Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD68. Plat E


__ADS_3

“Udah ngelamar Novi, tapi teungku haji minta kesungguhan dengan mahar di luar kesanggupan. Novi minta Abang iyain aja, ya udah Abang iyain aja. Dia janji bantu untuk mahar, biar cepat nikah, tapi Abang diminta usaha sampai tahun depan biar sampai ke nilai yang dituju. Dia bilang mau bantu, tapi Abang dikasih target untuk sampai tahun depan capai nilai yang begitu besarnya. Sekitar sembilan puluh sembilan mayam kalau tak salah, dengan uang kotor dan isi kamar sampai nilai dua ratus jutaan lebih keknya. Sedangkan, Abang itu dari muda dapat uang besar, cuma ambil berapa, sisanya kasih ke orang tua. Jadi, merasa kek kena omong kosongnya Novi tuh. Ya Abang cuma bilang, iya lihat nanti. Tau-tau, dia main putuskan aja, terus nikah sama Ghifar. Ya udah aja, ikut saran orang tua. Apalagi, mahar Endah cukup rendah. Cuma sekitar enam mayam aja, nikah KUA, sama foto studio di Riyana Studio. Udah, rampung. Udah sah jadi suami istri, udah sah satu rumah. Tak menekan, tak beratkan, tak mempersulit juga. Cuma memang, Endah orangnya galak kan gitu, cemburuan, cepat marahnya, tapi bener tuh. Marah tuh diselesaikan, masalah pun dirampungkan, tak kabur kek Novi. Sempat khawatir Endah kek Novi yang suka curhat dan cerita ke laki-laki lain, soalnya kan Novi setelah nikah ini masih sering chatting sama Abang. Dia cerita-cerita gimana suaminya, dibandingkanlah sama Abang, seolah begitu menyesalnya karena udah pilih dia.“


Loh? Loh? Loh?


“Abang berarti tau juga ya, pas kak Novi kabur dari rumah?“ Masa itu pun, aku sampai diminta untuk mengunjungi beberapa saudara papah Adi untuk mencari keberadaan kak Novi. Seperti berkunjung ke rumah tante Zuhra, tante Zulfa dan kak Icut. Kak Icut adalah anak papah Adi dan mantan istri papah Adi.


“Tau, ya Abang pun ada cerita ke saudaranya Ghifar kalau memang tabiat Novi pun begitu dari dulu. Jangankan marahan sama suami, marahan sama pacar aja itu serius betul. Benar-benar lost contact, benar-benar kabur dengan alasan refreshing setelah ada kabar lagi.“ Bang Nando menurunkan laju kendaraannya, karena di depan padat merayap.


“Memang ada masalah apa sih sama kak Novi, kok dia sampai kabur dari bang Ghifar dulu? Apa kak Novi nyelakain bang Ghifar, karena kan masa itu bang Ghifar masuk rumah sakit?“ Aku tahu sebenarnya, hanya saja memang berdalih.


“Tak nyelakain sih. Tapi ngakunya Novinya sih, dia dibujuk Ken. Kau pasti tau kan si Ken? Dokter itu, anak angkatnya mamah Dinda.“ Bang Nando menoleh ke arahku. Jalanan macet sekarang, aku tidak tahu apa yang menyebabkan jalanan macet di malam hari.


Jelas aku tahu, bahkan dia yang merenggut keperawananku.


Aku mengangguk meresponnya. “Iya tau, Bang. Dibujuk apa sama bang Kennya dia, Bang?“ tanyaku kembali.


“Novi cerita terakhir, sebelum dia hilang kabar tuh. Katanya sih, terbawa suasana, dirayu, dibujuk Ken buat mau, eummmm….“ Bang Nando mengisyaratkan dengan menempatkan tangannya yang mengepal di depan mulutnya, kemudian ia mengempiskan pipinya.


Aku tahu itu kegiatan apa.


“Ihh serius, Bang?“ Aku berekspresi tak percaya mendengarnya.

