Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD103. KB darurat


__ADS_3

KB darurat.


Apa maksudnya membuatku percaya bahwa ia tengah berusaha membuatku hamil, dengan sengaja melepaskan benih-benihnya di dalam tubuhku? Namun, ia memberiku obat pencegah kehamilan setiap waktu?


Aku bodoh sekali.


Aku harus menangisi seperti apa, karena tahu suamiku membodohiku seperti ini? Jika memang ia tidak ingin aku hamil, karena aku masih merokok. Ia bisa mulai dengan melarangku merokok dan mengatakan sejujurnya bahwa ia tidak ingin memiliki anak dariku, jika aku masih merokok.


Bukannya diam-diam memberiku pil KB darurat seperti ini. Aku merasa ia tengah membodohiku dan tengah mencurangiku. Bagaimana aku bisa mengerti, jika ia tidak mengatakannya dengan mulutnya dan menjelaskan maksudnya untuk menunda kehamilan karena aku masih merokok.


Tapi jauh dari hal itu. Aku merasa ia tidak mau memiliki anak denganku, karena ini masih seputar konsep freechild itu.


Pantas saja ia hanya berkata 'iya' saat aku memastikannya apakah ia ingin memiliki anak denganku. Ia tidak mengatakan apapun, atau meyakinkanku dengan sungguh-sungguh bahwa nantinya ia benar-benar akan menitipkan benihnya di rahimku.


Jika ia tetap ingin freechild, harusnya ia tidak perlu menikahiku dan mengatakan panjang lebar untuk membuatku mau dengannya. Apa ia hanya ingin s**s denganku? Tapi selama kami memiliki waktu bersama, aktivitas kami bukan hanya tentang s**s melulu.


Kami berbelanja, bersenang-senang, makan di luar dan menikmati waktu kami dengan menonton televisi bersama sembari bersenda gurau. Ia tidak terlihat memburu melakukan s**s denganku, tapi malah aku yang memintanya melakukannya denganku.


Aku terus terang saja, jika aku butuh dan aku ingin. Kerinduanku tidak pernah tersampaikan dengan puas, jika kami tidak menyatu. Selain apa yang ia lakukan untukku di ranjang, aku pun rindu merasakan kedekatan bersamanya sampai semenyatu itu.


Aku berpikir itu hal yang wajar, karena kami adalah suami istri. Tentu aku tidak mungkin merengek dan meminta untuk bermain di ranjang, jika keadaannya kami belum menikah. Tentu tidak akan pernah aku memohon dipuaskan olehnya, jika aku bukan istrinya.


Apakah pantas aku menyalahkan kepercayaanku yang aku berikan padanya?

__ADS_1


Hei, dia suamiku. Aku percaya padanya dan aku yakin ia tidak akan mencurangiku, karena dialah pasangan hidupku.


Aku tak pernah berpikir, bahwa ia akan tega melakukan rencana tanpa kesepakatan denganku. Aku tak pernah sampai terpikirkan, bahwa obat yang aku minum adalah pil KB darurat. Aku benar-benar tidak mengerti, jika ada juga yang namanya pil KB darurat. Apakah aku patut disalahkan di sini? Aku korban dari pasangan hidupku sendiri di sini.


Aku harus bagaimana, jika kepercayaanku dipermainkan seperti ini? Aku harus bagaimana, untuk membuatnya memahami bahwa aku sudah tahu semuanya.


Aku yakin, ia akan beralasan dan mencari pembenaran atas apa yang ia lakukan ini. Aku yakin, ia menyalahkanku dan menarik kesalahanku karena itulah ia sampai memberiku pil KB darurat.


Jika ia bermain licik dengan istriku sendiri, aku pun harus bermain licik dengan suamiku sendiri. Aku hanya perlu berpura-pura meminum pil KB itu, sampai kabar baik datang padaku.


Aku pun paham kok, jika ibu hamil itu tidak boleh merokok. Aku akan berhenti merokok, jika benar di rahimku tumbuh benih cinta kami. Jadi, tidak akan ada alasan lagi untuk bang Ken menyalahkanku. Lagipula, jika aku sudah hamil. Aku yakin, ia akan menerima dan melakukan gerak cepat untuk mengurus pernikahan kami untuk keperluan dokumen kelahiran anak kami.


