
"Main kau? Tumben?" Sapaan yang tidak ramah, saat aku menginjak rumah mbak Canda.
"Pengangguran aku, bingung mau ngapain." Aku memberikan Kirei padanya.
Tatapan Kirei lucu sekali, sebelum akhirnya tersenyum girang. Ia awalnya seolah kaget dan tengah berpikir siapa orang ini, tapi begitu mengenalinya ia langsung cengegesan.
"Na na! Na na!" Cali menarik kakiku.
"Hei, itu ibu kau lah. Panggil IIIIBBBBUUU, bisa?" Mbak Canda memandang ke bawah, di mana Cali berada.
"Yung…." Manyun sekali bibirnya, telunjuknya mengarah pada mbak Canda.
"Ini Ibu." Mbak Canda menepuk pundakku.
Cali geleng-geleng. "Bo…. Bo…." Ia merangkak menjauh ke ruangan lain.
"Yang dia panggil ibu tuh neneknya, Dek. Kenapa kau malah pengen dipanggil ibu? Bingung itu anak." Mbak Canda menciumi Kirei, sampai Kirei mengeluarkan suaranya.
"Masa bunda? Kemarin kan aku sama bang Ken, mantan istrinya pun dipanggil bunda. Kek apa rasanya." Aku menggerutu di dekat telinganya.
"Gavin mana, Dek?" tanya bang Givan yang muncul dengan menggendong Cali.
"Bang…." Cali menunjuk ke arah luar.
"Sekolah, Dek. Adek kenapa tak sekolah?" Bang Givan memandang wajah Cali.
Cali langsung cemberut, kemudian bersandar di dada bang Givan. Kosa katanya sudah banyak, ia semakin pandai sekarang.
"Belum bangun, Bang. Shock aku, dia kalau dibangunkan susah betul." Dua hari ini aku kaget dengan kebiasaan buruk suamiku.
"Dari dulu." Bang Givan tertawa lepas, dengan duduk di sofa.
"Bang." Cali masih bersuara, tapi amat kecil.
__ADS_1
Aku bersyukur ia tidak mirip Ajeng. Aku khawatirnya, ia nanti tidak bisa lupa dengan Ajeng.
"Memang kah?" Aku tidak tahu jika ia sulit bangun.
"Heem, waktu TK dia sekolah paling dua atau tiga kali seminggu. Itu pun, datangnya selalu telat. Susah bangun pagi, ditambah waktu dulu itu dia suka tidur malam." Bang Givan memeluk Cali, kemudian menggoyangkan tubuhnya.
Terdengar suara Cala, Cali langsung beringas tidak lagi bersandar pada dada ayah asuhnya itu.
"Ka…." Cali menunjuk ke ruangan lain.
”Nah iya, sana sama kak Cala aja." Bang Givan menurunkan Cali ke lantai.
Ia merangkak amat cepat, sampai akhirnya tidak terlihat lagi. Kemudian, digantikan dengan suara bayi satu tahun lebih yang bersahutan.
"Tadi Ria diusir, Mas. Katanya, na na. Sambil kaki Ria ditarik-tarik," adu mbak Canda yang membuat bang Givan tertawa.
"Iyakah? Kirei sih gitu tak ke ayah Apin? Tak ya?" Giliran bang Givan yang mengajak Kirei.
Ia membawa Kirei masuk ruangan lain, mungkin bermain bersama dua anaknya itu. Kirei mau diajak oleh siapapun, terlebih dengan orang yang sudah ia kenal.
"Terus? Terus?" Kakiku sampai naik semua dan bersila di atas sofa, seperti yang mbak Camda lakukan.
"Dibentak mas Givan dua-duanya. Awalnya bang Ken dulu sih, katanya kerja masih butuh mentor aja sombong." Mbak Canda merendahkan suaranya.
"Terus?" Aku menyimak dengan serius.
Aku benar-benar tidak tahu, jika suamiku berkelahi semalaman. Kalau aku tidak main, mungkin tidak akan tahu ceritanya. Pekerjaan di rumah sudah selesai semua, aku bingung ingin apa. Sarapan untuknya sudah siap di kamar, tinggal makan siang saja belum. Aku belum ahli masak, bahkan sepertinya tidak bisa juga tanpa resep dan arahan. Jika sarapan, aku hanya membuat sayur bening dan tempe tahu goreng.
