
"Sah…."
Riuh suara orang mengatakan syukur, membuatku terharu. Ternyata seperti ini rasanya bahagia? Ternyata seperti ini rasanya restu keluarga.
"Tanda tangan dulu, Riut." Ayang Apin menyodorkan surat entah apa, tapi surat ini dari pihak KUA.
"Bukannya salim, foto mesra." Aku menggerutu.
"Siap, OYO terdekat." Lantang sekali mulutnya.
Gelak tawa terdengar lepas, membuatku hanya bisa menunduk dan tersenyum malu. Ditambah lagi, tanpa sungkan Gavin merangkulku da mengusap bahuku dibarengi dengan tawa renyahnya.
Duda muda yang gila.
"Ambil foto dulu, Bang." Bang Dendi bersiap dengan kameranya.
"Kacamata, kacamata." Gavin meminta kacamata pada saudara-saudaranya.
Heboh sendiri saja.
"Foto salim dulu, pamer buku nikah tuh," usul bang Ghava.
"Malu masalahnya." Gavin menutup matanya dengan tangannya dan terkekeh kecil.
"Kita merem deh." Pihak KUA bersahabat sekali, tapi malah ditertawakan oleh orang lain.
"Foto cium, Bang. Mumpung pada merem." Humornya absurd sekali.
Ia membuat para hadirin tertawa kembali.
Ia serius dalam ucapannya. Foto salim, foto pamer buku nikah, juga foto cium dahi juga. Ia bohong mengatakan malu, karena ia malah nyosor saja.
"Sok, gaya bebas." Bang Dendi menggeser beberapa kursi agar kami bisa lewat.
"Kacamata hitam sih, Bang." Gavin berbicara pada kakak-kakaknya.
Ia mendapatkan barang yang ia inginkan. Foto lepas sah bukannya haru, malah begitu gembira dan humor dengan cara Gavin. Boro-boro sempat menangis haru, sejak tadi aku dibuat bersemu malu karena bukan sekali saja aku dicium dalam foto itu.
"Ini hari bahagia, jangan ada air mata," bisiknya dengan merangkulku.
Aku cukup tinggi pun, tetap lebih tinggi dia. Terlihat pantas ia menjadi suamiku, meski usiaku lebih tua.
Aku membuang wajah, ketika melihat bang Ken ada di barisan kursi saksi pernikahan kami. Aku baru menyadari kehadirannya sekarang, mungkin sejak tadi aku larut dalam kebahagiaan yang Gavin wujudkan.
Hanya saat akad nikah bang Ken hadir. Saat resepsi ia tidak datang, apalagi dengan istrinya, aku pun tidak mengambil pikir tentang itu, karena kami pun memang tidak datang dalam pernikahan bang Ken.
"Sakit kepala, Mbak." Aku mengadu pada mbak Canda dengan memegangi kepalaku.
"Berat ya suntingnya?" Mbak Canda mengusap punggungku.
"Heem." Aku memijat pelipisku dan memejamkan mataku sejenak.
"Nih, nih. Aku sedia Param*x, no sakit kepala ya?" Gavin menyodorkan obat dengan bungkus berwarna biru.
__ADS_1
"Siap garap secepatnya," ledek bang Givan dengan menunjukkan ibu jarinya.
"Iyalah. Udah selesai kan ini? Bersih-bersih dulu, Riut." Gavin langsung mengangkat bagian belakang gaunku.
Ngap.
Tidak ada yang nyaman di tubuhku, terasa sesak dan berat. Empat jam, rasanya seperti delapan jam. Untungnya, kebiasaan keluarga Riyana tidak pernah ada resepsi lama. Ini keuntungan untukku, mereka seperti merasakan rasanya jadi pengantin perempuan dengan sunting yang berat.
Memang saat akad nikah saja dan disambung satu jam pernikahan menggunakan sunting adat, tapi sakit kepalanya tidak habis meski sudah berganti baju dengan dress modern tanpa hiasan kepala yang berat.
Luar biasa mereka yang kuat dengan sunting adat berjam-jam.
"Ayo pulang." Gavin mengambil Kirei yang digendong oleh meme Tika.
Kirei tidak mau denganku sejak aku dimake up, mungkin ia tidak mengenali wajahku yang full make up. Tapi ia tetap mau dengan Gavin. Cali yang musuh sekali sih, ia melihat kami seperti melihat monster. Bukannya menangis juga, tapi bakat bela dirinya dikerahkan semua.
Aku sudah duduk di dalam mobil. Melepaskan gaun ini katanya di rumah, sekalian hapus make up katanya. Ya sudahlah, aku menurut saja.
Akhirnya lega juga. Aku menyempatkan untuk berbaring sebentar setelah mandi dan sholat, sebelum akhirnya Gavin menyodorkan obat lagi padaku.
"Aku mandi dulu." Ia meninggalkanku di ranjang.
