Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD92. Mengurus pernikahan


__ADS_3

Aku sudah membawa persyaratan yang diminta bang Ken dalam pesan chatnya. Aku sedang berada di tempat kursus untuk mengambil jadwal yang akan dimulai Senin esok, hari ini memang tidak ada pembelajaran.


Bang Ken mengatakan, bahwa dirinya sedang berada dalam perjalanan menuju ke tempatku berada. Ia mengatakan, bahwa ia dari kantor yang akan mengurus pernikahan resmi kami. Aku tidak tahu menahu, biar saja ia yang repot sendiri.


Ia seperti orang bule di antara lingkungan ini, karena tubuhnya yang menjulang tinggi dan juga tegap dan gagah. Ia menghampiriku yang menunggu di halte depan tempat kursus.


“Abang bakal sibuk hari ini, Dek. Mau stay di kamar Abang kah? Mau pegang kartu kamar Abang kah?“ Bang Ken langsung duduk di sampingku.


“Tak, Bang. Ngapain aku di tempat Abang? Orang Abangnya aja tak ada di kamar hotel. Aku mau ke Hana aja, dia udah pulang duluan tadi. Aku mau masak belanjaan kemarin.“ Aku memberikan data-dataku yang diminta olehnya.


“Oh, ya udah. Kalau Abang selesai, Adek masih di sana, nanti Abang ke sana.“ Ia mengecek data-dataku yang ia pinta.


“Apa aku perlu hadir ke kantornya?“ Barangkali seperti KUA di sana, di mana calon pengantin diberi wejangan dan pembelajaran terlebih dahulu.


“Tak perlu. Abang ajuinnya secepatnya, katanya paling cepat ya Minggu depan. Tapi barangkali bisa lebih cepat.“ Ia masih mengecek dataku satu persatu.


Dalam dokumen, aku adalah anak mangge Yusuf.


“Abang betul kan mau punya keturunan sama aku?“ Aku menunggu jawabannya dengan memperhatikan wajah seriusnya dari samping.


“Iya.“ Ia menoleh sekilas, kemudian fokus kembali pada data tersebut.


Kenapa hanya 'iya' saja? Kenapa aku merasa kurang yakin?


“Adek naik apa ke Hana? Mau Abang temani kah?“ Bang Ken mengalihkan topik pembicaraan.


“Tak perlu, aku cukup sekali naik bus dari sini. Abang naik apa?“ Aku menunjuk bus yang silih berganti dengan tertib di depan halte ini.


“Naik taksi, Dek. Sok Adek duluan, nanti Abang langsung berhentiin taksi.“ Ia tersenyum meyakinkan.


“Oke.“ Aku beranjak dengan mencangklek tasku kembali.


Aku menyempatkan diri menoleh ke arahnya, sebelum aku masuk ke dalam bus. Bang Ken tengah memasukan dokumen milikku, ke dalam tas ranselnya. Kemudian, ia melihat ke arahku dan mengenakan tas ranselnya kembali.


Usianya terlihat masih muda, dengan dandanannya yang seperti itu. Apa karena ia pernah campur denganku? Membuatnya terlihat awet muda.

__ADS_1


Hingga bus membawaku pergi, aku sudah tidak melihat keberadaan bang Ken lagi dari tempatku. Hana sudah sibuk mengolah masakan, kala aku baru datang. Tadi pun, aku bertemu Hana di tempat kursus. Hanya saja, aku memintanya pergi lebih dulu karena aku memiliki keperluan dengan bang Ken.


Satu pertanyaan polos yang Hana berikan, yaitu apa milik Ken itu besar panjang, karena dirinya yang tinggi besar. Aku hanya menjawabnya keras, lalu Hana pun tertawa lepas. Aku jadi takut Hana terpikat bang Ken, apalagi mereka sudah terlihat akrab.


Masakan yang cukup banyak, aku bahkan membawa masakanku pulang karena terlampau banyak untuk dimakan Hana seorang diri. Aku pulang dengan sopir, aku memintanya menjemputnya di depan apartemen Hana.


