
"Pura-pura dukung aja, Mah, Pah. Bilang aja, aku belum beres. Lagi pun, masa iddah aku juga tak jelas. Aku. Sih ngerasanya udah janda, udah kelewat masa iddah segala macam. Karena tuh, Mah. Dari aku hamil muda, sampai hamil tua kan dia tak ada tanggung jawab sama sekali, datang juga di hamil tua untuk nyaranin lahiran sesar karena itu anak orang, tak pantas lewat jalan lahir aku."
Tuh, kan? Setiap teringat malah cengeng.
"Ya memang, Ria. Tapi kau tau sendiri, Ken?" Helaan napas panjang papah Adi terdengar.
"Ya ditambah langsung bentrok kau geger nikah, pasti sulit dikontrol lagi. Ya udah, ya udah. Nanti Mamah ngomong ke anak Mamahnya. Daritadi pun udah diomongin, dianya selalu bilang coba dulu coba dulu aja. Mamah juga tak siap, baru pulang dia malah minta perempuan. Kocak betul ini anak." Mamah Dinda geleng-geleng kepala dan menunduk.
Mereka kalah dengan anak. Saking sayangnya pada anak, mereka mendukung saja keinginan anak.
"Aku pindah ke ibu aja deh, Mah. Takut Gavin nyeruduk aja." Sepertinya aman untukku dari serangan toel-toel Gavin.
"Terus Kirei diculik Ken, tak balik-balik lagi dia bawa anak kau. Pengen begitu?"
Loh? Kok mamah Dinda berbicara seperti itu?
"Kan kemarin aja aman aja, pas bang Ken berkunjung ke sini. Sebelum itu kan, Kirei sama ibu terus." Bahkan mereka duduk di depan kantor bang Ghavi.
"Karena tak langsung jeder. Dibuatlah orang-orang di sekitarnya percaya dulu kalau dia ini aman, barulah dia beraksi. Udah paham Mamah sepak terjang Ken, dia nunggu kita tak waspada." Mamah Dinda sendiri yang bilang begini, berarti bang Ken banyak minusnya ini.
"Iya, Dek. Di sini paling aman," tambah papah Adi kemudian.
"Ya biar ada jarak sama Gavin, Mah." Aku tak berniat menceritakan semua keisengan Gavin, karena aku akan malu sendiri. Ditambah dengan fakta, Gavin seperti itu karena aku mengawalinya dengan ketidaksengajaan
"Gimana ya, Bang?" Mamah Dinda menoleh ke arah suaminya.
"Nanti Gavin kita suruh pulang. Nanti kita bilang, Ria sama Ken belum beres, biar dia paham tuh." Papah Adi menggaruk kepalanya sendiri.
"Kek Gavin anak kecil. Dia berani minta, karena tau gimana cerita tentang Ken dan Ria." Mamah Dinda menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa.
"Ya terus gimana? Yang penting ada alasannya aja dulu." Papah Adi sampai menengadahkan kedua telapak tangannya.
"Nanti kalau datang itu bocah, aku pun mau ngomong deh. Maksudnya, biar dia dengar dari mulut aku sendiri." Aku memiliki ide seperti ini.
"Orangnya tersinggungan," ujar papah Adi.
Jangankan Gavin, bang Givan yang bukan keturunan asli darinya saja tersinggungan. Kan tersinggungan itu sifat bawaan dari papah Adi.
"Udah biarin aja dulu, yang penting kita yang waspada. Kita sampaikan ke Gavin, gimana hasil obrolan kita kali ini." Mamah Dinda langsung memandangku. "Terus, kau lanjut ngomong langsung sama Gavin."
__ADS_1
"Oke, Mah." Aku ingin laki-laki muda itu mengerti tentangku.
Hei, dia kocak sekali. Memintaku untuk ikut dengannya ke Lampung, untuk dijadikan istrinya. Lalu, ia langsung mengatakannya langsung pada orang tuanya lagi. Dia sepertinya sudah gila.
"Sana kau tidurkan Kirei dulu," pinta papah Adi.
"Ya, Pah." Aku berjalan ke kamar Mariam, sudah setengah jam Kirei ada di sana.
"Dadah, Tante. Adek Kirei bobo dulu." Aku mengajari tangan kanan Kirei untuk melambai.
"Iya, Cantik. Besok main lagi ya?" Mariam pun berdadah pada Kirei.
Kirei selalu tersenyum lebar. Dipanggil namanya saja, ia membalasnya dengan senyum lebar. Wataknya terlihat memang benar-benar ramah, wajahnya pun bersahabat. Terlihat riang gembira terus, nangis pun tidak lama.
