Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD200. Memanas-manasi Ria


__ADS_3

"Aku tarik sampai putus juga loh, kalau suka arahin ke sana!" ancamku yang sudah amat kesal pada tingkahnya. 


"Bercanda aja, Cantik." Ia tersenyum lebar. Saat aku meliriknya, ia malah tertawa geli. 


"Aku tak enak beberapa kali ketahuan mamah, jadinya canggung sendiri." Aku menarik kembali katalog yang berada di pangkuannya. 


"Tak enak, tak enak. Kek apa aja?! Bang Givan sama kak Cendol yang katanya pernah kegap lagi gituan pun, biasa aja ke mamah, tak ada tak enaknya." Wajahnya mendekat lagi ke arah pipiku. Ia tidak menciumku, ia tengah melihat isi katalog bersamaku. Hanya saja, wajahnya terlampau dekat dengan wajahku. 


"Biarin mereka sih, kita kan belum sah tapi udah ketahuan sering toel-toel." Takutnya mereka berpikir, bahwa awalnya aku yang memancing Gavin. 


Padahal, Gavin sendiri yang isengnya tak ketulungan. 


"Ya udah, ya udah. Fokus lagi, biar cepat selesai. Terus besok katanya ikut mamah, treatment area V katanya."


Hah? 


Apalagi ini, Ya Allah? 


"Kau ngomong apa ke mamah, Vin? Aku kok emosi terus jadinya. Pengen aku fokus ke katalog pun, ada aja cerita kau yang buat aku naik pitam." Rasanya kaku sekali di ulu hati ini. 


Segala, ia membawa nama area V milikku. 


"Dih, kok tersinggung? Santai dong, orang mau mempercantik diri." Ia tersenyum samar, kemudian menitikan ujung hidungnya ke pipiku. 


"Santai, BESTie." Senyumnya terukir indah diikuti kedipan genitnya. 


Tingkahnya absurd sekali. 


"Sih treatment area V, gimana maksudnya?" Aku berpikir bahwa area sana akan dikorek, agar sisa bekas bang Ken terbawa keluar. 

__ADS_1


"Ya treatment aja, misalnya diputihkan, atau laser bagian dalam tuh. Sekarang sih, tak susah senam kegel lagi juga, pasti bisa kek perawan lagi."


Eh, tunggu dulu. 


"Kok terkesan kalau kau ini tak terima aku apa adanya, Vin?" Aku kok merasa tersinggung ya? 


Ia menghela napasnya. "Terserah kau dah! Kak Cendol yang bersuami aja itu, rutin treatment area itu. Ini bukan tentang menerima apa adanya, jelas cinta ya pasti menerima yang ada di badan kau. Tapi kita laki-laki berduit, Riut. Kau harus paham, kalau hiburan kita itu s**s. Bukan masalah istri kencang kah kendor, tapi mempercantik dan merawat itu perlu biar buat kita yang kerja ini semangat. Ingat, dua ratus lima puluh ribu di aplikasi hijau itu kita laki-laki udah bisa dapat perempuan speak bidadari. Kalau istrinya tak bisa memberikan sensasi varian rasa, kasarnya begitu. Ya khawatirnya, kita para laki-laki yang memang pegang uang banyak ini, cari varian rasa baru di aplikasi itu. Kau ngerti tak sih maksud aku???" Jakunnya bergerak naik turun. "Setia, itu pasti. Tapi menyenangkan suami itu tak ada salahnya. Memang kau tak kecanduan kalau laki-laki kau geram-geram di bawah kau? Kau tak kecanduan ekspresi laki-laki yang nganga sambil natap dalam? Silahkan memperindah diri, selagi aku mampu. Kalau misalnya aku di titik tak mampu, pasti ngelarang kau perawatan begini daripada kita tak makan. Ini aku ada lebih, makanyaa silahkan. Belajar dari ipar-ipar kau, buka mata, jangan tiru kesalahan mereka, tapi ambil tips dari mereka. Aku tak marah, aku pun tau kau kemarin orang yang pastinya tak pernah kepikiran untuk rawat ini dan itu, karena lebih baik uangnya dialihkan untuk isi perut."


Kenapa meledek?


"Lancang!" Aku mencubit perutnya tanpa halangan. 


