Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD256. Simbiosis mutualisme beda tafsir


__ADS_3

"Kok berani banding?" Bang Ken kan pada keluarga saja pengecut. 


"Biar anak-anak kau tetap ada bapaknya, Dek." Senyumnya tulus sekali. 


"Aku bapaknya, ha-ha-ha-ha." Gavin malah tertawa jahat. 


Absurd sekali keluarga ini. 


"Kau pun malah ikut repot aja! Ish! Bodohnya dipakai." Bang Givan nampak kesal sekali, ia sampai mengedikkan bahunya. 


"Bentar ya?" Bang Ken berbicara pada orang-orang yang berada di depannya. 


Gambarnya bergerak, sepertinya ia berjalan menjauh dari orang-orang. Kemudian, ia menghela napasnya dan bersandar pada sebuah bidang. 


"Bodoh memang aku ini, Van. Lebih bodoh lagi, kalau dia manfaatin aku tapi aku tak manfaatin dia. Setidaknya, ada simbiosis mutualisme dalam komitmen kita. Dia tak punya pekerjaan, tak punya penghasilan, tak punya tempat tinggal juga. Aku ada dan menampung dia dan anaknya, aku pun bantu banding hak asuh Elang. Tentang Elang, ayahnya bakal gugat lagi setelah anak itu dewasa. Aku bilang, biar dia milih kalau anak itu udah dewasa. Karena peraturannya kan, anak di bawah umur itu ikut ibunya. Anak setelah tujuh belas tahun itu ikut ayahnya, anak dewasa ya milih sendiri ikut siapa." Bang Ken sambil merokok rupanya. 


"Tak ada untung rugi dalam pernikahan, Bang. Mungkin ada racun dalam hati kalian masing-masing." Bang Ghifar berbicara lembut seperti biasa. 


"Betul. Istri aku bawa anak, tak masalah. Aku tak merasa dirugikan juga, karena biayain anak tiri. Apalagi anak tiri dari kecil itu rasanya kek anak sendiri, Bang. Kalau tak ada Aksa, mungkin tak ada yang nengahin Ghofar dan Gafur di rumah. Kalau tak ada Aksa, mungkin tak ada yang nelpon dan ngabarin tentang situasi rumah." Bang Ghavi yang terlihat tidak peduli itu, memberikan pendapatnya juga.


"Aku pun punya anak tiri, tak pernah aku ributkan dia. Karena yang nyari ribut di rumah tuh malah anak sendiri. Ampun yang namanya Kal sama Kaf." Bang Ghifar sampai geleng-geleng kepala. 


Lucu juga komentar laki-laki alim ini. Bang Ghifar tidak pernah melawak, tapi dalam kalimatnya mengandung humor. Yang lain pun, sampai tertawa get. 


"Kaf alim loh, Far." Mbak Canda menimpali. 

__ADS_1


"Saking alimnya, ditoel pun ngadu." 


Aku kurang tahu pasti sifat Kaf, tapi anak itu memang pendiam. Hal yang paling anak itu takutkan adalah sendirian, karena ia pernah ada di rumah ibu, saat pulang sekolah dan keluarganya tengah memenuhi acara undangan hajatan. Yang paling aku suka dari anak laki-laki itu, karena ia seperti special edition. Dia anak laki-laki yang telinganya mau mendengar dengan sekali ucapan, ia pun sangat mudah diberi pengertian. 


Jika Kal, anak itu memang petakilan dan galak. Anak itu pendendam, ia bahkan sering berkamuflase menjadi pendiam hanya untuk menggaplok anak yang nakal padanya. 


"Cucu favorit Kakek. Kaf, sini Kaf. Langsung datang tanpa pengulangan, tak buat emosi hanya karena manggil aja. Tak Chandra, tak Zio, kalau dipanggil mesti aja diulang. Emosi dulu Papah." Papah Adi mengusap bulu dagunya. 


"Maklum, Pah. Di dunia medisnya pun, anak laki-laki normalnya begitu. Corpus callosum anak perempuan lebih tebal tiga puluh persen, ketimbang anak laki-laki. Corpus callosum itu jalur informasi antar kedua sisi otak." Pak dokter Ken langsung menjelaskan. 


"Jadi anak laki-laki Gue tak normal gitu? Keponakan Ente ya Kaf itu." Telunjuk bang Ghifar terarah ke kamera. 


Bang Ken dan beberapa anak Riyana tertawa, mereka terlihat akur meski sering kali terjadi perdebatan ringan. 


