Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD74. Sampai Sao Paolo


__ADS_3

“Tujuannya ke mana?“


Aku langsung memutar badanku, untuk melihat wajah seseorang yang mengajakku berbicara. Ternyata, itu adalah Dika. Ia lewat bersama rombongannya, tapi ia meninggalkan rombongannya.


“Brasilia,” jawabku kemudian.


“Wow, travel aku tak sampai ke sana. Kita kabar-kabaran aja ya, barangkali bisa tukaran isi piring lagi,” ucapnya dengan mempertahankan senyumnya dan berlalu pergi.


Tukaran isi piring? Dalam artian sebenarnya kah?


Aku hanya mengangguk samar, karena ia sudah berjalan ke depan. Aku masih duduk di bandara, karena Keith masih mengurus kepentingan surat-surat untuk pesawat lanjutan. Perjalanannya satu hari setengah, dua kali transit. Jadi, totalnya empat bandara yang akan kami kunjungi.


Enaknya perjalanan dengan orang bang Givan adalah, kita tidak repot mengurus hal-hal seperti ini. Seperti, tahu beres saja.


Aku memilih untuk mengetikkan namanya dalam pesan chatnya dulu. Rupanya langsung ceklis biru, iya langsung mengetikan namaku di balasan pesanku.


[Iya, betul.] Balasku kemudian.


[Ati-ati sampai tujuan ya? Istirahat yang cukup, semoga jet lag tak terlalu lama.] Pesan darinya fast respon.


[Oke, siap.] Setelahnya, aku langsung menyimpan ponselku. Karena Keith langsung mengajakku untuk pindah tempat.


Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Aku langsung pulas, ketika sampai di tempat tinggal milik Gibran di Sao Paolo ini. Aku tidak peduli, jika tempat ini penuh debu. Karena rasanya, mata ini berat sekali. Padahal di sini siang hari, tapi begitu berat mata ini.


Ketika aku bangun, aku ditemani oleh seorang ibu-ibu seusia mbak Canda berwajah Asia. Bertambah heranku, karena rupanya ia berbahasa Indonesia.


“Saya biasa datang setiap pagi, masanya rumah ini dihuni bang Gibran. Setelah bang Gibran pulang, Saya cuma membersihkan setiap seminggu sekali sesuai perintah pak Adi,” ungkapnya ramah. Bahasanya cukup tertata rapi, tidak terlihat logat dalam nada bicaranya.


“Kalau Saya minta Ibu untuk tetap tinggal di sini, bisa?“ Aku perlu orang terdekat untuk berkomunikasi dengan sekitar.


“Saya berkeluarga, Kak. Rumah Saya di halaman belakang rumah ini, ada suami dan anak Saya tinggal di sana.“ Ia menunjuk lorong di tengah bangunan ini. Sepertinya, lorong itu menghubungkan ke pintu belakang.


“Kerja, atau gimana?“ Aku menajamkan penglihatanku.


“Kami semua kerja sama pak Adi. Cuma sejak bang Gibran pulang, suami Saya jadi sopir taksi. Sebelumnya, fokus nganterin bang Gibran aja.“

__ADS_1


Aku tidak menyangka, ternyata fasilitas untuk si bungsu sungguh sangat luar biasa. Suami dari ibu ini pun, pasti sekaligus menjadi penjaga juga.


“Anaknya gimana?“ Apa anaknya sengaja dibawa dari Indonesia? Aku jadi bertanya-tanya.


“Ada, sekolah. Usia sepuluh tahun, dari dulu kami memang di sini. Kami sulit pulang karena kami dulunya TKI yang kabur.“


Oh, TKI pun ada di Brasil juga kah? Berarti ceritanya tak jauh beda denganku.


“Saya tak percaya. Saya perlu ngobrol banyak.“ Awalnya wajahnya begitu kaget, tapi sedetik kemudian ia langsung tersenyum.


“Mari, Kak. Saya antar kenalan sama anak dan suami Saya.“


“Saya permisi cuci muka dulu.“ Aku celingukan mencari kamar mandi.


“Di sebelah sana, Kak.“ Ia menunjuk ke arah belakang ruangan ini.


Aduh, ruangannya membingungkan. Terlalu banyak jendela dan pintu, mungkin ini memang model rumah di sini.


