Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD115. Berbicara di dalam mobil


__ADS_3

“Ngobrol aja dulu, Ria. Biar Mommy bantu ngomong ke pengurus masjid.“ Ibunya Alfonso mengusap-usap lenganku.


Alfonso dan ibunya itu sama saja, mereka ingin aku kembali dengan bang Ken. Karena menurut mereka, aku pasti bahagia dengan bang Ken.


Aku terpaksa mengangguk, karena bang Ken menarik tanganku. Bunga pun ikut melipir denganku dan ayahnya. Rupanya, aku diajak untuk duduk di mobil miliknya yang aku tinggalkan juga di area parkir apartemen. Aku benar-benar tak membawa apapun harta miliknya, kecuali benihnya yang tumbuh ini.


“Sama bunda dulu, Sayang.“ Bang Ken menunjuk kak Riska yang memperlihatkan kami dari jauh.


Sedangkan Alfonso, dia sudah berlari menggandeng ibunya. Ia benar-benar bercerita pada orang tuanya, ia adalah anak mommy dalam wujud bule.


“Aku jangan ditinggal, Ayah.“ Bunga mengerutkan keningnya dengan menyentuh lengan ayahnya.


Gagahnya lengan itu. Tapi percuma, kegagahannya hanya berguna untuk tipu daya saja.


“Tak, Sayang. Ayah mau ngobrol aja.“


Kami pun duduk di jok tengah mobil ini, dengan kedua pintu yang terbuka karena terasa ngap. Bang Ken tidak menyalakan mesin dan AC mobil ini.


“Iya, Ayah.“ Bunga langsung berlari ke arah ibu kandungnya.


“Ria….“ Perhatianku teralihkan, kala tanganku langsung digenggam olehnya.


Mau apa lagi dia? Tak puas kah mengunciku, menghamiliku, kemudian mencampakkanku?


Aku menarik tanganku dari genggamannya. “Apa?“ tanyaku kemudian.


“Abang belum pernah talak kau.“


Aku lekas memandang wajahnya.

__ADS_1


Sialan! Mata itu langsung berkaca-kaca. Apa yang ia rasakan tentang hatinya, sejak perdebatan kami terakhir itu, ia pun meloloskan air matanya. Tetapi, ia tetap membiarkanku pergi.


“Ya udah talak sekarang.“ Aku pun merasa ia belum menalakku. Namun, ia pernah berkata seolah-olah kami berpisah. Intinya, aku pun merasa kalau aku yang pergi darinya tanpa pencegahan darinya.


“Abang tak mau.“


Kentir! Kumat gilanya.


“Nunggu apa? Mau buat aku dalam keadaan dosa terus kah? Abang tak support aku, Abang pun berpikir untuk perpisahan kita. Nunggu apalagi?!“ Aku mendelik tajam padanya.


“Biarkan kau selesaikan masalah kau, terus kita balik rukun dengan Bunga.“


Semudah itu ia berbicara. Jika ia tidak ada di saat aku kesusahan menjaga anaknya di rahimku, untuk apa kami tetap bersama? Jadi laki-laki seenak itu menurutnya.


“Jadi maksud Abang, aku selesaikan kehamilan aku dengan orang lain gitu? Terus setelah melahirkan, aku balik ke Abang gitu?“ Aku memperjelas maksudnya, sialnya ia malah mengangguk.


Ia masih saja berpendapat jika aku hamil dengan laki-laki lain. Biarkanlah, aku tak berniat meluruskan. Aku akan membiarkannya hidup dengan prasangkanya sendiri, aku tak ingin dikenal jelas oleh laki-laki yang tak mengenalku dengan baik.


“Ya aku juga mau hidup bahagia dengan orang lain juga kalau kek gitu. Anak aku sama dia, aku pun harus sama dia. Aku ingin bahagia sama dia, bukan sama Abah.“ Mungkin mulutku menyakitinya. Tapi aku ragu, jika ia benar-benar cinta padaku.


“Abang pun udah punya anak, ada ibu kandung hebat untuk Bunga juga. Tak perlu cari istri lagi, untuk perantara ngasuh Bunga dengan embel-embel ibu sambung, tak perlu cari pelampiasan n**** Abang yang katanya staminanya udah kalah itu. Abang tak mau kan istrinya nanti selingkuh lagi, karena dari suaminya dia kurang puas terus? Anak juga udah punya satu kan? Besarkan anak sendiri aja, tak usah menabur benih sembarangan, terus lawan main kasih pil KB tanpa sepengetahuan. Karena Abang tak tau, lawan Abang benar-benar minum tak itu pil KB dari Abang.“ Aku benar-benar gondok dengan dirinya.