Sedangkan bang Ken, seharian ini ia tidak ada kabar. Ia sepertinya masih sibuk mengurus dokumen pernikahan kami, sampai akhirnya aku mendapat pesan sebelum tidur darinya yang berbunyi seperti ini.


[Setelah Dzuhur esok, kita nikah.]


Hah? Benarkah resmi semudah itu?


[Resmi?] Balasku cepat.


[Agama, resmi Abang harus urus di Indonesia juga. Terlalu lama, Abang harus pulang sementara untuk urus tapi mau Adek udah jadi istri Abang.]


Ya ampun, aku kecewa mendengarnya.


[Sekalian aja resmi nanti.] Aku khawatir ia kabur setelah meminangku secara agama.


[Lagi ngapain, Ria?] Ada pesan lain dari Dika.


Hufttt, aku takut tertukar jika chat dengan dua orang.


Aku merespon bang Ken dulu. [Kita harus ketemu, kita perlu ngomong. Tapi besok pagi jam delapan aku ada jam, selesai jam sepuluh.]


Kemudian, aku mengklik room chat dengan Dika. [Lagi siap-siap mau tidur. Kau ke mana aja? Tak ada kabar kemarin.] Aku hanya berbasa-basi, aku senang karena Dika tak menambah repot diriku.


Kontak bang Ken masih mengetik.


[Taksi yang aku tumpangi kecelakaan, aku di rumah sakit dari kemarin.] Dika menyertakan fotonya yang terbaring lemah, dengan alis matanya yang luka di sana.


[Apa aja yang luka? Keadaan kau membaik?] Balasku pada Dika.


Panggilan masuk dari bang Ken. Aku segera menerimanya, sebelum mati karena tidak terangkat.

__ADS_1


“Mengetik terus, chat sama siapa?“ Suara tegasnya langsung terdengar.


“Sama temen, Bang. Kenapa gitu?“ Ia tidak akan tahu, jika aku bertukar chat dengan Dika.


“Jangan respon laki-laki lain, Dek.“ Ia bertutur sangat perlahan.


“Ya resmikan lah cepat, biar semua orang tua kalau aku udah haknya Abang.“ Aku tersenyum lebar saat mengatakannya.


“Tidak dengan keluarga kita, Dek. Biar mereka tau setelah kita nikah aja.“


Menurutku sih, apa kata nanti sajalah. Lebih baik, tahu ketika kami sudah punya anak.


“Aku tak mau Abang terlalu lama resmikan. Kapan Abang balik lagi setelah pulang nanti?“ Menurutku sih sekalian saja resmi nanti.


“Abang mau secepatnya, ya mungkin semingguan. Tapi kan Adek tau sendiri, perjalanannya aja lama.“


Hufttt, segala Dika memanggil. Kan jadi terdengar oleh bang Ken, jika tengah ada panggilan masuk.


“Rumah Gibran ada CCTV-nya tak?“


Aku tidak fokus, karena tengah melihat panggilan masuk dari Dika.


“Tak ada, Bang. Kenapa?“ jawabku kemudian.


“Abang telpon kalau udah di depan gerbang. Awang aja kau kalau ketahuan telponan sama orang lain.“


Aku sebenarnya tidak mengapa dikekang, asalkan dia bisa menjaga kepercayaanku saja.


“Oke.“ Aku yakin, ia hanya ingin memblokir nomor Dika.


Jika memang begitu. Aku akan menghubungi Dika lewat Hana, aku akan mengatakan bahwa ponselku rusak atau bagaimana. Agar, Dika tidak mencariku dan menanyakanku sampai ke keluargaku. Karena ia orangnya seperti itu, ia pernah menghubungi bang Givan kala aku sibuk dengan urusan penyelesaian kursusku kemarin.


Aku sudah mendapatkan telepon dari bang Ken. Aku pun sudah berjalan untuk membukakan pintu. Namun, tanpa diduga ia malah berlari cepat dan masuk ke rumah kala pagar rumah dibuka seukuran tubuh orang saja.


Aku kira, ia hanya ingin ingin mengobrol denganku di depan pagar. Jika sudah begini, aku yang malah stress karena khawatir keberadaan bang Ken diketahui pengurus rumah dan pak sopir itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2