
“Memang adatnya begini ya, Ria?“ Ibunya Alfonso sedang makan nasi kotak catering yang aku pesan untuk acara ini.
Hanya seratus kotak, aku serahkan semua ke pihak masjid. Aku hanya mengambil dua untuk ibunya Alfonso dan Alfonsonya, sedangkan aku makan makanan lain. Aku menjadi pemilih makanan sejak aku hamil.
“Ya, Mom. Empat bulan dan tujuh bulan. Tapi keknya, pas tujuh bulan aku ngerayain bareng keluarga aku. Soalnya waktunya pas di aku wisuda pendidikan yang pertama itu, aku bisa berusaha untuk lulus di delapan bulan pendidikan aja,” jelasku kemudian.
Entah ke mana perginya bang Ken dan Bunga beserta ibu kandungnya. Karena aku langsung sibuk berbicara dengan pengurus masjid. Jika bang Ken bertanya pada pengurus masjid tentang acaraku ini, mungkin ia bisa tahu anak siapa sebenarnya yang aku kandung ini. Karena aku diminta memberitahu bin anakku, maksudnya nasabnya. Juga, namaku sebagi ibu yang mengandung ini.
Tapi jika datang masanya ia benar-benar tahu bahwa anakku adalah anaknya, aku sudah tidak ingin lagi untuk melanjutkan hubungan dengannya. Ya semoga aku tangguh dengan pendirianku sendiri, semoga aku tak termakan bujuk rayunya.
“Kalau kau kesulitan jelasin ke keluarga kau, kau bisa ajak keluarga kau untuk datang ke rumah. Mommy bantu jelaskan nantinya, kau tak usah khawatir.“ Ibunya Alfonso tersenyum menenangkan.
Aku mengangguk. “Siap, Mom.“
“Semuanya jangan dijadikan beban pikiran, biar anak kau sehat-sehat terus. Mommy pernah keguguran, karena tinggal di rumah mertua. Masa anak pertama Mommy, sebelum Alfonso. Masalahnya sepele, hanya karena Mommy tak nyaman aja. Tapi fatal, karena dijadikan beban pikiran tak nyaman ini. Kau harus belajar dari pengalaman Mommy, jangan sampai kau kehilangan bayi kau. Bukan tentang anak kau tak beruntung karena ditinggal ayahnya, tapi ingat kalau dia darah daging kau juga. Kasian dia, udah ayahnya begitu, kau jangan sampai kek ayahnya.“
Aku langsung memeluk orang tua berpikiran luas ini. Ia sangat berbeda sekali dengan ibuku, beliau mirip mamah Dinda. Hanya saja, mental beliau tak seperti mamah Dinda. Ibunya Alfonso, adalah orang yang mudah takut dan mudah panik. Pada hewan saja ia takut, contohnya a*****. Tak seperti bule pada umumnya memang, dia banyak ketakutan seperti wanita di Asia.
Sampai sekarang, tak ada siapapun pun yang tahu jika aku dan bang Ken sudah menikah dan anakku adalah anak dalam pernikahan. Sekalipun Alfonso dan ibunya juga, ia hanya tahu bahwa ayahnya anakku adalah kekasihku.
__ADS_1
“Aku sedikit khawatir aku dibuang keluarga aku, Mom. Mereka orang yang kaya raya, tanpa mereka mungkin aku tak akan pernah merasakan kemewahan. Bukan aku takut kehilangan kemewahan itu, tapi aku takut tak dipedulikan lagi dan tak disayang mereka lagi. Aku terbiasa dengan bantuan mereka, materi ataupun mental. Kalau mereka buang aku, apa aku bisa berdiri di kaki aku sendiri?“ Aku menceritakan kekhawatiranku pada beliau.
Tak terasa, ucapanku sendiri mengundang tangisku. Moodku gampang hancur, aku sekarang mudah menangis jika diledek Alfonso bahwa aku seperti cangkang telur. Entah mengapa, ucapan yang dulunya sepele, sekarang seperti terasa menggores hati.
“Kau punya gelar dari pendidikan kau, Ria. Kau bisa gunakan itu, untuk cari penghasilan kau sendiri. Untuk anak kau, di sini ada tempat penitipan anak untuk beberapa jam. Kalau kau percaya ke Mommy, kau bisa titipkan ke Mommy. Tapi asal kau tau aja, kalau Alfonso adalah musuh anak kecil. Sama adiknya aja, dia ribut terus.“ Ibunya Alfonso geleng-geleng kepala, dengan melirik anaknya yang lahap makan tanpa gangguan.
