
“Dek, kau jangan begini.“
Waduh, waduh, waduh. Di luar nalar! Ia malah menerkamku.
“Abang! Abang!“ Aku mencoba mendorongnya semampuku.
Aku takut, karena tenaganya begitu kuat. Ia terlihat sangat buas, dengan wajah tegasnya.
“Abang….“ Aku mulai merengek karena lelah melawannya.
Ia seperti tengah berusaha memaksakan kehendaknya. Lebih menyeramkannya lagi, ia tengah berusaha membuang celana kulotku. Aku menendangnya tak beraturan, meski aku tah ini percuma saja.
“Bang Ken! Kalau aku sampai hilang perawan, aku bakal ngadu sama bang Givan. Aku tak bohong, aku bakal ngadu dan minta tanggung jawab sama Abang!“ Aku sudah berkeringat dingin, dengan air mata ketakutanku yang reflek mengalir tanpa kukehendaki.
Ia tidak menggubris ucapanku. Ia berhasil meloloskan celana kulotku, bahkan sabuk variasi dengan logo huruf H ini lepas dan hilang entah kemana.
“Abang…..“ Aku menangis sesenggukan, ketika ia menjauhkan kakiku dari kaki lainya.
Aku takut. Bang Ken menyeramkan. Ia seperti bukan sosok laki-laki yang aku kenal, ia bukan sosok laki-laki yang selalu bisa menjadi pelindungku.
“Abang, aku takut sama Abang.“ Aku menendang dadanya, dengan ia langsung menangkap pergelangan kakiku.
“Kau niat permainkan Abang, Dek?“ Suaranya dingin dan menyeramkan.
Aku menggeleng, kala ia semakin mengikis jarak dengan mengunci kakiku ke bahunya. Aku semakin ketakutan, kala jemarinya sudah menyibakkan segitiga milikku ke samping kanan.
Tangan kirinya mengunci pergelangan tanganku di atas perutku, dengan langsung mengunci pahaku. Sedangkan tangan kanannya, memposisikan pusaka warisan leluhurnya tepat di depan milikku yang tidak mendapat penghalang dari CD lagi.
“Abang jangan….“ Aku masih mencoba mengingatkannya dari sisa energiku.
Aku kapok. Ia bukan lawanku.
Ia memindahkan cairan dari mulutnya, untuk dilumuri di kepala bajanya. Tamat riwayatku, ia tidak mendengar apapun perkataanku dan malah mendorong miliknya.
“Kau merasa kan ada yang masuk? Kau paham kan ada benda yang ngebelah?“
Untuk apa ia bertanya, nyatanya pun ia sudah memasukkannya. Aku akan menyusun aduan untuk bang Givan, agar ia berani melabrak bang Ken. Aku hilang perawan karenanya, aku akan memintanya pertanggungjawaban untuk tindakan cerobohnya.
“Selaput kau aman, Ria. Ini peringatan pertama dan terakhir untuk kau. Abang tak akan tahan kau, untuk tak nyentuh Abang. Tapi, kalau kau berani keluarkan punya Abang. Konsekuensinya adalah berhubungan *****. Kau ngerti?!“ Ia bersuara lirih, dengan mencengkeram rahangku.
__ADS_1
Aku mengangguk cepat. Aku pun kapok menguji kegilaannya.
Syukurlah, ia menarik miliknya kembali. Namun, ia malah menggerakkan tubuh bagian bawahnya di permukaan milikku.
“Abang, jangan buang di pintunya.“ Aku mengerti tentang resiko kehamilan meski tidak melakukan hubungan *****.
“He'em.“ Ia menyibak baju di bagian perutku. Ia tetap bergerak menggesekkan dengan seksama.
Matanya kembali terpejam, dengan hentakan yang semakin kuat. Aku tahu, ia akan mendapatkan tujuannya.
Suara T-rex itu lepas, dengan semburan hangat yang tumpah di atas perutku.
Pikiranku sudah ke mana-mana. Aku melamuni nasib selaputku, benarkah aman dengan separuh kepalanya yang sudah masuk?
“Maaf, Sayang. Jangan ngelamun gitu, Abang pasti kontrol.“ Ia memelukku setelah membersihkan cairannya di atas perutku dengan tisu kering.
“Aku takut.“ Aku malah kembali terisak, dengan menyembunyikan wajahku di dadanya.
Bang Ken memberikan ketenangan lagi. Laki-laki yang membuatku takut setengah mati, malah kembali memberikan ketenangan dan kenyamanan luar biasa.
