
Aku menikmati gagahnya dirinya kali ini. Aku sudah sulit menolaknya, bertambah dengan posisiku yang tidak beruntung. Aku tak kuasa menahan pemberiannya yang bercampur dengan emosinya.
Beginikah yang dinamakan menyakitkan? Beginikah yang dimaksud kasar oleh bang Givan? Tapi kenapa ini malah terasa sebaliknya. Aku tidak kesakitan, apalagi tersakiti karena tindakannya.
“Kau tak kunci pintu kah, Dek?“ Bang Ken terlihat gelisah di atasku.
“Tak, Bang. Ada apa?“ Aku masih bertahan dengan kedua tanganku yang dicekalnya.
“Tangganya tuh, tangga kayu. Jadi kedengaran suara orang melangkah. Keknya ada yang naik, kau tunggu bentar.“ Bang Ken melepaskan penyatuan kami.
Aku kecewa, aku belum selesai.
Baru saja ia turun dari atasku. Tidak disangka, pintu kamar langsung terbuka lebar. Aku panik, aku tak menyangka ternyata suara yang bang Ken dengar itu benar. Ada orang yang naik ke tangga, tangga yang terletak di sebelah tembok kamar bang Ken.
Gerakan yang membuatku panik. Aku langsung menutupi seluruh tubuhku dan kepalaku dengan selimut. Namun, aku yakin orang tersebut tetap melihat keberadaanku di sini.
Bughhhhhhh……
Bughhh, bughhhhhhh, bughhhh…..
Aku langsung membuka sedikit selimutku yang menutupi kepalaku. “Abang!“ Aku memekik kaget di sini.
Aku tidak menyangka, bang Givan ada di hadapanku. Ia tengah memukuli bang Ken dengan brutal.
Aku takut, aku tidak tahu harus berbuat apa.
“Bang udah, Bang.“ Aku mencoba menarik bang Ken yang masih satu selimut denganku. Ia tidak melawan, karena kami benar-benar tidak berpakaian sedikitpun.
Bughhhhhhh……
Bang Givan penuh emosi dan tenaga, saat menghujamkan punggung tangannya ke wajah bang Ken.
“Van….“ Bang Ken mencoba menghalau di tengah ketidaksiapannya.
“GIVAN!!!! KASIH AKU WAKTU DULU!“ Bang Ken mendorong tubuh bang Givan, hingga ia terjengkang dari atas ranjang.
Ya ampun, dorongan darinya saja mampu membuat bang Givan terjengkang.
“Bang!“ Aku menarik lengan bang Ken. “Jangan kek gitu!“ Aku tidak terima melihat bang Givan diperlukan seperti itu.
__ADS_1
Aku tahu memang ia tengah membela dirinya, tapi bang Givan sudah seperti kakak kandungku sendiri. Aku tidak terima melihatnya terjengkang ke lantai.
Aku melihat bang Ken mengenakan celananya dengan sekejap. Kemudian, ia bangkit dan menarik resleting dan pengait celana chinos panjang tersebut.
“A*****!!!“ maki bang Givan yang sudah bangun dari posisinya.
“Kau lihat, siapa yang datang ke sini. Dia menghidangkan daging.“ Bang Ken menunjukku. “Buka mata kau, Bodoh!“ Bang Ken menatap bengis bang Givan, ia maju satu langkah ke arah bang Givan.
Aku tidak menyangka, ternyata bang Ken terkesan merendahkanku dalam memperlakukan. Sumpah, aku sakit hati dengan sepenggal kalimat yang terlontar dari mulutnya.
“Pakai pakaian kau, RIA!!!“ tegas bang Givan tak terbantahkan.
Napas mereka sama-sama seperti banteng.
“Mulai hari ini, kita bukan saudara ataupun kerabat lagi! Mulai hari ini juga, kau tak akan pernah lihat Ria lagi! Kau ingat itu, Ken!!!“
“Cuih….“ Bang Givan meludah ke tubuh bang Ken.
Bang Ken masih diam, ia tidak bergeming sedikitpun. Ataupun, menghapus ludah yang menempel di tubuhnya.
