
“Dia gagal menikah dan bertunangan karena apa, Ria? Jangan sampai, kau terlalu fokus dengan kesalahan kau, sampai kau anggap kesalahan dia bisa kau maklumi juga.“ Bang Givan bertanya dengan amat perlahan.
Jika dipahami dari cara bicaranya, ia ingin aku mengerti arah pembicaraannya.
“Dia gagal bertunangan yang pertama, karena perempuannya tak sabar nungguin dia nikahin. Terus, dia gagal menikah, karena perempuannya masih pengen berkarir. Dia gagal tunangan kembali, karena dia suka ngelarang dan perempuannya bohongi dia. Yang terakhir, mereka berpacaran dan udah tinggal satu atap. Bisanya gagal, karena perempuannya suka s**s menyimpang. Katanya, di bagian bibir V ada gembok. Gembok kecil untuk variasi katanya, aku malah tak paham, cuma memang tak aku tanyakan.“ Aku mengatakan apa adanya.
“Ohh, namanya B*S*. Kau ketik aja di web dewasa, biar tau kek mana itu prosesnya. Jadi itu tuh penyimpangan, yang dilakukan secara sadar dan sesama penyuka hal tersebut. Pengertiannya, kek perbudakan, ikatan dalam arti nyata. Maksudnya, ikatan di tangan, kaki atau tubuh dengan menggunakan tali khusus. Kekerasan dan adanya permaon budak dan tuan. Jadi bergantian di siksa tuh, kadang laki-lakinya, kadang perempuannya. Tak sedikit pakai aksesoris kek gembok, jepitan baju. Digunakannya pun aneh-aneh, jepitan baju digunakan untuk jepit bibir V biar terbuka. Untuk orang normal, itu penyiksaan. Tapi tidak untuk mereka, menurut mereka itu adalah sensasi dan kehidupan. Banyak loh orang yang kena gangguan begitu. Kadang si budaknya ini, ditetesi lelehan lilin di tubuhnya dan area sensitif part-nya.“ Aku mendapat bayangan dari pemahaman yang bang Givan berikan.
“Itu berpotensi menularkan penyakit tak sih, Bang? Aku kepikiran itu dan aku takut dia tak bersih.“ Aku mengusap-usap daguku.
“Ya bisa, karena biasanya mereka cari budak baru untuk fantasi mereka. Jadi penyimpangan begitu tuh, ada komunitasnya.“
Tuh kan?
“Aku malah takut Dika itu punya penyakit s****** menular, Bang.“ Apalagi, Dika ini mengaku bahwa dirinya bujang tapi bukan perjaka. Mungkin ia habis-habisan dengan perempuan terakhirnya itu.
“Ya kau tanyakan terakhir putusnya mereka ini kapan. Terus mau lihat cirinya di pilot itu, kurang percaya betulnya ya mau temani dia cek kesehatan. Tapi setau Abang, kerja di perusahaan besar semacam penerbangan gitu, ada medikal cek up berkala deh.“ Aku langsung percaya ucapan bang Givan ini.
“Menurut Abang sih, Dek. Berteman aja dulu. Tandanya dia gagal terus ini, berarti ada masalah dalam dirinya. Entah itu masalah s******, masalah sikap, atau tentang ego dan kedewasaannya. Kalau memang dia udah dewasa, dia pasti bisa ambil resiko dari awal untuk menikah lebih cepat. Bukan harus nunggu banyak kejadian gagal begini. Ya itu sih, menurut logika Abang. Apalagi bertunangan, Abang tak akan respect dukung kau bertunangan. Kau tak bertunangan aja, bisa serusak itu. Apalagi, kalau sampai bertunangan. Memang tak sedikit, tunangan berhasil dengan keadaan perempuannya masih terjaga. Tapi dari sisa tak sedikit itu, cukup banyak juga perempuannya dimakan habis-habisan dulu masa bertunangan. Bahkan ada juga, yang tunangan dua tahun, nikahnya cuma enam bulan. Sok aja, pikirkan dengan logika kau. Okelah, bisa diterima rasional tentang alasannya ini. Tapi apa tak mencurigakan juga, karena kegagalan berulang ini? Karena apa coba? Kenapa coba dia bisa begitu? Ya kan? Ada tanda tanya kan?“ Aku seolah tersadarkan karena ucapan bang Givan.
