Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD114. Masjid


__ADS_3

“Aku mutusin untuk hidup tanpa dia aja, Fonso. Tolong support aku, biar aku kuat dan bisa besarkan anak aku sendiri.“ Aku pun tahu, tentang akta kelahiran yang hanya nama ibu yang dicantumkan.


Jaman sekarang sudah ada, malahan akta kelahiran dari anak dalam pernikahan pun nama ayahnya sekarang berada di bawah. Jadi, di keterangan di atas itu. Hanya seperti nama anak yang lahir dari seorang wanita, begitu kira-kira.


“Semangat. Kau bisa minta bantuan aku, kalau aku bisa bantu pun, aku pasti akan bantu kau.“ Alfonso langsung menyambut makanan yang diantarkan oleh pegawai restoran.


“Terima kasih, Fonso. Aku butuh hunian sewa bulanan atau tahunan, kalau bisa ya di mes aja.“ Aku langsung mengatakan kepentinganku padanya.


“Oke, lepas makan nanti kita cari hunian untuk kau. Kalau di mes, tak bisa deh. Soalnya, di sana kek di khususkan untuk yang lajang. Kau memang lajang, tapi kau berbadan dua.“ Alfonso menunjuk perutku.


“Ya, gimana baiknya aja. Yang terpenting, tak terlalu jauh dari tempat kuliah.“ Padahal apartemen Delton's cukup dekat dengan tempat aku kuliah, sayangnya aku memilih untuk melepaskan semuanya.


Bisa saja aku menggunakan saran dari Alfonso. Tapi aku tak yakin, jika bang Ken berhenti mengganggu mantan-mantannya. Padahal ia sadar diri, bahwa staminanya sudah kalah. Tapi, ia masih saja menjadi penjahat wanita.


Tidak disangka, pilihanku ini bisa kupegang teguh sampai bayiku berusia empat bulan dalam kandungan. Saat ini, aku ditemani oleh Alfonso dan ibunya untuk mendatangi masjid tempat aku menikah dulu. Tujuannya, aku ingin mengadakan acara empat bulanan sederhana saja.


Bagaimana keluargaku di kampung? Mereka benar-benar tidak tahu apapun keadaanku dan kabarku di sini. Duniaku pun lebih tenang, saat aku memblokir sosial media semua manusia yang berhubungan khusus dengan bang Ken. Tidak luput juga, sosial media dan kontak bang Ken sudah kublokir juga.


Support yang begitu istimewa, ibunya Alfonso berikan. Aku jadi merasakan kehangatan keluarga juga, meski aku berada jauh dari keluarga.


Sudah dua bulan berjalan juga, aku mengambil pendidikan khusus bisnis. Aku berkuliah dua fakultas berbeda setiap harinya Mengenai biaya, aku merengek pada mbak Canda. Aku berjanji menggantinya, jika aku sudah lulus dan diberi kepercayaan untuk mengurus perusahaan yang di Brasilia.


Tentunya, hal itu langsung diperjelas oleh mamah Dinda. Beliau sudah menghubungiku, ia berkata ingin banyak berbicara padaku jika aku memiliki waktu luang.


Aku bukan orang sibuk, tapi percayalah aku berangkat kuliah dari jam tujuh pagi hingga jam lima sore. Aku memiliki waktu sebentar, sebelum akhirnya jam sembilan malam aku pulas. Bertambah dengan perbedaan waktu, tentu sulit untuk menyelaraskan waktu untuk berbincang-bincang.


“Ria, kau udah izin kah?“ Ibunya Alfonso menyentuh lenganku.


“Ya, Mam. Aku izin untuk hari ini aja.“ Aku tersenyum manis.


Ibunya Alfonso pun tahu, jika aku dan bang Ken merenggang karena tuduhan aku berselingkuh dengan Alfonso. Ibunya Alfonso bahkan memintaku jujur, tentang apa yang sudah anaknya lakukan padaku. Padahal, Alfonso benar-benar anak baik yang tidak pernah berbuat buruk padaku.


“Kau ingat tempatnya, Ria?“


Jelas aku mengangguk mengiyakan. “Jangan khawatir, Mom. Aku tau tempatnya.“ Aku merangkulnya dan bersandar pada lengannya.


Aku tidak percaya, apa yang aku lihat di depanku. Ada bang Ken di sana, ia tengah menggendong Bunga dan didampingi seorang perempuan di sampingnya.

__ADS_1


“Mom, kita jangan dulu keluar dari mobil.“ Aku menahan ibunya Alfonso yang baru saja membuka pintu.


“Memang ada apa, Ria?“ Alfonso menoleh ke arah kami, yang duduk di jok belakangnya.