“Aku tak akan pernah izinkan kau, untuk bisa nemuin Ria lagi. Otak kau pakai dengan bijak! Kau cinta, bukan begini cara kau mencintainya. Dia punya marwah yang tak mampu kau jaga dan kau jatuhkan juga mentalnya. Kau pikir, Ken! Dia datang, bukan untuk menghidangkan daging untuk kau! Tapi kau bercakap, seolah Ria begitu murah di mata kau! Seolah Ria yang ngemis cinta kau! Seolah Ria yang teramat ingin dapatkan kau. Kau udah nyepelehin, kau udah nginjak-nginjak harga dirinya. Jangan harap, kau bisa nemuin Ria lagi. Apalagi, berharap bisa bersatu dengan Ria. Silahkan ambil anak kau dari asuhan aku, aku tak akan maksa seorang anak yang ayahnya tak ridho aku asuh. Biar kau tak berpikir, bahwa aku kasih doktrin buruk tentang kau.“ Bang Givan beralih menatapku.
“Biar rapikan di bawah. Ayo cepat keluar!“ Bang Givan berjalan ke arahku yang sudah berpakaian lengkap. Ia menarik tanganku untuk meninggalkan kamar ini.
Oh ya, mulai hari ini aku akan menyerah untuk mendapatkannya. Aku sudah tahu tabiatnya, aku merasa begitu rendahan di tangannya.
Kenandra, kau memberiku pengalaman yang begitu berharga.
“Cuci! Benahi hijab kau!“ Bang Givan berhenti ketika kami sampai di depan kamar mandi yang terletak di bawah tangga.
“Ya, Bang.“ Aku hanya bisa menurutinya sekarang.
Bang Givan sampai menungguku keluar dari dalam kamar mandi lagi. Ia menarikku untuk berjalan ke arah umi Sukma, beliau terlihat gelisah dengan memperhatikan langkah kami.
“Ada apa, Van? Kenapa ribut-ribut?“ tanya beliau cepat.
“Tenang aja, Umi. Tak ada apa-apa kok, cuma gurau aja tadi.“ Bang Givan terkekeh garing. “Kami pamit dulu ya, Mi? Udah malam ini.“ Bang Givan melirik ke arah jam tangannya.
“Ya, Van. Kirain ada apa, sampai teriak-teriak begitu.“ Umi Sukma tersenyum pada kami.
__ADS_1
“Tak ada apa-apa kok, Mi. Kami pamit, Mi. Assalamualaikum.“ Aku mengikuti tindakan bang Givan yang mencium tangan umi Sukma.
“Wa'alaikum salam,” sahut umi Sukma kemudian.
Aku duduk diam di motor yang melaju ini. Bang Givan tidak membawaku ke arah ruko atau rumah, tapi ia membawaku ke arah penginapan milik keluarga Riyana.
Aku diam menunggu, kala ia mematikan motornya dan berjalan ke arah sebuah pintu kamar.
Tok, tok, tok….
“Keith…..“ panggil bang Givan kemudian.
Itu kamar penginapan Keith? Apa hubungannya dengan Keith?
Pintu langsung terbuka, dengan pemandangan Keith yang hanya mengenakan celana jeans saja. Di telinganya ada sebuah headset bluetooth dan ponsel yang menyala di tangannya.
“Ya, Bang. Aku udah chat, nanti aku ke rumah Abang jam sembilan malam lebih.“ Keith melirikku sekilas, kemudian ia fokus pada lawan bicaranya.
“Ya udah, jam segitu kau bawa mobil keluar. Aku tunggu di ruko ya? Ruko galon tuh.“ Bang Givan menunjuk arah ruko ibu.
“Oh, oke.“ Keith langsung mengangguk.
“Bawa ransel kau jangan lupa. Bawa semua perlengkapan kau.“ Bang Givan menoleh ke arahku.
Apa itu berhubungan denganku?
“Oh, oke. Ada lagi, Bang? Biar aku bisa prepare dari sekarang.“ Keith menata rambutnya yang acak-acakan itu.
“Bawa paspor?“ tanya bang Givan kemudian.
“Tentu ada, Bang. Gimana?“ Keith melebarkan pintu kamarnya.
“Biar aku pegang dulu. Mana paspor kau?“ Bang Givan memasukkan tangannya ke kedua kantong celana cargo panjang yang ia kenakan.
“Tunggu bentar, Bang.“ Keith masuk ke dalam kamar penginapan.
Aku masih memperhatikan mereka dari posisiku. Mungkin, hanya berjarak tiga meter dari teras kamar penginapan Keith.
“Nih, Bang. Mau buat perjalanan ke mana, Bang?“ Keith datang kembali dengan paspor yang berpindah tangan pada bang Givan.
__ADS_1
“Eummmm…. Aku kasih kau perintah, untuk kau anter Ria ke…….
...****************...