
“Resek!“ Aku mundur dan merapatkan kakiku.
Ia terkekeh geli, kemudian mengincar bibirku. Aku suka jika ia tidak terlalu memaksa seperti ini. Ia hanya menciumku sekilas, kemudian meninggalkan kamarku.
“Ayo keluar, kita cari makanan.“ Ia membuka pintu utama.
“Ya, Bang. Mau pakai baju dulu.“ Aku bergerak ke arah koperku. Kemudian, aku mencari pakaian sejenis dress. Pikirku, agar tidak terlalu mengepress yang tengah tidak nyaman di tengah-tengah tubuhku.
“Oke.“ Ia menutup kembali pintu utama, ia berada di luar rumah.
Jika pintu utama dibuka, otomatis akan terlihat langsung ke kamarku. Bertambah lagi, karena kamarku tidak memiliki pintu atau penutup apapun.
Aku merias diri seadanya, karena rasanya memang malas sekali. Rasanya, seperti aku benar-benar tengah sakit.
Aku keluar dari rumah, aku melihat bang Ken yang rupanya tengah merokok dan mengobrol dengan tetangga terdekat. Bang Ken terlihat ramah, sesekali ia menoleh ke arahku.
Aduh, ya ampun. Rasanya sulit sekali untuk berjalan seperti biasa. Apa baiknya aku menunggu waktu untuk pulang, agar bang Givan tidak mencurigaiku? Ya baiknya sih seperti itu saja, agar aku pun bisa bersikap biasa saja karena rasa sakit itu sudah mereda.
Bang Ken melambaikan tangannya ke arahku. Aku mengangguk, kemudian berjalan ke arahnya setelah memakai sandalku.
“Mari, Bu….“ Bang Ken menggandengku untuk pergi dari hadapan lawan mengobrolnya tersebut.
“Iya….“ Ibu-ibu tersebut tersenyum padaku dengan ramah.
Aku membalas senyumnya, kemudian melangkah mengikuti gandengan tangan bang Ken. Ia mengajakku berjalan kaki, kami tengah mencari pedagang makanan yang sudah tersedia.
Meskipun di daerah kampung, kebutuhan hidup di daerah ini cukup tinggi. Nasi kuning atau nasi campur di sana, masih sekitar lima ribuan saja. Di sini, umumnya saja sudah delapan ribu atau bahkan ada yang menjual minimalnya sepuluh ribu. Itu untuk sarapan biasa saja, yang dijual di emperan rumah orang-orang. Bukan yang memiliki lapak, atau berjejer di jalan-jalan.
Sedangkan, penghasilan warga di sini cenderung umum seperti daerah lain. Di mana tukang bangunan diupah sekitar seratus lima puluh ribu, dengan buruh bangunannya diupah sekitar delapan puluh sampai seratus ribu. Upah para buruh ladang pun, dibayar sama seperti upah buruh ladang di sana.
Ya memang tergantung ladangnya, apalagi jika musim panen ya tentu sistemnya akan borongan. Tapi setahuku, ya memang upahnya umum. Ada yang kisaran tiga puluh ribu perhari, untuk ladang sayur. Ada yang sampai tujuh puluh ribu, untuk pekerjaan ladang yang lebih berat. Yang menjadi kebingunganku, karena pengeluarannya terkesan lebih besar dari penghasilan. Aku tidak mengerti kenapa bisa seperti itu, tapi sepertinya memang umum saja untuk warga di sini. Tentu kaget, untuk aku yang pendatang baru di sini. Meski aku tergolong orang yang cukup berada, tapi rasanya ya memang kaget saja.
__ADS_1
“Udah pada tutup, Bang.“ Aku tidak menemukan pedagang sarapan yang menggelar lapaknya di emperan rumah lagi.
“Ya iya dong, kan udah jam sepuluh. Mau apa jadi sarapannya?“ Ia seperti kebingungan juga.
“Ya udah ke minimarket aja, kita beli makanan instan aja. Kita masak di rumah.“ Ada kompor dengan tabung gas kecil di rumah, seperti kompor untuk camping.
“Oke, Dek.“ Ia melanjutkan langkah kakinya lagi
Aku membeli beberapa barang yang cukup banyak di minimarket, aku pun memberitahunya untuk pulang ke bang Givan saat aku sudah sembuh saja. Maksudnya, aku sudah tidak merasakan efek pedih lagi.
