
Pagi harinya, kami tengah menikmati sarapan bersama di ruang tamu. Kirei tengah diletakkan di atas sofa, dengan diganjal bantal agar tidak tidur. Satu persatu, makan telah habis kami makan. Entah masakan apa ini, karena rasanya hanya asal matang saja. Ini bukan kami membeli makanan sudah matang, tapi mbak Canda menumis sayuran apapun yang masih tersisa di kulkas. Tentunya, sayuran yang masih layak makan.
“Masa otot aku hilang kalau abis makan.“ Bang Givan menyingkap kaosnya, mempertontonkan perutnya yang cembung.
Kami tertawa bersama, begitu lucu melihat perut bang Givan mengembang. Karena jika dalam keadaan lapar, malah terlihat masa ototnya. Tidak begitu seperti roti sobek milik bang Ken, tapi bang Givan gagah dan terlihat awet muda. Mungkin karena ia mudah tertawa.
“Mas kalau gym ngapain aja bisa jadi badannya?“ Mbak Canda mengusap-usap perut suaminya.
Bang Givan seperti tengah hamil tiga bulan.
“Banyak, Canda. Memang kau?!“ Bang Givan memencet hidung istrinya.
“Udah numpuk komedo, Mas. Baiknya gimana ya?“ Mbak Canda memencet area hidungnya.
Ada saja pasangan ini.
“Dikerok pakai sekop.“ Bang Givan bangkit dan membawa piring kotor.
“Cuciin piringnya sih, Canda. Capek nih aku, semalam begadang aja sama Kirei.“ Bang Givan membawa piring-piring tersebut ke dapur.
“Iya tumpuk aja dulu.“ Mbak Canda malah memakan lauk yang tersisa.
“Kapan, Cendolku?“ Bang Givan kembali dan duduk di dekat Kirei tertidur.
“Mandi sama Yayah, udah mandi bobo.“ Bang Givan menapakan jarinya di pipi Kirei.
“Kapan pulang, Bang?“ Aku akan ikut saja dibawa ke mana.
Yang tadinya aku begitu yakin untuk hidup sendiri di Brasil, kini nyaliku menciut seketika karena takut bang Ken berulah di luar kendali. Apalagi, ia sudah mengetahui bahwa anakku adalah anaknya. Mungkin aku akan aman, jika bang Ken belum tahu Kirei adalah anaknya. Lagian, kenapa Yang Kuasa memberiku anak yang begitu mirip dengan ayahnya? Aku mengandungnya selama sembilan bulan, aku menyusuinya setiap dua jam sekali. Eh, anakku malah mirip ayahnya yang tidak mengakuinya itu.
Tok, tok, tok….
Kami bertiga saling memandang. Aku mulai merasakan takut kembali, aku teringat akan ucapan bang Ken yang mengatakan akan datang kembali.
“Apa Alfonso hubungin kau untuk berkunjung? Tapi bukannya dua hari yang lalu dia udah datang yang ngasih popok bayi itu?“ Bang Givan memandangku penuh tanya.
Aku menggeleng. “Alfonso tak ada bilang kalau dia datang hari ini, lagi pun dia masih aktif kuliah. Dia ambil pendidikan kurang lebih empat tahun, Bang.“ Alfonso bercita-cita ingin menjadi guru.
__ADS_1
“Apa kau punya teman lain?“ tanya mbak Canda sembari mendekati suaminya.
“Aku tak punya teman yang aku ajak main ke rumah, Mbak. Hana pun cuma sering cerita lewat chat aja, dia pun sibuk kuliah juga.“ Hana itu temanku yang dari Panama itu.
Tok, tok, tok….
Jika ia bersuara atau memanggilku, pasti aku mengenali suaranya. Sayangnya, ia tidak menyerukan apapun. Apa itu benar-benar bang Ken.
“I didn't order food this morning.“ Bang Givan berseru dengan mendekati pintu.
Tok, tok, tok….
Ketukan itu makin keras saja.
“Who are you?“ Bang Givan berada di balik pintu.
Tok, tok, tok….
Ini seperti film horor yang menakutkan. Ketukan itu makin menuntut untuk dibukakan. Aku khawatir saat dibuka, lalu tidak ada orang. Seperti adegan seram di film horor.
Tok, tok….
Ketukan itu bernada pelan, seolah mengatakan 'ok' tapi aku tidak tahu juga. Karena bang Givan mengambil keputusan untuk benar-benar membuka pintunya.
