Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD146. Bertemu Hala


__ADS_3

"Aman, Bu. Mungkin dia ngerasa tekanan udara aja, karena kita tinggal di dataran tinggi. Dia dari lahir terbiasa di daerah dataran rendah, yang tidak memiliki tekanan udara." Dokter anak tersebut langsung membuatku tenang.


"Jadi caranya gimana agar dia terbiasa, Dok?" Aku mengangkat tubuh Kirei yang baru saja selesai diperiksa oleh dokter anak tersebut.


"Kalau orang dewasa bisa dengan cara menahan napas selama beberapa detik. Seiring berjalannya waktu, pasti terbiasa sendiri. Tapi kalau Ibu punya kecurigaan lain, Ibu bisa datang kembali untuk mengikuti pemeriksaan lebih lanjut."


Aku berharap Kirei terbiasa dengan sendirinya, agar tidak perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Bukan karena biaya, tapi aku takut sendiri jika harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk makhluk sekecil dirinya.


"Baik, Dok." Aku tersenyum ramah dengan membenahi gendongan Kirei.


Setelah selesai proses formalitas pemeriksaan, aku langsung keluar tanpa membawa resep apapun. Karena memang Kirei sehat wal afiat, ia tidak memiliki keluhan apapun. Aku berjalan menuju ke ruanan yang bang Givan sebutkan dalam pesan chat darinya. Mbak Canda harus menjalani rawat inap, karena demamnya sangat tinggi dan ia juga lemas. Aku berpikir bahwa ia hanya kelelahan saja, tapi tidak tahu juga karena hasil tes darah belum keluar.


"Pulang aja, Dek. Kasian Kirei." Mbak Canda berbicara begitu lemah. Demamnya bisa langsung terkontrol dan perlahan turun, demamnya tidak begitu tinggi seperti di rumah tadi.


"Kirei di sini dulu, Dek. Abang mau nyuruh kau ke minimarket dulu." Bang Givan mengambil alih Kirei dariku.


Ia sudah terlatih menunggu istrinya di rumah sakit, ia tidak terlihat panik seperti sebelum-sebelumnya. Hanya saja, ia terlihat mengantuk. Karena jika kami mengikuti waktu Brasil, ini adalah menjelang tengah malam. Jadi badan masih terbawa kebiasaan waktu di sana, di mana kami tengah tertidur pulas.


"Beli apa, Bang" Aku juga memberikan kain gendong ini pada bang Givan.


Ia menyebutkan barang-barang yang ingin ia beli. Ia pun memberikan kartu debit dan juga memberitahukan pinnya padaku, untuk melakukan pembayaran di minimarket nanti. Ia tidak memiliki uang cash katanya. Sepercaya itu bang Givan padaku, aku tidak boleh mengecewakannya lagi.


Aku pun mengambil roti dengan selai di dalamnya, untuk mengganjal perutku. Aku perlu banyak mengemil, saat menyusui seperti ini. Apalagi, ASIku sering kering hanya satu kali susuan saja. Menurut mbak Canda, aku tidak sepertinya yang memiliki ASI melimpah. Bahkan, ia tetap bisa membuat ASIP setelah menyusui dua bayi. Memang saat meminum resep obat dari bang Ken, ASIku melimpah. Tapi hanya saat itu saja, setelah obat habis ya tidak seperti itu lagi. Makanya kenapa, Kirei harus menikmati susu formula juga.


"Ehh, Ria ya?"


Aku tidak suka dengan dirinya sekarang, juga sapaannya. Aku membenci fakta, bahwa ia sekarang ada calon istri ayah dari anakku. Secara tidak langsung, aku kini terasa membencinya juga dan aku tidak bisa menyembunyikan hal itu dari wajahku.

__ADS_1


"Iya." Aku menjawabnya singkat dan pura-pura sibuk memilih barang.


"Siapa yang sakit, Ria?" Hala sok akrab.


"Mbak Canda. Aku duluan, aku udah selesai." Aku meninggalkan Hala di jejeran rak roti ini.


Aku ingin bertanya sekali pada almarhum bang Lendra, kenapa ia membawa Hala ke kampung kami? Aku membenci alasan kedatangannya dan kelangsungan hidupnya selama di sini. Aku dan anakku semakin tidak beruntung karenanya.


"Kak Canda di kamar apa, Ria? Umi Sukma juga ada di sini." Ia sudah selesai berbelanja juga ternyata. Ia mengantri di kasir, tepat di belakangku.


"Tak tau, lupa." Aku tak ingin banyak percakapan dengannya.


Giliran aku maju, aku memperhatikan kasir yang tengah menghitung belanjaanku. Tidak sampai di sini saja ternyata, aku mendengarkan suara halusnya bertelepon dengan seseorang.


