
"Riut! Ngajakin Papa ngobrol aja, aku jadi tak dijemput-jemput." Ra muncul setelah kami berbincang cukup lama. Di belakang anak itu ada ibu, yang mengantarnya sampai sini spertinya.
"Tante, Dek. Masa gitu manggilnya, marahin yayah nanti." Ibu menasehati lembut dengan mengusap-usap bahu Ra.
"Biarin! Tante Riut tak sopan, kalau bawa ngobrol tuh lama!" Ia begitu mudah untuk duduk di pangkuan pamannya itu.
"Mulutnya jangan jelek, Sayang. Nanti Papa mau ngomong sama Adek ya?" Bang Ghifar memeluk keponakannya yang duduk di pangkuannya itu. Bang Ghifar begitu lembut, ia seperti tengah berbicara dengan anaknya sendiri.
Ra hanya mengangguk pelan, kemudian ia membalik posisinya sehingga ia bergantungan pada leher bang Ghifar. "Pulang, Papa," rengeknya semanja biyungnya.
"Iya, Cantik." Bang Ghifar langsung bangkit dan menggendong anak perempuan tersebut.
"Gitu aja ya? Besok berangkat jam tujuh udah di sana, ikut briefing dulu." Bang Ghifar memandang jam dan beralih menoleh padaku sekilas.
Ternyata sudah malam toh, sudah jam sembilan malam lebih. Tidak terasa hari berlalu dengan cepat, jika sehabis berjalan-jalan.
"Oke siap, Bang." Aku tersenyum ramah.
"Nek, Ra pulang dulu," teriak Ra cukup lepas.
"Iya…" Mamah Dinda pun menyahuti dengan berteriak lepas.
Ternyata, neneknya pun doyan teriak-teriak. Ya memang dari dulu sih, tapi aku tidak menyangka jika cucu-cucunya mengikutinya.
"Besok kerja, Ndhuk?"
Eh, aku lupa masih ada ibu di ambang pintu.
"Iya, Bu. Nanti ke sini ya, Bu? Bantu urus Kirei." Setiap hari ibu ke sini, hanya saja ia beberapa kali ia kembali karena tukang galon menukar uang besar atau setor pada ibu.
"Iya, Nduk. Ibu pulang dulu ya? Udah malam." Ibu berbalik badan dan melangkah keluar.
Aku menaikan beberapa sandal yang berada di halaman, karena jika hujan besar, sungai sering meluap kiriman air dari dataran tinggi. Untungnya, rumah ini cukup tinggi. Jadi tidak panik, saat air naik sekitar betis orang dewasa. Aku mengunci pintu rumah, setelah ibu tidak terlihat lagi di halaman rumah ini.
Kirei sudah terlelap di dekapan mamah Dinda, botol susu pun kosong pun tergeletak di meja. Kirei tidak melulu harus denganku jika tidur, ia bisa dengan siapa saja asal ngedot dulu.
"Tidur gih, udah malam. Besok mulai aktivitas kerja, kaget di awal tak apa, namanya juga baru kerja lagi," pinta papah Adi, yang menyuapi cucunya roti.
Cali masih di sini, mbak Canda tidak akan menjemputnya jika anak-anaknya ke nenek dan kakeknya. Ia benar-benar tenang, karena yakin anaknya aman berada dengan kakek dan neneknya.
"Iya, Pah." Aku menaruh berkas itu ke kamar dahulu, kemudian aku kembali untuk mengambil Kirei.
Namun, mamah Dinda mengantar Kirei sampai ke tempat tidur. Saat aku hendak keluar dari pintu. Kirei sudah lelap, bahkan ia sampai mendengkur.
__ADS_1
Rasanya memang nyaman sekali berada di tengah-tengah keluarga mereka, aku merasa aman dan nyaman. Sampai mataku berat dan akhirnya aku pun pulas di samping Kirei, aku tak pernah mengunci pintu ketika tidur karena merasa aman.
Hingga saat Kirei merengek, aku reflek menarik kaosku dan mulai menyusuinya. Tetapi, aku baru tersadar jika ada suara dengkuran keras di dalam kamar ini?
Hei, kamar ini hanya ada aku dan Kirei bukan? Apa itu makhluk halus?
Sampai akhirnya aku melebarkan mataku, karena melihat ada laki-laki tertidur begitu pulsanya di sampai kiri Kirei. Aku tidur di samping kanan, sedangkan Kirei di samping kiri dan dihadang dengan bantal guling. Tempat tidur ini di tengah-tengah kamar, tidak berada di dekat tembok.
Karena mataku belum merasa nyaman dengan terangnya lampu ini, aku berkedip beberapa kali dan mengucek mataku. Dadanya bidang, dengan kulit hitam manis. Itu bukan perawakan bang Ken, karena bang Ken berkulit kuning cerah seperti bang Givan.
Seperti kilatan yang membuat kantukku hilang, rupanya Gavin yang berada di seberang Kirei. Oh, pantas saja Cali ada di sini. Ternyata, ayahnya akan pulang.
