Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD13. Kelelahan


__ADS_3

“Maaf, masih marah kah?“ Kami sudah sampai di depan ruko galon ibu.


Sebenarnya, ini ruko galon dan tanahnya atas nama Chandra. Mamah Dinda tak mau mbak Canda pergi jauh, saat ia sempat menjanda dulu. Hingga diberikan ruko sekaligus usahanya, untuk mengunci mbak Canda agar tidak bisa pergi jauh.


“Tak, Bang.“ Bukannya aku masih marah, akan hanya terpikirkan tentangnya yang tak mau memiliki anak lagi. Ditambah lagi, ia mempermasalahkan rentang usia kami.


Pasti ia berpikir, bahwa nanti ia akan meninggal lebih dulu. Kemudian, meninggalkan tanggung jawabnya pada anak istrinya.


“Kenapa? Sakit kah? Mana yang sakit? Abang terlalu kasar kah? Di bagian mana? Coba Abang cek.“ Ia merangkulku dan menggenggam tanganku.


“Tak kok, Bang.“ Tidak ada bekas sakit yang membekas.


Cup….


Ia mengambil kecupan manis di pipi kananku. “Abang janji tak akan ulangi, kalau Adek tak keluarkan itu barang dari dalam wadahnya. Minimal, dikeluarkan airnya begitu. Tapi kalau sampai kau berani kek tadi, terus ninggalin aktivitas kita begitu aja, konsekuensinya cuma hubungan badan. Abang bukan orang yang bisa nahan, Abang bukan orang yang pandai ng****.“ Ia menggosokkan wajahnya di lenganku.


Sudahlah! Aku sudah terlanjur kacau. Harus mandi besar kembali baiknya.


“Abang tak turun ya? Abang malu. Mau langsung pulang aja, terus ke rumah sakit aja nemenin Canda, biar tak ketemu sama Putri.“


Yes, berhasil.


“Ya, Bang. Aku buka bagasi dulu, nanti baru angkat Bunga.“ Bunga masih pulas di bangku belakang. Anak itu sepertiku dan mbak Canda, sekalinya tidur ya sulit bangun kalau tidak bangun sendiri.


Aku dibantu oleh ibu, saat memindahkan beberapa barang. Aku mengatakan mobil bang Ken ada masalah, sampai ia tidak mau turun karena mobilnya bisa mogok.


Kulotku terlihat cacat, aku sengaja menutup bagian karet pinggangnya dengan style pakaianku. Ibu bisa curiga, jika melihat celanaku tidak lagi sempurna.


“Kau kasihkan ke mamah Dinda dulu, Ndhuk. Baru istirahat.“ Ibu memberiku perintah dengan lembut.


“Nanti, Bu. Aku capek betul.“ Masalahnya, aku dalam keadaan kacau. Aku masih acak-acakan, bahkan aku belum membersihkannya.

__ADS_1


“Capek, Bu. Nanti lagi deh, sore aja.“ Aku menunda karena keadaanku tidak memungkinkan.


“Oh ya udah.“ Ibu kembali turun meninggalkanku di kamarku bersama Bunga.


Ia masih terlelap saja, Bunga kelelahan karena berkeliling swalayan tadi. Hingga akhirnya ia meminta gendong pada ayahnya sampai ke parkiran mobil. Sebelumnya, kami membeli seragam sekolah di toko grosir dan memilih beberapa alat tulis.


Aku membersihkan tubuhku lebih dulu, barulah aku tidur bersama Bunga. Aku menikmati kelelahan ini, sampai sore tiba.


[Abang di rumah sakit, Dek. Tadi anter Ai ke rumah sakit, kalau minta antar sama yang lain dulu. Sama Ghifar atau siapa gitu.] Pesan ini aku dapatkan, setelah mengecek ponselku ketika bangun tidur.


[Ria, sini liburan. Ada tanggal merah di hari Jum'at, Sabtu kan kau libur. Tuh, nyambung libur sama hari Minggu. Main ke sini ya? Aku jemput.] Ini adalah pesan dari Keith.


Sejak ia mengatakan dinner dengan Steva saat itu, aku tidak meresponnya sampai hari ini. Aku tidak membaca pesannya, biasanya aku langsung menghapusnya. Baru kali ini, aku membaca lagi pesannya.


