
Ia pergi.
Apa iya, ia benar-benar pergi?
Aku langsung bergegas untuk mengunci pintu, agar ia tidak kembali lagi. Mungkin aku akan sangat mengganggu, tapi sungguh aku ketakutan sendirian seperti ini.
“Hallo, Bang….“ Aku bersyukur bang Givan langsung menerima panggilan teleponku.
“Ya, Dek. Kenapa kau nangis?“ Terdengar suara klakson beberapa kendaraan bersahutan.
“Pulang lagi ke rusun, aku takut, Bang.“ Aku tidak bisa menahan ketakutanku.
Aku berpikir bang Ken datang kembali, dengan membobol pintu rusun ini dengan menggunakan kapak. Lalu, ia membuat kekacauan di rusun ini untuk mengorbankan aku dan Kirei. Bayanganku selalu buruk tentang perlakuannya, ia selalu menyeramkan di mataku.
“Kau tak apa?“ Suara bang Givan terdengar panik, kemudian ia berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris agar taksi tersebut mengantar mereka kembali ke rusun tempat mereka naik.
“Jangan matikan panggilan telepon ini, Abang lagi perjalanan balik lagi ke rusun.“ Aku juga mendengar suara mbak Canda yang memberikan banyak pertanyaan.
“Iya, Bang.“ Aku kembali ke kamarku. Aku duduk di tepian ranjang, dengan mengusap-usap tubuh Kirei. Parfum ayahnya semerbak menempel di kain penghangat tubuhnya, tapi ia terlihat nyaman dengan bau parfum tersebut.
Kirei, kau tak boleh mengenal ayah monster kau itu. Itu terlalu berbahaya untuk kau, bang Ken terlalu seperti monster yang berbahaya dan bisa menyakiti siapa saja.
“Untungnya, kita belum jauh. Nih, Abang lagi turun dari taksi.“ Terdengar kegaduhan dari sana, mungkin mereka sedang mengeluarkan barang-barang.
“Kau ketakutan ada apa? Apa ada binatang masuk?“ Bang Givan berbicara pada sopir taksi, setelah menanyakan hal itu padaku.
Ia repot sekali rupanya.
“Ayo, Mas. Ayo, Mas.“ Mbak Canda menyemangati suaminya untuk tergesa-gesa.
“Kau jangan jalan duluan, Canda! Tarik baju aja, biar kau tak hilang.“ Bang Givan mengucapkan terima kasih pada sopir taksi tersebut.
“Ada orang datang dan masuk, Bang. Tapi dia janji datang lagi.“ Aku kembali menoleh ke belakang menatap pintu masuk.
Sendirian di sini bukan ide yang baik, karena ayahnya Kirei adalah makhluk paling menakutkan dengan segala kenekatannya. Satu pertanyaanku, kenapa bisa aku jatuh cinta pada orang seperti itu? Kenapa pribadi bang Ken dulu tak terlihat? Kenapa bang Ken sekarang begitu menyeramkan dengan kepribadian yang berbeda? Apa ia sakit? Sakit jiwa tepatnya.
“Ya ampun, siapa itu? Kau kenapa buka pintu?“ Suara kaki yang terhentak di lantai cukup cepat, mereka seperti tengah menaiki tangga.
“Kejadian itu pas Abang baru pergi, aku kira itu kalian yang ketinggalan barang.“ Aku mengutamakan pemikiranku sendiri.
__ADS_1
“Bentar lagi kami sampai.“ Napasnya ngos-ngosan.
“Ya, Bang. Bilang ini Abang, kalah memang yang ketuk pintu itu Abang.“ Aku melirik pada Kirei untuk memastikan apa ia masih terlelap.
“Ya, Dek. Lagi jalan ke sana.“
Aku bersiap dan mondar-mandir di dalam kamar sendirian. Kamar ini tidak memiliki pintu, jadi langsung bisa melihat jelas pada daun pintu.
Tok, tok, tok….
“Ria…. Ini Mbak….“ Suara mbak Canda terpantul di dia tempat, dari telepon dan secara langsung.
“Buka, Ria…. Ini Abang.“ Suara bang Givan juga terpantul dua kali.
“Iya, Bang.“ Sialnya pintu rusun ini adalah rusun lama, di mana pintunya pun tidak ada akses untuk mengintip. Kuncinya menggunakan kunci pipih tanpa lubang, jadi tidak bisa melihat tamu di luar sana.
“Bang Givan? Mbak Canda?“ Aku memanggil namanya, ketika sudah berada di depan pintu.
“Iya, Ria. Ini kita, Dek. Buka pintunya,” jelas bang Givan kemudian.
Aku langsung membuka pintu tersebut, kemudian terlihat dua orang kakakku yang menjadi panutan. Aku langsung menubruk mbak Canda, aku memeluknya erat dan menumpahkan ketakutanku.
