
“Hah?!!“ Aku terkejut bukan main, saat seseorang langsung mendorongku masuk kala aku membuka pintu untuknya.
“Abang kangen.“ Ia memelukku begitu erat.
Suara pintu tertutup, sepertinya bang Ken langsung menutupnya dengan kakinya. Sungguh, aku deg-degan luar biasa. Aku takut setengah mati, aku takut dirinya menyakitiku dan anakku.
“Lepasin aku!“ Aku mencoba mendorongnya.
“Tak akan!“ Ia lebih erat memelukku.
PDku penuh, aku kesakitan karena pelukan dan tekanan darinya. “Aku kesakitan!“ Aku mencoba memberontak darinya.
Ini kesalahan fatal, karena luka bekas operasiku begitu amat sakit karena aku memberontak dirinya. Aku mengasuh luar biasa, karena luka itu seperti terbuka kembali rasanya.
“Dek, kau tak apa?“ Bang Ken melepaskanku, ia memperhatikan reaksi tubuhku.
Tak berangsur lama, saat rasa sakit itu mulai redup, tubuhku langsung terangkat. Aku diletakkan di atas ranjang, tepat di samping putriku yang tengah terlelap pulas. Aku tak menyangka, ia langsung menyingkap bajuku dan mengamati bekas lukaku.
“Perut kau tegang? Mana hand sanitizer?“ Ia celingukan dan memperhatikan bayiku sekilas.
Matanya melebar seketika. Ia tidak mendekati bayiku, tapi sorot matanya terus mengarah pada Kirei.
“Ini anak Abang, Dek?“ Matanya langsung berkaca-kaca.
Ia celingukan kembali, lalu berlari ke ruangan lain. Ia kembali, dengan menggosokkan tisu ke tangannya. Sepertinya, ia telah mencuci tangannya.
“Ya Allah, Ria.“ Ia langsung mengangkat bayiku dengan suara yang bergetar meninggi.
“Abang tanya kau hamil anak siapa?! Kau tinggal jawab! Bukan mengakui kau hamil anak orang! Kenapa kau buat keadaan sesulit ini, Ria?! Seolah rumah tangga kita itu bermasalah, padahal masalahnya ada di diri kau sendiri.“ Bang Ken mendelik tajam ke arahku.
Bayiku menangis lepas, ia kaget dengan suara lantang ayahnya. Tapi, ia memposisikan anakku seperti ular di ranting. Kirei tiba-tiba kembali pulas dan berhenti menangis. Bang Ken menepuk pelan punggung anaknya, dengan mengayunkan pelan tubuhnya.
__ADS_1
“Sayang ayah, udah diazdani belum kau, Nak?“ Bang Ken mengusap kepala anaknya, kemudian mengecek bagian telinga dan leher Kirei.
“Kulit kau kering sekali, Nak. Nanti Ayah datang lagi bawain sesuatu.“ Ia duduk di tepian ranjang dan mengecek punggung anaknya.
Tadinya ia ingin memeriksaku, tapi malah meninggalkanku dan memeriksa anaknya yang baik-baik saja. Bang Ken tidak mementingkanku.
“Ya udah sana pergi! Datang lagi kalau ada bang Givan!“ Aku langsung memukul punggungnya, sampai terdengar suara 'blughhhh'. Aku terlalu kencang memukulnya.
Ia menoleh ke arahku, kemudian menggeser tempat duduknya. Tangan kanannya membuka kembali baju di bagian perutku, kemudian ia menyentuh pelan bagian di dekat perbanku.
“Kapan diganti?“ Bang Ken bangkit dan berlalu pergi ke arah lain.
“Pagi.“ Aku memperhatikan gerakannya.
Ia kembali dan mencari sesuatu di kotak P3K. “Abang mau lihat lukanya.“ Ia menempatkan handuk hangat di dekat area luka.
“Perut kau pasti tak nyaman, Ria. Mana obat-obatan kau?“ Ia mempertahankan bayiku di lengannya. Ia memperhatikan dengan lekat perutku dan lukaku.
“Untuk apa perhatikan aku? Bukannya Abang senang nyakitin aku?“ Tubuhnya tetap gagah, ia tidak terlihat kurus sama sekali meski lama tak bersamaku.
Ia memperhatikan kembali bekas luka tersebut. Sudah mengering, karena bang Givan membelikan obat yang mahal untuk perbutirnya.
“Mana obat-obatan yang kau minum?“ Ia memandang wajahku kembali.