“Abang pastikan dan Abang foto deh, kalau kau benar-benar pengen tau kalau itu aman.“ Ia melepaskan pelukanku dan membenahi jeans-nya kembali.
“Ria, tanpa kau minta juga Abang pasti tanggung jawab.“ Ia menurun kepalanya, dengan menurunkan senter ponselnya ke arah milikku.
“Tapi masalahnya, usia kita beda jauh. Kau tau? Abang sekarang mikirin bagaimana Bunga dewasa, di mana usia Abang udah mulai menua. Abang malah takut, kalau Abang menikah dan punya anak lagi, terus Abang tak bisa besarkan anak-anak Abang sampai diikat suaminya. Abang tau, kalau usia Abang tak muda lagi. Sedangkan kau masih muda, kau harus punya keturunan untuk jadi penerus kau. Misalnya nanti, Abang nikah dengan Putri. Abang tak akan buat dia hamil, Abang bakal minta dia ikut KB nantinya. Karena Abang benar-benar tak mau punya anak lagi, udah cukup Bunga aja satu.“
Ia berbicara dengan mulut bawahku.
“Jangan masuk-masuk jarinya!“ Aku menepuk tangannya yang berada di sana.
“Tak, mau difotokan aja. Biar yakin kalau masih utuh.“ Ia menegakkan punggungnya kembali, dengan menunjukkan ponselnya.
Ya ampun, koyak sejak kapan padahal tidak dimasuki.
“Nih, yang pink itu loh.“ Ia menunjukkan sebuah titik yang samar terlihat.
“Darimana tahu utuh taknya?“ Karena dari gambar tidak begitu jelas.
“Tadi diraba ke dalam sih.“ Ia mencolek ujung hidungku dengan jemarinya yang masih basah.
__ADS_1
“Ish!“ Aku terganggu dengan bau khas tersebut.
“Wangi ya?“ Ia tertawa kecil.
Aku menggosokkan hidungku, kemudian mengundurkan kepalaku. “Mana ada wangi!“ Itu adalah bau khas milikku.
“Wangi kok.“ Ia malah menghirup ujung jemarinya.
“Jorok!“ Aku memukul lengannya, sampai ia terkekeh geli.
“Dibenahi pakaiannya.“ Ia mengembalikan celanaku yang sudah tidak sempurna lagi.
Aku membenahi CD milikku lebih dulu, kemudian mengambil celana kulotku yang berwarna putih ini.
“Rusak.“ Aku menatap sendu celana kulot seharga ratusan ini. Ini memang bukan barang asli Hermes, tapi ini barang super.
Aku membenahi pakaianku, kemudian bercermin melihat dandananku yang terlihat buruk.
“Astaga….“ Ia menyentuh lehernya ketika bercermin dari spion tengah mobilnya.
“Kau apakan Abang, Dek? Gimana Abang balik ke Malaysia nanti? Gimana Abang aktivitas di rumah nanti? Ibunya Bunga aja, tak pernah Abang izinkan. Ya ampun, udah macam anak SMA belajar buat c*******.“ Ia menggosok tanda merah itu.
Aku tertawa renyah, melihatnya frustasi seperti itu.
“Lain kali kalau buat itu di dada, Dek. Buat di perut, di mana kek suka-suka yang penting jangan di leher. Apalagi ini? Ya ampun, dekat dagu.“ Ia sampai menarik-narik kulit lehernya.
“Aduh, mana ada Putri lagi. Kek mana ini? Kek mana caranya aku nemuin dia? Aku nuduh dia segala macam, aku sendiri yang macam-macam,” gerutunya sedikit keras.
Memang inilah tujuanku, membuatnya menghindari Putri karena tanda merah itu. Dengan tanda setebal itu, aku yakin waktu untuk menghilangkannya tidak cukup satu mingguan.
“Sampai nampak bekas gigi kau ini, Ria.“ Bang Ken menggosok sudut yang paling merah itu.
Aku tergelak lepas, merasa puas dengan hasil usahaku. Yes, akhirnya ia tidak memiliki kesempatan untuk berani dekat dengan Putri. Aku memang tidak mampu mengganggunya dengan Putri, tapi aku bisa membuatnya menghindari Putri.
“Bunga…. Tengok, ulah Kakak kau ini.“
Hm, kakak ya?
Aku teringat ungkapannya tadi, yang mengatakan tentang ia tidak ingin bersamaku karena rentang usia kami yang jauh dan tentang anak tadi.
__ADS_1
...****************...