
"Akhirnya, Pajeroku ada fungsinya." Bang Ghifar begitu semangat saat memasangkan gandengan ke mobil orang tuanya ke mobil adiknya itu.
"Bang, serius aku harus pulang dulu ini." Aku tidak berani untuk turun dari mobil.
"Iya, datang sebelum Dzuhur paling telat ya? Karena setelah Dzuhur, Abang tak ada di ruangan." Bang Ghifar berjalan ke arah mobilnya.
Kaca mobil ini terbuka, jadi kami bisa mengobrol meski ada jarak.
"Siap, Bang." Aku mengacungkan ibu jariku.
Mobil mulai tertarik mundur, dengan Gavin yang menyeimbangkan dan terus melirik ke arah spion. Melirik spion saja ia seperti menatap dalam-dalam objek tersebut, apalagi jika menjadi lawan bicaranya.
"Kau agak gila, Kak! Kau SANGat kangEn ke aku." Gavin bergidikan dengan melirikku sekilas.
"Aku cuma tengok kau nyetir." Aku memukul lengannya.
"Wajah kau memerah, tatapan kau dalam. Biarpun pengalamanku cuma ke satu perempuan, aku ngerti kali masa perempuan minat ke aku." Kemudian ia menarik tem tangannya dan turun.
Duh, mulutnya membuatku tak enak hati saja. Jika ia terus menegur seperti ini, kan yang ada aku jadi segan sendiri.
Bang Ghifar dan Gavin tengah melepas sambungan tersebut, kemudian mereka bercakap-cakap. Entah percakapan apa, tapi sepertinya seputaran mobil. Hingga akhirnya, bang Ghifar tancap gas dan mobil milik Gavin putar balik.
"Aku salting sendiri, Kak. Kau jangan lihatin aku aja." Ia berkata dengan fokus ke depan.
Aku malu.
"Lebay!" Aku menghempaskan punggungku dengan nyaamn.
"Serius aku nih, tak bisa loh aku digitukan." Gavin mulai menutup jendela mobil secara otomatis.
"Ya kan aku tak ngapa-ngapain kau juga." Aku bingung ingin memberikan pembelaan apa.
"Di depan mamah papah jangan gitu tuh, aku malu nantinya diledekin. Disangkanya aku ini ada sesuatu di belakang mereka, disangkanya nanti aku ada main sama kau."
Aku dapat peringatan juga.
"Iya! Iya!" Aku menjawab cepat saja.
"Jangan iyanya aja! Nanti aku baper beneran, bahaya nanti." Ia memalingkan pandangannya saat mengatakan hal itu.
Terang saja, aku terus memandangnya menuntut penjelasan dari ucapannya. Masa iya dia baper? Kan aku tidak melakukan apapun.
"Baper kek apa aja." Aku menggeleng berulang.
"Aku baperan, sama Ajeng aja cuma disenyumin aja tiap ketemu jadinya baper." Ia menoleh sekilas padaku.
__ADS_1
Ia kurang tidur, atau memang aslinya ia seperti ini? Atau karena aku mengamatinya lebih lekat, sehingga aku baru tahu jika matanya sayu dan kedepannya begitu lambat memikat.
"Kan aku tak ngapa-ngapain juga." Aku memalingkan pandanganku ke luar jendela, karena Gavin melirikku dari spion tengah.
"Sekarang, belum legal soalnya. Entah nantinya gimana, aku yang malah takut sendiri jadinya." Ia berprasangka seolah aku ini agresif dalam menyerangnya.
"Udah deh, jangan lebay!" Aku memutar bola mataku malas.
"Jujur, Kak. Aku takut perempuan yang suka nyerang-nyerang gitu, nampak aku tak jantannya tuh. Begituan sama Ajeng aja, tak mau aku kalau dia di atas aku. Aku merasa, kek jadi betina aja."
Wah, wah, wah. Ia mengacu seperti bang Ken.
"Kenapa begitu?" Aku memperhatikan jalanan di depan, sudah berada di lampu ketiga, sudah dekat dengan jalanan luar.
"Laki-laki kan pemimpin, ibaratnya tuh perempuan itu posisinya di bawah kekuasaan laki-laki. Sedangkan aku harus di bawah dan diam pasrah, aku tak mau kek gitu." Gavin beranggapan s**s adalah sebuah kekuasaan dalam kerajaan.
"Ya kan perempuan juga ingin mengeksplor tubuh laki-lakinya, mengagumi dan menguasai." Ini yang sulit aku lakukan pada bang Ken, ia mudah tidak tahan jika mendapatkan sentuhan perempuan.
