
"Mau apa kau? Udah sana makannya selesaikan dulu, ribut aja lapar tadi, bikin orang tua buru-buru masak saja." Mamah Dinda melirik tajam pada Gavin.
Ini sudah sore, sekitar pukul lima sore. Aku baru pulang kerja, aku pun baru selesai mandi dan berbenah. Memang mamah Dinda masak dua kali, masak dari pukul tiga sore, untuk makan malam bersama.
"Udah selesai lah, Mah." Gavin langsung bergabung dengan kami.
Ia hanya melirik Kirei yang berada di dekapan mamah Dinda, sepertinya ia tidak mood untuk bermain dengan anak-anak.
"Kapan datang?" Mulutku langsung kepo saja.
Gavin menoleh padaku, kemudian ia menggantikan chanel televisi. "Setengah empat tadi," jawabnya dengan fokus melihat tontonan kartunnya.
Ia baru sampai rupanya, jadi ia masih lelah usai perjalanan. Yang membuatku tidak habis pikir, ia terlihat cuek padaku. Ke mana dirinya yang tengil dan selalu spam chat tersebut?
"Ada Safa ini, Vin." Papah Adi masuk, dengan Cani di gendongannya.
Cani sudah besar, tapi masih suka digendong-gendong oleh kakeknya. Ia sudah masuk PAUD, tapi berangkatnya tergantung mood. Ia tidak bisa dipaksa, seperti ayahnya. Memang dasarnya, anak-anak mbak Canda ini keras kepala seperti bang Givan.
"Barang bawaannya banyak tuh, Vin. Kasian." Papah Adi memerintahkan anaknya dengan halus, karena Gavin masih duduk di tempatnya saja.
"Ya ampun, kan ada Papah. Kalah udah pegang cucu tuh, tak mau bantu orang sedikitpun." Gavin seperti berat untuk bangu.
"Kalau capek bolak-balik tuh, buat rumah di sini makanya. Datang ke sana kalau panenan aja, pakai jasa orang untuk urus ini itunya. Kau di sana kerja apa sih? Cuma nyuruh-nyuruh aja kan?" Papah mengekori Gavin yang berlalu ke ruang depan.
Aku jadi penasaran dengan Safa. Bagaimana rupanya?
"Heh! Mau ke mana kau?"
Aku tidak sadar, bahwa kakiku bergerak membawa tubuhku. Aku menoleh ke arah mamah Dinda. "Bentar, Mah." Aku memamerkan gigiku.
Oh, ternyata seperti itu rupa Safa. Umumnya bentuk wajah wanita dari provinsi ini. Mereka memiliki tulang pipi yang terlihat jelas, dengan mata sedikit besar. Kulitnya, berwarna hitam manis. Senyumnya pun, terlihat manis. Disebut wajah ayu, jika rupanya seperti itu.
Dia masih muda, mungkin seusia Gavin.
"Kau sih cepat betul, baru duduk aku ini." Gavin duduk di kursi teras.
Sedangkan Safa itu masih menurunkan barang, dengan papah Adi membantu memegangi motornya. Gavin tidak tahu diri, mana jiwa lelakinya. Masa iya, ia malah diam saja. Atau begitu sifat sebenarnya, yaitu berat tangan.
__ADS_1
"Aku pun mau malam mingguan juga lah, Vin! Kau malam-malam ke rumah, aku mau pergi ke pasar malam." Safa itu terlihat kesal pada Gavin.
Ia membawa ubi, singkong, talas dan jengkol sepertinya. Karena baunya menyengat sekali. Safa sampai menggunakan keranjang motor dari kain, untuk membawa barang-barang itu.
Setelah menurunkan barang bawaannya, Safa mendekat ke arah Gavin. "Permisi ya, Teungku? Biar cepat selesai ini urusannya, kebiasaan kalau ke sana otu malam terus soalnya. Jadi aku anterin aja, biar tak malam-malam ke sana. Ma udah tidur, abu udah tidur, dia datang minta rekap. Kesalnya aku ini, kalau tidur kebangun, mana disuruh mikir." Safa seperti akrab dengan papah Adi. Tutur katanya lancar sekali, seperti wanita yang cerewet.
Aku hanya berani mengintip dari jendela. Kebetulan juga, jika dari luar tidak bisa melihat isi dalam jendela. Jika dari dalam, kelihatan orang yang beraktivitas di luar.
"Pagi datang sepuluh ton, Vin. Harganya naik seribu lima ratus perkilonya, jadi totalnya segini. Bank libur, jadi senin dibayar. Kalau abu aku tak bayar, tagih aja ke rumah. Itu belanjaan kau, habis dua ratus lima puluh ribu. Belanjaannya bayar aja, itu dagangan aku." Safa sepertinya anak pedagang yang berurusan dengan panenan Gavin.
"Biasanya juga bayar! Kapan aku ngutang ke kau?!" Gavin langsung merogoh kantongnya.
"Ada apa?" Aku mendengar suara bisik-bisik.