Tidak terlihat orang, tapi banyak barang-barang belanjaan yang menutupi wajah orang yang membawanya.
“Kau lama sekali buka pintu.“ Ia nyelonong masuk dan langsung menaruh tumpukan kardus tersebut.
“Kau?!!“ Bang Givan terlihat langsung meradang.
Ia mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya, seperti adegan mafia mengeluarkan senjata dari saku bagian dalam dadanya. Tapi sebenarnya, bang Ken hanya mengeluarkan hand sanitizer dan menyemprotkan ke tangannya. Ia menggosokkan sampai ke punggung tangannya, kemudian memasukkan kembali hand sanitizer itu.
Tanpa dosa, ia langsung tersenyum dan berjalan ke arah Kirei terlelap. Ia berjongkok dan mencium pipi Kirei. Lalu, ia mengangkat tubuh Kirei dan duduk di sofa yang tadi Kirei tiduri.
“Udah wangi, cantiknya anak Ayah sepagi ini.“ Bang Ken kembali menciumi Kirei.
Sungguh, kami seperti orang bodoh yang hanya bisa terdiam saling memandang. Ia menguasai keadaan, yang seolah tanpa masalah dan tanpa kesalaha apapun.
__ADS_1
“Memang ini anak kau, Bang?“ Mbak Canda duduk santai di depan bang Ken. Ia berada di sisi kiri bang Ken, sehingga mbak Canda tepat berada di kepala Kirei.
“Menurut kau anak siapa?“ Bang Ken tersenyum lebar dengan menoleh ke arah mbak Canda.
Ia sok terlihat ramah dan bahagia.
“Tak tau, katanya sih anaknya jin. Lelembut gitu, karena Ria tidur pakai daster aja. Kan tak boleh tuh gadis tidur tak pakai celana.“
Aku ragu mbak Canda adalah orang dewasa. Apakah ia benar-benar meyakini bualan suaminya?
“Ya kalau bersuami memang jarang yang pakai celana, karena susah untuk para suaminya nanti. Mana kan, nempel kasur aja para istri ini tidur. Mungkin begitu konsepnya lelembut.“
Kok bisa bang Ken meladeni ucapan kosong mbak Canda?
“Tak lah, Mas Givan pemanasan dulu. Tak main langsung selipkan aja, lain batang lain uang.“
Tapi, di hal dewasa mbak Canda mengerti.
“Oh ya? Sensasi baru begitu, main selip aja?“
Aku jadi teringat terakhir kami berhubungan, di mana bang Ken melakukannya secara langsung tanpa pemanasan.
“Tak bisa, Bang. Kita para perempuan ini sakit loh digituin. Meskipun milik kita ini lahan basah, tapi kalau tak dicangkul-cangkul dulu, bakal susah kalau langsung tanam.“ Mbak Canda berkata seolah itu adalah hal yang serius.
“Oh ya? Aku harus banyak belajar dari kau, Canda. Karena fantasi kita, ya menurut yang kita senangi. Entah sakit atau tak, aku tau secara teori, tapi kalah dengan fantasi kita.“ Bang Ken memperhatikan mbak Canda dari samping.
Mereka seolah mengobrolkan hal yang serius.
Bang Givan masih berada di belakang pintu, ia masih memegangi gagang pintu dengan memperhatikan interaksi istrinya dan bang Ken. Aku pun merasa bingung, karena memang situasi ini sangat membingungkan.
“Kalau aku sih komplain, aku aduin ke maknya. Biar mamah Dinda tau, kalau anak laki-lakinya tak pandai memperlakukan perempuan. Dia tak percaya kalau kita ngaku sakit, tapi dari pengalaman ibunya yang diceritakan lewat mulut ibunya, anak laki-laki ibunya itu pasti tau kalau ibunya kesakitan di masa diperlakukan seperti itu. Otaknya pasti berkembang dan berpikir, oh ya istri aku juga pasti kesakitan kek mamah. Kan begitu sih? Aku sih adukan aja apa-apa tuh, biar Mas Givan dinasehatinya sama mamah Dinda aja. Kadang dengar kadang tak, kalau pakai mulut aku sendiri. Harus aja, aku nangis dulu biar dia ngerti.“ Mbak Canda malah curhat.
Bang Ken manggut-manggut. “Kau cuma nangis, tak ngakuin kalau diri kau selingkuh.“ Ia langsung melirik ke arahku.
Bang Ken menyindirku.
...****************...
__ADS_1