Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD135. Kesalahpahaman yang terungkap


__ADS_3

“Canda, kau harus tau porsinya kakak untuk ikut campur. Biar kami yang memastikan.“


Napas mbak Canda sudah berhembus kasar, ia mendelik tajam pada bang Ken Ken.


“Sok selesaikan!“ Ia langsung bangkit dan bergerak pergi dengan membawa Kirei.


“Mbak….“ Aku memanggilnya panik.


“Selesaikan satu jam. Kau cuma perlu triak, kalau kau disakiti. Mbak di kamar, dengar semua obrolan kalian. Mbak tak pergi jauh.“ Ditambah kamar tidak memiliki pintu.


“Ya, Mbak.“ Aku merinding, karena diberi kesempatan untuk berbicara dengan bang Ken.


“Ria, kasian sama Kirei. Kau jangan keras kepala.“


Kenapa lagi ayahnya Kirei ini?


“Kasian kenapa? Kirei udah di tangan yang tepat kok. Lagian, Bunga pun yang jelas ada orang tuanya dikasihkan ke bang Givan juga. Abang tak bisa kan urus anak sendiri, jangan seolah perhatian nanyain Kirei. Banyak kok duda di luar sana yang pakai jasa pengasuh, terus anaknya dibawa ke rumahnya dan duda itu hidup bahagia di sana sama anaknya. Abang aja jelas ngasih Bunga ke bang Givan kok.“ Ia harus sadar.


“Biar Bunga ngerasain kasih sayang yang lengkap, dapat pendidikan tanpa harus repot ikut ayahnya kerja ke sana ke mari. Dia juga harus dapat pengajaran agama yang kuat, biar bisa hidup dengan pedoman agama.“ Ia merasa keputusannya sudah paling tepat rupanya.


“Berati Abang bukan ayah yang baik, karena tak bisa kasih Bunga kasih sayang, pendidikan dan ajaran agama. Terus kenapa pedulikan Kirei? Kirei punya aku kok, ibunya ini peduli dan mampu kasih dia kasih sayang kok. Ada budhe dan pakdhenya yang mampu jagain, di saat ibunya sibuk cari uang untuk kebutuhannya. Tapi aku pastiin itu tak lama, karena stabil nanti, aku bakal bawa Kirei dan pengasuhnya untuk tinggal bareng aku,” ungkapku dengan kekesalan.


“Kau tau sendiri, Ria. Kalau…..“


Aku sengaja memangkas ucapannya. “Kalau bundanya lagi puber sendiri dan ayahnya terhanyut dalam kebebasannya sendiri, kalian terbebani dengan anak, sampai anak sendiri diasuh orang!“

__ADS_1


Ia mendelik tajam, matanya langsung nyalang dan seolah memiliki kilat jahat.


“Mulut kau lancang, Ria!“ Ia memberi penekanan kuat pada suaranya.


“Nyatanya begitu? Kalian kek binatang! Udah bener terikat pernikahan, tapi milih pisah tapi tetap melakukan hubungan! Jorok!“ Aku selalu teringat foto kebersamaan mereka di club malam di Bandung itu. Aku teringat keadaan di mana aku bertemu mereka di masjid, tempat aku dan bang Ken menikah. Saat aku dan keluarga Alfonso datang ke masjid, untuk mengadakan acara empat bulanan kandunganku.


“Hubungan jorok gimana maksud kau? Kau seolah selalu menyudutkan kalau Abang selingkuh. Berapa kali mulut kau bilang gini, maksud kau apa?“ Bang Ken menunjuk wajahku dari jauh.


“Oh, memang kok. Kalian ngapain coba, di club malam berduaan dalam keadaan mabuk? Paling logika yang having s** kan?“ Aku selalu menindidih jika teringat kejadian awal di mana aku hilang percaya padanya.


Matanya melotot seperti bisul ingin pecah. Terlihat sekali bagaimana seram dan marahnya ia saat ini.


“Abang heran, kenapa kau selalu berpikir bahwa Abang melakukan dosa di belakang kau?“


Heh, pantas sekali pertanyaannya? Ia seolah tak sadar dirinya bagaimana.


“Tau Kek Mana? Tau apa? Kau pikir aku kek mana?“ Ia sampai bangkit setengah berdiri, dengan menunjuk dirinya sendiri yang berada di hadapanku.