__ADS_1


“He'em, kata dianya itu juga. Abang tak tau pasti, Dek. Soalnya kan, masanya Ghifar sama Novi itu, hubungan ranjangnya kurang penuh. Ya Abang pun taunya, dari pengakuan Novi sendiri. Ya untungnya anak teungku haji Ghifar ini, Abang segan juga untuk buka suara ke orang, atau cerita ke Givan. Tak ditanya, ya Abang diam aja pura-pura tak tau. Ya kek sama kau gini, tak ditanya ya Abang tak cerita.“


Maksudnya, kak Novi gatal dengan bang Ken begitu?


Masa iya sih?


“Sering berarti kak Novi selingkuh sama bang Ken ini?“ Aku memperhatikan bang Nando dengan penuh perhatian.


“Hmm….“ Mobil berjalan perlahan, lalu berhenti kembali. “Tak tau pasti, Dek. Cuma Novi ada bilang begitu, dia dibujuk rayu. Ya dia juga ada bilang, kalau Ken itu laki-laki hebat menurut versinya dia. Tapi menurut Abang sih, jorok loh, Dek. Gimana ya? Karena, Ken ini kan anak kerabat yang udah kek anak sendiri, tapi dia nyerobot menantu dari orang tua angkatnya.“ Bang Nando sampai mengerutkan keningnya.


Benar juga.


“Betul, Bang. Terus, kak Novi di mana sekarang? Aku ingatnya dia kerja di pabrik lagi, tapi tak lama tuh.“ Jika bang Nando tahu jawabannya, berarti mereka masih aktif berkomunikasi.


“Oh, iya-iya.“ Aku tak tahu pasti kapan mbak Canda disesar dan siapa saja keluarga yang datang.


“Ohh, macet tuh ada kecelakaan.“


Kami tengah melintas di titik kecelakaan. Dua mobil yang sepertinya bertenggoran. Eh, tapi sepertinya aku mengenal mobil tersebut. Mobil abu tua, seperti milik….. bang Ken.


“Bang, nepi deh. Keknya baru betul itu. Keknya bang Ken deh.“ Aku merasa tidak salah lagi jika kendaraan berplat nomor E itu adalah milik bang Ken.

__ADS_1


Plat nomor kendaraan di sini BL di bagian depan, Y dan R di bagian belakang. Jika plat mobil milik bang Ghifar yang berasal dari Bali, pelat nomornya akan DK. Lalu, mobil bang Ken yang berasal dari Cirebon plat awalnya adalah E.


“Oke, bentar.“ Bang Nando melirik ke arah spion.


Cukup sulit rupanya menepikan kendaraan di kondisi jalanan yang macet ini. Mungkin, hampir sepuluh menit untuk sampai ke bahu jalan. Belum lagi klakson mobil yang bersahutan membuat risih dan buyar konsentrasi menurutku.


“Ada apa, Bang?“ Suara khas Keith bangun tidur.


“Ini, Dek Ria minta nepi sebentar. Katanya, Ken yang kecelakaan. Entah benar taknya.“ Bang Nando masih mencoba menurunkan ban belakang ke bahu jalan.


“Masa iya?“ Keith melongok ke bangku depan.


“Platnya E, Keith. Setau aku, di sekitar sini yang plat E mobil abu tua itu milik bang Ken. Ya mungkin aja punya wisatawan, tapi setau aku wisatawan tak pernah sampai bawa kendaraan mereka ke sini. Paling naik travel, rombongan gitu.“ Hatiku sudah tidak karuan, ya semoga saja bukan ayahnya Bunga.


Karena yang mobil berwarna abu tua itu, sampai naik ke trotoar tengah jalan ban depannya. Aku khawatir pengendaranya terluka, apalagi jika pengendaranya adalah bang Ken.


Aku tak apa tak berjodoh dengannya, atau menjauh darinya seperti yang akan aku lakukan sekarang. Tapi, aku tak ingin ia kenapa-napa. Aku tak mau ia tiada, apa sampai Bunga tak memiliki ayah lagi. Aku paham, semua keluarga pasti menyayangi Bunga dengan sepenuh hatinya. Tapi, aku khawatir Bunga tidak memiliki panutan ayah kandungnya lagi. Jelas berbeda kasih sayang ayah kandung dan ayah asuh, apalagi ayah asuhnya memiliki banyak anak.


“Nyebrangnya sama Abang, Dek.“ Bang Nando sudah menarik rem tangannya.


“Ya, Bang.“ Aku menurunkan satu persatu kakiku dari dalam mobil ini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2