
Untungnya, suamiku tidak banyak protes dengan perubahan fisikku. Yang namanya strechmark sampai memenuhi perutku, meski sudah melakukan treatment tapi tetap saja strechmark itu tidak hilang. Hanya samar saja, tidak bisa terlihat sempurna seperti semula.
"Iya, pipi bulat, semuanya bulat. Masih untung, kau dapat tinggi juga, jadi tak kek Cendol." Papah terkekeh kecil.
"Aku bisa kembali kek semula tak ya, Pah?" Aku memiliki kekhawatiran terhadap perubahan fisikku, karena teringat suamiku pernah mengatakan bisa jajan perempuan.
"Bisa, nanti mamah anterin treatment. Ibu rumah tangga bisa kek Nikita Willy, kalau suaminya kek Indra Priawan. Tenang aja, anak-anak mamah biasa meratukan perempuan sejak di tangan mamah." Papah Adi duduk di kursi sebelahku.
Aku tidak bisa bangun jika duduk di lantai.
"Nanti anak-anak aku sama siapa kalau aku treatment? Kan lama, Pah." Aku khawatir mereka terlantar.
"Sama makwanya dong. Mamah udah carikan pengasuh, sabar mungkin perlu waktu." Papah tersenyum menenangkan.
"Capek betul kah rasanya?" Papah Adi terus memandangku.
"Tak juga, sulit gerak aja." Sesak napas juga, sulit tidur dan sulit BAB.
Entah orang lain, tapi itu yang aku rasakan saat hamil triplets sekarang.
"Sabar ya?" Papah Adi tersenyum dan bergerak pergi.
Perhatian dan kasih sayang terus aku dapatkan dari orang-orang terdekatku, Gavin pun ekstra menjagaku dan ia sering di rumah. Boro-boro ada pikiran untuk berhubungan suami istri, karena yang aku rasakan banyakan tidak nyamannya hanya untuk duduk saja. Bisa dibilang tidak pernah sama sekali, sejak tujuh bulanan kemarin.
Kirei sudah lama diurus oleh pengasuhnya. Bang Ken lama tidak kembali, aku pun tidak tahu tentang kabarnya di sana bersama istrinya. Hanya sesekali bang Ken menghubungi mamah Dinda, hanya untuk meminta doa untuk kelancaran operasi Hana. Tapi yang jelas, Ajeng belum kunjung hamil. Mungkin memang ada perjanjian free child mungkin, karena bang Ken pun sebelumnya ingin menjalin hubungan tanpa anak saat denganku.
"Kadang ada pengen tak sih, Yang?" Aku mengusap dada suamiku.
__ADS_1
Ia tetap bekerja mengurus laporan perusahaan di Brasil, sebab gajinya lumayan untuk tambah-tambah produksi jahe katanya. Orangnya serba lumayanan, jika menyangkut tentang pekerjaan yang menghasilkan.
"Pengen apa?" Ia fokus sekali pada layar laptop yang isinya tulisan dalam bahasa Inggris itu.
Rumah kami belum kunjung jadi, tapi sudah tahap finishing dan pemasangan furnitur paten. Sudah layak huni, tapi Gavin belum ingin pindah karena ingin anak-anakku ada yang mengontrol nantinya. Ya intinya, masih pengen satu rumah dengan orang tuanya.
Tak apa, aku tetap betah. Apalagi, mamah Dinda selalu mengontrol Kirei dan aku juga.
"Begituan." Aku ingin tahu ke mana larinya l***** suamiku.
"Jajan."
Aku langsung mencomot mulut suamiku. Lihatlah, ia malah terkekeh melihatku marah. Memang bercandanya kadang keterlaluan, tapi aku tidak pernah membencinya.
"Kalau di kamar mandi lama itu sih. Ya gimana lagi? Mau tak mau. Mau order perempuan, takut anak aku banyaknya perempuan. Make istri, kok tak tega aku. Ya udah, main sendiri aja," ungkapnya lirih, dengan tetap fokus pada laptopnya.
