
“Boleh duduk di sini? Saya tak kebagian tempat,” ujar seorang pemuda, yang datang dengan pakaian yang cukup rapi.
“Oh, ya. Silahkan.“ Aku menggeser posisi dudukku.
Bangku yang aku duduki adalah bangku panjang. Seperti bangku yang berada di tukang siomay, atau tukang bakso keliling.
“Mie Aceh pedas tak ya, Kak?“ Ia menoleh ke arahku.
Eh, ia bukan asal daerah ini kah?
“Pedas, Bang.“ Di sini sudah umum berbicara dengan sebutan abang, kakak, atau adek.
“Oh ya? Aduh, bentar deh. Ganti menu dulu.“ Ia bangkit dari duduknya.
Tidak tahunya, pesanannya dan pesanan milikku sudah diantarkan. Kini, pemuda itu hanya bisa terduduk kembali dengan memandang menu makanan yang terhidang di mejanya.
Kasihan juga. Pasti ia memiliki pantangan untuk makan pedas, atau memang ia tidak biasa makan-makanan pedas di pagi hari.
“Tukeran aja kah, Bang? Ini punya aku tak pedas.“ Ya harganya pun lebih mahal. Tapi tak apa, daripada seseorang nanti malah diare karena makan makanan pedas.
“Apa itu?“ Ia melirik makanan milikku.
“Manuk Labakh. Ayam kampung dan perpaduan tiga macam kelapa.“ Aku tidak tahu detail dari masakan ini, tapi masakan ini khas dari suku Alas.
“Memang tak apa?“ Ia melirik isi piringnya.
“Tak apa, Bang.“ Aku menarik mie miliknya, kemudian menempatkan piring makananku ke hadapannya.
Aku lapar, yang penting perut terisi dulu.
Tidak disangka, ia malah menaruh kartu namanya di dekatku. “Saya bingung kenalannya, jabat tangan takut tak sopan. Itu kartu nama Saya, barangkali Saya harus ganti rugi harga manuk labakhnya.“ Ia terkekeh kecil.
Sepertinya ia tahu, bahwa harga manuk labakh sampai tiga kali lipat harga mie Aceh. Karena porsinya pun ayam utuh, ya ayam kecil, bukan ayam besar. Aku tak masalah juga sebenarnya, aku berpenghasilan meski wara-wiri tak jelas seperti ini. Aku dijatah perbulan lima juta dari mbak Canda dan bang Givan, hanya untuk jajan dan belanja online saja katanya. Tapi jika memang aku tidak melirik barang mahal, ya lima juta itu sangat cukup untukku. Apalagi, uang ini utuh untukku saja. Tidak dibagi bersama ibu, karena ibu memiliki jatahnya sendiri.
“Dika Prabangkara?“ Aku menyebut namanya.
“Iya, itu nama Saya.“ Ia sudah menikmati makanannya.
Aku mulai menggulung mie ini dengan garpu. Aku lebih suka makan mie dengan garpu, ketimbang harus memotong dengan sendok atau makan dengan sumpit.
Aku kembali melirik kartu namanya, setelah berhasil memasukkan makanan ke mulutku. Alamatnya di Bengkulu, ia orang Bengkulu kah?
__ADS_1
“Orang Bengkulu?“ tanyaku kemudian.
“Iya, di daerah Muko Muko.“
Entahlah, aku tidak pernah ke sana. Aku kurang tahu daerah di pulau ini, karena aku malah dilempar ke pulau lain.
“Jauh ya, Bang?“ Aku tersenyum samar padanya.
“Iya, memang kau orang mana?“
“Aku Jawa, Bang.“ Aku keturunan Jawa, hanya ikut kakak ipar saja di Aceh.
“Wow, lebih jauh. Kerja di mana?“ Ia menelan dulu makanannya, baru berbicara.
“Tak kerja, nunggu penerbangan besok.“ Aku tersenyum getir, pedihnya jika teringat cerita tentang di balik penerbanganku.
“Abang kerja di mana?“ Aku memaniskan senyum untuknya.
“Di sana.“ Ia menunjuk bandara yang terlihat dari sini.
“Staf?“ tanyaku dengan mengerutkan keningku.
“Sopir.“ Ia tersenyum lebar.
“Sopir apa di bandara?“ tanyaku kemudian.
“Sopir travel.“ Ia memasang senyum lebar.
Kok aku curiga, masa iya sopir travel?
