
"Masa nikah sama aku, cuma untuk bercandaan aja?" sindirku langsung.
"Kau pengen rumah tangga yang kek kemarin memang? Aku nyaman tanpa harus dibuat-buat dewasa kek kemarin, aku plong bercanda bergurau sama kau. Aku suka apa adanya begini, aku suka bercanda bergurau kek biasanya begitu. Aku sama Ajeng coba biar jadi laki-laki yang lebih dewasa terus, karena dia pernah nolak aku dengan alasan aku tak nampak dewasa. Memaksakan diri agar nampak dewasa itu, menurut aku seperti bukan diri aku sendiri. Aku capek pura-pura jadi orang lain. Masalah bercandaan, aku memangnya begini orangnya. Jangankan kau, anak aku aja rasanya pengen aku bercandain terus, sayangnya Cali anaknya gampang nangisan." Ia meregangkan punggungnya saat mengatakan hal itu.
Oh, jadi ia pernah merasakan tekanan dalam rumah tangga?
"Aku pengen bebas bergerak waktu kemarin, tapi suami punya aturan. Nanti sama kau pasti diatur lagi." Aku memandang lurus ke depan, aku masih berada di dalam mobilnya.
"Bebas kek mana?"
"Kek cari hiburan berdua, begadang, makan jam berapa aja. Kemarin, harus begini begitu. Tidur tepat waktu, ada aturan untuk ini itu. Pokoknya aku merasa tertekan betul jadi istri dia. Perasaan, papah Adi sama mamah Dinda pun tak begitu. Aku pernah tau mereka begadang bersama dengan alasan tak jelas, dini hari makan, bahkan sampai sholat diqodo. Memang tak boleh sampai qodo, tapi mundur satu dua menit kan tak masalah. Itu sih, adzan belum selesai udah nyuruh sholat. Padahal, dirinya tuh tak. Mengajarkan kebaikan, tapi tak bisa jadi panutan dan contoh yang baik. Dia bebas, aku dikurung dengan fasilitas. Dia alasan kerja ini itu, nyatanya keluyuran ke club malam sama mantan istrinya." Aku murung jika sudah ingat hal itu.
"Ya iya, aku juga mau selanjutnya itu tak mau dibuat-buat. Capek pura-pura dewasa, karena aku masih masa pertumbuhan." Detik itu juga, aku langsung menoleh padanya. Pernyataan macam apa, ia mengaku dirinya masih masa pertumbuhan.
"Pertumbuhan apanya?!" Aku tidak habis pikir dengannya.
Ia tertawa geli. "Ya maksudnya tuh, kek dipaksakan gitu loh. Harus ngalah terus dari dia, harus sok bijak, padahal di hati ini ngedumel. Mana tak ada kawan curhat aku tuh, berat badan sampai naik turun terus tergantung pikiran. Setelah ini, aku pengen pasangan aku tau dan paham bahwa aku memang orangnya kek gini. Aku tak mau dibuat-buat untuk sok-sokan jadi laki-laki tipe dia, karena aku merasa tak nyaman." Ia mencolek pinggangku setelah mengakhiri kalimatnya.
Iseng!
"Aku ngerti sih." Aku paham deritanya.
"Aku berangkat ya?" Ia menyunggingkan senyum dan mencolek dadaku lagi.
Haduh…. Sepertinya dadaku akan kendor, karena akan terus ditoel-toel olehnya.
"He'em, aku tak dikasih uang sangu kah? Tadi udah minta cium." Aku tak benar-benar serius meminta uang, aku hanya bercanda.
Eh, ia benar-benar mengeluarkan dompetnya. "Sepuluh ribu kah?" Ia menarik uang berwarna itu dari dalam dompetnya.
Kocak.
Aku tertawa lepas, kemudian menarik lengannya dan aku memeluknya. Ia pun tertawa renyah, sampai tubuhnya bergoyang.
"Nih, ambil sendiri." Ia membuka mulut dompetnya.
"Tak lah, ada aku. Gurau aja, Vin." Aku melepaskan pelukanku pada lengannya.
__ADS_1
Aku khawatir bertambah nyaman.
"Pegang ajalah, pel**** aja dibayar kok. Masa, aku colek-colek gratis aja. Nih ambil, pemanasan biar biasa lagi untuk nafkahin perempuan." Ia mengeluarkan seluruh uang ada di dompetnya itu.
Aku tahu, karena jelas la lakukan di depan mataku.
"Masa aku disamakan kek pel****?" Eh, tanganku tetap mengambil alih uangnya.
"Simbiosis mutualisme." Ia menaruh dompet kulit yang berwarna coklat itu di dasbor mobil.
"Turun gih, aku mau langsung ke Lampung. Nanti aku kabarin kalau sampai sana." Ia mengecek ponselnya.
"Berapa jam perjalanan?" Aku melipat uang darinya.
