
Aku berada di koridor kampus, aku menunggu kelas Alfonso selesai. Karena sejak kemarin, sampai malam dan sampai paginya lagi, ia tidak ada kabar. Saat aku mengintip di jendela kelasnya, ia ada mengikuti kelas. Namun, aku tidak mengerti kenapa ia tidak mengangkat telepon dan membalas pesan dariku.
Aku sempat berpikir, bahwa bang Ken membanting ponselnya. Kan begitu kebiasaannya, suka merusak barang-barang.
Tidak banyak mahasiswi yang mengandung. Tapi memang ada saja mahasiswi yang mengandung, aku tidak malu berperut besar seperti ini. Toh, status dalam perkawinan tidak ditanyakan di sini. Hanya saja, ditanyakan oleh teman-teman satu fakultas.
Kelas Alfonso sudah selesai, tapi ia tidak kunjung keluar. Aku sampai bergerak untuk menunggunya di dekat pintu, hingga ia muncul dengan masih memainkan ponselnya.
“Heh! Fonso!“ Aku menepuk lengannya.
Ia mengalihkan pandangannya ke arahku. Kemudian, matanya melebar dan ia tersenyum kuda.
Ada apa ini?
Kok aku merasa curiga dengan senyumnya?
“Kenapa kau?“ Aku menarik lengannya untuk berjalan mengikutiku.
“Kau tau, gara-gara kau ini, aku tak punya pacar? Mereka berpikir, bahwa aku suami kau.“ Ini bukan pernyataannya yang pertama.
Aku tidak peduli dengan itu. Toh, ia sendiri yang berkata tidak akan menikah jika orang tuanya tidak meminta. Menurutku, pacaran benar-benar tidak ada gunanya. Penuh tipu ada dan bualan manis akan cinta, contohnya diriku sendiri.
“Ria, kau tak sadar ada yang perhatikan kau?“ Ia berbisik pelan sekali.
Aku celingukan, kemudian aku kembali fokus dengan jalanan di depanku. Aku tidak curiga ada orang yang memperhatikan aku sejak tadi, aku merasa mereka semua sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
“Ria!“ Alfonso ngerem mendadak, dengan menggenggam tanganku yang berpegangan pada lengannya.
Aku menoleh ke arahnya, kemudian aku menganggukkan daguku untuk bertanya.
“Arah jam empat.“
Ya ampun, kenapa sulit sekali? Jam tiga kan lebih mudah aku menoleh.
Aku menghela napas, kemudian menoleh ke samping kanan.
“Jam empat, Bodoh! Sedikit serong ke belakang!“ Ia sampai memakiku.
__ADS_1
Bodohnya juga, aku menurut saja.
Ramai di sana, karena di sana letak loker. Beberapa orang tengah mengobrol di depan loker, beberapanya lagi tengah sibuk dengan loker mereka. Bahkan, ada yang tengah makan di bangku dekat loker.
Kurang lebih tiga ribu orang, yang mengemban pendidikan di sini. Jadi jelas saja banyak aktivitas macam-macam orang.
“Tak ada apa-apa, Fonso. Ayo kita ke kantin, aku gratis kau makan dan minum.“ Tentu aku pun bermaksud mengorek informasi darinya.
Ia menghela napasnya. “Bahkan dia bergerak lambat mengikuti, Ria. Aku tak paham dengan mata kau, padahal kau tak pakai kacamata.“
“Ya justru itu, karena tak pakai kacamata. Aku pernah pakai kacamata, dunia terlihat berbeda dalam kacamata. Entah aku yang buta warna, atau mata aku bermasalah. Tapi menggunakan kacamata, gunung dari jauh memiliki warna hijau. Jika tanpa kacamata, gunung berwarna biru dan abu-abu.“ Aku merasa Alfonso hanya memiliki ketakutan sendiri.
“Tergantung gunung apa, Ria. Di pantai, gunung-gunung yang menggantung berwarna-warni dengan penutupnya yang menambah indah.“
Aku lekas mencubit pinggangnya. “Bukan gunung-gunung yang menggantung! Tapi gunung beneran, perbukitan begitu.“ Kadang ia sekonyol ini.
Ia terkekeh geli, kemudian langsung merangkulku untuk duduk di bangku yang kosong. Meskipun banyak yang mengemban pendidikan di sini, tapi tempatnya sangat luas dan banyak. Jadi tidak begitu sesak terasa, kita tetap bisa untuk duduk di kantin atau masuk ke perpustakaan.
