Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD168. Mengatur waktu


__ADS_3

"Kita tuh kalau ngobrol kek percuma." Ia menggebrak meja teras ini. 


Kirei sampai kaget dan sulit menyeimbangkan kepalanya. Semua mata mereka terarah pada kami di teras, bahkan Gavin langsung memberikan Cali pada ayahnya. Kemudian, ia menggoes sepedanya ke arah teras dan turun. Aku kira, ia ingin masuk ke dalam rumah. Ternyata, ia malah membawa Kirei tanpa izin apapun. 


"Main sama kak Cali. Ajarin kak Cali ngomong ya?" Gavin berjalan ke arah ayahnya dan saudaranya. 


Anak kembar itu, Cala dan Cali malah berebut teh manis kakeknya. Suaranya sampai nyaring sekali, hingga akhirnya teh itu tumpah. 


"Ayo pulang yuk? Adek tuh kalau main rewel nih." Bang Givan mengangkut kedua anaknya itu. 


"Ikut sih, Bang." Gavin pergi mengekori kakaknya dengan membawa Kirei. 


Papah Adi tetap di halaman, beliau menyibukan diri dengan membuang beberapa tumbuhan liar. Sedangkan bang Ken, ia masih duduk di sini. 


Ia mengacaukan suasana damai yang ada. 


"Tau percuma, kenapa tetap buat kek gini. Untuk apa ajak ngobrol, kalau cuma harus dengar kehendak Abang aja? Kesannya, aku ini kek harus mengikuti rencana egois Abang itu. Hala pun demikian, ia seolah menjadi pemain cadangan di sini. Aku tuh kasian sama diri aku sendiri, aku kasian sama Hala. Abang tak pernah berpikir, gimana perasaan kita. Memang Abang siapa? Kenapa aku harus memperebutkan Abang? Kasian Hala, seandainya memang harus terbuang. Kata aku sih, udah aja Abang lanjut sama Hala. Jangan peduliin aku, lanjutkan aja rencana Abang ini daripada banyak hati yang terluka." Aku berbicara padanya, tapi aku memperhatikan aktivitas papah Adi. Begitu sulit untuk memandangnya, dengan segala unek-unek yang bersemayam di hati. Khawatirnya, aku malah cengeng. 


"Kau jangan sombong, Ria! Abang egois dari mana? Abang ini ngetawain kau. Makanya Abang bilang, kita kembali dan Abang antar Hala. Itu buktinya Abang utamakan kau dan mementingkan kau. Kalau Abang egois, Abang langsung milih tanpa minta keputusan kau. Bukan Hala pemain cadangan juga, tapi ini pilihan dia juga."


Hah? Hala mengambil pilihan seperti itu? Apa ia tidak sadar, jika dirinya seperti pemain cadangan dengan pilihan seperti itu? Di mana otaknya? Ke mana pemikirannya? 


"Udah, begini aja…. Abang datang lagi minggu depan, untuk bahas masalah ini. Silahkan berpikir matang-matang, untuk kita dan untuk anak kita. Abang harus kerja, Abang harus urus pabrik kopi kita dan rumah sakit di Malaysia."


Kita, kita, kita! 


Aku hanya diam, aku tak ingin memandang wajahnya karena akan membuatku cengeng. Kok ada ya, orang setua dia tapi memiliki pemikiran seperti itu? Ia ini merasa apa, sampai ia seolah menyombongkan dirinya itu? 


"Abang pamit." Ia mengulurkan tangannya. 

__ADS_1


Aku hanya berjabat tangan biasa, aku tak berniat untuk berpelukan atau mencium tangannya. Aku pun, membuang wajahku kala ia ada di hadapanku untuk berjabat tangan. 


Aku langsung masuk begitu saja ke dalam rumah, kemudian menuju ke kamar. Aku tidak ingin mengetahui kepergiannya itu. 


Hadeh, kasurku menjadi basah karena handuk ini. Ini handukku, yang basah karena dipakai Gavin sepertinya. Aku ingin menangis saja, jika handukku dipakai orang lain seperti ini. Menurutku, itu adalah hal yang jorok. 


Apalagi ini? Pakaian dalam laki-laki? Celana jeans laki-laki? Aduh, stressnya aku ini melihat kamar yang berserakan baju kotor sepeti ini. 


"Mah…." Gondok sekali rasanya hati ini. 


Aku berjalan cepat keluar kamar, untuk mengadukan keadaan kamarku. Mamah langsung terlihat, dengan menaikan sebelah alisnya. 


"Apa, Ria?" tanyanya kemudian. 


"Mah, Gavin tuh salin di kamar aku, pakai handuk aku, baju kotornya berserakan di mana-mana. Itu kamar siapa sih, Mah? Aku jadi tak nyaman." Eh malah beliau langsung menepuk jidatnya. 