"Biarin! Tak lancang, otak kau tak terbuka-buka. Tengok lah, kak Cendol anaknya banyak, bang Givan ngeburu s**s dengan istrinya itu masih setengah mati karena apa? Ya karena istrinya bisa selalu upgrade, bisa menyenangkan egonya laki-laki meski hanya buka kaki aja. Tampilannya kan beda, meski nampak pasrah. Katanya sih, ini kata bang Givan. Kalau abis treatment itu, bau madunya menggoda. Area itu tuh bau madu, jadi tak sungkan turunin wajah kita untuk cium bau madunya lebih dekat. Terus katanya juga, kalau abis treatment laser itu area itu lebih kesat dan lebih kencang. Lebih-lebih, pas tengok katanya cerah, tak ada warna gelap, jadi merasa gemas bahwa area itu kek nampak steril gitu. Memang bukan masalah juga, tapi kan otak kita beranggapan bahwa putih itu bersih dan hitam itu kotor. Tetap doyan juga, biarpun nampaknya hitam pun. Maksudnya kan, kalau memang bisa memperindah kenapa tidak? Semua orang pun pasti ingin lah, Riut," tutur lembutnya tersampaikan di pikiranku yang semrawut. 


"Jadi, otak laki-laki itu begitu?" Aku rela terus menoleh untuk memperhatikan wajahnya. 


Ehh, ia malah asyik menyimak ponselnya. 


"Tapi misalkan di malam pertama, nyatanya keadaan fisik aku tak sesuai bayangan kau gimana?" Aku khawatir ia kecewa, jika ia merasakan tekstur dadaku yang tidak sekencang bayangannya contohnya. 


"Orangnya tetap kau kan?"


Maksudnya bagaimana? 


"Ya memang tetap aku, tapi misalkan tak sesuai tuh gimana?" Bingungnya menghadapi pertanyaan anaknya orang pintar.


"Ya makanya sadar diri dari sekarang."


Hah? 

__ADS_1


Aku langsung memukuli lengannya tanpa ampun. Biar saja lengannya seperti mangga busuk nantinya. 


Ia tertawa amat renyah. "Ya makanya ikut mamah, dua atau tiga kali treatment kan pasti ada hasil tuh. Aku tak mempermasalahkan rasanya, aku kan butuhnya orangnya kau. Tapi tak ada salahnya buat aku berekspektasi tinggi tentang rasa kau, semisal kau udah rutin treatment dari sekarang. Ngerti tak sih, Riut? Aku kok emosi."


Ia sadar tidak jika mulutnya sedikit tajam? 


"Mulut kau buat hati aku drop." Aku menghempaskan punggungku ke sandaran sofa. 


Ia merangkulku. "Yang penting orangnya itu kau. Tak ada salahnya nurut, demi kita sendiri. Ajeng itu enak loh, meski lahiran normal." Ia membisikkan kata-kata yang membuatku panas. 


Aku langsung memukul pahanya. Kemudian, menghadiahkannya tatapan tajam. Bisa-bisanya ia memuji Ajeng di telingaku langsung. 


"Masa kalah sama yang lahiran normal? Semangat dong." Ia mengusap-usap lenganku. 


Emosi aku ini! 


"Tak usah jadi nikahnya lah!" Aku emosi setengah mati dengan mulutnya. 


Ia menitikan ujung hidungnya di pipiku lagi. "Hamilnya jadi, tak apa. Aku gagalin hari ini juga, tapi kasih aku jatah dulu." Ia langsung mencoba mengangkat tubuhku. 


Tangannya sudah bersiap di belakang tengkukku dan di bawah lututku. Jelas aku langsung meronta-ronta mencoba menjauhkan dirinya dariku. 


Ia malah tertawa lepas. "Ayolah, masa kalah sama janda muda yang buas? Buktikan dong, janda tua pun belum expired." Ia membusungkan dadanya dengan mengacungkan kedua ibu jarinya. 


"Awas ya kau kalau udah sah nanti! Kalau mulut kau masih muji-muji Ajeng aja begitu, aku lempar kau ke mak kau langsung." Aku menunjuk wajahnya. 


"Iya siap, Cantik. Ayo, ditunggu malam pertamanya. Yang enak ya? Yang oke, yang gacor, yang mantap." Alisnya naik turun, dengan senyumnya yang terlihat manis. 


Sialan! Rupanya, ia tengah mencoba memanas-manasiku agar aku lebih dominan di malam pertamanya nanti. ia tahu caranya untuk membuatku bergerak membuktikan bahwa aku lebih baik dari Ajeng.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2