
"Ria…. Aku mau minta maaf." Tatapannya dalam sekali.
"Perihal apa?" Aku menaruh air mineral kemasan gelas yang sudah tinggal setengah di dekatku.
"Tentang yang kemarin. Aku sadar, aku terlalu menyakiti kau. Tapi masa itu, aku tak sadar udah nyakitin kau. Maaf udah buat kau jadi kek gini, maaf udah buat luka." Matanya langsung merah.
"Iya, aku juga minta maaf ya?" Aku tidak mau terlalu banyak drama.
Lebih-lebih, sampai dilihat oleh Gavin. Ia pencemburu berat, meski tak diakui oleh mulutnya sendiri.
"Minta do'anya, semoga anak aku sehat terus sampai lahir ke dunia." Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.
__ADS_1
"Iya, Bang. Aamiin." Aku mengangguk beberapa kali.
"Sekarang memang keadaannya gimana?" tanya mbak Canda, dengan menepuk pundak bang Ken.
"Ya kalau lahir, harus dilakukan operasi untuk jantungnya." Bang Ken meraup wajahnya sendiri.
"Terus gimana keadaan kak Riska?" tanya mbak Canda kembali.
"Naik turun terus. Besok, kami berangkat ke Malaysia. Di rumah sakit Abang, alat-alatnya cukup lengkap untuk tindakan yang akan dilakukan untuk bayi kami dan Riska nanti." Ia tertunduk menatap kakinya sendiri.
"Semua ada hikmahnya ya, Dek?" Bang Ken memandang mbak Canda sekilas.
__ADS_1
"Iya, ada hikmahnya. Mas Givan benar-benar insaf, benar-benar nyadarin kesalahannya, dia pun udah bisa jadi lebih baik lagi. Karena rasa sakit kemarin pun, aku jadi lebih-lebih lagi memberikan kasih sayang aku ke anak-anak. Karena aku dibuat sadar sesadar-sadarnya, biar tak cuma hamil dan melahirkan mereka aja gitu. Aku harus lebih ekstra sayang ke anak-anak, karena kemarin aku lepasin mereka sama pengasuh aja. Makanya sekarang, aku jadi rolling ajak mereka main, ngobrol. Jadi tak tentang ajaran agama dan nasehat aja, aku ajak mereka main dan bergurau juga, biar mereka makin merasa kalau Biyung ini bukan cuma guru agama mereka, biar mereka benar-benar merasa bahwa Biyung itu ibu kandung mereka juga." Kakakku yang polos dan lugu bisa memberikan ungkapan yang berarti dalam juga.
"Kau ambil positifnya, karena kau orang baik, Canda. Kalau kau di posisi Abang, pasti pikiran kau ke mana-mana." Bang Ken memperhatikan mbak Canda sejak bercerita tadi.
"Masalahnya gini." Mbak Canda membuka kedua telapak tangannya. "Misalkan kita cuma punya beras satu genggam. Eh ternyata, rezeki segenggam ini mau ditanak tapi malah jadi bubur. Terus mau gimana coba? Mau dibuang? Ya kita namanya tidak mensyukuri dong? Udah punya beras cuma segenggam, dimasak malah jadi bubur, eh malah dibuang, sedangkan perut kita lapar dan butuh asupan. Gimana dong jalan keluarnya? Ya kita variasikan lauk yang pas, untuk makan bubur tersebut. Rasanya kurang sedap kan, kalau makan bubur sama gorengan tempe? Atau, cuma sama garam yang diseduh pakai air hangat aja? Jadi gimana kalau makan bubur sama sop ayam? Opor? Atau masakan kuah lainnya yang cocok disandingkan dengan bubur? Tetap terasa nikmat kan? Meski kita harus menambah kocek lebih, untuk lauk yang enak-enak itu. Bisa aja kita buang bubur tersebut, tapi apa tak sayang? Bisanya kita tanak nasi satu genggam, tapi malah jadi bubur kan, karena perbuatan kita sendiri yang mungkin tak hati-hati ngasih airnya, jadi airnya kebanyakan. Makanya, kata kyai aku dulu di pondok pesantren. Nasi sudah menjadi bubur, tinggal tambahkan suwiran ayam, kacang, daun bawang, kuah kuning dan kecap aja, biar jadi bubur ayam. Di samping mengajarkan jangan mubazir makanan, dari nasehat yang terdengar lucu itu kita bisa untuk belajar untuk mensyukuri apa yang kita miliki. Masih untung kan bisa makan meski bubur? Daripada harus ceker-ceker tempat sampah di jalanan dulu, untuk dapat nasi bungkus sisa?"
Aku menyimak dengan seksama, nasehat yang mudah dipahami dan masuk ke otak ini. Ternyata ini buah dari hasil jerih payah ibu yang dikirimkan ke Jawa, untuk biaya pendidikan mbak Canda ini? Sayangnya, jarang digunakan. Nasehat yang begini, muncul kala waktu tertentu saja.
"Tapi ini bukan tentang makanan kan, Canda?" Bang Ken sampai menahan rahangnya untuk tetap menoleh pada mbak Canda.
"Tergantung permasalahan saat ini. Kalau ekonomi, ya tentang rezeki yang didapat hari ini. Kalau masalahnya kek Abang, ya kita kupas lagi di sini biar Abang ngerti. Maaf-maaf, kalau penataran aku kurang baik. Gini deh…. Bayi yang dikandung kak Riska sekarang, diibaratkan segenggam beras yang terlanjur jadi bubur. Bisanya jadi bubur, karena kebanyakan air, yang artinya kita sendiri yang salah karena tak hati-hati masukan airnya. Kandungan kak Riska yang seperti ini, bisa jadi karena perbuatan Abang yang tak hati-hati masa sebelum kak Riska mengandung atau masa kandungan kak Riska mengandung muda. Terus gimana nih kedepannya? Bayi Abang lahir, ibarat bubur hangat yang masih di dalam panci. Abang tak mungkin kan makan buburnya aja? Yang artinya, Abang tak mungkin kan biarkan bayi Abang begitu aja tanpa pengobatan atau penanganan khusus? Terus Abang cari lauk yang enak, untuk pendamping makan bubur ini. Sama halnya, kek Abang cari pengobatan terbaik, penanganan terbaik, pola asuh yang baik untuk anak Abang ini. Makan bubur tersebut jadinya enak dan nikmat, meski tak sekenyang makan nasi kan? Sama halnya dengan rasa bahagia Abang yang melihat anak Abang sehat, dengan semua usaha Abang dan perjuangan Abang kasih yang terbaik untuk anak Abang itu. Meski begitu, Abang harus tetap bersyukur karena memiliki segenggam beras yang disamakan dengan anak istimewa itu. Daripada Abang ceker-ceker tempat sampah di jalan nyari sebungkus nasi sisa, yang tak tau higienisnya, cara pembuatannya dan pengolahannya, hingga nanti masuk ke perut Abang itu entah buat diare atau tak. Karena jelas anak Abang dan keikhlasan Abang mengasuhnya dan mendidiknya dengan agama kan, akan jadi pahala baik di akhirat kelak. Begitu loh, BESTie." Mbak Canda merangkul pundak bang Ken, ia tersenyum lebar dan menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Mbakku memang the best.
...****************...