"Normal, normal. Manis, pintar, gagah dan candu senyumnya." Bang Ken malah memuji Kaf. 


"Aku tak hitung ijir ke Elang, bukan tentang hal itunya. Tapi aku tak mungkin kasih tempat ke Ajeng, kasih uang ke Ajeng kalau di bukan siapa-siapaku. Daerah kita beragama, ada hukum adat, syariat dan segala macam. Kalau aku nampung perempuan tanpa ikatan, apa aku aman dari hukum itu? Kasarnya, kan memang simbiosis mutualisme. Di mana-mana pun kan memang begitu, Van. Cuma beda cara nalar dan pandang kita aja," jelas bang Ken kemudian. 


Aku merasa benar juga ucapan bang Ken ini. 


"Kenapa kau bilang Ajeng manfaatkan kau dan kau harus sebaliknya?" Bang Givan adalah orang yang sulit menerima pandangan orang lain, jika alasannya tidak jelas. 


"Terus? Dia harus urus aku dong, urus anak-anak aku dong. Coba deh kupas tuntas hubungan rumah tangga antar istri dan suami ini, Van. Isinya memang begitu, hanya tidak diungkapkan secara kasar aja. Istilahnya, saling melengkapi kalau di rumah tangga. Salah kah penafsiran aku? Tak kok, beda sebutan aja." Aku tahu bang Ken adalah manusia yang sulit untuk menjelaskan sesuatu, tapi aku mengerti maksudnya. Cukup tersampaikan penjelasannya kali ini. 


"Ya udah kalau memang udah sah dan udah dipikirkan matang-matang, Mamah yakin kau bukan orang bodoh." Mamah mencoba mengakhiri sesi perdebatan ini. 

__ADS_1


"Iya, Mah. Tak cuma pernikahan biasa, Mah. Ada perjanjian pernikahan juga di dalamnya, jadi Ajeng aku pastikan tak akan sampai ke halaman rumah Mamah tanpa izin aku. Mamah pasti tenang, tanpa terusik dengan kebiasaan Ajeng yang teriak-teriak cari gara-gara sama Gavin." Bang Ken tersenyum lebar, senyumnya seramah senyum Kirei. 


"Aku sih santai." Yang memiliki nama Gavin malah menanggapi dengan ringan. 


"Aku yang stress dia rumah karena tau, Ayang kan kerja, jadi mana tau." Aku teringat teriakan Ajeng di siang bolong yang mengganggu tidur siangku. 


Gavin terkekeh. "Memang cemburu lah tuh, alasan sih stress. Tak percaya betul kalau memang sama dia udah anyeb. Kalau ada sar-sernya, pasti aku toel-toel juga kek ke Mbu." Senyumnya usil sekali. 


"Hei! Ini panggilan grup!" Perempuan yang berada di sebelahku langsung komplain. 


Aku tertawa geli. Kadang terbawa keasyikan, jika sudah mengobrol dengan suamiku. 


"Bo, ti." Cali menarik ujung dressku. 


"Bo, Bo, Bo! Kebo kah?" Beberapa orang di panggilan video, sepertinya mendengar panggilan sayang Cali untukku. 


Segitu sayangnya Cali padaku, sampai memanggilku kebo. Tapi aku sih yakin ia bermaksud memanggilku ibu atau mbu, hanya saja ia sulit untuk mengikutinya. Jadi, semampu lidahnya menekuk saja mungkin. 


"Kelinci, kau lagi sama Mbu kah?" Ayahnya langsung bertanya. 


"Cali! Ini lagi Kelinci." Bang Givan selaku ayah asuhnya langsung protes. 


Tidak disangka, panggilan kesayangan dengan nama binatang malah sering dilakukan di keluarga kecil kami. Aku sering dipanggil kebo, setiap kali bibir kecil Cali memanggilku untuk meminjam ponsel. Ia tidak butuh denganku, ia tidak butuh dengan diriku, tapi butuh dengan ponselku. 


Kirei yang tenar dengan sebutan marmot, karena ayah sambungnya sendiri yang memasarkan nama tersebut. Cali yang menjadi kelinci, belum lagi ayah Apin yang menjadi peliharaannya Upin dan Ipin. Berwarna sekali rumah tangga dan keluarga kecil kami, Everybody. 

__ADS_1


Sampai datang kabar jadwal operasiku akan dilakukan di usia kandungan tiga puluh dua minggu, yang artinya dua minggu dari sekarang. 


...****************...


__ADS_2