"Kata Gavin, memang kau kasih makan dia? Sebelum aku jadikan istri, dia kenyang uang jajan dari aku. Aku beli perlengkapan untuk Cala dan Cali, aku belikan juga stok kebutuhan untuk anak kau. Memang kau? Sekali ngasih tapi ngungkitnya tak habis-habis? Aku ngasih tak pernah ngomong, yang tau pun cuma mamah. Bukan untuk pamer, tapi murni pengen ngasih. Gitu kata Gavin. Yang biasanya bang Ken tak berani mukul tuh, itu langsung ngayunin tangannya hampir mukul Gavin. Ditahan sama Gavinnya, terus mas Givan ngamuk di situ. Bang Ken jadinya debat sama mas Givan. Kata mas Givan, udah sana bawa Bunga, daripada di sini tapi bolak-balik gini terus. Takutnya malah aku tak tau dia ada di rumah, padahal ada. Nanti yang ada aku kurang bisa jagain dia, kalau tak tau pasti di mana keadaan dia. Terus kata bang Ken gini, Dek. Kau tau tak permasalahan hidup aku? Riska bolak-balik rumah sakit terus untuk cek ini dan itu, makanya aku antar jemput Bunga terus dari sini. Mas Givan bilang, aku tak pernah tau dan tak mau tau masalah hidup kau, aku cuma mau kalau kau masih percaya sama aku, biarkan Bunga tetap di sini, jangan kau antar jemput begini. Takutnya ada suatu musibah, aku tak sempat selamatkan karena tak tau kalau Bunga udah kau antar ke sini. Kalau kau dan Riska mau ketemu Bunga, kau cuma perlu ke sini aja. Tak usah tiap hari pulang pergikan Bunga dan pengasuhnya. Gitu kan kata mas Givan tuh." Mbak Canda ratu gosip, ia pandai merubah-rubah nada bicaranya.
"Sakit apa kak Riska ini?" Aku ikut bersuara pelan.
"Tak tau Mbak, nanti agak siangan mau nanya ke mamah. Hubungan kita dengan bang Ken itu benar-benar jauh sekarang, gara-gara kau kemarin sih."
__ADS_1
Gara-gara aku? Aku pun terperdaya oleh bang Ken. Gara-gara cinta yang memabukan.
"Terus ayang Apin tak tergores kan, Mbak? Dia tak kena pukul kan?" Aku bertanya serius, ia malah tertawa geli.
Mbak Canda menggeleng. "Utuh dia. Geli Mbak dengar kau sebut ayang Apin. Eh, tapi gimana tytydnya?"
Ia malah tertawa keras, saat aku shock mendengar pertanyaannya. Lagian, itu pertanyaan tidak berbobot sekali.
"Kenapa? Mau aku fotokan kah biar Mbak bisa lihat juga?" Eh, dia tertawa lebih keras sampai memukul-mukuliku.
"Biasanya kalau pribumi asli sini itu bagus. Punya Ghifar aja keren betul, kek timun suri loh. Mantap kali yang jadi istrinya, apa daya yang punya besar kepala aja." Ia seperti menggerutu dengan gelengan kepala berulang.
Giliran aku yang tertawa lepas di sini. Bisa-bisanya kita malah membahas barang.
"Tapi oke bang Givan?" Aku mengacungkan dua ibu jariku.
Mbak Canda menutup ibu jariku, tawanya terdengar amat geli. "Mantap kali juga, sampai mau-maunya Mbak dihamili berkali-kali." Jawabannya sungguh di luar tebakan juga.
"Skillnya keknya, Mbak. Kalau punya gede aja, tapi tak punya skill, keknya kurang enak juga deh." Aku ingat dengan bang Ken tiba-tiba.
Miliknya memang unggul. Jadi, dia sedikit pipih sehingga dapatnya itu lebar. Bukan besar padat. Skillnya jago sekali, bisa membuat sekali serang langsung keluar. Tapi kan kadang aku yang jadi perempuan itu butuh pengulangan rasa, tiga menit atau lima menit terlalu sebentar menurutku.
"Betul sih, pas waktu rujuk itu siang-siang Mbak diikat tangannya di kepala ranjang sampai nangis dibuatnya. Untungnya, mamah sama papah kek yang pura-pura tak tau tuh." Mbak Canda seperti mengingat sesuatu yang masih ia ingat jelas.
"Sering atau sesekali dibuat nangis itu, Mbak?" Tiga kali berhubungan dengannya, aku terus yang akhirnya menangis memohon ampun.
"Sesekali aja, kek kalau habis haid. Kan lama tak berhubungan tuh, Dek. Jadi, kek menggebu-gebu gitu. Mas Givan kan orangnya bosenan, jadi ganti-ganti mode terus."
Gavin bisa tak ya ganti-ganti mode?
"Ganti mode gimana? Mbak pernah di atas juga? Caranya gimana sih Mbak, untuk bisa variasikan gerakan kita?" Gavin masih menggerutu saja bahwa aku tidak pandai bergerak.
Terus terangnya bikin sakit hati.
__ADS_1
"Gerakan di atas itu…… .
...****************...