“Kau tengok itu, Fonso.“ Aku menunjuk pelataran masjid tersebut.


“Wow, kekasih kau itu.“ Rupanya Alfonso masih ingat dengan bang Ken.


“Biarkanlah, Ria. Mommy mau tau responnya.“ Ibunya Alfonso menarik tanganku.


“Aku takut, Mom.“ Aku khawatir mereka rombongan dengan keluarga yang lain.


“Tak usah takut, Ria. Kalau memang dia tetap tak ngakuin anak kau, biar Alfonso yang pura-pura bela kau. Tak apa, kami support kau biarpun kau salah. Yang terpenting, kau tak tertekan dan bahagia dengan pilihan kau sendiri,” bujuk ibunya Alfonso dengan kembali membuka pintu mobil.


Hufttt, mana perutku sudah terlihat. Meskipun aku tinggi, tapi perutku terlihat cembung. Aku jadi teringat mbak Canda saat hamil, perutnya besar sekali meski hamil bayi tunggal. Sepertinya, kamu adalah keturunan yang terlihat sekali ketika tengah mengandung.


Aku mencoba yakin dengan diriku sendiri, kemudian aku mengikuti langkah ibunya Alfonso yang turun dari mobil.


Sial! Bang Ken langsung melihat ke arahku.


“Kak Ria….“


Bunga diturunkan bang Ken, ia membiarkan anaknya berlari ke arahku. Ia terdiam kaku di tempatnya, ia membiarkan anaknya menubrukku dan memelukku.


Wow, perempuan itu.


Rupanya, hubungan mereka berlanjut dari club malam itu. Kak Riska ada di samping bang Ken, dengan ia langsung menggandeng bang Ken kala melihatku.


“Kak, Ria. Aku liburan sekolah di sini.“ Bunga terlihat begitu bahagia.


“Iya, senang ya?“ Aku mengusap pipi anak itu.


“Aku mau kabur aja rasanya, Mom. Tengok tatapan laki-laki itu, dia mau lempar aku ke menara masjid.“ Alfonso mendekati ibunya yang berdiri di sampingku.


“Yang nampak laki, Fonso. Biar dia takut sama kau.“


Aku mengklaim bahwa Alfonso adalah anak mami.

__ADS_1


“Itu pengurus masjidnya, Mom.“ Aku menunjuk seseorang yang baru keluar dari masjid.


“Kau aja yang masuk ya, Ria? Kami non muslim, mungkin kami tunggu kau di sini aja.“


Memang kalau non muslim tidak boleh masuk masjid kah?


Sebenarnya, aku hanya semacam menitipkan doa agar aku dan bayiku didoakan oleh mereka yang menggelar acara syukuran tiap hari-hari tertentu. Aku tahu ini, kala aku dan bang Ken menikah itu.


“Ria….“


Aku gentar mendengar suara bass itu. Aku tidak tahu ia sudah berada denganku. Aku pun tak tahu juga, jika ia masih berkeliaran di sekitar sini.


“Ria, Abang nungguin kau pulang ke apartemen kita. Abang pikir, kau bakal tak ambil resiko dengan pertahankan kandungan kau.“ Ia masih menginginkan aku membunuh anaknya sendiri.


Aku takut hatiku melemah.


“Tak mungkin aku pulang ke suami orang.“ Aku menggandeng tangan mommy, kemudian aku menariknya untuk menghampiri pengurus masjid.


“Ria…,” panggilnya yang tak aku hiraukan.


Namun, aku mendengar suara bang Ken yang mengajak Alfonso berbicara.


“Kak Ria….“ Bunga malah mengekoriku dan mommy.


“Ke bunda sana, Nak.“ Aku menunjuk kak Riska.


“Sama Kak Ria, ayah janjikan liburan bareng kak Ria. Tapi kata ayah, jangan bilang-bilang yayah Ipan.“ Bunga menggandeng tangan kananku.


“Oh ya? Kenapa bunda ikut?“ tanyaku dengan masih melangkah untuk menghampiri pengurus masjid.


“Kan bunda aku, lama tak ketemu. Jadi ikut aja deh.“


Dasar anak kecil, ia tidak tahu apa-apa.


Aku ingin benar-benar tenang hidup tanpa bang Ken. Di mana aku harus bersembunyi darinya? Aku ingin cepat wisuda rasanya, agar aku tidak berada di kota ini lagi. Karena bang Ken pasti akan sering ke sini, apartemen mewah miliknya ada di sini.


“Ria, kita perlu ngomong,” seru bang Ken, dengan berlari kecil mendekatiku.

__ADS_1


Aku curiga Alfonso mengatakan yang sebenarnya.


...****************...


__ADS_2