"Ya mengeksplor ya beda lagi, tapi kalau udah gerakan ya aku tak mau kalah. Aku biarkan dia raba-raba, **** segala macam. Tapi sampai di permainan inti, ya akulah penguasanya." Mulutnya frontal sekali.
"Kenapa kau banyak nanya? Mau nyobain kah?" Ia memasang wajah menyebalkan dan tertawa renyah.
Saiko!
Eh, ia tergelak lepas begitu bahagia.
"Daftar dulu ya? Nanti aku pikir-pikir. Lagi misi mendapatkan perawan soalnya, dapat tantangan itu dari papah."
Kenapa aku kecewa?
"Kenapa harus perawan?" Aku memandangnya dari samping.
"Ya masa katanya bujang, kemarin dapatnya janda. Sekarang jangan janda lagi katanya, coba cari yang tak punya rekam jejak pernikahan. Ya itu harapan papah, mungkin dia sedikit kecewa karena dapat menantu janda kali. Sedangkan kan, masa itu aku bujang. Menurut papah itu, kek tak setimpal begitu. Makanya aku rahasiakan Ajeng, takut buat mereka kecewa. Karena dari awal, mamah papah pengen aku punya pasangan yang tak punya rekam jejak pernikahan. Apalagi, masa itu aku sempat terus terang kalah Ajeng masih istri orang. Ya kan, mereka makin murka aja. Makanya kapok sekarang, mau terbuka sama mereka dan tak mau terlalu baper sama perempuan. Kenalkan, tak direstui, ganti lain. Dijodohkan, kalah cocok ya lanjut. Aku sih mikirnya gitu aja, biar tak buat pengalaman lara aku makin dalam."
Kami sudah keluar dan menuju jalanan gang.
"Kau nekat sih? Kenapa?" Aku memperhatikan lalu lalang di sekitar gang.
Arman ada di sini, ia tengah pulang kampung rupanya.
"N****." Satu kata yang begitu lugas.
"Jangan tanya kenapa aku tak berzina, jangan kasih aku pertanyaan konyol." Ia mengacungkan jari telunjuknya.
Sudah berbelok ke arah halaman rumah mamah Dinda. Ramai di sana, ada bang Givan dan ibu juga.
__ADS_1
"Kau turun sih, Vin. Tolong ambilkan celana apa aja di lemari aku, nanti aku turun dan cari celana kerja." Aku menggoyangkan lengannya.
"Aduh, kau merepotkan." Ia merengek.
"Aku malu, Vin." Aku pun ikut merengek.
"Huh." Ia mematikan mesin kendaraan dan membuka kaca jendelanya.
Ia turun dan langsung dihadiahkan dengan tatapan mereka semua.
"Hei, kok masih ada Ria di sana?" Suara mamah Dinda terdengar, karena aku pun menurunkan kaca jendelaku agar lega bernafas.
"Roknya sobek." Gavin berbicara dengan masuk ke dalam rumah.
"Heh, kau apakan?" Mamah Dinda terlihat panik. Ia langsung berjalan ke arahku, dengan wajah yang tegang.
Rumit, rumit sudah. Aku tak suka jika keadaannya seperti ini, aku merasa malu dan takut. Benar kata Gavin, ia disangka macam-macam.
"Kenapa kau?" Mamah Dinda membuka pintu mobil di sisiku duduk.
"Sobek, Mah." Aku menunjukkan rok bagian belakangku.
"Kenapa? Kok bisa?" Mamah menarik-narik rokku.
Huh, dasar orang tua. Ia tidak percaya sekali padaku. Sampai ia mengecek sendiri rokku ini.
"Tadi selip mobilnya, aku turun dan nendang bannya." Aku membuat cerita baru.
"Terus, lepas kau tendang jadi mobilnya tak selip lagi gitu?"
Kenapa pertanyaan mamah seperti mbak Canda? Terdengar bodoh.
"Ya, tak juga." Aku memamerkan gigiku.
"Terus bisa tak selip karena apa?" Sidak mendadak bisa terjadi di mana saja.
"Bang Ghifar datang, bantu tarik mundur karena aku mau pulang lagi ganti rok." Aku memantulkan bibirku.
"Terus, Gavin antar lagi dan mobil selip lagi? Terus, Gavin antar pulang lagi untuk ganti rok lagi? Sampai kapan siklusnya sama Gavin terus? Dekat-dekat sekali kau dengan dia."
Huaaaa… Aku ingin menangis kejar saja. Mamah Dinda tajam sekali mulutnya.
Aku harus mengeluarkan pembelaan apa?
...****************...
__ADS_1