Aku cepat-cepat pergi dari barisan ini, setelah membayar belanjaanku. Aku tidak berniat untuk mendengarkan obrolannya dengan calon suaminya itu. Entah masih pantas tidak, aku menyebutnya dengan suamiku. Karena ia telah memberikan taksi kifayah padaku, ia juga lama tidak menafkahiku dan memberiku nafkah batin. Sekalipun ia ingin memberikannya, aku tidak ridho diriku disentuh lagi olehnya. Sudah cukup ia memperdayaku, dengan ucapan manisnya dan janji-janjinya.


"Ria...," panggil bang Givan yang menungguku di depan kamar inap mbak Canda.


"Cepat pulang, ada ongkos tak? Bang Ken tadi telpon, nanya mbak kau di kamar apa. Kah pulang aja cepat, Abang khawatir dia ke sini dan lihat kau sama Kirei di sini." Bang Givan memberikan Kirei padaku.


"Aku ada ongkos, Bang. Iya, Bang. Tadi aku ketemu Hala di minimarket." Aku langsung menggendong Kirei dengan kain gendongnya, kemudian aku menahan bang Givan yang akan segera masuk membawa belanjaannya tadi.


"Ini kartu debitnya, aku minta roti juga satu. Aku laper, Bang." Aku memamerkan gigiku.


"Sok ambil. Abang bilangnya nanti Abang kirim nomor kamarnya, karena Canda belum dapat kamar. Abang tak tau, kalau di sini juga."


Bukan tak tahu juga, tapi kami lebih cenderung lupa. Aku ingat saja, ketika sudah menginjak rumah sakit ini.

__ADS_1


"Aku balik duluan, Bang. Assalamu'alaikum." Aku bergerak berjalan mencari pintu keluar.


"Wa'alaikum salam, ati-ati." Bang Givan pun langsung masuk ke kamar inap istrinya.


Kirei memperhatikan wajahku saja, saat aku menggendongnya seperti seorang bayi. Ia sudah tidak betah dalam posisi seperti ini, ia mau disangga seperti yang papah Adi sarankan.


"Nanti di mobil ya, Dek." Aku tidak mau ia memberontak saat aku tengah berjalan.


Kirei sudah tumbuh lebih panjang dan besar, semakin besar ia semakin mirip ayahnya. Padahal ia anak perempuan, tapi wajahnya kasar seperti wajah laki-laki. Ditambah lagi, rambutnya baru berapa helai saja. Kirei begitu lama tumbuh rambut, padahal aku sudah memberikan minyak kemiri dan hari care untuk bayi.


Akhirnya, kami sudah di taksi. Aku langsung memposisikan Kirei seperti yang ia mau, dengan sebisa mungkin aku mengambil gigitan untuk roti ini. Taksi berjalan perlahan, membawaku kembali ke rumah megah keluarga Riyana. Entah sampai kapan aku harus bernaung di sana, aku hanya mengikuti perintah kedua orang tua itu.


Penghakiman dan penyesalan atas keputusanku kembali terulang, karena aku kini melihat ibuku menangis tergugu di pelukan mamah Dinda. Mereka berdua ada di ruang tamu, menyambutku yang baru pulang dengan tangis menyedihkan.


"Dek...." Mamah Dinda melambaikan tangannya padaku.


Aku menganggukkan kepala dan menghampiri beliau yang duduk beriringan dengan ibu. Ibu melirik ke arahku, kemudian beliau kembali tergugu dalam tangisnya.


"Ini cucunya nih, Bu. Alhamdulillah sehat, meski ibunya dapat tekanan banyak." Mamah Dinda meloloskan Kirei dari gendonganku.


Kirei terlihat begitu senang, ketika tubuhnya terangkan dan mendarat di pelukan mamah Dinda. Ia merespon ibu dengan pameran gusinya tanpa gigi itu, Kirei mudah beradaptasi di tengah-tengah keluarga ini. Dengan keluarga Alfonso, ia malah selalu menyatukan alisnya dan membuang wajah.


Apa mungkin, karena Kirei tidak mengerti bahasa Portugis? Tapi kan, dian bayi yang memang belum mengerti bahasa manusia. Ah sudahlah, membuat pusing saja memikirkan hal itu.


"Cantiknya kau, Sayang. Kenapa baru pulang, Nduk?" Ibu menggendong Kirei dari mamah Dinda.


"Karena perjalanannya jauh, Bu. Alhamdulillah, mereka sampai dengan selamat." Mamah Dinda mengusap-usap punggung Kirei.

__ADS_1


"Mah, Saya kek kenal mukanya." Ibu memperhatikan wajah Kirei dengan seksama.


...****************...


__ADS_2