Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD199. Rencana OYO


__ADS_3

"Ya, Mbak." Aku mengangkat panggilan telepon dari mbak Canda. 


"Kata mas Givan, Kirei udah dijemput belum?" Disuruh suaminya ternyata. 


"Udah, Mbak. Ini udah di ruko, Kirei merem disusuin tuh." Aku melirik anak perempuan yang tertidur dengan mulut terbuka ini. 


Wajah persis ayahnya, tapi ayahnya tak bisa berubah meski memiliki keturunan yang mirip dengannya. 


"Oke." Panggilan telepon langsung terputus. 


Sesingkat itu, karena mbak Canda hanya disuruh suaminya mencari informasi. Bang Givan masih terlihat seperti itu saja pada bang Ken, kapan mereka bisa akrab seperti dulu lagi? 


Gara-gara aku, tali persaudaraan mereka jadi hancur. Sekarang aku sudah tidak bersama bang Ken lagi, akankah tali persaudaraan mereka terjalin kembali? 


Drttt….


[Riut, pilih paket dulu. Kenapa pulang?] pesan itu dari ayang Apin. 


[Paket apa?] balasku cepat. 


Aku meletakan Kirei di ranjang dengan perlahan. Kemudian, aku menepuk-nepuk pahanya pelan agar ia nyaman kembali. 


Sebuah foto masuk dalam room chatku. Isinya seperti majalah, dengan gambar-gambar pasangan pengantin dan foto parcel hantaran. 


[Aku ke sana deh. Udah bilang papah tentang minta tanggal pasti, papah baru pergi ke tempat kyai. Nanti kalau udah dapat tanggalnya, papah sama mamah datang ke ibu untuk itikad baiknya.]


[Bentar, aku salin dulu. Aku nanti ke tempat kau.]


Dua pesan tersebut masuk dengan cepat. Seperti melamar orang lain, ada itikad baik datang juga. Padahal, bisa saja ibu yang diminta datang dengan membawa cucunya seperti biasa. Tapi ya sudahlah, mungkin itu sudah ketentuan mereka. 


Aku ingin membereskan kamar atas, karena aku mulai bekerja lagi dan sering membawa pulang banyak berkas. Lagi pun, aku harus memiliki kamar lebih luas untuk ruang gerakku bersama suamiku kelak. Memang pasti ikut mertua, atau ikut ia di Lampung. Tapi setidaknya aku harus memiliki kamar, untuk sesekali kita menginap di rumah ibu. 


Kamar yang aku tempati ini cukup sempit, ukurannya kurang dari tiga kali tiga meter. Mungkin, hanya sekitar dua kali tiga meter saja. Tapi memang ada walk in closet mini dan kamar mandi dalam juga. 

__ADS_1


Tok, tok, tok….


Aku menoleh ke arah pintu kamar. Gavin sudah di sana, ia tersenyum dengan menunjukkan katalog tersebut. 


"Di rumah masih ada tamu kah?" Aku menata bantal untuk melindungi Kirei, sebelum akhirnya aku menemui Gavin di ruang TV yang berada di sebelah kamarku. 


"Masih." Gavin menaruh katalog tersebut di meja, kemudian ia menaruh topinya. 


Dekat saja ia memakai topi, sedang cosplay jadi apa? 


"Hujan, Bray. Gerimisnya besar, aku bisa pusing kalau kepala aku kena air hujan." Ia duduk di sebelahku. 


Di sini tidak ada jendela, jadi aku tidak tahu jika di luar tengah hujan gerimis. Jika hujan, ibu pasti betah di rumah mbak Canda. Ibu punya ketakutan terhadap hujan, jadi ia selalu ke mbak Canda jika hujan. Meskipun, ada aku di rumah. Ibu selalu mencari tempat yang lebih ramai, untuk menemani suasana hujan itu. Tapi jika hujannya di malam hari, tak ada yang bisa ibu lakukan selain bertahan di bawah selimut. 


Karena apa ibu seperti itu? Karena suaminya meninggal di tengah hujan. Ya, ayah kandungku. Itu menurut cerita versi ibu. 


"Kenapa tak pakai payung?" Aku mulai membuka halaman katalog ini. 


"Tak apa sih." Ia menyalakan televisi. 


"Aku ingin satu pesta dengan beberapa pakaian adat." Aku membuka kembali lembar selanjutnya. 


