
“Udah, Abang.“ Bang Ken masih nyosor terus, meski ia telah selesai mendapatkan pelepasannya.
“Oke, oke. Abang cuci dulu.“ Ia akhirnya melepaskanku. Kemudian, ia pergi ke arah keluar kamar.
Ia sudah mengatakan, malan ini akan menemaniku tidur. Sampai nanti ia mendapatkan pintu, atau kain untuk menutupi kamar ini.
Pasti selalu puas yang menjadi perempuannya, karena miliknya begitu keras, cukup besar dan panjang karena postur tubuhnya tinggi. Aku selalu berpendapat, jika keras itu pasti memuaskan. Karena tidak sedikit laki-laki yang memiliki pusakanya tidak begitu keras.
Ia kembali, dengan wajah yang sudah dibasuh juga. Herannya lagi, suhu panas dari tubuhnya langsung berangsur normal. Wajahnya pun, tidak memerah seperti tadi. Jadi, pelepasan pun berperan penting untuk kesehatannya kah? Sepertinya, jika demam ia tidak membutuhkan Paracetamol. Melainkan, ia butuh seorang perempuan.
“Mana HP Abang, Dek?“ Ia membenahi sarungnya.
Bisa tinggi sekali ya dia? Ia makan apa? Bang Givan pun sepertinya kalah tinggi darinya.
“Di sofa tadi sih.“ Aku merasa ia tidak membawa ponselnya ketika masuk ke kamarku.
Ia kembali keluar kamar, kemudian masuk kembali ke dalam kamar. Fokusnya sudah teralihkan ke ponsel tersebut, ia merebahkan tubuhnya di sampingku. Aku langsung memeluk lengannya, ketika ia sudah berada di sampingku. Hangatnya, aku jadi ingin selalu memeluknya.
“Givan ya? Udah pulang kan dia ke rumah?“
Jelas bang Givan sudah pulang ke rumah. Setting waktunya sudah satu bulan lebih, setelah aku diperawani. Tepatnya, saat mbak Canda belum sadar pasca operasi.
“Udah, Bang.“ Aku memperhatikan layar ponselnya yang tengah mencari nama dalam kontaknya.
Benar, ia menelpon bang Givan. Hanya panggilan suara, bukan panggilan video.
“Hallo, hallo.“ Suara tegas bang Givan langsung terdengar, rupanya bang Ken mengaktifkan speaker dalam panggilan tersebut.
“Ya, hallo. Lagi di mana, Van?“ Bang Ken berdekhem lebih dulu, sebelum bersuara.
“Lagi di sangkar emas, Bang. Ada apa?
Di mana daerah sangkar emas?
“Sangkar emas mana, Bang?“ Aku amat penasaran, sampai bertanya langsung.
__ADS_1
“Ehh, ada kau. Sangkar emasnya kakak kau. Diberatkan terus Abang kalau mau keluar, orang Abang yang malah suruh datang aja.“ Oh, rupanya maksudnya adalah dikurung mbak Canda.
“Jadi, lagi ada tamu kah?“ tanya bang Ken kemudian.
“Tak ada, ini lagi sama Canda. Canda lagi nyusuin,” jawab bang Givan cukup jelas.
Duh, ada mbak Canda. Belum tentu jadinya, bisa jadi nanti informasi ini akan tersebar. Aku langsung bersiap untuk berbisik pada bang Ken, ia pun mendekatkan telinganya saat aku mulai berbicara.
“Nanti aja, kalau tak ada mbak Canda,” bisikku amat lirih. Aku khawatir suaraku didengar oleh bang Givan.
Bang Ken mengangguk. “Van, coba kau cari berkas warna biru di ruang kerja kau. Keknya, berhubungan sama bisnis aku.“
Loh, improvisasi kah?
“Hah? Memang ada kirim kah?“ Bang Givan tidak mengerti kode yang diberikan oleh bang Ken.
“Ada, coba kau cari,” terang bang Ken tegas.
“Masa iya?“ Suaranya terdengar menjauh. “Bentar ya, Canda? Aku mau ke ruang kerja dulu.“ Bang Givan rupanya tengah berdialog dengan istrinya.
“Iya, Mas. Jangan lama, aku pengen sama Mas di sini.“ Suara mbak Canda begitu terdengar manja.
“Oke siap.“
“Udah jalan kau?“ Bang Ken bersuara kembali.
“Udah, ada apa sih? Dokumen apa sih?“ tanya bang Givan kembali.
Apa iya ia jadi ikut lugu seperti mbak Canda?