Tidur sebentar sepertinya tidak masalah. Meski sudah meminum obat, rasanya mata ini tetap berat.
Mungkin aku saking lelahnya. Aku tidak sadar, jika aku tidur terlalu lama. Gavin membangunkanku dengan menyodorkan alat pump ASI.
"Kuras dulu, nanti demam." Gavin sudah rapi dengan kemeja dan celana jeans.
Aku menyentuh dadaku. Benar katanya, ASIku penuh dan aku bisa demam.
Pukul sembilan malam. Lumayan, sakit kepalaku sudah tidak terasa. Tapi lapar rasanya setelah bangun tidur ini.
"OYO." Jawabannya membuatku shock.
"Sama siapa?" Aku memasukkan alat pump otomatis ini.
"Sama kaulah, Riut. Makan di luar aja nanti, abis pump kau siap-siap." Ia menata rambutnya dengan pomade.
Ia gigih sekali ingin ke OYO.
"Tak bisa diundur kah? Mager." Aku sudah merasakan alat ini bekerja.
"Santai aja kali, tapi memang harus malam ini sih." Ia terkekeh kecil. "Aku pun baru bangun, capek betul kaki berdiri aja tadi." Ia menyisir rambutnya menghadap cermin.
Dipump saja, ASIku tidak sampai full satu botol dua ratus mili. Padahal, dari kedua dadaku.
"Udah nih." Aku menguap lebar dengan memikirkan hasil pumpku.
"Sana cuci muka, Siap-siap berangkat. Aku simpan ASIP dulu."
Sedikit betul, padahal terakhir Kirei ASI pukul sembilan pagi. Sampai sembilan malam baru dipump, nyatanya ASIku tidaklah begitu banyak.
Aku memakai wewangian oles yang aku beli secara online. Agar sampai di sana, aku tidak bingung memakai wewangian ini. Wewangian ini wanginya lembut dan tidak terlalu kuat, tapi jika duduk bersebelahan pasti tercium deh.
__ADS_1
"Mah, bawa apa sih?"
Aku tengah mengenakan hijab, tapi terganggu dengan suara Gavin yang tengah mengobrol di luar kamar itu.
"Buku nikah, KTP belum ganti kan? Bawa buku nikah sama KTP aja," jawab mamah Dinda terdengar.
Ia bertanya pada ibunya perihal syarat masuk di OYO sekitar? Serius? Malu dong aku.
"Pakai pelumas, punya belum?" Penuturan papah Adi membuatku malu.
"Belum. Aku ambil buku nikah dulu." Gavin masuk ke dalam kamar, ia hanya melirikku sekilas.
"Bawa tuh punya papah, masih baru."
Ahh, malunya.
"Ya, Pah." Gavin keluar kamar lagi dengan menenteng jaket dan buku nikah.
"Riut, bawa salin," ucapnya sebelum keluar dari kamarku.
Untungnya, aku meninggalkan tote bag yang berukuran cukup besar di kamar ini. Bukan sengaja meninggalkan juga sih, tapi aku lupa membawanya saat pindah kamar.
"Iya." Aku bergerak untuk mengambil satu set bajuku dan bajunya.
Penuh persiapan.
Akhirnya, aku keluar dari kamar juga. Kirei yang pulas tergeletak di atas sofa, menjadi pemandangan utama ruang keluarga ini.
Mamah Dinda, papah Adi, bang Ghifar ada di sini, dengan beberapa makanan di atas meja. Sepertinya mereka habis order makanan.
"Neo rheumacyl, Far." Papah Adi memberikan uang pecahan lima ribuan.
"Tinggal ngomong, Pah. Aku punya uang kali." Bang Ghifar melirik sinis ke papah Adi.
"Papah ada receh, tinggal beli aja." Papah Adi menoleh ke arahku.
"Mau berangkat? Ati-ati ya? Cari yang bintang empat atau lima, agak masuk ke kota tuh. Jangan hotel di sinian, barangkali fasilitasnya kurang," ujar papah Adi kemudian.
Kok mereka seperti santai saja? Bahkan, aku yang merasa bodoh canggung di sini. Ya seperti hal yang lumrah, bahkan tidak ada yang meledek.
"Ayo, Riut." Gavin muncul dari pintu depan dengan langkah cepat.
Aku baru menyadari, ternyata ia sudah menghidupkan mesin mobil.
"Keluar dulu, Pah." Aku pamit pada mereka yang ada di sini.
"Heem, jangan sekali."
Pesan apa itu?
Dasar, kakak ipar yang usil!
Tadi aku tidak malu lagi, kan jadinya mendadak malu karena ucapannya dan tawa kecil dari mereka.
__ADS_1
Aku menyempatkan diri untuk mencium Kirei, sebelum akhirnya aku kabur dengan tote bag yang aku tenteng.
...****************...