"Setiap pergantian baju, dikenal charge lagi. Tergantung rumitnya pakaian, tuh dibawanya tertera harga charge-nya. Contohnya baju adat kita ini, kena charge tujuh ratus. Terus, gaun terbuka ini kena charge tiga ratus. Misal kau ambil paket yang dua puluh juta, kau ganti baju dua kali gaun terbuka sama baju adat, berarti tambah satu juga. Semacam biaya tambahan, untuk bayar jasa gantikan bajunya." Gavin menjelaskan dengan menunjuk tulisan kecil di bawah gambar. 


Begitu ya konsep WO ini? 


"Kau mampu, Vin?" Aku mulai membuka halaman selanjutnya. 


"Mampu, tapi kan resepsi cuma empat jam. Rencana, aku booking gedung di desa itu. Tak terlalu besar sekali, enam belas kali delapan meter. Yang biasa dijadikan tempat rapat, tempat musyawarah tuh. Kau pernah masuk tak, waktu bang Givan sidang musyawarah di sana?" Terpaan nafas bau odol, terasa di pipi bagian kananku. 


"Loh? Kenapa sebentar aja resepsinya?" Aku kaget mendengar waktu yang ditetapkan Gavin tersebut. 


"Kan mau malam pertama, memang kau mau salam-salaman terus? Akad katanya jam sebelas, jadi kita tak perlu bangun dini hari untuk make up. Abis akad, rehat Dzuhur. Terus, jam satu siang resepsi sampai jam empat. Sore, mandi sholat, bukain amplop. Terus OTW deh di OYO terdekat." Ia menaik turunkan alisnya dan tersenyum mesum. 

__ADS_1


"Vin, kau lupa aku punya anak." Aku meliriknya sinis. 


"Anak kau bisa ditinggal kerja seharian, masa ditinggal semalam tak bisa? Semalam aja, besok-besoknya rutinitas biasa. Kau biasa haid pertengahan bulan, awal atau akhir?" Segala sampai sudah menanyakan waktu haid. 


"Pertengahan bulan," jawabku dengan membuka kembali halaman katalog selanjutnya. 


"Kita nikah di akhir bulan, aman aja kan ke OYO? Semalam aja, Riut. Aku minta waktunya semalam aja, besoknya terserah kau mau langsung pulang ke rumah, atau belanja dulu lepas dari OYO." Sepertinya, sudah terencana matang di otaknya. 


"Tapi tak enak tuh." Aku mengusap dadaku sendiri. Apa yang orang bilang? Ibu dan ayahnya sedang bulan madu begitu? Takutnya yang dititipkan Kirei malah menggerutu di belakangku. 


"Memang kau pernah ngerasain batang aku? Main tak enak aja!" Nada bicaranya seperti is tersinggung kembali. 


"Bukan batang kaunya, tapi tak enak hati mau nitipkan Kirei untuk kita ke OYO itu." Ia langsung salah makna saja. Atau, kalimatku yang memang ambigu? 


"Enak aja, aku udah ngomong ke mamah. Kirei juga bangun malam cuma sekali, sekitar jam satu malaman kan? Kata mamah oke aja, tinggal pergi aja."


Serius? Ia mengatakan rencana mesumnya pada mamah Dinda? 


"Malu lah aku, masa kau bilang begitu ke mamah?!" Aku menutupi wajahku sendiri. 


Ya ampun, mau ditaruh di mana mukaku ini? 


"Memang kenapa? Waktu aku kecil, aku sering dititipkan ke ipar masa mamah dan papah tidur di luar. Wajar kali suami istri sesekali cari suasana baru di OYO. Yang malu itu, berzina, terencana, diketahui orang tua juga." Ia menepuk bahuku dan tertawa geli. 


Benar juga sih. 


Tapi, apa coba pandangan mereka ketika kami pulang dari OYO? Ria, mana videonya? Begitu kah? Atau, bagi linknya dong? Kan malu sekali aku ini pasti. 


"Kita mau mesum, terus kebaca orang tua. Ya mestilah malu." Tangan kananku bergerak untuk mencubit perutnya. 


Ia langsung menahan tanganku, kemudian membelokkannya ke bawah. Mataku melebar seketika, kala terpegang benda yang seperti balon diisi air tersebut. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2