
"Jangan lama-lama ya?" Bang Givan berdada manja pada istrinya.
Ehh, sungguh kah mereka begini?
"Oke, Mas." Mbak Canda masuk ke dalam mobilnya yang akan aku kendarai.
Mobil pink.
"Mau ke mana dulu ini?" Mbak Canda membenahi sabuk pengamannya.
"Mau ke store skincare." Seperti swalayan tapi isinya berbagai merk skincare.
"Ke tempat perawatan yuk?"
Aku sudah membayangkan kocek yang aku keluarkan pasti mahal.
"Mbak yang bayar," tandasnya kemudian.
"Oke." Sanggupku begitu semangat.
"Mbak tuh kadang kepengen nyobain hymenoplasty, tapi pasti tak diizinkan sama mas Givan." Mulai curcol sepertinya.
"Untuk apa? Kek janda aja." Maksudku, untuk apa merombak miliknya agar seperti perawan lagi. Toh, ia digunakan suaminya setiap hari.
"Untuk mas Givan lah, masa untuk bang Ken." Jawaban yang membuatku kesal.
"Eh, Ria…" Ia menepuk lenganku.
"Hm? Apa?" Aku tidak menoleh sama sekali.
"Bang Ken tinggi besar, pasti itunya juga besar panjang ya? Bang Lendra tinggi menjulang, nyata itunya cenderung panjang juga. Sama mas Givan kan, tinggian bang Lendra."
Ngomongin apa ini???
"Ngapain sih bahas itu?!" Aku meliriknya tajam.
"Hm, dasar janda ilegal! Sensitif betul! Cuma ngobrol, sewot aja." Hebat sekali gerutuannya terdapat makian.
"Ya masa bahas itunya laki-laki, kek apa aja?" Aku tidak mengerti arah pemikiran kakakku ini.
"Tinggal jawab tuh!" Lucunya mimik wajah manyunnya itu. Pantas saja tak sedikit laki-laki begitu gemas padanya.
"Iya, besar panjang." Aku memberikan jawaban yang ia inginkan.
"Wuih, pasti kek Ghifar. Tapi Mbak tak pernah coba, gimana rasanya, Dek?".
__ADS_1
Ya ampun, kakakku.
"Ya Mbak sana coba aja!" Aku gemas sekali padanya.
"Tak mau lah, dosa! Mbak cuma mau denger dari kau aja, gimana deskripsi rasanya?"
Rasa itu pun harus dideskripsikan kah?
"Penuh, Mbakkk! Terus, sakit juga kalau terlalu mentok!" Aku ngurat di sini, bukan ngotot lagi.
"Ihh, ya itu sih sama juga kek mas Givan punya."
Hadeh, sabarkanlah hayati.
"Iya sama, beda trik aja. Mau panjang pendek, sama aja kali rasanya. Cuma, beda orang kan pasti beda sensasi karena ilmunya beda-beda."
Ia sudah dewasa, kan?
"Tapi enak, Dek?" Ia masih menelisik saja rupanya.
"Ada enak ada tak enaknya, Mbak. Udah basah digarap, ya enak. Masih kering digarap, ya sakit. Logikanya begitu aja, Mbakkk Cendolll!" Rasanya aku ingin menarik pipinya sejauh satu meter.
Ia manggut-manggut. "Tapi mas Givan hampir tak pernah tak enak tuh, pas baru rujuk aja ada rasa kagetnya. Tapi setelah beradaptasi lagi, enak-enak aja."
Jujur, aku melongo mendengar keterbukaannya itu.
"Diikat, siang-siang bolong digarap."
Hah?
Apa semua laki-laki itu sama? Mereka suka hal yang aneh-aneh, termasuk bang Givan juga rupanya.
"Kasar kah? Kenapa diikat?" Aku ingin tahu alasan di balik pengikatan dalam s**s tersebut.
"Tak juga sih, lembut betul marah. Karena Mbak bilang, kalau rasa s**s sama dia itu begitu-begitu aja, dia tak punya skill. Langsung meradang dia, tapi tak kasar sama sekali. Tangan Mbak diikat pakai dasi ke kepala ranjang, tiap Mbak mau sampai diundur terus. Pertama dalam sejarah hidup dengan mas Givan, Mbak terkencing masa dapat nafkah lahir. Kalau sama bang Lendra, sering tuh dibuat sampai begitu. Kalau sama bang Lendra tuh, udah mendekat nih dia tau, terus kek mecahin balon pakai jarum aja. Cepat mendadak gitu, jadi sampai nyiprat ke mana-mana."
Hah? Sungguh bisa begitu?
"Mbak punya stok bang Lendra yang lain tak? Duh, aku jadi mau cobain." Aku hanya bercanda.