“Aku mau es krim, Fonso. Coba carikan buku menu, aku kelaparan.“ Karena di meja ini, tidak terdapat buku menu.
Aku mengalihkan perhatianku sejenak dari memperhatikannya, aku yakin Alfonso tak mungkin hilang di kantin.
Namun, tak lama ia duduk di samping kiriku. Perasaan, ia tadi melipir ke arah bagian kanan dan ia pun duduk sebelah kananku.
“Mana buku menunya, Fonso? Apa ada roti panggang di sini? Aku ingin makan roti panggang dengan toping es krim di tengahnya. Bisa tak ya kantin ini mengusahakan?“ Aku masih fokus pada ponselku.
Eh, kenapa Alfonso tidak lagi cerewet?
Tiba-tiba, ada seorang yang datang dan duduk di sebelah kananku. Reflek aku menoleh, karena aku kira ada orang lain yang ikut gabung di meja ini.
Astaga.
“Fonso?“ Aku terheran-heran, karena yang baru duduk di samping kananku adalah Alfonso.
“Hm? Ini buku menunya.“ Ia memberikan buku itu dengan reaksi datar.
Hei, siapa di samping kiriku?
__ADS_1
Aku lekas menoleh, dengan ia pun tengah memperhatikan wajahku dari samping. Napasku langsung sesak, dengan aku yang begitu panik melihat keberadaannya yang sedekat ini.
“Di sini tak ada roti panggang, ada juga hotd*g. Ayo kita beli di luar kantin aja?“ Ia mengulurkan tangan kanannya ke arahku.
Kenapa bang Ken ada di sini? Kok aroma tubuhnya tidak familiar di hidungku?
Aku tiba-tiba melakukan hal konyol. Aku mendengus bau badanku sendiri, ternyata tidak tercium juga. Aku langsung membuka sling bag kecil yang aku gunakan sebagai penyimpanan uang dan ponselku. Aku mengambil minyak aromaterapi roll on dari dalam sana. Terkejut juga aku saat ini, karena rupanya aku tidak bisa mencium bau minyak aromaterapi itu.
Memang saat hamil besar, penciuman bisa bermasalah ya? Tapi aku baru ngeh sekarang.
“Ada keluhan apa? Biar Abang cek.“
Aku langsung merapatkan diri ke Alfonso. Lihatlah, laki-laki muda ini malah fokus membuka-buka buku menu. Ia tidak kaget dengan keberadaan bang Ken, yang duduk di samping kiriku.
“Fonso, kenapa mulut kau tak kasih tau aku?“ Aku memberi tekanan pada nada bicaraku.
“Aku udah ada bilang, Ria. Kau tengoklah arah jam empat masa di sana, tapi kau bilang tak ada apa-apa. Aku yakin, dia udah di situ dari kau nunggu aku. Kau tadi nunggu aku keluar kelas kan?“ Ia berbicara pelan, dengan fokus pada buku menu.
“Iya.“ Suaraku melemah.
Kenapa mataku tidak bisa memfilter keberadaan bang Ken? Aduh, ia sudah seperti makhluk astral yang keberadaannya tidak diketahui olehku.
“Ya udah, salah kau sendiri. Kau nih, makin dijauhi, malah nunggu aku selesai kelas. Kalau orang sini, mereka tak direspon dalam chat atau panggilan telepon. Mereka semua bakal jaga jarak, karena selain gengsi mereka besar, mereka pun tidak terlalu menekankan seseorang untuk tetap jadi teman kita.“ Alfonso berbicara amat pelan.
“Di negara aku tak ada aturan berteman, Fonso. Bebas-bebas aja, jadi jangan heran kalau aku sering begini.“ Aku tidak peduli penjelasan Alfonso.
“Tak heran juga, hanya aneh. Kau mau aku pindah meja tak?“
Jelas, aku langsung rapat dan menggandeng tangannya. Aku takut, jika satu meja dengan bang Ken. Apa juga yang ingin dia bicarakan saat ini?
“Ria, jangan buat posisi aku layaknya kekasih dari perempuan bersuami. Kau kan tau, kita cuma berteman dan aku tak ada ketertarikan khusus sama kau.“
Perempuan bersuami?
Alfonso tahu jika aku bersuami?
...****************...
__ADS_1