Aku mulai merebahkan tubuh dengan menyusui Kirei. Tetap tidak ada perubahan, ASIku tetap tidak lancar padahal aku tidak tengah stress. Sepertinya, memang yang kuasa memberiku nikmat menyusui hanya sedikit.
"Hei, hei! Ada Rianya di dalam!" seru mamah Dinda terdengar sampai telingaku.
Ceklek.
"Aku cuma mau ganti baju." Gavin muncul dan langsung berjalan ke lemari.
Aku mendapat lemparan baju, tepat jatuh di wajahku. Bau khasnya kentara sekali, aku yakin baju ini tidak jatuh dari plafon.
Segera aku meliriknya, terlihat ia tersenyum usil dan mengancingi piyama tidurnya. Padahal, awalnya ia tidak selalu usil. Makin ke sini, makin menjadi saja.
Ia langsung mengenakan sarung, kemudian melepaskan celana jeansnya. Ia terlihat begitu mudah untuk salin saja. Hingga ia pun mengenakan celana setelan piyama tersebut di balik sarungnya.
"Apa liat-liat?!" Ia kembali keluar dari kamarku.
Aku yakin, baju kotornya berantakan di mana-mana. Memang pasti seperti itu, seperti sudah menjadi kebiasaannya yang tidak bisa dirubah.
"Apa, Mah?" Ia bertanya setelah keluar dan belum menutup kembali pintu kamarku.
"Sini duduk."
Setelah itu, pintu kamar ditutup. Mamah Dinda dan papah Adi pun berbicara dengan nada rendah, hanya terdengar seperti orang menggerutu saja dari tempatku. Aku yakin, mereka tidak kurang-kurangnya menasehati Gavin. Aku yakin, mamah Dinda pasti lelah mulut mencari kata yang pas untuk enaknya itu.
Sampai aku tertidur, aku tidak lagi mendengar gerutuan obrolan itu. Sayangnya, aku seperti memiliki kebiasaan buruk. Aku selalu terbangun di tengah malam, bertepatan sekali dengan adanya orang yang tengah mengancingi kemeja tidur berbahan tipis ini.
__ADS_1
"Heh!" Aku menepis tangan Gavin yang bekerja mengancingi kemejaku.
Ditambah, aku melepaskan cup pembungkus ASI lagi. Pasti, terpampang jelas wadah pabrik ASIku. Ini.
"Kenapa tak pernah mau dengar untuk kunci pintu? Aku di dalam aja kah? Biar aku yang kuncikan pintunya?" Ia duduk di tepian ranjang di sisi aku tertidur.
Makin ke sini, ia makin berani.
"Aku ketiduran." Aku menarik selimutku, untuk menutupi dadaku.
Ditambah lagi, kemeja ini warna putih. Tadi saat mengobrol dengan mamah Dinda dan papah Adi kan, dadaku tertutup dengan kerudung. Sekarang kan, aku tidak berkerudung sama sekali.
"Dibiasakan ketiduran itu sih, dada kau ke mana-mana!" Mata sayunya membius keadaan.
"Kan di kamar sendiri juga." Aku makin rapat mendekat ke arah Kirei.
Aku takut dengan Gavin. Badannya saja, memang pasti mengalahkanku. Ia benar-benar besar dengan dada lebar, meski tidak sebesar bang Ken.
"Kan aku sering masuk. Kau tak bisa jaga diri, di tengah gempuran n**** yang bikin berdiri sendiri." Ia bangkit dari tepian ranjangku.
Aku malah kecewa ia menjauh.
Hufttttt, dasar memangnya aku ini gatal rupanya. Aku berharap ia mencondongkan punggungnya ke arah wajahku, atau tangannya bergerak melakukan sesuatu. Dasar, pikiran kotorku ingin sekali dilecehkan olehnya.
Aku sekarang seolah-olah benar-benar menjadi munafik. Di depan orang tuanya, aku menolak. Tapi jika dihadapkan dengannya, aku ingin memilikinya.
Aku tidak tahu ini cinta, sayang, naksir, atau hanya tertarik semata karena n****. Tapi yang jelas, egoku pun terkadang ingin mengusap dada lebarnya.
"Nih, tisu nih." Gavin memberikan aku tisu, yang ia ambil dari meja samping ranjang.
"Gayanya nolak! Ngeces tuh kan?" Ia mengusap pojok bibirku.
Sialan ini laki-laki bocah!
Aku reflek mencubitnya. Tapi karena ia tengah berjongkok mengusap bibirku, aku tidak sengaja yang aku cubit adalah miliknya. Awalnya, aku berniat mencubit perutnya saja.
Matanya melebar, sesaat langsung berganti dengan senyum miringnya. Aku buat kesalahan lagi sepertinya.
Aku mulai tegang di sini.
__ADS_1
...****************...