
"Apa, Bang?" tanyaku dengan memperhatikan wajahnya.
"Tak lahir sempurna, ngeri betul mimpinya pokoknya. Amit-amit, jangan sampai." Ia menghela napasnya.
"Semoga itu cuma bunga tidur aja, Bang. Gimana kerjaan?" Sambil berjalan, aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah, tambah lancar. Suntuk tak? Mau jalan-jalan kah? Eh, tapi nyaman belum perutnya?" Gavin mengusap perutku.
"Nyaman sih, dibawa jalan kaki agak nyaman jadinya." Mungkin aku butuh sedikit peregangan.
"Mau ambil kelas yoga kah? Kurang olahraga mungkin ya?" Gavin sampai mengantarku untuk duduk, kemudian ia baru menaruh resep obat di tempat antri.
Aku menantinya untuk duduk kembali, baru aku membahas tentang kelas yoga tersebut. "Kalau orangnya bisa ke rumah sih, ya tak apa. Tapi kalau akunya harus datang ke tempat yoga, tak mau aku. Soalnya Kirei pun belum dapat pengasuh, kasian oper sana sini terus kalau aku ngebo." Aku seperti mbak Canda ketika hamil.
"Ya tak apa, sama nenek-neneknya ini. Tak sama ibu Ummu, ya sama mamah." Gavin menggenggam tanganku.
"Ya maksudnya tuh, kasian kalau aku harus sibuk pergi karena rutin yoga." Intinya, aku malas pergi.
"Ya nanti instruktur yoga disuruh ke rumah aja, nanti aku cari infonya. Abis ini mau ke mana?" Ia tersenyum padaku.
"Tak mau ke mana-mana, Bang." Sejujurnya aku ingin bakso, tapi masalahnya dilarang sementara.
"Yakin? Maaf ya aku sibuk, Yang." Jemariku dimainkan olehnya.
"Iya tak apa, yang penting bener. Jangan selingkuh, jangan keluyuran, jangan futsal terus." Aku menyindirnya juga, karena memang ia sibuk futsal terus jika malam minggu sampai tengah malam.
"Ya kan sesekali, Yang." Ia terkekeh kecil.
Begitulah jika suami lebih muda, harus luas sabarnya. Gavin selain bekerja, ia pun sekalian nongkrong. Jadi aku kadang tidak tahu posisinya di mana, karena memang ia suka nongkrong bersama teman-temannya. Tapi sejauh aku melakukan panggilan video, aku tidak pernah mendapati ada perempuan di tongkrongannya. Tapi mungkin pun, ia membahas tentang perempuan. Makanya, ia tidak pernah mengajakku.
"Ajak anaknya sesekali juga." Aku menepuk pahanya.
"Oke deh, Mbu juga mau ikut kah?" Ia terus memainkan jemariku.
Namun, kegiatan nongkrongnya itu rupanya semakin menjadi. Malam minggu ini ia terang-terangan izin ingin bermain futsal dan ngopi, ia pergi sejak habis Isya dan jam satu malam belum ada kabar.
__ADS_1
Bayangkan saja bagaimana kesalnya aku? Bagaimana khawatirnya aku? Bagaimana was-wasnya aku? Aku takut ia jadi korban laka lantas, aku takut ia jadi korban pembegalan atau pencurian kendaraan. Yang aku khawatirkan bukan motornya, tapi aku mengkhawatirkan nyawanya.
Ia akan menjadi ayah dari tiga anak sekaligus, ditambah dua anak sudah ada di dunia. Aku tak mau ia kenapa-napa dan aku berusaha menjaganya untuk anak-anak kami.
Sialan! Ia malah mengabaikan panggilan teleponku sejak tadi. Makin kacau pikiranku, mana aku tidak tahu siapa saja temannya dan nomor kontaknya.
Aku keluar dari kamar, bingung juga rasanya ingin bagaimana. Ingin menyusulnya pun, aku tidak tahu di mana keberadaannya.
Huft, sialan berlipat ganda. Tengah malam begini, malah mendengarkan pertempuran mertua. Mana aku tidak diperbolehkan lagi, buat iri saja.
Aku hanya mencari cemilan di dapur, kemudian kembali ke kamarku. Aku tidak kunjung mengantuk juga, karena rasanya amburadul sekali.