Aku pun sebenarnya ingin menikmati liburan, tapi apa daya Bunga berada di sisiku. Namanya juga anak-anak, kadang ia sulit dikondisikan. Ia tidak selalu anteng, ia pun tidak selalu rewel.


Tapi jika bang Ken ditinggal di sini dengan Putri tanpa Bunga, pasti ia senang karena tidak direpotkan oleh anaknya. Aku ingin Bunga mengganggu ayahnya, aku suka melihat Bunga selalu merecoki ayahnya. Aku suka melihat interaksi di antara keduanya.


“Yuk, sekalian antar barang-barang.“ Aku mengantarkan beberapa pesanan milik mamah Dinda.


Tapi, karena ada tamu. Aku melipir masuk dari pintu samping, kemudian menaruh pesanannya di dapur. Setelahnya, aku keluar kembali dari pintu samping. Kemudian menuju ke rumah bang Givan, aku memberikan beberapa seragam dan alat tulis yang sudah aku beli.


“Tan, liburan dong. Biyung sama ayah lagi tak bisa ajak liburan, katanya minta antar Tante aja.“ Chandra mendekatiku karena memiliki tujuan.


“Ke mana?“ Chandra sudah meminta padaku, berarti ia sudah mengkonfirmasikannya dengan bang Givan.


“Ke Singapore. Tante tau tak sih, kalau adek Ceysa mau pindah sekolah di sana?“ Chandra sering bercerita padaku dan ibu, ia sering main untuk menjaga adiknya yang meminta berkunjung di rumah ibu.


“Iya pernah dengar. Terus, kau mau pindah ke sana?“ Aku memperhatikan Bunga yang sudah berbaur dengan anak-anak yang lain.


“Tak, aku SMA nanti katanya dipondokan. Baru kuliah nanti ke Singapore, nemenin Ceysa sekolah di sana. Lulus kuliah, nanti aku boleh nikah sama Izza.“

__ADS_1


Hei!


Izza lagi, Izza lagi!


Aku yang sudah siap menikah pun, tak kunjung ada yang melamar. Ia yang masih SMP, sudah memiliki planning untuk menikah.


“Terserah kau!“ Aku menghela napas dan menyandarkan punggungku ke tembok.


“Tan, aku belum cerita ke ayah tentang uang bensin untuk Izza. Aku takut ayah marah tuh, Tan.“ Chandra duduk bersandar di dinding teras yang sama denganku.


“Tak marah, kau jujur aja. Marah pun tak akan lama, pasti langsung disayang dan dinasehati lagi.“ Aku bersandar pada bahunya.


Aku melirik pada gerbang rumah yang terbuka, hingga masuklah Jasmine dan ibunya.


Bad mood sudah.


Aku tidak memiliki masalah dengan Putri, tapi karena ia menjadi kekasih bang Ken yang membuatku menjadi tidak suka padanya. Kadang, aku ingin sekali membuat mereka merenggang dan berpisah. Aku lebih suka bang Ken tidak terikat status dengan siapapun, daripada ia harus memiliki status yang mengganggu ketenanganku.


“Hai, Rai. Tadi kau ke mana sama Ken? Ke mana dia sekarang?“ Putri ikut duduk di depan teras rumah Chandra ini.


“Aku bawa jajanan.“ Jasmine memanggil saudara-saudaranya yang lain. Mereka langsung mengerubungi, menikmati jajanan yang dibawa oleh Jasmine.


Masa iya bang Ken tidak menghubungi Putri sama sekali? Bang Ken saja memberiku pesan kok.


Aku mengeluarkan ponselku, kemudian membuka room chatku dengan bang Ken. “Ini, dia kirim pesan beberapa jam yang lalu.“ Aku menunjukkan isi pesannya.


“Abang di rumah sakit, Dek. Tadi anter Ai ke rumah sakit, kalau minta antar sama yang lain dulu. Sama Ghifar atau siapa gitu.“ Putri membacakan isi pesannya.


“Oh, jadi dia datang tadi? Aku ke tidur soalnya di jam dia kirimi kau pesan ini. Kau sama dia habis dari mana aja? Kenapa Ken tak ajak aku masa kalian pergi ya?“ Putri menghujamiku dengan pertanyaan, berbarengan dengan sorot intensnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2