
“Jangan ngaco lah, Bang.“ Mbak Canda terlihat tidak percaya dengan tutur kata bang Ken.
Ia malah fokus mengganti chanel YouTube dari remote televisi miliknya. Ia tidak menoleh sedikitpun ke arah kami.
“Bulan depan, aku mau bawa dia resmi. Aku pulang, karena diminta Givan untuk datang dan obrolin ini. Aku serius, Canda,” ungkap bang Ken, yang mampu membuat mbak Canda menoleh ke arahnya.
“Bang, tapi kan???“ Mbak Canda melirikku. “Masa kek bapak sama anak sih?“ Mbak Canda menutupi wajahnya sendiri.
Eh, bang Ken malah tertawa.
“Kau kira aku tua-tua betul kah? Agak-agak kalau istri Givan memang.“ Bang Ken pasti hafal tabiat mbak Canda yang ceplas-ceplos.
“Ya tuaan Abang kan sama mas Givan? Mas Givan aja, ciri-ciri tuannya udah terasa. Apalagi bang Ken, yang jelas tuanya.“ Ia berpendapat atau meledek?
“Tanya Ria aja, tuanya terasa belum gitu?“ Bang Ken melirikku dengan tersenyum penuh arti.
Aduh, aku takut mbak Canda mengerti maksudnya.
“Nampak!“ Mbak Canda melirik sinis pada bang Ken.
Mengerti tidak sih dia?
“Jadi gimana? Direstui tak?“ Bang Ken mencolek lengan mbak Canda.
Barulah mbak Canda menoleh ke arah bang Ken dengan tatapan serius. “Memang ini betulan kah? Serius mau nikahin?“
Ke mana saja otaknya? Dari tadi kan bang Ken sudah mengatakan bahwa ia serius untuk meminangku. Aduh, ya ampun.
“Ya iya, Cendol.“ Bang Ken sampai meraup wajah mbak Canda.
Mbak Canda akrab dengan semua orang. Ia orang yang supel dalam kekeluargaan.
“Abang ada permasalahan serius kah? Berobat aja lah, Bang. Itu namanya orientasi s******nya bermasalah tuh.“ Mimik wajah mbak Canda seperti orang yang sok pintar.
“Lah, memang Bang Ken kenapa?“ tanyaku kemudian.
__ADS_1
“Kan orang tua suka anak kecil.“ Mbak Canda menoleh ke arahku.
Loh? Pedofil maksudnya? Kan aku sudah dewasa, bukan anak kecil lagi.
“Ya tak lah, Dek. Yang dimaksud anak kecil tuh, ya anak di bawah umur. Ria udah baligh, udah lebih dari tujuh belas tahun. Kakek-kakek yang nikahin gadis dua puluh tahunan aja ada.“ Bang Ken menguap setelah menjelaskan hal itu.
“Masa adik ipar aku lebih tua dari aku? Harus kek mana kupanggil?“ Mbak Canda malah melamun.
“Ya terserah kau itu sih, Dek.“ Bang Ken bangkit dari duduknya dan merenggangkan pinggangnya.
“Abang mau ke Givan dulu.“ Ia melangkah keluar dari ruang keluarga ini.
“Ikut-ikut.“ Mbak Canda langsung menyusul.
Kok aku malah ditinggal sendirian? Tentu aku langsung menyusul dong.
Keith terlihat kaget melihat kami semua muncul dan duduk di sofa yang tersedia. Yang membuat kami tepuk jidat, bisa-bisanya mbak Canda langsung duduk di samping suaminya dengan mengecup pipi suaminya.
Bagaimana deskripsi cintanya pada suaminya? Kenapa tidak bisa dikondisikan sekali? Apa ia memang begitu ingin, menunjukkan kemesraan mereka? Ah, aku tidak tahu jugalah. Yang ada, aku pusing memikirkannya.
Loh, sudah sampai di tahap mahar saja?
“Itu tuh jeulame, mas kawin atau mahar. Ya kotor, itu kan baru mas kawin aja. Belum uang dapur, isi kamar, pelaminan. Tergantung kesepakatan aja, Keith. Umum juga sih lima belas mayam, dia tak terlalu memberatkan tuh.“ Bang Givan mengusap-usap tangan istrinya yang memeluk lengannya.
Apa ketika aku sudah bersuami, maka aku bisa semesra dan sebebas bang Givan dan mbak Canda? Mereka membuat angan-anganku bertambah. Tapi apa seperti itu bila benar sudah bergelar suami istri?