Jujur saja, setelah kejadian semalam. Aku jadi khawatir ada malam-malam lain yang serupa. Aku takut ia melakukan lagi, dengan memberiku obat tersebut.
“Lemes betul sih, Dek?“ Ia memijat lenganku, ketika kami baru selesai sarapan mie instan di rumah kontrakan ini.
“Iya, Bang. Pada capek badannya.“ Aku meregangkan bahuku.
“Tapi gimana rasanya? Coba, ceritakan dong.“ Ia mencolek dadaku.
Aku meliriknya sinis, dengan mengusap bekas colekannya tadi. Bisa-bisanya, ia berinisiatif mencolek dadaku? Seperti tidak ada keisengan lain saja.
“Ya kek Abang aja.“ Aku tidak mampu mendeskripsikannya.
Karena benar-benar enak.
“Beda rasanya, Dek. Sakit tak? Atau gimana?“ Ia duduk menyamping dan merangkulku, satu tangannya lagi ditempatkan di pahaku.
“Menurut Abang gimana?“ Aku meliriknya, aku malu untuk mengakuinya.
“Basah betul, tak sabaran. Berhenti sedikit, malah gerak sendiri. Abang tuh tak suka perempuan yang aktif, Abang ngerasanya tak gagah aja kalau malah perempuannya yang banyak gerak. Abang juga suka kalau pegangin tangan perempuannya, karena risih kalau perempuan raba-raba tuh. Kek mengganggu aktivitas aja, mengganggu kesenangan Abang. Adek sukanya gimana?“ Ia menopang kepalanya dengan siku yang bertumpu pada sandaran kursi.
Ia fokus memperhatikanku dari samping begini. Aku sampai salah tingkah sendiri, karena ia terus memperhatikanku.
__ADS_1
Pantas saja, ia selalu mencekal tanganku sejak awal. Tapi ngomong-ngomong, kok ada ya penyuka perempuan yang pasif? Bukannya kebanyakan laki-laki, suka jika perempuannya aktif? Kenapa selera bang Ken lain sendiri?
“Aku suka kalau Abang minta izin.“ Aku menoleh untuk menyaksikan perubahan urat wajahnya.
“Kalau minta izin, memang dikasih?“ Eh, benar juga ucapannya. Aku tak mungkin mengizinkannya juga, makanya ia sampai memaksaku.
“Tuh? Ragu kan?“ Ia membelai rambutku.
Hufttt….. Kenapa aku jadi berpikir untuk mencobanya lagi? Aku jadi penasaran dengan rasa sebenarnya.
“Abangnya tuh, kenapa sih malah berpikir kasih aku obat? Pesan dari Arman kan, tak aku balas juga.“ Ia boleh cemburu, jika aku menanggapi Arman.
Kenyataannya kan, aku bahkan tidak membalas pesan dari Arman. Aku tidak meladeninya, aku tidak meresponnya, aku pun tak memikirkan tentang Arman juga.
“Entah. Memang tak suka aja dengan isi pesan chat dari Arman.“ Ia yang tak suka pada Arman, tapi aku yakin menanggung akibatnya.
“Lain kali jangan begitu lah, Bang. Apa-apa tuh, jangan tiba-tiba naik pitam. Kenapa sih, kok emosian sekali?“ Aku mengusap rahangnya, kemudian aku duduk menyamping sepertinya.
“Ya tak tau, Dek. Abang tak paham juga, kenapa cepat emosian. Padahal, tak punya riwayat darah tinggi.“ Ia tidak punya riwayat darah tinggi, tapi ia begitu tukang ngamuk seperti orang darah tinggian.
“Mungkin, aku peluk aja kali ya? Biar tak emosian.“ Aku beralih untuk memeluk tubuhnya.
“Boleh. Ayo di kasur, biar enak pelukannya.“ Ia menaik turunkan alisnya penuh arti.
Aku mencubit perut yang seperti roti sobek itu. “Dasar mesum! Itu sih, memang abangnya kepengen begituan lagi.“
Ia terkekeh kecil. “Memang Adek tak ingin? Ayo coba lagi, barangkali masih kangen sama rasanya. Biar terbiasa, kalau nanti berhubungan lagi kan tak perlu ada drama perih-perih lagi. Gimana? Mau coba lagi tak?“ Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Jujur saja, aku masih penasaran dengan rasa yang sebenarnya tanpa pengaruh obat.
...****************...
__ADS_1