“Tak ada. Aku mau ngobrol penting sama kau, tapi istri kau tak boleh dengar dulu.“ Bang Ken sepertinya paham maksudku.
“Ohh, iya-iya. Gimana?“ Sepertinya, ia benar-benar masuk ke ruang kerjanya. Karena terdengar pintu dibuka dan ditutup kembali.
“Aku mau nikahin Ria, gimana?“ Aku yang berdegup, meski bang Ken yang berkata.
__ADS_1
Bertambah kacaunya pikiran aku, karena bang Givan tak kunjung menjawab. Ia tidak jelas mendengar suara dari sini kah? Atau, ia tidak mampu mencerna ucapan bang Ken secepat itu?
“Bang Givan….,” panggilku, karena tak kunjung mendengar penuturan bang Givan.
“Ada kejadian apa di sana?“ Suaranya tiba-tiba dingin.
Kenapa bang Givan memiliki pemikiran seperti itu? Kenapa ia seolah tahu, jika sudah banyak yang terjadi di sini.
“Aku udah putus sama Putri sebulan lalu,” aku bang Ken kemudian.
“Bukan tentang kau lagi punya status sama siapa, Bang. Tapi, apa yang udah terjadi di sana? Ria kenapa? Ada apa dengan dia?“ Nada bicara bang Givan tidak lagi ramah. Suaranya, seolah menuntut jawaban dari bang Ken.
“Tak ada masalah, Van. Memang aku mau nikahin Ria aja.“
Kenapa bang Ken berbicara seperti ini sih? Jelas alasannya tak sampai di pikiran bang Givan. Ia adalah logika lovers, ia jarang berpikir dengan perasaannya. Kecuali, jika dengan istrinya.
“Bohong! Ada apa di sana?!“ Suaranya sudah berubah seperti bentakan.
“Kenapa kau berpikir, seolah ada sesuatu yang terjadi di sini? Aku ada niat baik untuk nikahin Ria, apa itu masalah?“ Bang Ken mengeluarkan suara tegasnya.
Para emosian tengah beradu mulut.
“Ya kenapa harus ada niat baik kau untuk nikahin Ria? Dengan kau ngomong kek gitu, Bang. Berarti jelas, kalau ada suatu kejadian di sana. Kau tak perlu ada itikad baik untuk nikahin Ria, kalau kau tak berbuat sesuatu ke dia. Otak aku udah mikir jelek aja, jadi baiknya kau jujur dan jelaskan biar aku tak berpikir buruk terus tentang kalian. Jujur aja, ada apa?!“ Emosinya sepertinya sudah menguat di sana.
Feeling bang Givan memang kuat? Atau, ini hanya tebakannya saja? Tapi dari penjelasannya tentang pola pikirnya, memang masuk akal juga. Bang Ken tidak perlu memberikan itikad baik, jika ia tidak merugikanku.
Aku selalu takut, jika berbicara dengan orang-orang cerdas seperti bang Givan. Karena dari susunan kalimat saja, ia memahami sesuatu di dalamnya.
“Kami baik-baik aja di sini, Van. Tak perlu kau berpikir terlalu jauh, ini murni karena perasaan kami aja. Itu mungkin cuma pikiran buruk kau aja.“ Bang Ken mampu berbicara tenang dalam tekanan dari bang Givan.
“Bohong! Ada apa?! Kalau kau tak jujur, aku datangi kalian ke sana,” ancamnya cepat.
Aduh, sudah keluar saja ancamannya. Ancamannya terlalu cepat dikeluarkan. Jika begini, aku yang kalut sendiri.
“Tak ada apa-apa, Van. Aku terus terang, kau tak percaya gitu.“ Bang Ken masih tenang dalam pembelaannya sendiri.
__ADS_1
“Aku tak percaya, karena tau gimana tabiat kau, Bang. Lagi pun, kita sama-sama laki-laki. Dari awal udah aku wanti-wanti kau, udah aku kasih saran terbaik untuk kau. Tapi kau tetap berpegang teguh sama keputusan kau sendiri, yang pengen tetap serumah sama Ria. Lain kamar tapi satu atap itu tetap menyeramkan. Kita ini bangsa rakus, bangsa buas, bangsa liar. Adik ipar aku tak mungkin baik-baik aja, dengan kau yang lebih banyak kesetanannya itu. Jadi kau lebih baik terus terang aja, apa yang udah terjadi di sana?!“ Emosi bang Givan meluap dari nada bicaranya dan suaranya yang mulai lantang.
...****************...