"Iya lupa, lepas Gavin punya anak tuh dia nempatin kamar itu. Ya udah, nanti Mamah bilangin. Kau di kamar itu aja, tempatin. Gavin sehari dua hari di sini, nanti pun dia ke Lampung lagi." Mamah Dinda tersenyum lebar dan mengusap bahuku. 


"Udah aku beresin, udah aku satukan sama pakaian kotor aku." Aku menunjuk kamar mandi dalam. 


"Oh, ya udah. Nanti kalau dia pulang, Mamah obrolin. Dia tak tau juga keknya, Mamah ya lupa juga." Mamah berjalan ke arah ruang keluarga dan duduk di sofa dengan menyalakan televisi. 


Aku ikut duduk di samping beliau, dengan menghela napasku beberapa kali. Hari pertama kerja yang banyak rintangan, begitu pula saat sudah di rumah. 


"Ken ngomong apa?" Mamah Dinda memainkan ponselnya juga. 


Aplikasi WhatsApp, yang menjadi mainannya sekarang. 


"Dia bilang minggu depan datang lagi, dia mau cek kerjaannya dulu." Aku bingung jika menceritakan dari awal. 

__ADS_1


"Hm, terus?" Mamah Dinda menoleh padaku sekilas, kemudian ia mengganti chanel televisi. 


"Dia bilang, mau tau keputusan aku karena dia tak bisa buang Hala." Eh, bagaimana sih? 


"Buang Hala?" Mamah Dinda menyentuh tanganku. 


Aku menoleh dan badanku berputar menghadapnya. "Katanya, kalau aku mau kembali, nanti Hala dia tinggalkan. Tapi, kalau aku tak mau kembali, dia balik sama Hala. Kasian tak sih dia ini, Mah? Dia kek dijadikan pemain cadangan. Herannya aku lagi, katanya itu pun keputusan Hala. Aneh betul kan, Mah?" Aku geleng-geleng kepala setelah menyelesaikan ceritaku ini. 


"Terus?" Mamah Dinda menyimakku, dengan pandangan terarah pada televisi. 


"Terus dia ada gebrak meja, sampai Kirei kaget dan kepalanya goyang-goyang gitu, kek hilang keseimbangan. Terus Kirei dibawa Gavin ke rumah bang Givan, karena Cala sama Cali berantem rebutan teh manis sampai tumpah akhirnya." Intinya kan, begitu. Memang cara pengungkapannya berbelit-belit saja. 


Mamah Dinda hanya tertawa kecil, dengan melirik kembali ke arah ponselnya. "Hala punya alasan sendiri, alasannya bisa tentang kehormatannya, atau tentang perasaannya. Kita malah berprasangka buruk, kalau Hala tak bilang sendiri."


"Bang Ken juga ada bilang, dia suka sama kedewasaan Hala. Kalau dilihat dari usia, Hala kan memang tak muda lagi. Mungkin kedewasaan yang berhubungan dengan pilihannya itu deh, Mah." Aku tidak cemburu juga, aku hanya heran karena aku kalah dua kali dengan pengasuh bayi. Rasanya, aku ingin menikah dengan anak juragan saja agar dia  laki-laki yang pernah menyepelekan aku sadar bahwa aku mampu mendapatkan laki-laki yang lebih dari mereka. 


"Kita atur waktu untuk minta Hala ke sini aja kah? Atau, kita ke sana aja sekalian jalan-jalan?" Mamah Dinda baru mengamatiku kali ini. Sejak tadi mengobrol, pandangannya ke mana-mana. Tapi, ia menyimak dengan baik. 


"Ya udah kita atur waktu aja. Gimana jadi, Mah? Aku baru berangkat kerja, susah kalau harus ke Hala. Sopannya kan siang, sedangkan aku siangnya kerja." Aku tak enak hati dengan bang Ghifar. 


"Ya udah, nanti kita minta Hala datang. Tapi kalau minta dia datang, otomatis kan kemungkinan dia mau datang ini sedikit. Untuk apa coba? Iya kan? Bukan untuk pekerjaan juga, dia pun tak pun kepentingan dengan kami. Dia pasti gengsi, masa harus datangi istrinya Ken." 


Benar juga, kemungkinan ia mau datang itu kecil. Buktinya, ia tetap tak melabrakku meski sudah tahu bahwa aku adalah istrinya bang Ken. 


Apa aku harus mengatur waktu benar-benar, agar bisa berkunjung ke Hala? Masa minggu depan, itu terlalu lama dan aku terlanjur penasaran. 


"Atau, gini aja…." Mamah Dinda menepuk punggung tanganku. 


"Gimana, Mah?" Aku menunggu penjabaran mamah Dinda. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2