“Kau cabul! Mantan-mantan kau risih dan minta aku ngunci kau, karena mereka tak mau diganggu oleh kau lagi. Kau selalu gagahi mereka kalau ketemu! Kau pikir stamina kau sekuat itu?! Kau pikir kau segagah itu?! Kau pikir milik kau begitu istimewa?!“ Aku menunjuk wajahnya yang berada tepat di depan wajahku.


“AKU TAU, AKU BERISTRI KAU, RIA!!!“


Jantung siapa yang tak copot? Ia berteriak tepat di depan wajahku.


Shock. Aku tak bisa berkata-kata mendapat teriakannya yang lepas di depan wajahku. Setelah itu, dia berdiri dan berjalan mondar-mandir dengan kegelisahannya.

__ADS_1


“Aku tau keburukan kau, Bang.“ Aku mencoba tersenyum miring padanya. Aku mencoba tegar mendapatkan teriakannya selepas itu di depan wajahku.


“Tapi aku tau berkomitmen, Ria! Kau tak kenal aku, tapi kau berpikir aku seburuk yang ada di pikiran kau! Aku sebajingan itu, masa status aku menduda. Aku baru ditinggal Riska, barulah aku cari pelampiasan untuk kebutuhan aku sendiri. Bukan aku bermain jorok, di masa aku punya komitmen suami istri! Kau pikir aku sehina itu?!“


Kenapa rasanya sulit sekali percaya padanya?


“Kau tak perlu cari pengakuan siapa diri kau, Bang.“ Aku tetap tak setegar itu untuk menahan tangisku.


“Terus dari mana kau tau, kalau aku tak bilang bagaimana aku? Kau tau aku begini begitu, pasti tau dari orang kan? Mereka tak tau fakta sebenarnya, mereka cuma tau nilai tentang aku aja. Hidup bersama pun, kau tak bisa kenal bagaimana aku sebenarnya. Kau lebih percaya kata orang, bukan yakin tentang bagaimana suami jaga komitmen pernikahan!“ Ia bertolak pinggang berdiri satu meter di depanku.


“Kepercayaan aku ke kau udah hilang!“ Aku mengusap air mataku kasar.


Sialan! Aku selalu lemah jika berhadapan dengannya!


“Karena mulut kau tak pernah bertanya, tapi kau berasumsi sendiri. Kau lebih percaya, apapun itu tentang hal yang kau tau sendiri. Bukannya bertanya langsung pada suami kau!“ Bang Ken duduk di sofa single yang berada di dekat pintu masuk.


“Memang apa? Waktu aku tanya soal urus surat-surat itu untuk peresmian itu, Abang cuma bilang kalau lupa dan lupa. Berapa kali coba kek gitu?“ Aku bukan mengungkitnya, tapi aku masih ingat jelas.


“Pengungkit sempurna.“ Ia terkekeh sumbang.


“APA AKU HARUS BILANG, KALAU AKU UDAH TUA DAN INGATAN AKU UDAH TAK TAJAM LAGI? LUPA ITU MANUSIAWI! AKU NGERASANYA MEMANG LUPA, RIA! TAPI KAU SELALU NUDUH, KALAU AKU SENGAJA LUPAIN ITU! AKU TAK MAU AKU LUPA, TAPI NYATANYA AKU TAK INGAT UNTUK URUS ITU. KALI TERAKHIRNYA, AKU BUKAN LUPA. TAPI AKU TAK SEMPAT URUS, KARENA AKU BURU-BURU DAN PANIK KARENA KAU SALAH PAHAM TENTANG AKU DAN RISKA! AKU BURU-BURU DATANG, UNTUK JELASKAN KE KAU. TAPI DI APARTEMEN, AKU MALAH DAPATKAN KAU BERDUAAN SAMA LAKI-LAKI LAIN! DI MANA LAKI-LAKINYA, PASTI BERPIKIRAN BURUK KALAU LIHAT PEMANDANGAN KEK GITU, RIA!!!“ Ia berbicara amat kencang dari tempatnya.


Aku yakin, jika bang Givan dan Mbak Canda pun mendengar jelas.


Ia datang saat ada Alfonso itu, karena ingin menjelaskan kesalahpahaman? Tapi ia malah salah paham sendiri, saat sampai dan melihatku berduaan di apartemen dengan Alfonso?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2