“Masuk! Masuk! Tutup pintunya! Kau jangan di pintu, Dek. Abang tak bisa masuk.“ Bang Givan kalap dengan memasuk-masukan barang-barangnya dengan cara dilempar.
“Kita pulang aja, Mas.“ Aku bisa merasakan tubuh mbak Canda yang berkeringat dan dingin, napasnya pun ngos-ngosan dan juga bergetar.
“Apa aman Kirei dalam perjalanan pesawat yang lama? Memang transit, ada jeda waktunya. Tapi total perjalanan naik pesawat itu, sampai dua puluh empat jam kurang lebihnya.“ Bang Givan berjalan ke arah kamar.
“Kau tak apa, Nak? Anak Ayah, kau tak apa?“ Bang Givan langsung mengangkat tubuh Kirei yang terlelap.
“Bang Givan…. Kita pulang aja.“ Bang Ken mematahkan mentalku untuk merantau.
Karena setelah ini, ia pasti akan selalu menggangguku. Apalagi, ia sudah tahu bahwa aku mengandung dan melahirkan anaknya. Padahal aku tidak memberitahunya, bahwa Kirei anaknya. Tapi mungkin dari kemiripan mereka, ia menjadi langsung yakin bahwa Kirei adalah anaknya.
“Ya gimana, Dek? Apa kau kuat di jalan? Abang bisa bawa kalian pulang, tapi gimana kalian di perjalanan?“ Bang Givan kembali ke pintu dan mengunci juga menaruh ganjalan sebuah sofa di sana.
Ia menimang Kirei dan menciumi Kirei. Sampai akhirnya, ia mengendus bau yang tertinggal di kain Kirei. Pasti ia familiar dengan bau parfum tersebut.
“Tak tau, Bang. Tapi aku takut dia nekat di negara orang, kita bakal sulit pulang kalau di antara kita disakiti mereka.“ Aku berpikiran buruk terus mengenai sosok bang Ken.
__ADS_1
“Siapa dia, Dek?“ Mbak Canda membawaku untuk duduk di sofa ruang tamu.
“Ayahnya Kirei,” jawab bang Givan yang membuatku melongo.
Urat wajahnya langsung terlihat marah dan tegang. Ia memeluk Kirei dan menciumi wajahnya. “Kau tenang sama Yayah, Nak.“
Apa bang Givan tahu bagaimana bang Ken? Apa ia juga berpikiran buruk, jika sampai bang Ken menemui Kirei.
“Loh? Memang siapa dia? Katanya orang hitam, Mas.“ Mbak Canda mendekati suaminya.
Bang Givan langsung melirik sinis istrinya. Mbak Canda tidak lucu, dalam kondisi yang seperti ini.
“Lelembut, Canda. Dia setan, tinggi besar, suka merkosa perempuan yang pakai daster suka tersingkap-singkap kalau tidur.“
Aku menahan tawaku, kala bang Givan malah menakut-nakuti istrinya. Ditambah urat wajah seramnya pun dipertahankan, ia bisa sekali membuat istrinya ketakutan dan percaya.
“Kan ada Mas, aku akan tidur sama Mas. Mas Givan memang tak bisa nutupin daster aku yang tersingkap itu?“ Ia mendekati suaminya dan memeganngi lengan suaminya. Ia percaya dengan ucapan adal suaminya.
“Tak! Aku sobek sekalian! Aku perkosa sekalian!“ Ia memandang tajam wajah istrinya.
“Ihh, kok nakut-nakutin?!“ Aku tidak menyangka, melihat mbak Canda begitu mudah meraup wajah bang Givan.
Suaminya sampai menatap nanar wajah istrinya yang baru saja meraup wajahnya. Sepersekian detik kemudian, bang Givan terkekeh kecil dan membuang wajahnya ke arah lain.
Aku berpikir ia akan mengamuk lepas tak terkontrol seperti bang Ken. Nyatanya, tidak. Bang Givan malah terkekeh geli dan menyerang pipi istrinya dengan cepat.
“Mas Givan!“ Mbak Canda mencoba menjauhkan wajah suaminya dari wajahnya.
Kepala bang Givan menjauh. Ia melirik istrinya dengan menahan tawanya.
“Aduh, digigit.“ Mbak Canda mewek-mewek, dengan menutupi satu pipinya.
Bang Givan malah semakin geli tertawa. “Heran, ada aja yang buat kesal. Cendol, Cendol!“ Ia geleng-geleng kepala dan menoleh ke arah lain.
Aku merasa bang Givan pintar menangani emosinya. Tadi ia terlihat berapi-api dan akan meledak, tapi ia bisa menggurai istrinya bahkan ia mentertawakan istrinya.
Alangkah indahnya bila bang Ken bisa mengatur emosinya seperti bang Givan.
...****************...
__ADS_1