"Kenapa tak minta aku bantuin?" Karena sejak hamil muda sampai trimester dua pun, ia rutin aku bantu.
"Kasian, Yang. Kau tak bisa jongkok, telentang sesek. Jadi aku ngapain gitu mau mainannya? Tak tega aku tengok kau kesusahan gitu. Sabar ya? Maaf udah buat hamil."
Ada juga suami yang meminta maaf karena sudah menghamili istrinya. Istrinya loh ini, bukan istri orang.
"Nanti dijarakin tuh, Yang. Jangan langsung hamili aku lagi, kasih aku waktu dua tahun dulu." Aku khawatir sebulan melahirkan langsung dihamili kembali.
Aku tidak memiliki resiko darah tinggi, bengkak kaki atau semacamnya. Aku langganan kurang darah, FE tambah darah sampai sudah menjadi teman sehari-hari. Tapi tidak yang begitu fatal juga, hanya kurang darah karena sulit tidur dan kurang gerak. Ingin bergerak banyak pun bagaimana, semua orang mengkhawatirkan aku menggelinding. Karena memang perutku begitu cembung ke depan, tidak seimbang dengan besarnya tubuhku.
"Aku ada kasian mau hamili lagi, nanti langsung KB IUD aja tuh." Ia membelai rambutku.
Meski aku tahu, aslinya ia sesak bukan main.
"Nak, anak Ayah. Sehat-sehat ya, Nak? Tumbuh yang cepat, terus keluar ketemu Ayah. Main sama Ayah, Nak. Kita nongkrong bareng, olahraga dan jajan ke car free day. Ayah pun pengen nonton kalian goes juga, nanti beli sepeda gandeng kek Upin Ipin punya kah? Tapi yang gandeng tiganya, Upin Ipin kan gandeng dua aja tuh. Ayah ajak liburan ke villa, viewnya danau Laut Tawar. Apa main arum jeram di sana? Kita senang-senang sekeluarga." Gavin mengusap-usap perut besarku.
Seperti air pipis yang merembes, tapi aku tidak bisa menahan untuk tidak mengeluarkan air itu. Aku langsung panik, karena pernah mendengar cerita tentang bocor ketuban.
"Yang, ketubannya rembes keknya." Aku memandang wajah suamiku.
"Hah? Serius?" Ia langsung menggeser tubuhku, kemudian ia langsung kalap.
Setelah ribut memanggil orang rumah, ia berusaha mengangkat tubuhku. Namun, tidak kuat sepertinya.
"Tak apa, aku bisa jalan." Daripada ia kesusahan seperti itu.
"Tapi biasanya kan di novel tuh kalau mau lahiran kan digendong." Gavin menggandeng lenganku.
"Nak, sabar sih. Maksud Ayah, main arum jeramnya kalau kalian udah gede gitu loh. Jangan keburu main arum jeram pakai air ketuban Mbu, Ayah panik ini." Gavin memperhatikan lantai. "Duh, beneran rembes." Ia panik sekali.
"Ayo, ayo." Bang Ghifar sudah menunggu di depan mobil, yang terparkir di halaman rumah.
Jam tujuh malam sekarang.
"Bang, bentar ya aku ambil buku Ria dulu." Gavin membantuku duduk di mobil, kemudian ia bergerak masuk lagi.
__ADS_1
"Kau pakai baju juga, Vin." Bang Ghifar memberiku jarik. "Ditaruh di bawa paha, Dek." Ia pun membantu menaruh kain itu di sana.
"Ayo, Bang." Gavin sudah kembali dengan kaos di bahunya.
"Yuk." Bang Ghifar yang mengemudi.
"Nanti Abang ke sana bawa perlengkapan melahirkan. Cepat aja bawa dulu." Bang Givan baru berlari masuk ke halaman rumah setelah mobil bergerak.
"Mamah sama papah lagi siapin perlengkapan bayi dan ibunya, Bang," seru Gavin dari dalam mobil.
Aku tidak percaya, jika anak-anakku benar-benar ingin cepat bertemu ayahnya. Ayahnya sih banyak janji segala mengajak nongkrong dan goes sepeda gandeng, malam ini pun triplets sudah lahir ke dunia.