“Itu.“ Aku menunjukkan nakasku.
Ia meraih obatku, ia mengecek satu persatu obat-obatanku. “Kalau kau minum ini, produksi ASI kau pasti terganggu. Kau memang bakal lekas sembuh, luka kau bagian luarnya cepat kering.“ Ia menunjukkan obat yang kaya bang Givan itu adalah langganan istrinya ketika disesar.
“Tapi mbak Canda cepat pulih.“ Aku mengatakan alasan yang aku tahu.
“Iya, kau memang ngerasa cepat pulih. Tapi efeknya produksi ASI kau terganggu.“ Ia menaruh kembali obatku.
__ADS_1
“Nanti Abang datang lagi, dengan obat-obatan untuk kau. Obat itu kah habiskan, karena ada antibiotiknya.“ Ia kembali memperhatikan perutku.
“Luka kau udah aman terbuka.“ Ia memperhatikan lebih dekat garis lukaku.
“Memang, dokter pun bilang begitu. Tapi aku takut,” akuku kemudian. Karena ketakutanku sendiri, aku tidak pernah mandi diguyur. Cuci rambut, malah aku diajak mbak Canda ke salon terdekat. Ia berpengalaman, tapi ia takut jika aku tak berani.
“Hmm, kau lama sembuh nanti. Jadi ini mau ditutup lagi?“ Suara lembutnya selalu membuatku kalah dengannya.
“Iya, aku takut kena air.“ Aku berpikir, untuk nanti saja lepas perbannya jika sudah empat puluh hari. Toh, bang Givan bisa menggantikan perban untukku.
“Ya ampun, Ria. Kau memperlambat kesembuhan kau.“ Ia geleng-geleng kepala.
“Biarkan begitu, besok Abang datang bawakan obat-obatan dan keperluan kalian.“ Ia mengambil handuk hangat dari perutku, kemudian ia menyeka sisa airnya dengan tisu. Aku deg-degan sisa air itu terkena lukaku.
“Aku tak mau Abang datang lagi besok!“ Aku mencoba bangun, kemudian mengambil alih Kirei.
Aku takut Kirei dibawa pergi olehnya. Ia orang yang nekat, ia bisa melakukan apapun sesuka hatinya.
Ia tak melakukan perlawanan, kala aku mengambil kembali Kirei.
“Mau kau gimana sih, Dek? Kau itu mempersulit diri sendiri, kau suka buat banyak orang repot? Pasti keluarga Alfonso pun merasa tertipu, karena anak kau tak mirip dia.“ Ia mulai menyakiti perasaanku kembali.
“Kalau Abang tetap berpikir aku ada hubungan dengan Alfonso, lebih baik tak anggap anakku ini anak Abang. Kirei bukan anak Abang! Dia anak aku!“ Kirei tersentak, tapi segera aku timang pelan. Ia adalah anak yang kagetan.
“Semua laki-laki pasti berpikiran lain, kalau di apartemen sendiri kau masukan laki-laki lain. Tak begitu etiknya berteman antara laki-laki dan perempuan, kau punya batasan, Ria. Kau istri orang, kau harus bisa jaga nama baik suami kau!“ Ia tidak berbicara lantang, tapi ia memberi penekanan dalam ucapannya, sampai urat-urat lehernya menonjol jelas.
“Semua perempuan pun pasti berpikiran lain, kalau antara mantan ada di club malam dalam keadaan mabuk berat. Abang pun sebagai suami orang, punya batasan ke mantan istrinya! Aku malu punya suami begitu! Aku malu punya suami yang akrab ke semua mantannya! Abang itu jorok! Mantan Abang sampai minta aku bertahan dan ikuti Abang terus, karena dia tak mau diganggu Abang lagi! Abang itu malu-maluin! Sok p**kasa, sok paling kuat gagahin mantan-mantannya! Tak sadar diri! Tak sadar stamina!“ Aku menunjuk dadanya dan menekannya dengan telunjukku.
Napasnya terdengar berat, hembusann kasar seperti banteng. Sorotnya penuh amarah, ia terlihat murka dengan ucapanku.
“Kau lancang, Ria! Mulut kau lancar ngerendahin suami sendiri!“ Ia bangkit dari posisinya dan melihat ke arah lain.
__ADS_1
Aku khawatir barang-barang berterbangan karenanya, aku khawatir barang-barang itu terpantul mengenaiku dan Kirei.
...****************...