“Namanya siapa?“ tanyanya kemudian.
“Ria.“ Aku malah merasa minder, karena memiliki nama unik itu. Namanya aneh, cenderung tidak umum.
“Oke, nanti hubungi nomor aku ya? Biar nanti aku ganti makanan ini.“ Ia menyeruput teh manis setelahnya. Kami sama-sama memesan air teh manis.
“Iya,” jawabku ringkas.
Ia benar-benar hanya makan, kemudian ia permisi untuk pergi lebih dulu. Aku belum menyimpan kartu namanya, aku masih menikmati keramaian kota meski piringku sudah habis.
Hingga tibalah aku ingin beranjak, aku tinggal pergi karena makanan ini semuanya dibayar di awal. Aku seperti orang bodoh, kala akan menyimpan kartu namanya.
__ADS_1
Ini gila!
Harusnya aku melihat di sebaliknya dari awal. Karena logo di belakang kartu namanya itu, adalah logo sebuah penerbangan yang terbesar di Indonesia. Ia bukan sembarang sopir, ia sopir pesawat.
Meski awalnya aku merasa ragu, akhirnya aku semakin yakin bahwa ia adalah seorang pilot. Kala aku sudah berada di bandara bersama Keith, aku melihat Dika berada di rombongan orang-orang yang berjalan dengan pakaian yang khas sekali.
Ia benar-benar pilot.
Ia bahkan melihatku yang melongo saja memerhatikannya. Pasti ia menganggapku bodoh, karena memasang wajah seperti ini.
Sungguh aku tidak menghubunginya sama sekali, karena aku tidak berniat meminta ganti ruko dari manuk labakh milikku yang aku tukar untuknya. Aku tidak memikirkan selisih harga, yang masih terjangkau menurutku.
Namun, saat pandangan kami bertemu cukup lama. Ia mengisyaratkan ibu jari dan telunjuk di telinganya, ia memberiku isyarat agar aku menghubunginya.
Eh, tunggu dulu. Barangkali isyarat itu untuk seseorang yang berada di belakangku. Aku menoleh ke belakang, celingukan untuk melihat keberadaan di belakangku. Tidak ada orang yang memperhatikannya, semua orang tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Ketika aku meluruskan pandanganku padanya lagi. Ia malah terkekeh dan menunjuk diriku, aku menyentuh dadaku, sebagai isyarat aku bertanya apa aku orangnya. Ternyata ia mengangguk, kemudian ia ditarik oleh seorang laki-laki yang cukup tua untuk berjalan bersama rombongan.
Aku yakin dia pilot, karena seragamnya cukup berbeda dengan pramugara. Ia bahkan memiliki topi khusus, yang membuatnya bertambah gagah.
Uhh, begitu saja aku tersipu geer.
Dika Prabangkara, laki-laki yang usianya seperti di antara tiga puluh tahunan. Ia berkulit cerah, tinggi berisi dengan dan alis yang tebal. Visualnya, mungkin mirip seperti papah Ebra. Cari saja di Tiktok. Hanya gambaran kemiripan saja, jika orangnya jelas berbeda.
“Udah, Ria. Ayo ke pesawat, kita transit nantinya.“ Keith sudah kembali lagi ke sampingku.
“Ya, Keith.“ Aku tidak peduli pesawatku transit atau tidak. Karena aku akan tetap di samping Keith, mengikuti aturan dan langkahnya.
Woy, woy, woy. Rupanya, rupanya, rupanya. Rupanya, pesawat ini akan dibawa oleh si Dika itu. Karena nama pilotnya disebut, ketika aku sudah duduk dan mengaktifkan mode penerbangan.
Agak gila.
Aku mendapat kenalan seorang pilot dan aku mengabaikannya?
Mubazir sekali.
Lebih baik aku menjadikannya pelipur lara dan pelarianku sementara. Mana tau iseng-iseng berhadiah, iseng-iseng berjodoh. Mana tau, pelarianku berujung ke pelaminan.
Namun, aku tiba-tiba teringat dengan kondisiku sendiri kala tengah menyalin nomor teleponnya dari kartu nama yang ia berikan ke ponselku. Bagaimana, jika ia tahu aku sudah tidak V lagi? Yang ada, bukan aku yang iseng-iseng, tapi dia yang iseng padaku.
Kasarnya, ia malah berbalik memainkanku.
__ADS_1
...****************...