
“Berarti, di bukan ODGJ ya?“ Aku bertanya pada mamah Dinda, tapi aku melirik ke arah bang Ken.
Matanya melebar, kemudian ia geleng-geleng tak percaya. Aku hanya bergurau sebenarnya.
“Kalau tentang ODGJ, ya Ken termasuk. Tapi dia tak disebut gila. Ada beberapa orang yang punya masalah mental dan disebut ODGJ, orang gila pun ODGJ. Tapi ODGJ itu belum berarti orang gila, orang yang terlihat sehat pun ada yang ODGJ juga. Gitu loh, Dek. Cuma kan, dia memang terdengar kasar di telinga. Udah ajalah gitu, tak usah dipermasalahkan. Mungkin tentang abang kau halangi, keknya abang kau yang belum yakin sama Ken aja.“ Jawaban mamah Dinda, membuatku jadi tak enak hati pada bang Ken.
“Memang Bang Ken ini kenapa sih, Mah? Aku ngerasa dia baik kok.“ Aku melirik ke bang Ken.
“Abang kau khawatir Ken berbuat kasar ke kau, Ria. Takut diperlakukan kasar di rumah atau di ranjang. Aktivitas s****** Ken, menurut cerita yang abang kau dengar itu katanya kasar. Dia takutnya mental kau tak mampu juga, hadapi Ken yang kasar begitu kalau ngamuk. Tapi kalau Ken akurin Givan sih, mungkin akhirnya luluh juga.“
Intinya, bang Ken harus mengambil hati bang Givan. Tapi, bang Ken adalah manusia yang tidak mau merendah pada orang yang umurnya di bawahnya. Ia merasa lebih tua, ia merasa bahwa dirinya adalah kakaknya bang Givan.
“Mamah sebenarnya udah ada ngomong, untuk nikahin kau sama Ken aja. Kasian kan gitu, takutnya di kesempatan lain kau ketemu dan akhirnya berzina lagi. Mamah paham, cinta itu ya ujung-ujungnya begitu. Memang cinta itu tak melulu s**s, tapi di dalam cinta itu ada s**s,” tambah mamah kemudian.
“Iya, Mah. Meski dibilang jangan berharap pun, ya tapi maksa aja ada ngarepinnya.“ Aku yakin, mamah Dinda pasti sangat mengerti perasaanku. Terbukti dari dirinya yang menyuruh bang Givan untuk membolehkan kami menikah, hanya saja memang bang Givannya yang belum luluh.
“Curhatnya bisa dari chat ya, Dek? Mamah mau ngucek piring dulu, terus masuk kamar lagi.“
Ah, iya. Di sana masih malam, mamah Dinda pasti masih mengantuk.
“Iya, Mah. Makasih ya, Mah? Assalamualaikum.“ Aku bergegas menutup panggilan telepon ini.
“Ya, Dek. Wa'alaikum salam,” sahutnya, setelahnya aku mematikan panggilan telepon ini.
“Nah, dengar! Abang ipar Adek.“ Bang Ken mengusap-usap lututnya sendiri.
Kemudian, ia bangkit dan melepaskan kaosnya. Jika jaket, ia sudah melepaskannya sedari masuk tadi.
“Hana, can I borrow your toilet?“ Bang Ken melangkah ke arah belakang ruang tamu ini.
“Of course, put it on.“ Aku mendengar sahutan Hana terdengar lamat-lamat.
Aku tak mau sendirian, aku pun ingin meminta air mineral juga. Aku beranjak dari sofa ini, kemudian mencari keberadaan Hana.
__ADS_1
“Hana, Ria and I are married. Can we borrow the guest room to rest together?" seru bang Ken dari dalam kamar mandi.
“Of course Kenandra. Just use it, there are two rooms here.“ Hana mengizinkan, katanya ada dua kamar di sini.
Aku menemukan Hana yang tengah berkutat di dapur, ia tengah membuat sesuatu di depan kompor.
Apa yang bang Ken katakan? Ia mengatakan, bahwa aku dan dirinya sudah menikah. Jadi, apa boleh kami meminjam kamar tamu untuk beristirahat bersama, katanya. Aku tahu ke mana arah pikiran bang Ken. Ia bukan benar-benar ingin kami beristirahat bersama, tapi menumpahkan rindu bersama.
Apa aku harus dalam keadaan hina terus? Aku ingin menikah, karena menghindari zina juga. Bujuk rayunya tidak seberapa, tapi aku tetap tak kuasa menolaknya. Aku mampu menolaknya, tapi aku tidak tega melihat wajah kecewanya karena penolakanku.
