
“Canda, sini.“ Bang Givan menepuk lantai di sebelahnya.
“Ya, Mas.“ Mbak Canda langsung memenuhi perintah suaminya.
Bang Givan membisikan sesuatu pada mbak Canda. Istrinya itu mengangguk, kemudian bersandar pada lengan bang Givan.
Mereka paling bisa membuat iri siapa saja.
“Ayo.“ Lalu mbak Canda membantu suaminya untuk bangkit, mereka malah memilih untuk pergi ke kamar.
Aku ditinggalkan berdua dengan bang Ken saja. Terang saja, aku takut ia tiba-tiba menculik Kirei.
“Lihat, Dek.“ Bang Ken mendekatiku dan hendak mengambil Kirei.
Aku semakin mengeratkan pelukanku pada Kirei. Aku tak mau, jika Kirei dibawa olehnya.
“Kau kenapa? Kirei jangan terlalu ditekan begitu, sesak dia.“ Bang Ken mendorong bahuku.
“Abang pulang aja, atau aku terisak?“ Aku panik, karena mbak Canda tak kunjung kembali.
__ADS_1
“Kau kenapa? Abang cum mau lihat kulit leher Kirei. Kemarin ngelupas dan kering.“ Bang Ken sudah duduk di sofa sebelahku dengan nyaman.
“Tak usah dilihat.“ Aku memunggunginya.
“Ada apa?“ Mbak Canda kembali muncul.
Syukurlah.
“Mbak, sini!“ Aku menggeser tempat dudukku, aku ingin mbak Canda berada di antara aku dan Ken.
“Ada apa? Kau lebay betul didekati suami.“ Mbak Canda melangkah mendekat.
“Kek gimana memang dia?“ Mbak Canda menoleh ke arahku sekilas.
Posisi kami seperti di duduk angkot. Kami duduk sejajar, di sofa yang sama. Tapi, bang Ken sedikit bergeser, mungkin agar enak mengobrol dengan bertatap muka.
“Dia kasar, Bang. Hidupnya penuh atur-atur aku, dia kekang aku, tapi dia hidup bebas dengan bahagia. Dia kasar, dia tak mau kalah dari aku.“ Aku meliriknya bengis. Mungkin ini adalah curhatan pertamaku pada mbak Canda.
“Loh? Kok Abang lagi? Introspeksi diri lah!“ Bang Ken tidak terima dengan ucapanku sepertinya.
__ADS_1
“Kalian sama-sama harus introspeksi diri! Tak kau!“ Mbak Canda menoleh ke arahku. “Tak Bang Ken juga.“ Mbak Canda menoleh ke arah bang Ken.
“Jalin komunikasi yang baik! Saling mengerti dan saling dibicarakan. Kalau salah satunya lagi ngomong itu, salah satu lainnya tak usah cari pembelaan diri. Saling sadar diri!“ Mbak Canda menoleh ke arahku. “Kau pikir, Mbak dan abang ipar kau tak pernah selisih paham? Lima tahun kita selisih paham, lima tahun kita diam-diaman memendam rasa kami sendiri. Apa akhir dari puncak jeleknya komunikasi ini? Perceraian!“ Mbak Canda memandang lurus dan menarik napasnya.
“Rumah tangga Mbak lebih berliku, Ria. Ngejalanin bang Lendra dulu, capek makan ati juga karena dia sibuk kerja yang tak Mbak ngerti kesibukannya. Meski tau, akhirnya untuk Mbak dan masa depan kita. Tapi Mbak juga ngerasa butuh dia, butuh waktunya dan butuh untuk membahas tentang kita. Ayahnya Chandra orangnya begitu, ayahnya Ceysa orangnya begitu. Lain laki-laki, lain sifat minus dan pemikirannya. Di awal mereka baik-baik semua, kecuali mas Givan yang tak pernah baik. Nah, kebaikan mereka ini kek cuma promosi aja. Biar kita mau sama dia, biar kita nyaman sama dia. Setelah ngejalani rumah tangga bersama, topengnya itu lepas. Keluar semua sifat aslinya, sifat asli yang tak pernah kita duga sebelumnya. Rahasia-rahasianya, cara berpikir dan pola pandang. Bahkan, cara di ranjang mereka pun tak sama meski sama-sama laki-laki. Kaget, karena yang dulu begitu. Yang baru, malah lain lagi. Sama, serba salah juga di awal. Cuma, kek mana cara kita selesaikannya? Mas Givan ya tetap mas Givan, dia tak akan bisa berubah jadi bang Lendra. Bang Lendra ya bang Lendra, pemikiran dan cara memperlakukannya tak sama seperti mas Givan. Mbak dari muda salah komunikasi terus, setelah dibenahi dalam waktu yang lama. Jadilah begini, selain karena malu sama anak udah tua ribut terus. Tak jarang, mereka yang malah di usia tua malah milih bercerai. Karena seumur hidup itu lama, Ria. Makanya, kenapa harus benahi terus. Karena biar nyaman hidup bersama tanpa tekanan selama seumur hidup ini. Kalian apa-apa tuh dibicarakan, jangan main hakim sendiri begitu.“ Mbak Canda langsung mengambil alih Kirei dari dekapanku.