Dengan menjalani operasi eracs, paginya aku bisa pulih lebih cepat dan bisa menjenguk anakku di ruangan bayi khusus meski hanya melihatnya dari jendela. Tiga bayiku begitu mungil dan mereka memiliki selisih berat satu sampai tiga ons. Ada yang 1,5kg, 1,8kg dan 1,9kg. Mereka tidak menggunakan alat bantu pernapasan, tapi kata Gavin mereka berada di aquarium. Inkubator maksudnya, tapi ia lebih suka menyebutnya aquarium.
"Mau dikasih nama siapa, Yang?" Aku menyentuh tangan suamiku, yang memegangi kursi rodaku.
"Dua perempuan, satu laki-laki katanya. Yang laki-laki tuh yang paling kecil, yang dekat jendela ini loh. Yang perempuan itu, yang di kanan kiri sebelah sini." Gavin menunjuk posisi yang paling dekat dengan jendela.
Mataku ke mana-mana, ternyata bayi-bayiku ada di depan mataku. Ya ampun, wajahnya mirip Gavin semua. Kulitnya pun sama seperti ayahnya semua, bahkan bibirnya pun sama seperti ayahnya. Rupanya, aku begitu mencintai ayahnya anak-anak. Sampai aku yang mengandung, tapi anak-anakku mirip ayahnya semua.
"Mataku ke mana-mana." Aku terkekeh. "Namanya siapa ya, Yang? Yang pertama yang mana?" Aku tidak tahu jika anak-anakku memiliki gender yang berbeda.
"Yang pertama laki-laki, Yang. Kembar perempuan yang kecil dulur, baru yang gede. Yang paling gede ini adik, Yang. Aku mau kasih nama Ghani, Ghina, Ghania. Papahnya Gavin, lanjutkan nama-nama huruf G." Ia terkekeh kecil.
"Oke, setuju."
Membesarkan Ghani, Ghina dan Ghania ternyata penuh kesabaran. Karena ketiga anak tersebut selalu sakit bersamaan dan memiliki jam tidur yang berbeda. Janji Gavin benar-benar ditagih sang anak, karena di tahun pertambahan usianya, mereka seolah mengerti bahwa ayahnya pernah menjanjikan banyak hal untuk mereka.
Kini pemandangan mereka mengayuh sepeda gandeng di halaman rumah kami benar-benar terwujud, kakak pertama si Ghani tidak begitu mirip dengan dua adik perempuannya itu. Sedangkan Ghina dan Ghania memiliki kesamaan persis, hanya berbeda di ukuran tubuh saja. Ghania tetap paling besar, di antara yang lainnya.
"Coba dulu gih, aura kau beda. Tau kalau ibu ASI itu pasti kek punya KB alami, tapi mana tau ada jebol." Gavin mengusap lenganku.
Aku gagal untuk ikut IUD, karena tidak terpikirkan padaku untuk ikut KB dengan segera.
Kini, siklus hamil akan aku ulangi lagi. Karena hasil testpackku positif kembali, aku mungkin akan bersalin kembali di tahun kelahiran anak-anakku.
"Ayang, aku hamil." Aku mengadu dengan tangis palsu, dengan menunjukkan testpack milikku.
"Aduh…." Ia meringis ngeri. "Ya udah deh, alhamdulilah aja." Ia mengusap perutku.
"Maaf ya aku hamili lagi?" Ia tersenyum lebar.
Mau bagaimana lagi, aku istrinya.
"Jangan kebanyakan janjiin anak-anak di perut lagi tuh, Yang." Aku trauma mereka buru-buru lahir kembali.
Gavin tertawa geli dan memelukku hangat. "Aku janjiin istriku aja sekarang sih. Semangat ya hamilnya, seluruh asetku atas kendali kau mulai sekarang. Aku janji akan lebih kokoh lagi untuk jaga komitmen kita." Ia membingkai wajahku dan mencium dahiku lama di teras rumah megah kami sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...T A M A T...
__ADS_1