"Empat puluh tiga jam." Ia menaruh ponselnya, kemudian memasang sabuk pengamannya. Sejak tadi, ia tidak menggunakan sabuk pengaman.
"Kenapa tak pakai pesawat aja?" Aku merasa masih betah di dalam sini dengannya.
"Ada keperluan tadi sih, singgah-singgah dulu. Mau tak mau, ya baliknya bawa mobil lagi. Lagi fokus untuk ladang, jadi tak punya pikiran untuk beli mobil di sana." Ia sudah menyalakan mesin mobilnya lagi.
"Ya udah, aku turun ya?" Aku membuka pintu mobil ini.
"He'em, aku berangkat dulu. Tak usah ada drama dekati Cali, alami aja. Aku tak suka kau jadi orang lain." Pesan yang membagongkan.
"Oke, oke." Aku turun perlahan dari mobil yang lumayan tinggi menurutku.
Ia tersenyum lebar, saat aku mulai menutup pintu mobilnya. Aku pun tetap berdiri di tempatku, sampai mobil itu melaju pergi.
Gavin anak baik-baik. Sayangnya, ia lebih muda dariku saja.
Aku masuk kembali ke dalam pabrik pengolahan plus kantornya juga itu. Kemudian, aku bergegas sholat dan bekerja kembali. Tidak ada pekerjaan, aku mengerjakan tugas untuk esok.
Bergantian saja. Duda muda pergi, duda tua datang. Ia tersenyum manis, saat aku baru turun dari mobilku.
"Kirei mana, Bang?" Aku berjalan ke teras rumah.
"Lagi mandi sama nenek." Bang Ken duduk di kursi teras.
__ADS_1
"Aku bersih-bersih dulu, Bang." Aku meninggalkannya sendirian di teras.
"Iya." Aku sempat melihatnya bermain ponsel, saat aku tinggalkan ia sendirian.
Anakku tidak suka air, ia menangis lepas ketika dimandikan. Selalu seperti itu, padahal mandi juga air hangat.
"Mah, aku mandi dulu ya?" Aku masuk ke dalam shower box. Mamah Dinda pun berada di dalam kamar mandi kamarku juga, tapi ada sekat untuk toilet, shower, juga wastafel sikat gigi. Mamah Dinda di ruang wastafel, dengan bak mandi bayi portabel.
"Jangan lama-lama, Dek. Ada Ken kan?" Mamah Dinda terlihat tetap tenang, meski Kirei seperti akan dimasak tersebut.
Shower box ini berlapis stiker buram dari lutut sampai dada, jadi tidak terlihat dari luar bagaimana keadaan tubuhku di dalam shower box ini.
"Iya, Mah." Aku mempercepat ritual mandiku.
Aku sudah siap, Kirei pun sudah cantik. Ia langsung menyusu, dari lelahnya menangis karena ritual mandinya itu. Tentu apron menjadi penyelamatku lagi, untuk mendatangi ayahnya Kirei yang datang berkunjung kembali.
Semoga, ia tidak banyak mengulur waktu lagi. Bukan karena adanya Gavin, membuatku lebih ikhlas melepas bang Ken. Hanya saja, aku sudah mengerti sekarang jika Hala kekeh untuk mendapatkan laki-laki ini. Meski dalam konsep bicaranya, ia mengatakan menerima bang Ken memilih siapa. Tapi ia tidak mau dirinya meninggalkan bang Ken.
Bismillah, semoga ada hasil dari obrolan kali ini.
"Ria, ini uang. Untuk kebutuhan kau, untuk kebutuhan Kirei." Uang tersebut dalam amplop coklat.
Dinilai dari tebalnya amplop tersebut, sepertinya hanya kisaran jutaan. Bukan aku memandang nilainya, tapi aku tidak mengerti maksudnya.
"Aku tak boleh untuk nerima uang. Kalau Abang mau kasih, Abang kasih barang aja." Aku mendapat pesan itu dari mamah Dinda dan papah Adi.
Ia menghela napasnya. "Abang tak tau apa yang kau butuhkan." Ia memandang lurus ke depan.
"Ya untuk Kirei aja berarti. Lagian kenapa sih kasih uang? Kan udah lama juga tak nafkahin? Sekarang sih, udah tak ada hak lagi." Aku memandangnya dari samping.
Aku melihat jelas, kala urat leher itu mengencang dengan sesaat. Sedikit-sedikit emosi, sedikit-sedikit mau ngamuk.
Hmmm, mau apalagi dia? Karena biasanya pun seperti itu.
Lagipula, apa aku salah berbicara? Ke mana nafkahnya selama aku mengandung? Untung saja, abang iparku orang kaya, kakak seibuku orang yang royal. Jika tidak, aku mungkin sudah kelaparan dan terlantar di sana.
...****************...
__ADS_1