Aku menoleh ke samping. "Lagi lihat Safa," jawabku berbisik juga.
"Ohh, dia anaknya pengepul hasil ladang umbi-umbian dan rempah-rempah. Jahenya Gavin di Lampung dibeli murah sama pengepulnya, biasa permainan begitu karena Gavin bukan petani asli sana. Jadi jahenya dikirim ke sini, ganti bensin aja, truck angkutnya punya ayahnya Safa," jelas mamah Dinda berbisik-bisik.
Eh, kenapa kita jadinya bisik-bisik?
"Mamah tuh!" Aku tertawa malu, dengan bersembunyi pada Kirei yang digendong oleh mamah Dinda.
Aku yakin mereka yang di luar mendengar, karena mamah Dinda tertawa begitu lepas. Beliau sepertinya merasa bahwa aku begitu bodoh tadi, karena malah bisik-bisik seperti tadi.
"Sini, sini, keluar. Biar kenal sama Safa." Mamah Dinda menarikku keluar dari ruang tamu ini.
Aduh, malunya aku karena menjadi pusat perhatian Gavin dan Safa. Papah Adi dan Cani sih, mereka sudah keluar dari halaman rumah.
"Kau kenal tak sama ini, Fa?" Mamah Dinda menunjukku.
"Kak Ria adiknya kak Canda kan?" Safa seperti bingung dalam menjawab pertanyaan mamah Dinda. Mungkin ia bertanya-tanya, kenapa mamah Dinda mengatakan hal itu.
"Kau kenal dia tak? Dia yang jualan buah di depan ruko materialnya abang ipar kau." Mamah Dinda menunjuk Safa yang bingung tersebut.
Safa langsung memamerkan giginya. Ia terlihat ramah sih, tapi memang aku tidak kenal siapa dia dan apa hubungannya dengan Gavin.
"Aku tak pernah lewat jalan sana, Mah. Aku selalu ambil kanan dari sini, lewat depan minimarket sana, terus ke arah rumah kak Aca yang dulu tuh." Aku menunjukkan jalur keluar masuk aku ke gang ini.
__ADS_1
"Memang tak pernah main dasarnya," ejek Gavin dengan melirikku.
"Aku dari dulu merantau terus kali," tepisku kemudian.
"Beda generasi kali, Mah. Waktu Kak Ria jualan es jely itu, aku pun beli selalu diantar ma karena masih bocah."
Eh, ia tahu aku pernah jualan?
"Berarti kau udah ada ya?" Aku tertawa ringan.
"Dia seumuran Gavin kali! Jelaslah udah ada." Mamah Dinda kadang ramah kadang ketus.
"Nih, nih, Fa. Katanya mau pasar maleman! Kau sampai anterin barang ke sini, memang butuh uangnya untuk pasar maleman." Gavin menyelipkan uang yang berada di meja teras ke tangan Safa.
"Ma abu aku kaya juga kali! Buktinya, bisa beli hasil ladang kau seberapa banyaknya." Safa melipat uang merah dari Gavin dengan rapi, kemudian memasukkannya ke kantong celana kulotnya.
"Sih kenapa bela-belain sampai bawa keranjang kain begitu?" Gavin menunjuk motor Safa.
"Bujang Pariaman mahal, Bray."
Kami tertawa bersama, mendengar ucapan Safa. Safa hanya teman untuk Gavin, karena secara tidak langsung ia seolah mengatakan tengah berjuang untuk mendapatkan laki-laki asal Pariaman.
"Bohong betul kau." Mamah Dinda tertawa lepas.
"Iyalah, Mah. Pasti tak bolehnya, bisa jatuh nilai mayam kata abu. Di sini perempuan mahal, aku udah besar segini tak bisa dibarter pakai emas ya rugi abu."
Gila, gila. Candaannya ekstrim sekali, ia begitu berani mengatakan hal itu.
"Ubi rijek aja dibuat kripik ya, Dek?" Mamah Dinda sampai terpingkal-pingkal.
Aku jadi khawatir, karena candaan keluarga sini pun ekstrim. Bisa-bisa, Safa ditarik mamah Dinda untuk Gavin. Karena mamah Dinda merasa klik dengan Safa.
"Ya, iya. Itu modal kata abu, Mah. Cuma kan tak laku dijual ke pedagang tuh, mau tak mau ya putar otak. Soalnya ada juga petani yang licik begitu, Mah. Yang rijek itu ditaruh di tengah karung, kadang dicampur aja udah, bilangnya oke semua. Biasalah, oknum. Tak semuanya begitu, tapi ada aja yang begitu." Safa sejak tadi memberikan mamah Dinda tempat, hanya saja mamah Dinda memang tak mau menduduki kursi itu.
Ia gadis yang mengerti sopan santun juga. Pasti, mamah Dinda kini mempunyai feel pada Safa. Aku kok khawatir ya? Khawatirnya, karena aku takut sebulan ini Gavin mempermainkan aku saja.
...****************...
__ADS_1