Apalagi setelah aku tahu, bahwa s**s menurutnya adalah jalan keluar dari masalah. Ia bisa mengontrol amarahnya, agar tidak terlalu meledak-ledak dengan melakukan s**s. Saat aku berkunjung ke kamarnya yang berada di rumah umi Sukma itu, saat malam aku diketahui oleh bang Givan bahwa hubunganku dan bang Ken sudah begitu jauh.
Tapi, apa pernikahan rahasia itu perlu dilakukan? Tapi, jika tidak dilakukan aku pasti akan terus melakukan kegiatan zina itu. Belum apa-apa saja, saat di jalan ia berani menciumku.
Aku dilema.
Jika pernikahan ini tak sesuai harapanku, pasti bukan aku saja yang merugi, tapi aku pun disalahkan keluarga. Jika ada apa-apa denganku pun, pasti keluargaku yang repot.
“Eh, ada Cantik di sini.“ Bang Ken sudah keluar dari dalam kamar mandi.
“Abang kangen.“ Ia mendekatiku dan memelukku yang tengah berdiri di depan lemari pendingin berukuran besar.
Aku memberikan gelasku padanya, kemudian aku melepaskan pelukannya. Aku tidak enak hati, aku khawatir Hana berpikir lain tentangku.
Namun, bang Ken terlihat begitu agresif. Ia mendekatiku kembali, yang tengah menghampiri Hana. Rupanya, Hana tengah memasak spaghetti instan.
Untungnya, Hana memintaku untuk makan lebih dulu. Jadi, aku aman dari serangan bang Ken. Kami makan bertiga, dengan keadaan bang Ken yang tak memakai kaos. Mereka mengobrol seperti orang yang terlihat akrab, bahkan canda tawanya seperti menyambung.
Hana ingin istirahat, ia pun menyuruhku istirahat bersama suamiku ini. Sayangnya, ia bukan benar-benar suamiku. Inilah keteganganku, saat Hana sudah masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan rapat.
Panikku menjadi satu, kala ia langsung menggendongku ala karung beras. Kemudian, ia mengangkatku dan menurunkanku di atas ranjang.
“Bang!“ Aku beringsut dan mencoba turun dari ranjang ini.
__ADS_1
“Gimana? Mau main dulu, apa nikah dulu?“ Ia merebahkan tubuhnya dan menaikturunkan alisnya dengan tersenyum manis.
Aku masih duduk di tepian ranjang ini, dengan kaki yang sudah menapak ke lantai. Pikiranku terbagi-bagi, aku malah memikirkan kepiting hidup yang berada di dalam lemari pendingin. Benar-benar konyol, tapi herannya aku memikirkan hal yang tidak penting itu.
“Dek.“ Bang Ken mencolek pinggangku.
“Aku tuh tak mau nikah sama Abang.“ Aku bohong. Maksudnya, aku tidak mau menikah tanpa restu begini.
Ponsel dalam ponselku berbunyi. Lekas aku mengambil ponselku, kemudian melihat nama yang tertera.
Dika Pilot.
Aku memberi nama itu, agar kontaknya tidak tertukar dengan 'Dika' orang kepercayaan bang Givan ya bekerja di tambang utama.
Sedetik kemudian, ponselku langsung diambil oleh bang Ken. Ia memasang wajah datar, kemudian ia memandangku tajam.
“Hallo, Ria. Aku baru turun pesawat, aku istirahat dulu ya? Nanti kita komunikasi lagi. Aku cuma ngabarin, takut kau mikirin aku tak ada kabar lama.“ Suara Dika langsung terdengar.
Bang Ken terus memandangiku, saat Dika tengah berbicara. Ia tidak menjawab dan mengeluarkan suaranya. Ia hanya diam, menerima dan mengaktifkan speaker dalam panggilan telepon ini.
Aku teringat kejadian Arman. Marahnya luar biasa, kala ia tengah cemburu. Wajahnya tidak tegang sama sekali, aku yang malah tegang dan gugup di sini.
“Iya, Dik.“ Aku meladeni Dika, agar Dika tidak memanggil-manggil namaku terus menerus.
“Oke, Ria. Mungkin, tiga atau empat jam lagi aku hubungi lagi ya?“ Dika memang selalu seperti ini.
“Iya, Dik.“ Aku iya-iya saja, karena aku tengah merasakan hawa mencekam dari reaksi diam bang Ken.
Tut…..
Telepon tersebut terputus.
Aku menarik napasku lebih panjang, aku bersiap untuk melihat benda-benda berterbangan dan juga isi bantal yang berhamburan.
__ADS_1
...****************...