Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD86. Janji dengan Hana


__ADS_3

Aku memikirkan GPS yang terus berjalan ini, sudah sampai lima hari GPS ini tidak ada lelahnya. Hari pertama, saat aku berangkat ke Brasilia. Beberapa jam setengah aku menarik uang, GPS dalam ponselku terus berputar. Sampai hari keempat, aku kembali melewati mesin ATM saat berangkat aku melakukan penarikan, GPS itu tetap berjalan. Hingga aku sampai di Sao Paolo kembali, GPS ini masih hidup.


Jika memang bang Ken mencariku, rasanya tidak membutuhkan waktu selama ini untuk menemukan keberadaanku. Apalagi, perjalanan Indonesia-Brasil tidak sampai memakan waktu lima hari.


Semoga pikiran burukku salah. Semoga tidak benar juga, bahwa bang Ken benar mencariku. Rasanya, aneh saja. Ya aneh, karena ia kan memang tidak melakukan perjuangan apapaun untukku.


Aku tengah bertukar chat dengan Dika. Ia mengirimkan banyak fotonya bersama bang Givan dan Gavin di suatu coffee shop. Dua pemuda tampan dan satunya manis dan berwibawa.


Entah kenapa, aku melihat Gavin begitu berwibawa meski umurnya masih di bawahku. Ia terlihat begitu kebapakan menurutku, ya aslinya sih tidak tahu juga.


[Abang ipar kau bilang, sebaiknya kita berteman aja dulu. Kalau memang berjodoh dan memiliki ketertarikan, aku disuruh ambil tindakan untuk lamar kau aja. Kapan-kapan, aku mau nemuin kau, Ria. Biar kita benar-benar tau tentang kita, tak cuma dari chat aja.]


Aku selalu berpikir buruk, jika kesan untuk bertemu ini seperti mengarah untuk ke sebuah kamar. Mungkin memang tak akan seperti itu, tapi aku khawatir seperti itu saja.


[Aku khawatir untuk ketemu kau, Dik.] Aku lebih nyaman memanggil Dika namanya saja, ketimbang menyebutnya 'abang'.


[Khawatir kenapa? Aku tak akan ngelakuin apapun ke kau. Aku bisa memperlakukan perempuan baik-baik dengan semestinya.] Bualan membuatku tersakiti.


Aku bukan perempuan baik-baik, aku tidak bisa menjaga marwahku. Aku bahkan dengan sadar melenguh di bawah laki-lakiku.


[Entah, aku belum yakin sama kau.] Semoga Dika tetap meladeni chattingku, meski aku mengatakan hal yang sebenarnya.


[Ya makanya nanti ketemu, biar kau yakin. Aku tak akan ngaku laki-laki baik, tapi aku janji bisa memperlakukan kau dengan baik.] Sepertinya, Dika masih mencoba untuk meyakinkanku.


[Mungkin lain waktu, Dik.] Aku membalasnya cepat.


[Iya, mungkin bulan berikutnya. Karena bukan ini, aku udah ambil cuti. Maaf ya, kau harus banyak maklumi profesi aku. Ini adalah cita-cita impian aku.] Aku merasa Dika adalah orang yang gigih mengejar tujuannya.


Jika Dika benar-benar serius padaku, aku yakin ia pun akan mengejarku dengan gigih. Aku yakin, ia akan mendapatkanku jika aku pun memang rela didapatkan olehnya.


Jika dilihat dari karakternya yang mengejar cita-cita itu, ya aku merasa bahwa Dika adalah orang yang gigih. Kemungkinannya seperti itu, menurutku.


Hufttt…. Lupa, aku memiliki janji dengan Hana.

__ADS_1


Lebih baik aku bersiap, aku akan pergi dr yg kendaraan umum saja. Agar lebih bebas mengobrol dengan Hana, tanpa didengar oleh sopir pribadi. Karena, aku pernah melihatnya menahan tawa, saat aku dan Hana tengah berkomunikasi sebisa kami.


Ya bayangkan saja, ia asli Panama. Bahasa Inggris kami minim, jadi ya kami seperti orang yang memiliki keterbatasan. Ia pun mengambil kursus bahasa Portugis juga, hanya saja beda kelas denganku.


Pasti kalian aneh kan, kenapa kami bisa menyambung? Karena keterpaksaan, karena kamu butuh teman. Memang teman itu banyak, tapi kami memiliki selera humor yang tinggi untuk mentertawakan Alfonso.


Panama menggunakan bahasa Spanyol. Untuk pengetahuan saja aku memberitahu.


