Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD176. Sangu


__ADS_3

"Kau nakutin!" Aku mendorong perutnya yang sudah berada menempel di dahiku. 


Sekalinya mendekat, ia langsung main pepet sampai nempel. Ia langsung mencekal tanganku yang mendorong perutnya tadi, ia menekan perutnya dengan telapak tanganku. 


Six pack. 


"Katanya mau nyobain skill, didekati udah panik aja?" Ia membingkai wajahku, sampai dadaku menempel di antara miliknya. 


"Bercanda aja aku, lepas lah." Pasti wajahnya terlihat sangat menyedihkan. Didorong pun percuma rasanya, karena ia sangat kuat sekali. 


"Aku udah nyut-nyutan." Ia melepaskan wajahku, kemudian ia duduk di meja persis di hadapan wajahku. 


Ia membuka kepala ikat pinggangnya, kemudian melepaskan pengait celananya. Bodohnya lagi, mataku terarah persis ke miliknya. Tangannya masuk ke dalam sana, ia membenahi miliknya. 


"Ck, ayolah keluar aja." Tangannya masih bergerak di dalam sana. 


Apa ia berniat mengajak miliknya sendiri untuk keluar? 


"Apa yang keluar?" Mataku berkedip tegang. 


"Ayo kita keluar, kita makan di luar. Makin ke sini, makin nyut-nyutan aku. Aku takut kau aku apa-apakan." Tangannya keluar dari sana, sayangnya mataku tetap memperhatikan barang itu. Jadi saat celananya sedikit melorot karena pengaitnya tidak terpasang dan resletingnya sedikit turun, aku melihat sedikit kepalanya yang menyembul dari karet c*l*n* *****nya. Pantaslah sakit, orang panjangnya melebihi batas karet c*l*n* *****nya. 


Jadi ia hanya mempertontonkan aksinya mengusap-usap miliknya saja kah? Aduh, bodohnya aku malah berekspektasi bahwa ia akan melakukan tindakan lain padaku. 


Memang gatal aku ini. 


"Mau kok diapa-apakan." Aku mendongak menatap wajahnya. 


Ia tertawa lepas, kemudian menepuk jidatku dengan kepalan tangannya. Kemudian ia kembali membenahi celana jeansnya sendiri.


"Aku tak mau, dosa besar. Jangan malu-maluin, papah aku teungku haji." Ia turun dari mejaku. 


Ia berkaca di layar ponselnya sendiri. "Mesum betul mukanya, telinga aku sampai merah." Ia berbalik badan. "Aku ke toilet dulu ya? Aku tunggu di parkiran ya?" 


Aku mengangguk. "Oke. Pakai mobil apa?" Aku membereskan pekerjaanku. 


"Putih." Ia keluar dari pintu, setelah membuka pintu ruang kerjaku. 


Ia sudah tidak terlihat di pandanganku. Aku tidak yakin, jika ia benar memiliki iman setebal itu. Tapi jika ia main-main semakin dalam x sepertinya akulah penyebab keimanannya rusak. 


Aku benar-benar menunggunya di depan mobil putih. Aku tidak menyangka, jika ia cukup lama di toilet. Ia datang, dengan langsung membukakan pintu mobilnya untukku. 


"Ketemu bang Ghifar, aku diledekin." Ia tertawa setelah aku masuk ke dalam mobilnya. 

__ADS_1


"Serius?" Aku menoleh padanya. 


Ia mengangguk. "Pas betul masa aku keluar ruangan kau, Kak."


Sangat tidak nyaman, karena aku masih dipanggil kak. Sedangkan, aku baper setengah mati padanya. Jika aku cepat memutuskan, aku khawatir gagal lagi. Karena aku yakin, aku menerima ini pun karena dorongan n****ku yang ingin memilikinya. 


Aku jadi terngiang-ngiang kepala bawahnya yang sempat mengintip tadi. Nampak mengkilap dan merah kehitaman, dengan bentuk yang kokoh dan bervolume. 


"Apa katanya?" Aku memperhatikan halaman pabrik ini, ketika mobil Gavin membawaku pergi dengan perlahan. 


"Katanya, dia dapat tua, ternyata aku dapat lebih tua. Nanti kau udah nenek-nenek, aku baru puber kedua katanya."


Masalahnya, kenapa dihembuskan padaku? Kan aku jadi kepikiran, jika nantinya aku akan memilihnya. 


"Iya, kata aku juga apa. Jarak usia kita ini cukup ganggu." Aku baperan, benar-benar baperan. 


"Ya tak apa, nanti aku kan bisa kawin lagi."


Apa??? 