“Ohh, belum lainnya ya, Bang? Kira-kira, total biayanya harus berapa ya?“ Keith tidak peduli dengan keberadaan kami, ia masih membahas tentang pernikahannya.
Hmm, pernikahannya? Dengan perempuan yang tidak pernah aku sangkakan.
“Emas kira-kira sembilan ratus pergram, dikali tiga koma tiga puluh tiga. Tiga puluh tiga itu, satuan mayam dalam nilai sini. Totalnya, dua juta sembilan ratus sembilan puluh tujuh persatu mayam. Nah, dua juta sembilan ratus sembilan puluh tujuh mayam itu dikali lima belas. Jadi, empat puluh empat juta sembilan ratus lima puluh lima ribu. Itu, untuk mas kawin aja.“ Bang Givan mengatakan nilainya dengan perlahan.
Ya ampun, nilainya membuatku tidak percaya.
“Isi kamar biasanya habis berapa, Bang?“ Keith sepertinya begitu memikirkan tentang biayanya. Ya pasti sih, karena itu tanggungan laki-laki.
__ADS_1
“Tergantung adanya uang. Namanya furniture mebel, ada kualitas ada harga. Kalau mau yang penting komplit tapi dana pas-pasan, ya pakai MDF aja, medium density fiberboard atau olahan furniture serbuk kayu tuh. Tapi kan kau tau sendiri, itu tak tahan lembab. Mau sepuluh juta komplit, pakai MDF ya bisa aja dapat. Lemari pakaian lima ratus ribu bahan MDF ya ada, meja rias empat ratus ribu dari MDF ya ada. Tapi jangan tanya ketahanannya.“
Bila ingin terlihat bergaya dan nikahan komplit di mata tetangga, ya jalan keluarnya MDF.
“Waktu Abang gimana? Pakai MDF kah apa?“ Keith tengah mencari patokan rupanya.
Masa iya ia tidak mampu? Ia mampu memberiku tas seharga ratusan juga.
“Adat Jawa yang pertama sih, rujuk ya gratis, cuma keluar mahar aja enam miliar sekian.“ Bang Givan terkekeh dengan melirik ke arah istrinya.
“Oh, tak bisa jadi rekomendasi dong?“ Keith pun ikut tertawa.
“Saran aja sih, ikut apa yang Shauwi ingin aja. Masalah dana kurang, nanti Abang bantu cover.“
Gila, gila! Keith orang lain loh, mau bang Givan cover biaya nikahnya.
“Aku mau resepsi dua kali, di rumah orang tua Shauwi, sama di Singapore juga. Otomatis kan biaya dobel gitu, Bang. Konsep di sana, udah matang. Makanya aku datang, untuk minta restu. Kan di sana tinggal ambil paket resepsi, udah deh beres. Cuma kan agak lain inginnya Shauwi? Harus ada isi kamar dan lainnya. Tak keberatan juga, tapi aku bingung gitu untuk merealisasikannya. Tak paham aku ini tentang uang dapur, uang pelaminan, apalagi isi kamar itu.“
Kenapa dari pembicaraannya, aku merasa ada yang membuatnya merasa berat. Apa ada accident, sehingga harus direalisasikan cepat?
“Kau kekurangan banyak dana kah? Atau, ada alasan lain?“
Kami hanya menyimak, karena kami pun tengah mengantri ingin mengobrol dengan bang Givan juga.
“Tak, Bang. Cuma bingung aja. Aku pengen di rumah orang tuanya Shauwi ini cuma akad aja gitu loh, tapi rupanya permintaan di sini lain. Aku tak keberatan, cuma jadi kan beda lagi hasilnya gitu. Aku bersyukur kok, Bang. Alhamdulillah, aku langsung direstui meski tak tatap muka secara langsung. Cuma ya, dengan begitu kan aku harus minta banyak maklum dari Abang, karena aku banyak cuti nih untuk urusnya.“
Ohh, rupanya Keith hanya tak enak hati.
“Memang kapan nikahnya, Keith?“ tanya mbak Canda kemudian.
“Bulan depan, Kak,” jawab Keith dengan beralih memandang mbak Canda.
“Kok buru-buru sekali, ada apa tuh?“
Oopsss, aku tidak bisa menahan rasa penasaranku. Kini, aku menjadi pusat perhatian mereka semua karena pertanyaan yang terlontar itu.
__ADS_1
...****************...