“Kau mudah untuk ngomong, Canda.“ Bang Ken selalu menganggap orang lain itu hanya bisa berbicara.
“Bang….“ Mbak Canda menoleh dan memperhatikan bang Givan cukup lama.
“Aku rumah tangga pertama dengan mas Givan itu selama lima tahun. Dari rujuk sampai sekarang itu, kurang lebih sepuluh tahun. Apa itu waktu yang sebentar? Itu waktu yang lama! Belum lagi masa aku menjanda dan nikah lagi dengan bang Lendra itu, ada kali lima tahun digabung. Dari umur delapan belas tahun aku rumah tangga, barulah bahagia itu sama bang Lendra. Sama mas Givan, barulah bahagia setelah punya Ra. Karena di awal rujuk, emosinya masih sulit dikontrol. Meski akhirnya aku bawa santai aja, karena memang udah ngerti kalau dia orangnya emosian. Kalau mas Givan tak ada rubahnya, ya mungkin aku pun bakal capek juga kek kak Riska kemarin itu. Laki-laki itu yang ada pikirannya coba, Bang! Tak capek kah udah tua masih ribut aja sama perempuan? Kalau memang kalian tak bisa bersama, ya udah pisah aja sih! Aku bukannya nyuruh kalian pisah, tapi kasih saran aja. Aku tau, aku dosa dengan ini. Tapi mana tau, kalian bisa menata diri masing-masing waktu tak bersama. Kalau masih ada jodoh, ya nanti rujuk lagi tak masalah. Kalau memang udah tak ada jodoh, ya setidaknya kita sendiri paham bahwa yang terbaik untuk diri kalian masing-masing adalah tidak bersama. Daripada begini, kalian cuma ngelukain diri kalian masing-masing aja. Ria tak akan pernah bangkit, kalau Abang terus datang dan ngasih finansial, atau ngacauin hidup dia dengan terus nyalahin dia. Abang pun sulit menerima kenyataan juga nantinya, kalau datang lagi dan datang lagi. Benahi diri kalian masing-masing, kalau memang tak bisa kembali setelah berbenah, ya udah. Kami bisa kok bagi kasih sayang kami ke Kirei, tak perlu bawa-bawa kasian anak. Anak tak akan paham masalah kalian, anak-anak cuma bisa menerima keputusan yang diambil oleh orang tuanya. Toh, besar nanti mereka bakal bawa takdir sendiri. Mereka bakal bawa jalan hidup sendiri dan pilihan hidup sendiri. Daripada begini begitu, sesak sendiri aku rasanya. Abang kerja aja, tak usah mikirin sakit dan senangnya anak. Kek Abang naruh Bunga sama aku aja gitu, tak usah banyak pertanyaan sakit senangnya anak. Kau juga tak perlu pikirkan gimana akta kelahiran Kirei, Ria.“ Mbak Canda menepuk pahaku. “Kamu punya surat lahirnya dari rumah sakit kemarin, tinggal manipulasi nama ibu aja, Kirei bisa ikut KK Mbak. Kau bisa jadi gadis lagi dan berkarir lagi, tapi diingat pengalamannya yang satu ini. Mbak tak akan merasa direpotkan, mungkin ini amanah dari Yang Kuasa untuk Mbak dan mas Givan. Kami jadi orang tua dengan amanah harta yang banyak, mungkin juga dipercaya untuk besarkan anak-anak yang banyak juga, biar harta kami bermanfaat.“ Suaranya bergetar dan terbata-bata.
Aku merepotkan kakakku yang sudah kerepotan lagi.
“Kalau Abang ngerasa dewasa, ngerasa tak perlu masalah ini dibawa ke orang tua. Ya udah, kita selesaikan di sini semuanya. Orang tua tak perlu tau semuanya, mereka cukup tau kalau memang kalian tidak bisa bersama lagi. Aku memang bukan mamah Dinda, aku bukan orang tua kalian juga. Tapi aku kakaknya Ria, aku tak terima adik aku berlarut-larut dalam masalah yang tak bisa ia selesaikan sendiri!“ Mbak Canda menunjuk dirinya sendiri, dengan suara yang naik dan bergetar hebat.
Kakakku tak benar-benar polos.
...****************...
__ADS_1