Aku menoleh cepat dengan menghadiahkan lirikan tajam. Tetapi, ia hanya tertawa lepas dengan balik melirikku. 


Humornya buruk sekali. Aku tidak suka, karena jika hal itu benar, bagaimana? 


"Gurau aja."


Tangan kananku tiba-tiba terangkat, kemudian melayang dan ditabrakkan dengan benda kenyal. Ia mencium tanganku? 


"Hei! Macam aku ma kau!" Aku tersinggung dan menarik tanganku. 


"Heh, memang tak romantis kah? Di Cinderella, pangeran cium tangan Cinderella itu romantis. Memang aku kek anak cium tangan orang tuanya kah?"


Aish, tak sampai di otaoku. 


Aku tertawa geli sendiri, kemudian mencubit perutnya itu. Aku malah berpikir, ia meminta maaf dan mencium tanganku karena aku lebih tua. Aduh, kocaknya pikiran ini. 


"Kenapa kau? Malah ketawa pula?" tanyanya bercampur dengan tawa. 


Sepertinya ia tidak mengerti arah pemikiranku, tapi ia terbawa dengan tawa saja. Ia kocak sekali. 


"Aku tak berpikir kau macam pangeran yang cium tangan Cinderella. Soalnya, tadi kau bahas usia. Terus, kau cium tangan aku." Eh, ia malah tertawa lepas setelah mendengar penjelasanku. 


"Ma, ma…," ucapnya di sela tawanya. 

__ADS_1


Konyol sekali pemikiran aku ini. Bisa-bisanya, aku berpikir seperti ini? 


"Gagal romantis terus aku ini. Cium tangan, disangka menghormati kau karena lebih tua. Jadi, baiknya cium apa ini?" Mulutnya memang usil juga. 


"Tak ada baiknya lah!" Masa aku harus memberikan saran agar ia mencium bibirku saja? Ya jangan gila seperti itu sebaiknya. 


"Makan di sini ajalah, nanti habis di jalan waktunya." Ia berbelok ke rumah makan padang terdekat. 


Kalian tahu? Kami benar-benar makan, ia benar-benar lahap. Sepertinya, bukan kencan. Ia hanya mencari teman, untuk makan siang bersama. Laki-laki terabsurd, yang pernah aku kenali. 


Aku jadi membayangkan, bagaimana rumah tanggaku jika akhirnya hidup bersamanya? Maksudnya dan maksudku tidak pernah nyambung sepertinya. 


"Aku antar sampai sini aja ya? Masih ada waktu lima belas menit, kau bisa sholat dulu." Ia menghentikan kendaraannya, ketika sudah sampai di depan pabrik milik bang Ghifar. 


"Oke." Aku berniat turun dari mobil. 


Namun, ia menahan tanganku. Aduh, jangan-jangan ia malah ingin menciumku. 


"Kenapa?" Aku menoleh padanya, aku urung membuka pintu mobil ini. 


"Aku pulang ke Lampung ya? Kau simpan nomor aku dari grup keluarga, biar kita bisa komunikasi. Aku harap, dari komunikasi kita nanti, kau bisa berubah pikiran untuk kita kedepannya. Aku tak maksa kau untuk tetap tinggalkan bang Ken, tapi aku kasih nyicip sedikit tuh kalau kau balik sama bang Ken."


Hah? 


Wajahku pasti konyol sekali saat ini. 


"Bilang dong, ati-ati di jalan gitu." Ia memainkan jemariku yang masih ia cekal. 


Ia memandang wajahku lagi. Herannya, ia tidak merasa aneh dengan susunan kalimatnya. Aku yang sudah seperti orang bodoh, tapi ia stay cool saja. 


"Minta sangu ya? Toel apa cium?" lanjutnya kemudian. 


Apa sih isi otaknya? 


"Dua-duanya aja deh." Ia langsung condong, kemudian mendaratkan kecupan singkat di pipiki. Bertepatan dengan bibir basahnya yang mendarat itu, tangannya menoel pabrik ASI milikku. 


Benar-benar mencolek, tidak memijat atau merem***. 


Aku seperti dimainkan adik kecilku sendiri. Aku hanya diam, dengan memandangnya aneh. Kok begini rasanya? Ia pun tidak terlihat mesum seperti tadi, tapi terlihat murung. 


"Huh, sedih. Nanti tak bisa toel-toel lagi, aku tak ada teman bercandanya." Ia memandang lurus ke depan dengan tatapan lesu. 


Bercandaan? Denganku? Selama ini? Apa ia berniat memainkan aku juga sebagai bahan bercandaan? 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2