Ia tergelak lepas. "Sayangnya tak ada."
Berwarna sekali perjalanan s**snya, ia sampai bisa seperti itu. Ternyata pengalaman yang bang Ken kasih, tidak begitu berkesan ketimbang dengan laki-laki yang berstatus sebagai suami mbak Canda.
"Kenapa mereka bisa begitu?" Aku yakin mereka memiliki alasan.
__ADS_1
"Tak tau, Dek. Bang Lendra tuh jarang kasih, dia kuat puasa masa haid, sampai setelah selesai haid juga. Misalkan begituan juga sebentar, tapi begitu berkesan. Mbak yang sampai selalu ngerasa kurang, kepengen lagi dan lagi. Mbak kan sama mas Givan dulu itu tak mau gerak, sama bang Lendra Mbak diajarin harus bisa gerak. Pernah coba **** pas sama mas Givan itu tak bisa, mas Givan kapok karena kena gigi. Katanya linu luar biasa, jadi dia tak pernah minta untuk itu lagi. Sama bang Lendra Mbak diajarin tuh, jari Mbak dicontohkan sebagai punyanya. Mbak kan perawan lagi pas ngejanda itu, jadi pas nikah sama bang Lendra itu benar-benar ngerasain malam pertama kek perawan. Sakitnya tak berasa, pas dia pecahkan itu lagi. Tau-tau udah di dalam aja, tau-tau udah penuh aja. Nyeri sedikit pas sadar, tapi digantikan dengan rasa yang luar biasa."
Aku gigit jari, aku jadi menginginkan idaman seperti bang Lendra. Kenapa orang seperti bang Lendra tidak berumur panjang?
Hufttt…
"Mbak jadi buat aku pengen nikah lagi." Eh, ia malah tergelak begitu lepas.
"Tak semua laki-laki bisa kek bang Lendra kali, Dek. Jangan buru-buru, nanti dapatnya yang kek kemarin, gimana?"
Na'udzubillah.
"Ya jangan sampai lah, Mbak!" Amit-amit.
"Sabar, yang terbaik datang di masa yang pas." Aku akan mengingat pesannya ini.
Aku menikmati liburan kecil ini dengan perawatan kecantikan, membeli paket perawatan kulit dan berbelanja baju. Tak lupa, pulangnya aku membeli makanan dengan porsi besar.
Sayangnya, di meja makan ini terdapat seseorang yang membuatku mual. Bang Ken ada di antara kami, ia tidak pulang. Abi Haris dan tante Salwa pun masih berada di sini, mereka ikut menikmati makanan yang aku bawakan.
"Tadi Ghifar ke sini, tapi kau belum pulang. Nanti katanya dia ke sini lagi," ucap mamah Dinda dengan duduk di sebelahku.
"Mau kerja dia, Mah?" tanya bang Ken kemudian, matanya tersorot ke arahku.
"Heem, dia harus kerja," jawab mamah Dinda dengan menganggukkan kepalanya.
"Cucu pintarnya Kakek nih, Nek." Papah Adi muncul dengan menggendong salah satu cucunya.
Mata Cali berbinar, ia langsung begitu berisik dengan bertepuk tangan. Ia terbuat dari apa? Kenapa seperti ponsel dengan baterai badak? Sungguh, tidak ada alim-alimnya.
"Kunci-kunciin rak itu, Dek." Papah Adi menunjuk rak dapur.
Mamah Dinda mengangguk dan langsung bergerak mengunci dan mencabut kuncinya, kemudian Cali langsung diturunkan oleh papah Adi. Ia begitu girang, dengan suara nyaringnya.
"Apa sih, Dek? Kau nampak heran tengok Cali begitu." Papah Adi duduk di bangku yang mamah Dinda duduki, yaitu di sampingku tadi.
"Agresif sekali itu anak." Aku geleng-geleng kepala dengan memperhatikannya yang merangkak ke sana ke mari.
Mamah pindah duduk di sebelah bang Ken, karena di sanalah tersisa bangku kosong.
"Namanya anak yang aktif." Mamah Dinda sepertinya tidak terima cucunya aku sebut agresif.
"Jangan geleng-geleng gitu terus loh, nanti malah jadi mamah sambungnya lagi." Papah Adi terkekeh geli.
Aku menoleh padanya dengan tatapan bodoh. Bagaimana mungkin aku akan menjadi ibu sambungnya? Rasanya begitu aneh, jika aku harus menikah dengan Gavin. Hei, kami berjarak sekitar lima tahun. Aku bahkan sering menggantikan bajunya setelah ia selesai mandi saat dulu, bahkan aku pernah mencebokinya.
__ADS_1
...****************...