Aku memiliki janji di depan lampu penyeberang jalan di pertigaan yang kami sama-sama tahu. Tujuan kami adalah berburu seafood di pasar khusus, setelah mendapat barang yang kami cari, kami akan masak bersama di rumah Gibran yang aku tempati itu. Arah dan kendaraan umum untuk menuju ke pasar itu, kami diberitahu oleh Alfonso.


“Hai, Hana.“ Aku melambaikan tanganku pada Hana yang sudah menunggu di tempat kami janjian.


“Hallo.“ Hana melambaikan tangannya juga padaku.


Hanya aku yang muslim di antara Alfonso dan Hana. Meski Hana non muslim, tapi ia bahkan pernah bertudung karena suka dengan style pakaianku.


“Kendaraan umum di sebelah sana, kita harus menyebrang.“


Sekali lagi, kami menggunakan bahasa campuran dan isyarat. Jadi sulit untuk aku tuliskan dialognya. Jadi aku mengira-ngiranya seperti itu.


Daerah yang aku tempati cukup tertib kendaraannya. Karena di setiap sisi jalan, pasti ada CCTV-nya.


Deghhhh….


Jemariku langsung dingin. Aku terpaku melihat seseorang di seberang lampu penyeberangan sana, ia berkacamata hitam dan mengenakan jaket kulit. Tidak tinggal sepatu yang sepadan dengan style-nya saat ini. Aku pun bisa melihat ransel yang menyangkut di punggungnya.


Mataku minus tidak ya?


Aku khawatir, itu hanya ilusi mataku saja karena terlampau rindunya dengan orang tersebut. Jangankan sebulan tanpa komunikasi, bahkan kita saling mencari saat satu Minggu saja tidak bertemu.


Saat aku mengantar Bunga ke Malaysia untuk berlibur bersama ayahnya, itu bukan kali pertamanya aku menghampirinya di sana. Itu sudah sekian kalinya aku menghampirinya, ia pun sering meluangkan waktu sibuknya untuk menemuiku yang menghampirinya di sana.


“Hana, keknya mampir dulu ke toko deh.“ Aku menarik Hana untuk bersembunyi ke sebuah toko pernak-pernik.

__ADS_1


Hana menuruti tarikan tanganku. Ia seperti orang bodoh, yang terlihat bingung tapi tetap menuruti saja.


Semoga, tadi laki-laki berjaket kulit itu tidak melihat bahwa aku kabur dari kerumunan yang akan menyebrang jalan. Semoga juga, laki-laki berjaket kulit itu bukan dirinya.


Lagi pula, apa benar dugaanku itu?


“Kau mau beli apa, Ria?“ Hana terlihat tidak tertarik untuk memilih pernak-pernik di rak ini.


“Beli apa ya?“ Aku pun merasa tidak ada yang aku butuhkan.


Toko ini seperti swalayan, begitu besar dan bebas memilih. Kami bisa langsung membayar, setelah selesai berbelanja.


“Jangan terlalu lama, Ria. Nanti kita kehabisan uang besar itu di pasar.“ Hana menggoyangkan lenganku.


Ketika Hana dan Alfonso tahu namaku, ia bahkan meledekku. Aku pernah mengajari mereka tentang 'waktu' dalam bahasa Indonesia, sialnya lagi di namaku ada 'waktu' juga.


“Atau, setelah kita selesai masak aja. Setelah kita selesai masak, kita pergi lagi ke toko ini. Kan dekat aja tempatnya dari rumah kau.“ Hana tahu letak rumah milik Gibran.


Tempat kursus kami pun, tidak jauh dari rumah milik Gibran itu. Baik Alfonso atau Hana, mereka pernah beberapa kali main ke rumah yang aku tempati itu.


Sudah lama juga, sepertinya laki-laki berjaket itu sudah tidak ada di sekitar sini.


“Yuk? Janji ya setelah selesai masak kita jalan-jalan lagi?“ Aku hanya berbasa-basi saja.


Setelah masak, mungkin kita akan makan dan terlelap kekenyangan.


“Oke, siap. Aku libur apapun, Ria. Kalau aku punya waktu, pasti aku mau kok.“ Hana juga dari kalangan keluarga berada. Jadi ia tidak perhitungan perihal pengeluarannya.


Akhirnya, dengan was-was kami berjalan keluar dari tangan ini dengan tangan kosong. Menurut penglihatanku, sepertinya memang sudah tidak ada bang Ken.


“Ya ampun, capek-capek keliling di dalam toko ternyata tak beli apapun.“


APA?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2