Hari ini aku banyak mengobrol dengan ibu Supriyatin itu, biasa disebut bu Atin. Ceritanya mirip seperti cerita ibu, mereka menikah siri dan ada surat pernikahan siri itu. Setelahnya, aku touring di rumah ini.


Bahkan, di kamar mandi pribadinya banyak terdapat kata-kata mutiara tentang cinta yang dicat menggunakan pilox. Seperti contohnya, kamu yang selalu aku semogakan. Entah, apa yang mendorongnya mengisi tembok kamar mandi dengan kata-kata seperti itu.


Sebaiknya disampaikan atau tidak ya? Tapi, jika disampaikan apa nantinya anak itu akan marah padaku karena sudah membocorkannya?


“Ria…. Kau perlu minta izin, kalau mau tempati kamar Gibran.“ Keith memperhatikanku dari ambang pintu kamar.


“Coba izinkan.“ Aku tertarik menempati kamar anak muda ini.


“Tapi aku udah persiapkan kamar depan untuk kau. Aku sementara tidak di ruang tamu aja, karena barangkali di kamar Gibran ada privasi yang tak boleh keluarganya tau. Kau harus ngerti itu, Ria!“ Keith sampai mengeluarkan ucapan tegasnya.


Di sini memang hanya ada dua kamar. Ada ruang tamu, ruang televisi memanjang. Ada juga sebuah dapur, ruang laundry, musholla kecil dan kamar mandi.


“Oke.“ Aku beranjak keluar dari kamar ini.


Keith bisa menjaga dirinya dan gerak langkahnya. Kami benar-benar tidak melakukan aktivitas apapun, selama Keith tinggal di sini untuk mengurus dokumen tinggal sementara selama enam bulan. Pasti harus perpanjang, karena menggunakan paspor turis.

__ADS_1


Keith hampir tiga hari berada di sini, hanya untuk mengurus dokumenku dan pembekalan awal kursus bahasa untukku. Kursus ini ditargetkan hanya sebulan saja. Setelahnya, aku diminta untuk mengikuti kursus dasar untuk mengambil pendidikan di sini.


Barulah aku bisa memainkan ponselku, setelah aku memiliki nomor untuk daerah di sini. Aku khawatir SIM card-ku tidak berfungsi lagi, karena tidak ada jaringan di sini. Semisal WA milikku tidak diganti, aku khawatir kartu yang lama diaktifkan kembali dan digunakan untuk orang lain.


Mamah Dinda menelponku? Tumben apa? Biasanya, hampir tidak pernah sama sekali. Aku pun sudah menghubungi bang Givan, bahwa aku sudah sampai dan tengah jet lag di sini.


“Ya hallo, assalamualaikum. Iya, Mah?“ Aku dengan cepat menerima panggilan telepon dari mamah Dinda, karena beliau hampir tidak pernah menghubungiku.


“Hallo, Dek.“


Loh?


Eh, sebentar. Siapakah gerangan? Siapa ini?


Aku memandang layar ponselku, untuk melihat nama yang tertera di layar ponselku. Benar, ini nomor telepon mamah Dinda. Bahkan, ada fotonya karena ini panggilan dari aplikasi chat.


“Mah? Mamah Dinda?“ Aku memastikan bahwa itu adalah dirinya.


“Ini bukan mamah Dinda, Dek.“ Suara penelpon ini sampai ditekan begitu rendah.


Kok bisa ponsel mamah Dinda ada padanya?


Maksudnya, ini bagaimana?


“Mamahnya mana?“ Aku gelisah sendiri mendengarnya.


“Ada, Dek. Ini Abang, Abang mau ngomong, Dek. Tapi nomor Abang, Adek blokir. Coba buka blokirannya, Dek.“


Aku berpikir, bahwa seseorang ini memang mengendap-endap untuk mengambil alih ponsel mamah Dinda. Aku doakan, semoga aksinya ini ketahuan mamah Dinda.


Picik sekali dia, sampai menggunakan ponsel orang lain agar bisa menghubungiku. Bukan seperti ini, usahanya yang aku inginkan. Ini cenderung pembohongan, tetap ia mengambil cara pintas. Karena, bang Givan tidak akan mengetahui usaha baik dirinya untuk menghubungiku.


“Ngomong apa?“ tanyaku datar.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2