“Ria….“ Ia memandangku dengan mata yang mekar.


Mungkin ia tidak percaya, akan kalimat yang aku berikan untuknya. Siapa suruh, ia terus menyulitkanku.


“Abang ngaku sendiri, kalau diri Abang tak kuat untuk ngelakuin s**s berkali-kali. Tak semua laki-laki matang kek Abang kok, aku tau itu. Abang bisa perbaiki, Abang bisa berusaha biar staminanya tak makin turun. Tapi tak dengan aku, Bang. Kebutuhan s**s aku besar, aku capek meminta tiap butuh karena Abang pura-pura tak paham kode aku. Mungkin karena Abang itu memang tak kuat, dengan coba tak hiraukan keinginan aku, bukan benar-benar tak paham kode yang aku kasih.“ Aku ingin sekali menyakiti hatinya.


Aku lelah banyak disakiti olehnya. Setidaknya, ia harus tau diri saja.

__ADS_1


“Ria, kau keturunan orang baik-baik. Kenapa mulut kau kek gitu?“ Pandangan tak percaya masih ia arahkan padaku.


“Tak ada alasan juga tentang keturunan darimana. Ini tentang kebutuhan.“ Aku tidak begitu menggebu-gebu juga, aku hanya sengaja membuatnya minder dengan staminanya sendiri.


Sekali keluar, ia sudah seperti akan mati. Belum lagi beberapa kali harus mencabut, kala aku tengah tinggi-tingginya. Ia seperti mencari kekuatan sendiri, dari mencabutnya untuk menetralisir rasanya yang memuncak. Intinya, ia terlihat sudah tidak kuat tapi ditahan untuk tidak keluar lebih dini.


Hal itu rutin terjadi, masanya kami rutin melaksanakannya. Saat awal, ia seperti terlihat benar-benar kuat. Aku bahkan berpikir, bahwa masa itu ia menggunakan obat kuat.


“Abang bisa perbaiki itu, Ria. Pulanglah ke apartemen kita, setelah kau bersalin. Barang-barang kau di sana semua, pakaian kau masih banyak di lemari.“ Bang Ken mencoba menggenggam tanganku kembali.


Banyak kok laki-laki yang ikhlas membesarkan anak jandanya. Untuk apa aku harus mempertahankan laki-laki yang tidak mengakui anaknya sendiri, ditambah ia ingin aku hidup terpisah dengan buah hatiku.


“Apa kata nanti.“ Aku akan membiarkannya hidup dengan harapannya sendiri.


Karena setelah bersalin, aku akan benar-benar pergi dari kota ini. Aku akan mencoba membiasakan diri dengan keadaan baru, aku pun akan mencoba bertahan hidup dengan keadaan baruku. Karena aku yakin, waktunya akan pas saat aku wisuda dan bersalin.


Aku mengikuti target pencapaian prestasi, di mana aku mengikuti program pendidikan hanya delapan bulan dan aku akan wisuda cepat jika aku mampu. Aku tidak berkuliah selama dua belas bulan, seperti pada umumnya. Tapi terbukti, aku sudah di semester selanjutnya setelah empat bulan belajar. Pendidikan bisnis pun, aku sudah berada di liburan semester untuk naik ke semester dua. Jika di bidang kesehatan, aku malah akan menyelesaikannya dua bulan lagi, lalu aku wisuda. Semoga itu semua benar-benar terjadi, aku ingin membuktikan jika prestasiku cukup kuat untuk menyelesaikan pendidikan dengan lebih cepat.


“Abang selalu tunggu Adek pulang ke apartemen kita.“ Ia menahan ku yang sudah menurunkan satu kakiku dari mobil ini.


“Ngapain aku pulang? Di apartemen kan ada penghuni baru, bahkan ranjang aku digoyangkan orang lain. Nikmati aja perempuan lama sensasi baru itu, daripada harus nunggu aku yang bekas orang.“ Setelah mengatakan itu, aku benar-benar keluar dari mobilnya.


Ia sudah tak waras.


Lihatlah, bahkan Ia tidak mengejarku kembali. Ia pun tidak menepis ucapanku barusan, berarti benar kak Riska tinggal di apartemennya dan tidur di ranjang kami.


Biarlah status istri orang ini, akan hilang seiringnya waktu sampai masa jandaku datang.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2