__ADS_1
Benar juga ya? Benar juga ya? Benar juga ya? Hanya itu kalimat yang berkerumun di otakku, setelah mendengar penjabaran gang Givan.
“Misalkan, dia memang udah dewasa dan siap untuk menikah. Tak harus nunggu perempuannya capek nungguin dia untuk dinikahin. Kasus gagal tunangan yang pertama itu loh, Dek. Kau cerna tak?“
Aku mulai mengingat ulang segala keterangan yang Dika berikan. “Tapi katanya, karena mereka ini tunangan udah dari jamannya sekolah. Udah dari kelas tiga SMA, sedangkan dia kan lagi ngemban pendidikan tinggi untuk dapat posisinya sekarang.“ Aku bukan membela, tapi mungkin saja ada persyaratan jadi pilot ini harus jangan menikah dulu.
Ya mana tau kan? Soalnya di perusahaan bang Givan, semua usahanya tidak mengizinkan karyawannya menikah di tahun pertama setelah mereka di-required. Jika tembus tiga tahun kontrak, malah bisa jadi karyawan.
“Hmm, entahlah. Tapi Abang ada kecurigaan tentang kedewasaan dia begitu.“ Bang Givan menjeda kalimatnya, karena ia terdenhar tengah berbicara dengan seseorang di sana.
“Jangan pedas betul Abang, Bran!“ Suara bang Givan tertangkap jelas. Bang Givan tengah berbicara bersama Gibran rupanya.
“Pas mau ambil pendidikan, wajib belum menikah. Dalam masa pendidikan, sanggup tak menikah sampai masa pendidikan selesai. Tapi setelah kerja, banyak kok yang menikah. Ya mungkin, satu dua tahun di awal aja tak boleh menikah. Tak mungkin selamanya tak boleh menikah, nanti melanggar HAM.“ Penjelasan dari Gibran terdengar jelas di telingaku.
“Kau ada teman pilot?“ Bang Givan masih bercakap-cakap dengan Gibran.
“Pamannya Mariam kan pilot, adiknya pak Talebnya itu. Masa Abang tak tau? Kan suka dibanggakan tuh sama pak Talebnya, kalau keluarganya orang jadi semua. Anaknya TNI, adiknya pilot, istrinya guru, dia kepala sekolah.“ Gibran pun meladeni obrolan bang Givan.
“Giliran Mariamnya, cuma jadi ibu rumah tangga meski lulusan sarjana.“ Bang Givan terkekeh seperti meledek Gibran.
__ADS_1
Apa Mariam itu kekasih Gibran?
“Akunya pengangguran juga.“ Gibran pun terkekeh geli.
“Beban keluarga! Dah sana, coba perhatikan lagi.“
“Ya, Bang.“ Suara Gibran seperti menjauh.
“Katanya, tak boleh menikah selama pendidikan aja, Dek. Ya mungkin, memang perempuannya tak sabar. Kalau memang dianggap Dika ini tak bermasalah, tapi kenapa kejadiannya bisa terulang berulang kali?“ Bang Givan berdialog denganku kembali.
“Ya Dika juga merasa, katanya entah salah aku apa, masalah aku di bagian mana, dia pun bingung karena kejadian itu sampai berulang pada dia. Padahal, ya dia ini udah merasa benar gitu.“ Aku masih ingat, kala Dika mengatakan bahwa dirinya juga tidak mengerti kesalahannya.
“Loh? Dia tak menyadari juga ternyata. Kalau begitu, kalau kau cocok, ya nanti ajak ketemuan sama Abang. Abang nanti kapan-kapan ada ke Brasilia. Kau bisa buat janji sama Dika, untuk dia nemuin Abang dan ngobrol sama Abang. Mana tau, nampak kan gitu dari cara bicaranya. Orang yang pura-pura kaya juga, biasanya nampak dari caranya bicara.“
Untuk apa bang Givan ke Brasilia?
“Dika orang Bengkulu, dia kerja di penerbangan sana. Aku tak tau dia bisa tak ke Brasilia, nanti aku sampaikan ke dia, kalau Abang ajak dia ngopi ngobrol. Memang, Abang punya keperluan apa ke Brasilia? Tak ke Sao Paolo aja kah? Nengokin aku di sini.“ Aku tertawa kecil setelahnya.
Aku memang berharap saudaraku mengunjungiku di sini.
__ADS_1
...****************...