"Hei…" Aku menepuk-nepuk lengannya semampu jangkauan tanganku.
"Ehmmm…" Gavin menggeliatkan tubuhnya.
"Ngapain kau di sini?!" Aku langsung menegurnya dengan ketus.
Matanya langsung terbuka lebar, kemudian ia menoleh kaget ke arahku. Matanya langsung tertuju ke arah dadaku. "Astaghfirullah!" Ia langsung menutupi wajahnya.
Aku kalap, karena baru sadar jika aku tengah menyusui Kirei. "Ih, ngapain sih kau di sini?!" Aku langsung menarik selimut untuk lanjut menyusui Kirei.
Ia bangun, ia duduk dan mengusap wajahnya. "Bolehkah kalau Cali ASI dari dua perempuan?" Gavin bertanya dengan pandangannya ke arah lain.
"Cali? Heh, ini anak aku lah!" Aku baru mengerti.
"Aman." Ada pula laki-laki yang malah kalap melihat aurat wanita.
Ia menoleh perlahan, kemudian mengamati wajah Kirei. "Ke mana anak aku? Aku udah request Cali untuk nginep di sini." Ia bergerak menjauhi ranjang ini dengan menggaruk kepalanya.
"Di mamah kali." Aku mengamatinya yang berjalan ke arah pintu.
"Heem, lain kali kunci pintunya." Ia membuka dan menutup kembali pintu kamar ini.
Ia benar-benar sudah besar dan menjadi laki-laki dewasa. Punggungnya bahkan terlihat lebar sekali dan begitu kokoh, ia nampak kuat dan bertenaga.
Stop, jangan dilanjutkan.
Huft, karena rasa kaget itu. Aku malah sulit terpejam kembali, mana baru setengah tiga malam lagi. Ditambah lagi, Kirei malah tak sudah-sudah menyusui. Bahkan, ia tetap merengek sampai kedua ASIku habis.
Inilah kekuranganku, ASIku tidak melimpah. Sampai, anakku pun tidak kenyang dengan dua pabrik ASIku. Aku menggendong Kirei, kemudian mencari botol susunya. Sialnya lagi, persediaan air di kamar sudah habis.
Jika tidak diangkat, tangis Kirei malah semakin lepas. Ditambah lagi, ia tidak sabaran kala aku bergegas ke dapur untuk menambahkan air hangat ke dot susunya.
__ADS_1
"Sini, sini, sini."
Aku menoleh ke sumber suara, Gavin datang dan langsung mengangkat Kirei dariku. "Hmm, tak sabar kah?"
Kenapa ia harus menggunakan suara berat?
Pah, Mah… Anakmu menggoda iman betinaku.
Aku bergerak cepat untuk membuat susunya, kemudian mencari keberadaan Gavin yang entah membawa ke mana anakku. Di ruang tamu sepertinya, karena di ruang keluarga tidak ada.
Hah? Kirei mengajarku. Ia malah memejamkan matanya kembali, saat susu ini sudah jadi.
"Tidur?" Aku melongo saja melihat Kirei yang begitu nyaman di bahu Gavin.
"Heem." Gavin pun memejamkan matanya, dengan berdiri dan masih mengayun Kirei dalam dekapannya.
Apa Kirei merindukan dekapan hangat ayahnya?
"Susunya gimana?" Aku mengangkat botol susu ini.
"Minum sja." Ia membuka matanya. Matanya merah, tatapannya lembut dan semakin dalam menghipnotisku.
"Tapi ini susu bayi." Aku mengalihkan pandanganku dari pesona adik kecilku ini.
"Balik aja ke kamar dulu, kalau anak perempuan ini udah lelap betul, aku taruh di kamar kau." Suaranya seksi sekali, mak. Suara khas bangun tidur, dengan tatapan lembut dan sayu.
Sepertinya, aku sedang gatal saja. Sehingga melihat lelaki, nampak begitu gerah seperti ini.
Aku mengangguk dan langsung berbalik badan. Yang kuat-kuat, Ria. Jangan sampai ada skandal di dalam keluarga lagi. Sudah cukup satu kali bang Givan kecewa berat padaku, sudah cukup sekali aku menyesali keputusan karena cinta.
Tak lama Gavin muncul, ia meletakkan Kirei dengan hati-hati. Kemudian, ia mengedarkan pandangannya. Lalu ia menunjuk sesuatu yang berada di nakasku.
"Sinikan susunya, sayang kalau dibuang."
Aku langsung meraih botol susu Kirei yang isinya masih utuh. Kemudian, aku memberikannya pada Gavin.
Ala, mak. Ia menegakkan susu formula tersebut, sayangnya beberapa tetes jatuh dari bibirnya dan meluncur ke dada bidangnya.
Godaan di dalam kamar. Aduh, sayangnya aku janda ilegal.
"Kenapa kau, Kak?"
Ehh? Ia sudah selesai minum susu formula Kirei?
__ADS_1
Tatapannya seperti melihat sesuatu yang aneh menurutnya. Dahinya mengkerut dengan alisnya yang naik sebelah.
...****************...