Hingga satu pesan masuk ke aplikasi chattingku. [Ya, bentar lagi pulang.] Tulisnya seolah tidak merasa berdosa.
Tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung menyambungkan panggilan video padanya. Wajahnya langsung terlihat, senyumnya langsung mekar seketika.
"Kenapa, Yang? Belum tidur?" Pandangannya fokus ke arah lain.
Riuh terdengar suara sorak sorai penonton yang seperti kecewa dengan permainan, sepertinya itu futsal. Karena terlihat juga jaring-jaring, yang biasa berada di tempat futsal.
Hei, piala dunia saja ada judi besarnya. Apalagi, permainan antar teman seperti ini. Pasti suamiku menghamburkan uangnya di sana.
Aku tidak ikhlas! Awas saja nanti kalau benar ia ikut serta melakukan judi tersebut.
"Tak ikutan, tapi aku yang traktir futsal sejam tadi." Ia melirik ke ponsel sejenak, kemudian pandangannya ke arah lain lagi.
"Bohong!" Aku tidak mudah percaya.
"Wan, aku ikut main pihak kah?" Wajah temannya langsung terlihat.
Banyak mengumpat aku hari ini. Aku tidak berhijab, mana kameranya di arahkan ke temannya. Aku langsung meletakkan ponselku di atas kasur, dengan kamera yang langsung menghadap ke arah plafon kamar.
"Tak ada ikut, tapi tadi kau yang bayar kan?" Temannya itu menoleh ke arah Gavin.
Pandangan Gavin masih lurus ke depan saja, tapi ia sudah meninggalkan temannya tadi. "Aku tak pernah bohong ke kau, Riut. Aku bakal iyakan, kalau memang aku lakuinnya." Ia baru melihat ke layar ponsel lagi.
__ADS_1
"Bayar sejam main berapa?" Aku tahu kisaran harganya ratusan dan bahkan jutaan, tergantung bagaimana fasilitas di tempat futsal tersebut dan berapa lama mainnya.
"Seratus lima puluh di sini, Yang. Bentar ya lagi nonton, abis ini pulang. Mungkin, dua puluh menit lagi. Mau dibawakan apa?" Pandangannya fokus pada lapangan futsal aja.
Suami kalian ada yang gila futsal juga kah? Suami author pun sama, bedanya kalau pulang merantau saja. Huft, jadi curhat kan?
"Pulang utuh, bernyawa dan sehat." Aku ingin ia paham jika aku memang mengkhawatirkannya.
"Ya ampun, Yang. Iya siap, Sayang. Maksudnya, tak ada makanan yang dipengen kah?" tanyanya kemudian.
"Tak ada, pokoknya cepet pulang!" Aku ingin suamiku.
"Iya, Yang. Udah dulu ya? Tanggung lagi nonton."
Ia tidak bisa diganggu gugat.
"Iya, cepat pulang." Aku masih menginginkan ia pulang segera.
"Oke, oke. Tunggu ya?" Ia tersenyum sekilas, kemudian mematikan panggilan video ini.
Sabarku harus diluaskan lagi, karena ia sering mejeng di daerah kota juga. Ingin menangis rasanya, tapi jika dipermasalahkan terus malah aku yang stress sendiri.
"Suami Mbak gitu tak sih?" Aku tengah tukar pikiran dengan mbak Canda.
"Sama, bilangnya sih kerja. Jangan banyak nuntut lah, Dek. Yang penting, belanjaan kita datang sendiri dan disediakan dananya." Mbak Canda mengusap lenganku.
"Kan khawatir aku ini, Mbak." Aku menghela napasku.
"Sama, tapi ya udah sih. Kita do'akan aja keselamatan mereka di setiap sholat kita, kalau kita mikirin dia terus, malah yang ada aktivitas kita yang tersendat. Insya Allah, dia aman dan selamat." Senyumnya menenangkan sekali.
"Aku sampai tak bisa tidur, Mbak. Sejak tau kata bang Ghavi yang tengok dia ada di sana dan di sini." Aku hanya bisa menghela napasku.
"Ya udah, do'akan aja pokoknya. Tongkrongan laki-laki tuh, kadang obrolannya bermutu. Bahas pekerjaan, usaha baru dan gaya baru untuk berhubungan suami istri. Aku pernah tau sendiri, kalau anak-anak Riyana ini kumpul mereka bahas apa."
Hah? Ranjang pun dibahas?
__ADS_1
...****************...