Tidak ada kedewasaan dalam dari Alfonso. Ia pun malah senang, karena ibunya menganggapnya seperti anak-anak terus.
“Iya, Mom. Dia bukan kakak yang baik.“ Aku melirik dirinya.
Ia menyadari bahwa dirinya tengah dibicarakan. Ia melirik dan terlihat tidak peduli. “Aku adik yang baik,” ungkapnya enteng.
“Kau tak bisa jadi adik terus, Fonso! Adik kau butuh kakak!“
Perjuanganku bertambah berat. Karena ternyata, tidak mudah untuk meraih prestasi pendidikan untuk lebih cepat selesai. Aku sampai tak pernah terbangun malam dan teringat ayahnya anakku, karena aku benar-benar lelah fisik dan otak.
Tapi aku yakin, aku mampu meski akhirnya aku telat sebulan untuk meraih kelulusan di bidang kesehatan ini. Sembilan bulan, aku mampu mendapatkan gelar D1, dengan usia kandunganku delapan bulan.
Tidak sampai di situ saja, bulan depan adalah jadwal aku mendapatkan kelulusan D1 bisnis di bidang pendidikan keduaku. Aku tidak mengabari bang Givan saat aku wisuda bidang kesehatan itu, tapi aku pasti akan memberitahunya di bulan depan aku wisuda bisnis.
__ADS_1
Aku pun tidak percaya, aku mampu meraih dua pendidikan lebih cepat dengan wisuda yang sangat dekat sekali waktunya. Saat wisuda bidang kesehatan itu, hanya ibunya Alfonso dan Alfonso yang datang. Meski begitu, aku tidak bersedih tapi malah berbahagia karena aku tidak sendirian saat berfoto. Formalitas sekali memang, tapi aku begitu senang meski hanya formalitas.
Aku harus mengingat setiap kesempatan yang ibunya Alfonso sempatkan untukku, karena aku adalah orang asing bagi mereka, tapi mereka begitu baik padaku. Untuk cek kandungan rutin pun, ia mengantarku meski aku tak meminta. Ia mengatakan, ia kasihan padaku.
Aku patut dikasihani memang, karena dari dulu nasibku begitu malang. Aku ingin mendapatkan kasih sayang yang berlimpah, karena aku begitu haus kasih sayang orang tua, khususnya sosok laki-laki.
“Operasi?“ Aku kaget, mendengar saran dokter untuk persalinanku.
“Iya, benar. Seperti yang sudah Saya jelaskan, bahwa bayi Anda berada di posisi sungsang.“
Sungguh, aku langsung memikirkan tentang biayanya. Aku tidak punya asuransi kesehatan apapun di sini. Masa iya, aku harus pulang ke Indonesia untuk melahirkan? Aku tidak mau pulang, aku akan bekerja dan membesarkan anakku di negara ini, meskipun tak di kota ini. Memang aku tidak pernah bertemu dengan bang Ken lagi, tapi ia memilih apartemen di sini, pasti ia akan sering bolak-balik ke kota ini.
Posisi kepala bayiku berada di atas, tidak di jalan lahir. Aku pernah mendengar cerita saat di rumah mamah Dinda, bahwa ada beberapa kasus sungsang yang bisa melahirkan normal. Ada juga caranya yang harus diputar posisinya oleh dukun bayi dulu. Tapi jelas di sini mungkin tidak ada seperti itu-itu.
“Untuk jadwal operasinya kapan, Dok?“ tanya ibu Alfonso, yang menemaniku di ruangan dokter ini.
“Bisa dijadwalkan empat mingguan lagi, berarti untuk tanggal lima belas bulan berikutnya,” jawab dokter kemudian.
Tanggal empat belasnya, aku wisuda bidang bisnis. Aku harus bagaimana mengatakannya ke bang Givan dan mbak Canda?
__ADS_1
Mbak, aku wisuda. Tetap di sini, karena besok aku bersalin begitu? Aduh, rasanya aku takut membuat mereka terkena sesak napas mendadak.
...****************...