Benar kan?


Lagi pun, aku tidak akan berdosa kan karena mengandung anak suamiku sendiri? Lagi pun aku tidak akan disalahkan kan, karena ia mengiyakan masa aku meminta kesepakatan untuk memiliki anak dengannya.


Sampai akhirnya, ia datang dan aku menyambutnya dengan senyum lebar. Sayangnya, ia menolak ketika aku ingin menciumnya.


“Kau belum mandi, Dek? Jangan beralasan tak ada baju, Abang udah laundry kilat baju-baju baru Adek.“ Ia menatapku datar.


Aduh, masalah rupanya.


“Aku udah cuci muka dan aku udah sikat gigi, Bang.“ Aku melakukannya sejak ia belum berangkat untuk mengurus dokumen-dokumenku.

__ADS_1


“Ini bukan tentang cuci muka. Tapi kau dalam keadaan junub, Ria! Memang kau tak sholat? Memang kau tak mandi besar?“ Dalam nada suaranya ada ketegasan.


“Iya, Bang. Tapi aku pikir, ini hari-hari kebebasan aku.“ Karena di rumah Gibran, aku disuruh-suruh seperti memiliki orang tua di sini.


“Jadi, kau mau libur makan dan libur main HP juga?“ Ia menggeser posisi duduknya.


“Abang jijik sama aku kah?“ Apa ia berpikir bahwa aku bau dan aku kotor?


“Ini bukan tentang jijik, tapi kau dalam keadaan junub! Yang ngerti lah, Ria. Kita tak kekurangan air, kita pun punya perlengkapan mandi yang komplit. Kau kenapa sih banyak mulutnya betul? Kau cuma perlu nurut, kalau diperintahkan. Kau lebih dari iblis, yang cuma nanya kenapa dia harus sujud sama manusia, terus dia diturunkan dari surga. Stop banyak pertanyaan, kau cuma perlu patuh sama suami, sholat dan puasa wajib, biar kau masuk surga. Kau tak perlu banyak pertanyaan kenapa, kenapa, kenapa! Kau perlu banyak berasumsi sendiri, bahwa Abang jijik sama kau, kau kotor dan bau. Jangan buat sulit, kau cuma perlu nurut. Nurut! Kau ngerti nurut kan?!“ tegasnya terdengar lantang.


Begitu saja ia marah. Kenapa ia tidak bisa memberitahu pelan-pelan? Semakin ke sini, semakin terlihat sikap aslinya seperti apa. Ia tidak seperti saat awal, ia tidak seperti masa kita tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan. Ia pun, jauh berbeda dari sosok laki-laki yang selalu menaungiku saat awal aku mengenalnya. Bahkan, saat awal ia terlihat menyenangkan tanpa aturan apapun seperti ini.


“Abang tuh berubah.“ Aku meninggalkannya untuk menuruti perintah untuk mandi itu.


“Terserah kau ngomong, Ria. Abang ngomong bener, Abang nuntun bener. Udah menjelang sore begini, pasti kau tak sholat Dzuhur kan?“


Aku tak meladeninya, aku meninggalkannya untuk mandi. Memang benar, ia menuntunku benar. Tapi aku pikir, bahwa hidup dengan pasangan hidup itu adalah kebebasan baru sesuai haluan kita. Ternyata, malah aku harus dibiasakan dengan aturan baru.


Menikah dan hidup dengan suami, tidak sesuai dan ekspektasiku. Aku tidak tahu, bahwa pernikahan itu seperti ini. Tidak pernah terlintas di bayanganku, jika menikah itu adalah fase kehidupan yang lebih tinggi dari sebelumnya.


Kenapa aku menyebutnya fase kehidupan yang lebih tinggi? Karena tuntutannya lebih memaksa. Belum lagi, permasalahan yang akan datang di depan kami sudah jelas terlihat besar. Coba, akan bagaimana tindakan bang Ken untuk mengurus pernikahan resmi kami?


Menurutku, aku sudah berjuang untuknya. Aku menentang keluargaku untuk dirinya, untuk menikah dengannya dan untuk hidup bersamanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2